6.11.11

Filsafat untuk Pemula: Eksistensialisme

Rabu, 2 November 2011

Setelah filsafat idealis Hegel kemarin, datang seorang anak muda bernama Soren Kierkegaard yang mengritiknya habis-habisan. Dalam suasana hujan di beranda Tobucil, mari kita dengarkan kritik filsuf Denmark tersebut.

Katanya, yang terpenting dari filsafat justru adalah memahami keberadaan manusia. Memahami hal-hal yang riil dalam kehidupan manusia seperti tragedi, kesedihan, kemarahan, cinta, benci, dan apa-apa yang mendarah daging dalam keseharian kita. Memahami manusia sebagai eksistensi yang mendahului esensi, demikian bahasa para eksistensialis. 

 Soren Kierkegaard (1813 - 1855), diambil dari sini.

Kierkegaard kemudian membagi tahapan manusia ini dalam tiga tahap, yang pertama, yang paling dasar adalah manusia estetis yang ibaratkan seperti Don Juan. Don Juan yang senang memiliki banyak wanita meski harus berperang dengan pacar ataupun suaminya. Artinya, manusia estetis mengikuti apapun yang diinginkan hasratnya. Berikutnya, manusia etis, yang ia contohkan seperti Sokrates. Sokrates adalah orang yang mau dihukum mati demi membela kebenaran. Artinya, manusia etis mau menunda kebahagiaan demi kebahagiaan yang lebih besar. Dalam bahasa umum ia dikatakan sebagai orang yang bertanggungjawab. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, yakni manusia religius. Ia yang memutuskan untuk beriman pada Tuhan padahal tiada satupun hal yang melandasi keimanan itu. Ya, Kierkegaard mengatakan bahwa iman adalah soal lompatan, "Justru karena Tuhan tidak bisa dibuktikan maka kita harus beriman saja."

Disamping Kierkegaard, banyak juga filsuf yang mengemukakan hal serupa. Misalnya, Friedrich Nietzsche dengan amukannya yang berjudul "Tuhan telah mati", ia mau berbicara atas nama manusia yang semestinya berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa konsep Tuhan yang memperbudak. Ada Jean Paul Sartre yang tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa manusia ini bebas, maka itu tidak mungkin ada Tuhan yang mendasari eksistensinya. Juga ada Albert Camus misalnya, yang berkata bahwa manusia ini keberadaannya absurd, oleh sebab adanya kematian. Namun Camus memberikan solusi, bagai mitos sisyphus yang mendorong batu untuk menggelinding kembali ke bawah, meskipun itu pekerjaan absurd tapi toh sisyphus tetap harus gembira.

Demikian, filsafat eksistensialisme melihat manusia ke dalam keunikan individunya masing-masing.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin