Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Monday, October 17, 2011

Revolusi 2.0: Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara

Selasa, 11 Oktober 2011



Bertempat di ruang pertemuan AKATIGA, sebuah diskusi dihelat. Merlyana Lim bertindak sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Indra Hikmawan. Diskusi yang diikuti oleh sekitar lima belas orang itu berlangsung atas kerjasama dari AKATIGA, Aliansi Jurnalis Independen, dan Tobucil & Klabs.

Diskusi yang bertemakan "Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara" ini dibuka dengan presentasi Ibu Merlyana selama kurang lebih satu jam. Ibu Merlyana banyak mengambil contoh dari Arab Spring, yaitu fenomena awal tahun 2011 ketika dunia Timur Tengah dan Afrika Utara dilanda "demam revolusi" untuk menggulingkan kekuasaan yang ada. Tunisia dan Mesir termasuk yang berhasil ketika Presiden Ben Ali dan Mubarak keduanya sama-sama turun oleh sebab aspirasi rakyat. Banyak kalangan percaya bahwa mobilisasi massa penyebab revolusi ini salah satunya adalah peran jaringan sosial semacam Facebook dan Twitter.

Meski demikian, Ibu Merlyana tidak serta merta percaya itu. Penyebab revolusi lebih kompleks dari sekedar Facebook dan Twitter. "Kita harus merunut terlebih dahulu tentang sejarah Arab Spring itu sendiri. Sebelum adanya mobilisasi massa di Tahrir Square, letupan-letupankecil anti pemerintah sudah ada," demikian katanya. Secara statistik, tambahnya, justru jumlah attending di Facebook dengan kenyataan biasanya hanya 0,3 % saja (jika 1000 orang menyatakan attending, maka itu artinya 3 orang yang akan muncul). Selain itu, isu-isu yang sampai itu cenderung "disederhanakan" dan diupayakan agar mudah dimengerti. Misal, pesan "Turunkan Mubarak" adalah lebih mudah dipahami daripada menuliskan segala persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang pelik.

Yang menarik, Ibu Merlyana mencermati fenomena peran supir taksi dalam Arab Spring. Katanya, "Ketika orang naik taksi di Mesir, sang supir selalu menyelipkan kalimat promosi tentang adanya kumpul-kumpul di Alun-Alun Tahrir pada hari dan jam sekian. Meskipun tidak punya kepentingan politis apapun, supir taksi yang mampu bicara politik biasanya menjadi dianggap 'gaya'" Ibu Merlyana kemudian secara tidak langsung menyimpulkan bahwa Facebook dan Twitter adalah bukan penyebab signifikan bagi suatu revolusi. Ia bisa, tapi ketika didorong oleh kompleksitas elemen-elemen lainnya. Tapi Facebook dan Twitter bisa sangat diandalkan untuk mengatasi hal-hal yang sifatnya "narasi kecil", sebagai contoh koin Ibu Prita. Pada tingkat yang narasi yang lebih besar seperti pemberantasan korupsi, Facebook dan Twitter belumlah cukup jika tidak ditunjang bentuk "kekuasaan" yang lain.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin