2.10.11

Filsafat untuk Pemula: Pemetaan Filsafat Modern


Selasa,  27 September 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan tiga akhirnya dimulai juga. Yang daftar di angkatan ini bertambah ketimbang angkatan sebelumnya. Tercatat ada enam orang mengikuti kegiatan yang ditutori oleh Rosihan Fahmi, Bambang Q-Anees dan saya ini. Setelah sebelum-sebelumnya berbicara tentang era Yunani dan Abad Pertengahan, secara historik pembahasan Filsafat untuk Pemula ini maju ke abad yang dinamakan Modern. 

Rosihan Fahmi alias Kang Ami memulai pertemuan ini dengan membandingkan tiga periode sejarah yang sangat menonjol dalam peradaban Barat. Pertama, adalah era Klasik atau Antiquity. Era tersebut terbentang dari sekitar 500 tahun Sebelum Masehi hingga sekitar abad ke-5 Masehi. Dimulai dengan pernyataan Thales yang terkenal, "Alam semesta ini terbuat dari air." Meskipun sederhana, tapi pemikiran tersebut dianggap menandai perubahan dari cara pikir mitos ke logos. Sejak saat itu dimulailah kejayaan filsafat Yunani, yang melahirkan pemikir-pemikir semacam Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Era ini masih berlanjut meskipun kekuasaan Yunani ditaklukkan oleh Romawi. Romawi dengan Emporium Romanum-nya berjaya hingga Afrika dan Asia.

Kekristenan memulai sebuah peradaban baru di Barat. Meskipun awalnya tidak diterima, tapi lama-kelamaan pengaruhnya sangatlah besar. Momen kejatuhan Romawi salah satunya adalah ketika Kaisar Konstantin memeluk agama Kristen sehingga Kristen itu sendiri lambat laun menjadi agama negara. Itulah momen perdamaian antara Romawi dan Kristen (Padahal dahulunya Yesus sendiri disalib atas otoritas seorang Gubernur Romawi, Pontius Pilatus). Tak lama kemudian Romawi tumbang ke tangan kaum barbar seperti Vandal dan Visigoth. Dari kedua peristiwa itu muncul suatu periode sejarah baru bernama Abad Pertengahan atau Middle Ages. Suatu era dimana Kristen menjadi otoritas, dan filsafat dianggap "budak dari iman". Filsuf terkenal di era Abad Pertengahan adalah Thomas Aquinas, Duns Scotus, dan Petrus Abelardus.

Abad Pertengahan kemudian berakhir oleh sebab terbukanya banyak borok pada kekuasaan atas nama gereja ini. Misalnya, penjualan surat pengakuan dosa yang bernama indulgentia. Atau, keberadaan Paus yang pernah dua hingga tiga orang sekaligus di waktu bersamaan. Dalam tubuh Kristen ini juga terjadi reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther dan John Calvin dan menjadi cikal bakal Protestanisme. Di waktu bersamaan, ditemukannya kompas, mesiu, dan mesin cetak membawa suatu perkembangan kesadaran. Pada saat itu, Modern Age dimulai dengan Renaisans, yaitu jaman dimana masyarakat Eropa menggali kembali kejayaan filsafat Yunani dan mengubah paradigma pemikiran teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat).

Ketika dibandingkan dari kejauhan, memang tampak rapi jali hubungan antar ketiga era di atas. Namun Ami kemarin mengajak untuk melihat keseluruhannya secara lebih mikroskopis. Misalnya, di era filsafat Yunani, jangan salah, Thales itu agak dekat ke Mesir secara geografis dan bukan Yunani seperti Greece yang dibayangkan sekarang. Di Abad Pertengahan, jangan lupa juga filsafat Islam yang sedang terang benderang di bawah pemikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Abad Modern pun, meskipun dianggap suatu "ledakan kegembiraan", jangan lupakan juga bahwa kelak abad inilah yang melahirkan dua Perang Dunia yang amat menyengsarakan umat manusia. Ketika mengingat itu, manusia modern mulai sedikit demi sedikit menengok ke dunia Timur. Inilah sekali lagi, tujuan Kelas Filsafat untuk Pemula, mengajak pesertanya juga menggali kebijaksanaan Timur.


Masih belum terlambat untuk daftar, silakan!


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin