14.11.11

Filsafat untuk Pemula: Modernisasi Timur

Selasa, 8 November 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan ketiga memasuki topik terakhir sebelum ditutup di minggu depannya. Topik ini mencoba mengartikulasikan apa yang sudah dibagikan di pertemuan-pertemuan sebelumnya, pada konteks ketimuran. Inilah dia: modernisasi Timur.

Apa itu modern sebetulnya tidak terlalu mudah diartikan. Lebih maju, lebih canggih, lebih cepat, lebih kompleks, adalah stereotip yang biasa disematkan. Ada lagi ciri-ciri modern yang lain, yakni industrialisasi, urbanisasi, dan sekularisasi. Jika mengacu pada pengertian tersebut, maka jelas kita bisa dengan mudah mengatakan mana yang modern dan mana yang bukan. Tapi pertanyaannya kita serahkan pada diri kita masing-masing: Apakah Indonesia sudah disebut modern?

Indonesia, tentu tidak semua wilayah. Ada wilayah yang menolak kemodernan seperti Suku Baduy atau Kampung Naga. Mari kita ambil Jakarta contohnya sebagai ibukota yang metropolitan. Ciri-ciri modern berdasarkan pengertian di atas terpenuhi semuanya, tapi apakah kita sekaligus setuju bahwa pola pikirnya pun modern? Kalau modern hanya sebatas soal struktur sosial, teknologi, dan industri, mengapa kita pun bisa merasakan bahwa kemodernan ada yang 'cocok' dan ada yang tidak. Artinya, kemodernan mesti disertai juga dengan pola pikir. Atau kita bisa kembalikan, jangan-jangan orang Indonesia memang tidak serta merta cocok dengan pola pikir modern?

Dari sudut pandang ketimuran, ada beberapa argumen yang bisa dijadikan sandaran mengapa kemodernan ini tidak serta merta dibilang sebuah 'kemajuan':

  • Salah satu konsep modern adalah manusia yang mengatasi alam. Pengatasan terhadap alam ini ada baiknya terhadap perkembangan teknologi, tapi ternyata manusia akhirnya mengatasi manusia lainnya. Adanya persaingan dalam eksploitasi alam, dan lebih jauh lagi, terjadi alienasi yang menjauhkan manusia dengan manusia.
  • Perang-perang besar dengan teknologi canggih sukses menimbulkan korban yang amat banyak. Perang Dunia I dan II, serta Perang Dingin adalah contohnya. Ini belum termasuk penggunaan nuklir. 
  • Banyak penemuan sains yang diklaim sebagai produk modern, sudah lama diketahui oleh orang Timur. Misalnya, dahulu dikenal ada upacara-upacara ritual tertentu sebelum menanam padi seperti nyanyian dan tarian. Sekarang baru ditemukan bahwa ada struktur biologis tertentu yang berubah, ketika suatu tanaman dipengaruhi nyanyian atau tarian.
  • Filsafat modern yang menggilai bahasa sebagai sarananya, sudah lama dicap orang Timur sebagai labirin. Misalnya, Buddhisme Zen terkenal dengan koan yang seringkali 'mengolok-olok' bahasa lewat paradoksnya. Pemikiran Timur yang dituduh 'bukan filsafat' itu oleh beberapa filsuf Barat, ternyata punya 'jalan keluar' yang lebih cerdas lewat analogi-analogi dan praktek ritual.
Ini belum didukung beberapa hipotesis yang semakin mendukung dunia Timur, seperti argumen Prof. Arysio Santos yang mengatakan bahwa benua Atlantis yang hilang itu terletak di sekitar Indonesia. Belum lagi ahli fisika Amerika, Fritjof Capra, yang mengatakan bahwa fisika semakin lama semakin seperti teka-teki yang mirip koan Buddhisme Zen. Melihat fenomena bahwa ada pergerakan paradigma yang tadinya kebarat-baratan sekarang jadi ketimur-timuran, mungkinkah kita siap menyongsong suatu era bernama "Modernisasi Barat"?

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin