17.10.11

Filsafat untuk Pemula: Rasionalisme

Selasa, 11 Oktober 2011

Setelah dua pertemuan membahas latar belakang sejarah, kelas Filsafat untuk Pemula mulai mengerucut membahas pemikiran demi pemikiran. Tema besarnya tetap: "Ada Apa dengan Filsafat Modern?" kali ini dengan subtema "Rasionalisme".

Diceritakan dulu awal mulanya dua pemikir besar dari jalur Rasionalisme. Yang pertama tentu saja Rene Descartes. Dengan cogito ergo sum-nya, Descartes disebut-sebut sebagai Bapak Filsafat Modern. "Aku berpikir maka aku ada," kata Descartes, sebuah ungkapan yang optimis tentang adanya "kepastian yang tak terbantahkan yang bermula dari keraguan". Setelah itu ada yang bernama Boruch Spinoza, seorang Yahudi yang diusir dari komunitasnya oleh sebab paham panteisme. Baginya, alam semesta adalah Tuhan, dan Tuhan adalah alam semesta itu juga. Pada masa itu, pemahaman seperti dianggap bid'ah dan mesti disingkirkan. 

Masa itu, sekitar abad ke-17 atau tak lama pasca berakhirnya Renaisans, Eropa berada dalam masa yang disebut Barok. Masa dimana oleh sebab Perang Tiga Puluh Tahun yang berkepanjangan (dicurigai adalah perang Katolik versus Protestan), rakyat menjadi menderita namun para penguasa terus menerus memperkaya dirinya. Istana Versailles adalah contoh nyata jaman Barok, bagaimana sebuah pusat kerajaan megah dibangun di tengah-tengah rakyat yang sengsara. Di istana itu sendiri termuat ornamen-ornamen yang sangat detail dan terkesan kurang esensial. Misalnya, ada gargoyle di ujung atap yang diukir secara detail, padahal mungkin tak akan ada seorangpun yang akan memperhatikannya! Ini sejalan dengan jaman itu yang mana kaum bangsawannya rajin menggunakan wig serta kaum wanitanya mengenakan renda-renda. Seolah-olah memang banyak yang harus ditutup-tutupi.

Kang Rosihan Fahmi mempresentasikan Rasionalisme

Rasionalisme adalah salah satu produk nyata era Barok. Ada kecenderungan memang, bahwa pemikiran yang ditawarkan cenderung "mengawang-ngawang" dan mengabaikan fakta-fakta indrawi seperti semangat jaman yang dianutnya. Namun perlu diakui juga bahwa filsafat adalah upaya memotret jamannya secara refleksif. Jadi yang terpenting adalah bukan mengatakan "Ah, pemikiran tersebut telah ketinggalan," tapi lebih baik merenungkan bahwa, "Yang demikian adalah relevan pada jamannya." Hal ini terutama untuk membela tuduhan yang kerap disematkan pada Rasionalisme, tentang kenyataan bahwa nalar yang mereka agungkan bertanggungjawab pada banyaknya perang di jaman Modern atas nama nalar. Holocaust misalnya, Perang Dunia, Perang Dingin, apalagi kalau bukan nalar yang membenarkan semua itu?

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin