26.9.11

Wajah-Wajah Berkuasa

(Tulisan Heru Hikayat sebagai bahan diskusi Madrasah Falsafah Rabu 21 September dan akan diteruskan untuk tema Etika Media di Pesta Filsuf bulan November)

Hari-hari ini kita dikelilingi potret. Secara khusus potret itu adalah potret para politikus yang sedang berusaha menampilkan dirinya layak mendapatkan suara kita. Potret dalam pengertian harfiah adalah representasi dari orang. Pengertian ini seringkali dipersempit menjadi gambar wajah. Itulah yang mengepung kita: wajah-wajah. Apakah yang bisa dikatakan gambar wajah-wajah itu pada kita?

Para politikus jelas menampakan keyakinan bahwa gambar wajah akan mampu menyampaikan pesan pada kita para pelihat—para warga yang sedang dirayu untuk memberikan suaranya. Pesan apa yang hendak mereka sampaikan? Tentu saja segala sesuatu yang baik tentang diri mereka sendiri.

Darimana datangnya keyakinan ini—keyakinan bahwa gambar (khususnya gambar wajah) bisa menyampaikan pesan politis?

Seni melalui penyederhanaan bentuk mampu memampatkan pesan. Hingga kini logo dengan bentuk tertentu bisa memancing kemarahan banyak orang atau sebaliknya memicu tindakan patriotik.

Dalam tulisan ini saya memanfaatkan seri dokumenter keluaran BBC. Dokumenter populer yang dituturkan dengan memikat, memanfaatkan sejumlah besar hasil penelitian ilmiah dan ditujukan bagi penonton awam: siapapun bisa mengapresiasinya dengan mudah. Rangkaian seri ini diberi judul “How Art Made The World” (Bagaimana Seni Membentuk Dunia), di dalamnya ada satu seri berjudul “The Art of Persuasion” (Seni untuk Meyakinkan).

Dalam seri ini diceritakan Darius Maharaja Persia adalah pemimpin politik pertama yang menciptakan logo politik pada sekitar tahun 500 SM. Pasalnya sederhana, kemaharajaan Persia melingkupi wilayah amat luas dengan ragam bahasa dan sebagian besar warganya buta huruf hingga penyampaian pesan dengan bahasa tertulis tidak praktis. Darius kemudian menciptakan citra dirinya sebagai “Si Pemanah”. Ahli memanah bagi Bangsa Persia bukan semata soal kemampuan militer, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan dan kontrol. Inilah kualitas pemimpin yang bijaksana. Darius-si-pemanah menjadi pelopor dari berbagai logo politik yang kita akrabi hari-hari ini.

Kemaharajaan Persia tidak berumur panjang. Alexander dari Macedonia mengambil alih wilayah luas tersebut. Alexander Agung kemudian memperbaharui strategi kampanye Darius: ia menjadikan potret dirinya sebagai logo politik. Di jaman Alexander segala sesuatu yang berasosiasi dengan dirinya jadi sumber kewenangan. Kewenangan yang berasal dari satu pusat, yaitu Alexander sendiri, merentang hingga ke seluruh wilayah yang sudah takluk secara politis. Potret adalah asosiasi yang kuat. Lalu bagaimana caranya menyebarkan citra itu? Di jaman kita menyebarkan citra mudah sekali. Tapi di jaman Alexander belum ada kamera dan internet. Ia kemudian mencetakan potret dirinya pada koin. Uang sebagai alat tukar menjadi media sebaran yang efektif sekaligus menandai wilayah kekuasaannya yang luas.

Hingga kini sebaran potret secara masif masih efektif menunjukan siapa yang berkuasa. Jaman Suharto, setiap ruangan kelas di seluruh sekolah di negeri ini memajang potret dirinya. Citra Jenderal murah senyum itu begitu dominan, terus-menerus mengingatkan warganya tentang siapa yang (sedang) berkuasa. Inilah yang hendak dicapai oleh para politikus di masa peralihan kekuasaan seperti sekarang: mengupayakan dominasi tampilan dirinya. Inilah alasan kenapa ruang-ruang terbuka kita dibanjiri potret mereka. Sebelum mereka menempati kursi kekuasaan resmi yang memungkinkan mereka mencetak citra dirinya menjadi monumen, nama jalan, gambar perangko atau uang, mereka harus memanfaatkan celah-celah di ruang-ruang umum.       

Kembali pada dokumenter BBC, diceritakan kejayaan Yunani pada gilirannya diambil-alih oleh Romawi. Sekitar tahun 40 SM Roma terancam perpecahan gara-gara perseteruan kaum Monarki dan Republikan. Kaisar Augustus berhasil muncul mengatasi perpecahan dua golongan ini. Augustus memenangi persaingan karena berhasil memanfaatkan kekuatan citra. Diceritakan bahwa jaman itu kesetiaan politis seseorang bisa dilihat dari caranya berpakaian. Kaum Republikan selalu memilih gaya yang tradional-kaku, Monarki memilih gaya yang flamboyan-trendy. Augustus sendiri berasal dari golongan Monarki. Jika ia tetap dengan penggambaran dirinya dalam gaya tipikal kaum Monarki maka ia akan dianggap ancaman oleh kaum Republikan. Agustus kemudian mengubah citra dirinya menjadi lebih rendah hati, sederhana, dan tidak tampak mengancam. Patung dirinya, walau menggunakan baju zirah, namun bertelanjang kaki dan tidak menggenggam senjata. Citra negarawan yang rendah hati namun tegas ini disebarkan di pusat kerajaan dan berhasil meyakinkan Kaum Republikan.  

Demikianlah para politikus hari-hari ini menggunakan strategi yang mirip dengan Augustus. Potret mereka mengenakan setelan jas dan dasi, menunjukan dirinya yang modern dan berpendidikan. Kaum perempuan kebanyakan akan menampilkan dirinya berjilbab menunjukan kesalehan Islami. Modern-berpendidikan-saleh (Islami), merupakan nilai-nilai yang diyakini akan mengatasi beragam golongan pemilih secara umum, setelan jas-dasi juga baju taqwa dan jilbab merupakan kode-kode yang diyakini bakal menyampaikan nilai-nilai tersebut.       

Para politikus mengabaikan fakta betapa kamera sudah begitu tersebar hari-hari ini, hingga pengalaman merumuskan citra diri bisa dimliki oleh semua orang. Dalam keseharian kita tahu dari praktek berfoto dalam photo box misalnya, atau foto di studio, semua orang akan bergaya. Di ruang-ruang ini disirkulasikan gaya khas tertentu yang dianggap keren. Semua orang yang memasuki ruang ini akan terpengaruh oleh kekhasan tersebut. Perhatikan para orang tua yang tengah berupaya memfoto anak balita mereka. Betapa mereka berusaha keras meminta si anak untuk memandang kamera. Pose menatap pada kamera dianggap keren dan karenanya bahkan anak balita pun diminta (tepatnya dipaksa) untuk menaatinya. Di hadapan kamera semua orang dituntut menampilkan gaya tertentu yang dianggap keren.

Sekarang bayangkan sesi pemotretan dengan latar khusus dan biaya yang tidak murah. Para wisudawati rela bangun jauh lebih pagi agar bisa berdandan di salon dengan tujuan bukan hanya tampil di acara wisuda dengan meyakinkan tapi agar kemudian foto dirinya sebagai wisudawati bisa dipajang di ruang tamu. Bagi wisudawan, menyewa, meminjam atau membeli setelan jas dan dasi adalah kewajiban (sebagai kode kemodernan dan berpendidikan). 

Dalam Bahasa Indonesia kita punya ekspresi “diabadikan” untuk menunjuk tindak pengambilan foto. Ekspresi ini dengan tepat merujuk tujuan dari tindakan ini: membekukan momen pilihan. Apa yang layak diabadikan tentu saja merupakan hal-hal yang istimewa dan, kalau bisa, selalu baik.

Jika semua orang tahu bahwa di hadapan kamera haruslah bergaya maka semua orang juga punya pengalaman bagaimana kode-kode yang ditampilkan merupakan konstruksi fiksional. Jejaring sosial di internet macam facebook makin menggenjot fiksi ini. Dalam media macam fecebook tiap orang tahu bahwa ia dapat menampilkan dirinya sesuai yang ia mau. Bagaimana diri yang nyata  dan objektif makin tidak relevan, atau mungkin mengawang entah di mana.

Itulah hal pertama yang menjadi kelemahan praktek kampanye para politikus melalui potret: keyakinan berlebihan bahwa citra bisa mewakili kenyataan, bahwa kode-kode pilihan mereka bisa tetap ada dalam koridor yang ajeg untuk ditafsirkan oleh para pembaca sesuai maksud asali.

Kelemahan kedua, berkaitan dengan sebaran potret yang memusat di kota, adalah tata kota kita yang buruk. Para pemimpin yang berkuasa tidak pernah memperhitungkan tata kota agar lebih artistik sebagai latar dari penyampaian pesan mereka. Gambar-gambar yang telah diperhitungkan komposisinya dengan baik pun harus tampil di lingkungan yang secara artistik kurang mendukung (apalagi gambar-gambar yang buruk komposisinya). Selain itu, lemahnya kebijakan pengaturan bagi iklan visual membuat ruang-ruang strategis kota bising dengan gambar. Hingga sekali waktu di simpang lima Semarang, saya sempat melihat billboard bergambar pemimpin partai, begitu kebapakan melambaikan tangannya—tampak jelas diupayakan untuk berkesan karismatik—tapi ia bersebelahan dengan gambar model perempuan cantik berkulit putih tengah memamerkan ketiaknya. Dalam ruang bising macam ini, mana yang lebih menarik?
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin