20.11.11

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Iman Purnama

Selasa, 15 November 2011

Setelah tujuh pertemuan membahas materi, akhirnya kelas filsafat untuk pemula menemui pamungkasnya. Isinya adalah tentang kesan-kesan yang didapat selama kelas tersebut berlangsung. Rudy mengatakan, "Saya jadi ngerti pemikiran modern. Plus saya juga jadi mengerti kecemasan terbesar saya, yaitu: saya tidak pernah cemas." Lalu Firman berkata, "Jadi bertambahlah pergulatan batin saya." Grace menambahkan, "Saya jadi bertambah kritis, dan suatu waktu jadi berdebat dengan dosen karena mengatakan Yesus itu filsuf." Iman, peserta yang rajin hadir selama tujuh pertemuan, berhalangan di kelas pamungkas oleh sebab suatu keperluan. Namun ia tetap menyumbangkan tulisan via e-mail. Di bawah ini akan dipaparkan tulisan Iman, sebagai bentuk output dari kelas filsafat untuk pemula yang berjalan delapan pertemuan. Di posting-posting berikutnya akan diangkat juga tulisan dari teman-teman yang lain. Selamat membaca dan sampai jumpa!


Bandung, 15 November 2011

Untuk Mas Ami, Mas Syarif, Rudi, Firman “Dave Grohl”, Grace, Irman, Bapak Guru Agama, Teteh Berkerudung, Mas-mas Jawa yang kerja di penerbitan, kucing belang cokelat-putih, dan semua penghuni kelas filsafat Tobucil. Semoga tidak ada yg lupa disebut. Kalaupun ada, ya maafkanlah.

Barangkali, apa yang didapat dari filsafat modern tidak begitu banyak dari saya pribadi. Begitu-begitu saja. Tidak ada yang baru. Zaman pencerahan, sekularisme, jubah agama mulai dilepas, ilmu pengetahuan berkembang, orang-orang mulai atheis, dan lain-lain. Intinya, sepertinya umat manusia paling maju dalam periode ini (makanya namanya “modern”, seolah-olah “keren”, padahal mungkin juga tidak. Biasa saja). Tapi, jangan lupa juga, semua kemajuan itu juga ternyata membawa dampak lain. Perang Dunia yang dua biji itu terjadi di zaman ini. Bom atom yang bikin manusia cacat seumur hidup sampai ke mental-mentalnya, digunakan di zaman ini. Belum lagi muncul dua kekuatan yang saling ledek, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dalam bidang filsafat sendiri, Hegel berhasil menyempurnakannya. Sistemnya menjadi utuh. Barangkali benar yang Mas Ami dan Mas Syarif sering bilang, “Filsafat itu dari Socrates sampai Hegel itu 'hapalan', ke bawahnya bebas. Eksperimen.” (Tentang filsafat modern sendiri bisa dilihat di tulisan sebelumnya. Itu bagian kecil dari tugas filsafat komunikasi saya di kampus). 

 Bagi saya sendiri, yang paling penting dari setiap pertemuan kelas filsafat bukan pengajaran filsafat modernnya, tapi sesi bebasnya. Kalau tentang filsafat modern, itu bisa dibaca di buku-buku, terus bertanya kalau tidak mengerti. Bisa lah sedikit-sedikit paham dengan cara seperti itu. Saya sendiri, tanpa bermaksud sombong, mulai baca Dunia Sophie sejak 2 SMA. Jadi sudah tidak asing dengan hal-hal seperti itu. Hanya saja sekarang lebih lengkap pemahamannya, berkat temen-temen semua, tentunya. 

 Tapi kalau di sesi bebas? Belum tentu. Karena ya harap maklum, katanya filsuf itu orang yang ribet, susah dimengerti, bicara tentang hal-hal “absurd”, dan sibuk di dunianya sendiri. Jadi, ketika mau bicara dalam kelompok atau forum, mungkin apa yang ingin disampaikannya sebenarnya tidak sama persis dengan apa yang diucapinnya. Seringnya apa yang tersampaikan, hanya secuil, hanya beberapa bagian; padahal mungkin dalam kepalanya itu berputar-putar banyak pikiran, gagasan, saran, pendapat, dsb, yang meledak-ledak ingin keluar. Nah, pada titik itulah, kecerdasan menyampaikan pertanyaan atau pendapat (komunikasi) diolah. Bagi saya, dan mungkin beberapa teman lain, yang dibesarkan dalam lingkungan sekolah dimana guru berceramah seperti ustadz, itu menjadi pengalaman tersendiri. Pelan-pelan saya belajar. Apalagi yang sering dibahasnya tentang filsafat: sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, dan seringkali “radikal”. Ngomong-ngomong, saya kuliah di komunikasi juga ingin belajar hal seperti itu, hehehe. Syukurlah, saya bisa banyak belajar. I hate studying, but i love learning... 

 Di sisi lain, filsafat bagi saya bukan ilmu yang harus dipelajari benar-benar. Dalam artian, menghapal setiap pemikiran filsuf, tahunnya, pertentangannya, konteks zamannya, dsb, itu cuma secuil dari “kegiatan filsafat” saya. Kalau ditanya tentang Sartre atau Descartes, misalnya, saya pasti menjelaskan pemikiran mereka dengan tergagap-gagap, karena belum paham benar. Belum 'molotok' lah istilahnya kalau orang Sunda bilang. Lebih baik saya sodorkan buku tentang mereka saja. “Yeuh baca, urang ge can ngarti-ngarti amat.” 

Lalu, untuk apa filsafat? Menentang agama dan Tuhan? Ah, tidak juga sepertinya. Walau orang-orang luar sering menganggap orang yang berfilsafat itu atheis atau agnostik, termasuk kepada saya, tapi sebenarnya saya tidak bermaksud demikian juga. Mungkin iya, kalau mencermati perkembangan zaman sekarang, dimana agama dijual begitu indah di layar kaca dan di tempat-tempat lain, sehingga kehilangan ruhnya yang paling hakiki, menjadi atheis atau agnostik suatu pilihan yang “wajar” dan “menggoda”. Tapi bukan itu tujuan saya. 

Lalu, apakah untuk menggulingkan pemerintahan? Hahahhaha. Tidak juga. Barangkali ada yang kenal filsafat bermula dari Karl Marx dan aliran “kiri”. Biasanya orangnya itu aktivis; sering demo, kritis, debat, dsb. Ada teman saya yang seperti itu. Tapi, lagi-lagi, itu bukan saya. Bagi saya sendiri, politik tidak cukup sekedar digulingkan, tapi di-”babi”-kan. Jadi, nanti sintesisnya adalah “babi guling”. Kalau teman-teman yang sering demo itu bertujuan “menggulingkan” pemerintahan, maka saya cukup mem-”babi”-kannya saja. Memang benar, semua orang punya fungsinya masing-masing di alam yang fana ini. Hahahha. Duh, ngelantur...

Balik lagi ke topik. Jadi untuk apa filsafat? Kadang-kadang saya juga suka tidak mengerti. Pusing-pusing mikirin dunia, bikin galau menahun, dan hal-hal “muram” lainnya. Tapi, walaupun begitu, entah mengapa, saya kadang suka kangen ke filsafat. Barangkali disana filsafat berfungsi sebagai “jeda” bagi saya. Di tengah kegiatan atau aktivitas (yang mungkin padat), filsafat berguna untuk menelaah kembali, merenungkan kembali: apa sebenarnya tujuan saya? Apa maksud dari semua kegiatan saya? Semua proses pembatinan itu pada akhirnya suka “mencerahkan” kehidupan (walaupun prosesnya itu sendiri gelap dan suram). Mungkin benar apa kata Emha Ainun Nadjib, “Tak ada terang, tanpa gelap. Jika sudah terang, mari gelapkan ruangan, agar bercahaya itu benderang.” Itu kalimat favorit saya. 

Begitulah, saya memang bukan ahli filsafat yang hapal begitu banyak pemikiran filsuf-filsuf besar. Saya juga bukan seorang “pemberontak” dalam hal politik ataupun agama/Tuhan. Saya cuma senang menghayati setiap proses kehidupan itu sendiri. Setiap tahapannya, setiap prosesnya, setiap “semangat zaman”-nya, setiap penelusuran pemikirannya, setiap galaunya, setiap lika-likunya, setiap terjunnya, dan hal-hal lain yang serupa. 

 Barangkali disana filsafat bagi saya bukan sekedar “alat”, tapi jalan hidup. Mungkin pada prosesnya itu gelap dan suram, tapi tak apa-apa. Anggap saja berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian ke tepian (Eh bener ga sih peribahasanya? Lupa). Oh ya, satu lagi, filsafat bagi saya berguna untuk merasa tidak sia-sia ada di bumi ini. Itu saja kira-kira. 

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi; 
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba 


Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia. 
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara, 
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia. 


 Hujan, Jalak, dan Daun Jambu – 

Sapardi Djoko Damono

Salam galau,


Iman Purnama
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin