23.10.11

Filsafat untuk Pemula: Empirisisme

Selasa, 18 Oktober 2011

Bagaimana Anda Tahu?

Inilah pertanyaan yang menjadi senjata kaum empiris. Berbagai argumen yang melibatkan hal metafisik seperti, "Aku lahir dengan membawa ide bawaan dari dunia sebelumnya," bisa dipatahkan dengan sebaris pertanyaan, "Bagaimana anda tahu?" Bahkan suatu ungkapan sehari-hari seperti, "Sampai jumpa besok ya!" kaum empiris bisa saja bertanya, "Bagaimana anda tahu bahwa hari esok itu akan ada?" 

Pertanyaan tersebut betul-betul bola penghancur. David Hume (1711-1776) adalah tokoh empirisisme yang paling keras dan konsisten. Bahkan ia menolak adanya sebab akibat atau kausalitas, katanya ini pun ilusi. Jika tangan kita merasa panas oleh sebab api, maka sesungguhnya ada dua fakta yang niscaya, pertama adalah aku yang merasa panas, kedua adalah api. Namun persoalan apakah keduanya mempunyai sebab akibat hadir oleh sebab dihubung-hubungkan saja. 

Meski terasa berlebihan, namun empirisisme ini mau mengingatkan kita untuk menghindari keterburu-buruan dalam menggeneralisasi. Misalnya, oleh sebab kita memakan nasi goreng enak di restoran Pak Duleh di jalan Dago, kita langsung menyimpulkan bahwa seluruh menu restoran Pak Duleh adalah enak. Ini jelas sebuah ilusi, bahwa tidak ada pengalaman indrawi yang cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa semua menu restoran Pak Duleh adalah enak. Namun juga tidak mungkin kita mencoba semuanya untuk sekedar berkata menu restoran Pak Duleh adalah enak. 

Manusia perlu generalisasi karena kenyataan bahwa hidup ini singkat, tidak mungkin melakukan verifikasi atas semua hal. Namun derajat probabilitas tetap perlu, ketika kita baru mencoba nasi gorengnya saja, maka derajat probabilitas untuk mengatakan menu restoran Pak Duleh enak terang saja rendah. Tapi kalau kita mencoba sepuluh menu dari seratus, derajat probabilitasnya tinggi dan kesimpulan menjadi cukup valid.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin