Sunday, January 30, 2011

Kuliah Singkat Filsafat Untuk Pemula Angkatan I: Menjelajah Peta Filsafat Bagian 1

Madrasah Falsafah bersama Tobucil & Klabs menyelenggarkan program Kuliah Singkat Filsafat Untuk Pemula. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai peta perkembangan pemikiran filsafat secara sistematis.

Kelas diselenggarakan setiap hari Selasa, Pk. 17.00 -19.00 Wib. Angkatan pertama dimulai tgl 8 Februari 2011. Setiap angkatan maksimum 15 orang.

Instruktur:
Bambang Q-Anees (Filsuf dan pengajar teologi UIN Sunan Gunung Djati), Rosihan Fahmi (Koordinator Madrasah Falsafah), Syarif Maulana (Koordinator Klab Klassik dan Kontributor Blog Tobucil & Klabs).

Biaya pendaftaran: Rp. 250.000/orang

Materi Perkuliahan:
  • Pengantar Menuju Filsafat: Peta Global Filsafat
  • Filsafat Pra Yunani Kuno Bagian 1: Filsafat Tradisi Semit
  • Filsafat Pra Yunani Kuno Bagian 2: Filsafat Tradisi Non Semit
  • Pemikiran Pra Filsafat: Mitos
  • Mengapa Yunani? Bagian 1: Filsafat Yunani Pra Socrates
  • Mengapa Yunani? Bagian 2: Filsafat Socrates dan Pasca Socrates
  • Filsafat Helenistik: Aliran-aliran cynicism, hedonism, eclecticism, neo-platonism, skepticism, stoicism, epicureanism.
  • Review Kegiatan: Menyusun kembali peta pemikiran filsafat.
Informasi dan pendaftaran:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)

Google Twitter FaceBook

Telah Dibuka Kelas Penulisan Skenario Film Pendek

Tujuan dari kelas ini adalah peserta bisa memahami skenario film dan mampu menulis skenario untuk film pendek.

Kelas akan dilaksanakan dalam 16 s/d 24 kali pertemuan (tergantung dari banyaknya peserta). Kelas dibatasi maksimum untuk 25 orang peserta

Setiap pertemuan akan berlangsung selama 120 menit.

Materi yang akan diberikan:
  • Pengenalan skenario (2 kali pertemuan)
  • Dasar-dasar penulisan skenario (2-3 kali pertemuan)
  • Pemahaman dasar mengenai Film Pendek (1 kali pertemuan)
  • Menggagas Cerita untuk Skenario Film Pendek (4-6 kali pertemuan)
  • Praktik Penulisn Skenario Film Pendek (7-12 kali pertemuan)
Instruktur: M. Syafari Firdaus (Filmmaker aktif di Komunitas Perfilaman Intertekstual) dan pernah memenangkan penghargaan Film Dokumenter terbaik di Yamagata Film Festival, Jepang).

Biaya keikutsertaan: Rp. 250.000/peserta
Kelas akan  berlangsung setiap Senin (17.00 - 19.00 dan Rabu 15.00 - 17.00).
Kelas akan dimulai tanggal 7 Februari 2011.

Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)

Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist: Memamerkan Barang-Barang Pribadi

Minggu, 30 Januari 2011

KlabKlassik minggu terakhir, sudah disepakati, menjadi edisi playlist. Edisi playlist adalah pertemuan yang berisikan pemutaran lagu-lagu untuk diapresiasi bersama. Lagu-lagu tersebut, bebas saja, masing-masing orang membawa satu dalam format mp3. Dini mendapat giliran nomor satu, ia memutar lagu lirih dari The Script, judulnya The Man Who Can't be Moved. Lagu berirama britpop itu, bercerita tentang seorang pria yang menantikan wanita di tempat pertama mereka berjumpa. Pria tersebut ogah beranjak, seolah ia mau bermukim selamanya, hingga sang wanita datang kembali. Lagu pertama ini membuka keran untuk mengarahkan topik pertemuan menjadi soal lirik. Tentang bagaimana kekuatan lirik, dan lirik bagaimana saja yang laku di pasaran.

Setelah pemutaran lagu sendu dari Dini, Kang Tikno giliran menyuarakan lirik yang gahar dan "tak laku". Yakni Iwan Fals berjudul Kancil. Bercerita tentang pragmatisme sistem sekolahan yang akhirnya menawarkan mental-mental birokrat oportunis. Lagu ini sangat laku di kalangan masyarakat bawah tahun 1980 an, namun ternyata tak diputar secara bebas. Dari situ, kata Diecky, lirik lagu pun sesungguhnya menunjukkan rezim kekuasaan yang berlaku. Jika lagu-lagu bertemakan kritik sosial tidak bebas dipasarkan, maka itu artinya ada semacam bau-bau totalitarian di lingkungan penguasa. 

Setelah itu, giliran Wawan yang memamerkan barang pribadinya. Ia menyetel lagu karya Johanes Brahms yang dinyanyikan secara a capella oleh PSM Unpar. Lagu tersebut, ia suka, karena kekuatan ekspresinya dalam menggambarkan masa muda yang hilang. Berbeda dengan dua lagu sebelumnya dimana lirik menjadi kekuatan utama, lagu Brahms ini justru sangat kuat dari dinamika ekspresinya. Kami yang mendengar bisa ikut merasakan pesannya, meski tak paham liriknya karena dalam Bahasa Jerman.

Pertemuan yang berlangsung hangat dan melankolik itu ditutup oleh musik pop dari Peter Gabriel dan Michael Buble. Masing-masing dari Martina dan Andre. Pada akhirnya, para pengikut pertemuan belajar satu hal: Bahwa musik tidak ada yang buruk secara an sich, jika dikaitkan bagaimana hal tersebut melekat pada memori. Kaos yang kita pakai sebelum tidur, meskipun kotor dan bau, sulit sekali kita buang karena kenyataan bahwa barang tersebut sudah mendagingi kita secara pribadi. 

Google Twitter FaceBook

Martina Zahirsyah: Menenun Kenangan

The book of love is long and boring
No one can lift the damn thing
It's full of charts and facts and figures and instructions for dancing
But I
I love it when you read to me


Pemandangan Klab Rajut hari itu sungguh aneh. Karena ada satu orang yang berkelakuan ganjil di tengah-tengahnya. Maksudnya, yang lain asyik merajut, seorang itu sedang menenun. Martina Zahirsyah namanya, salah seorang (dari sekian banyak) multi-klabis di Tobucil. Martina adalah aktivis Klab Nulis, Klab Rajut, Kelas Scrapbook, dan Klab Klassik. Ia menenun dengan rasa cinta, itu terasa. Ketika ditanya, mengapa ia menenun? Ia menjawab dengan dramatis: Untuk sampul scrapbook ku.


Menurutnya, ia terinspirasi oleh kreativitas Moelyana (kreativis Tobucil) yang selalu ingin tampil berbeda. dalam penampilan Scrapbooknya. Yang lain menggunting gambar yang sudah jadi, Moelyana menggambar sendiri, demikian Martina bersajak. Setelah berpikir sekian lama tentang bagaimana perbedaan yang ia inginkan, akhirnya Martina menemukan bekas tenunan masa silam. Yang ia pernah kerjakan namun gagal dirampungkan. Ia membuka kenangan, membolak-baliknya, dan memutuskan untuk menenunnya kembali. Menenun ini jelas butuh kesabaran, namun ia sabar, namun ia yakin bahwa ketika segalanya selesai maka scrapbooknya akan sungguh mewakili dirinya.

Kelas Scrapbook sabtu kemarin berisikan materi mengenai telapak tangan. Maksudnya, masing-masing peserta diminta menjiplakkan telapak tangannya ke lembar Scrapbooknya sehingga tercetak dalam warna tertentu. Setelah itu, nantinya telapak tangan itu akan ditulisi jari per jarinya, tentang sifat baik dan buruk kita. Oh, betapa indah membayangkan scrapbook itu selesai nantinya. Sungguh perjalanan selalu indah jika dikenang.



Google Twitter FaceBook

Thursday, January 27, 2011

(Bukan) Farewell Boeat Ipey

Boehmeria Nivea Marino alias Ipey adalah perempuan kalem penjaga Tobucil selama dua tahun terakhir ini. Garda depan, wajah pertama yang akan ditemui bagi siapapun yang ingin colek-colekan dengan Tobucil. “Awalnya ditawarin temen, sih, Yuchan. Ngasih info kalau Tobucil sedang mencari shopkeeper,” Ipey bercerita dengan kalem nan santai. Saking kalemnya, saya sampai agak bingung untuk menerjemahkan perkataannya. 


Tak terlalu banyak sebenarnya yang saya ketahui tentang Ipey. Hanya rutinitasnya yang tiap siang datang melaksanakan rutinitasnya di Tobucil dan seorang auditional bassist yang telah serius nge-band ria semenjak duduk di bangku SMP. Sampai kemudian gosip paling panas itu mampir di telinga saja. Kegenapan dua tahun yang dikumpulkan Ipey akan segera berakhir. Mengapa? Mencari suasana baru? Ingin lebih serius menjadi musisi? Atau pengen dikangenin sama manusia penghuni Tobucil? Hehe. Ipey hanya tersenyum simpul ketika hal tersebut saya tanyakan. Ah, yang pasti, tepat pada kegenapan itu pula saya akhirnya bisa berbincang panjang lebar mengenai Ipey. Bagi saya, Ipey adalah kawan yang unik, seunik singkatnya percakapan kami.

Tobucil dalam benak Ipey adalah tempat penuh kesederhanaan yang menyenangkan meski kejahilan-kehajilan yang hadir terkadang begitu membabi buta. “Banyak hal-hal kecil yang tidak terperhatikan justru menjadi menarik di sini. Misalnya saja membuat kantong gehu dari kertas bekas. Bagi orang lain, kertas-kertas bekas itu bisa jadi tidak berguna, tapi di sini, prentilan semacam itu menjadi menarik dan berguna. Orang-orangnya juga menyenangkan, sih. Pada kreatif semua. Sering mengeluarkan ide-ide yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain,” kali ini perempuan bertubuh mungil itu menjawab agak panjang setelah setengah dipaksa untuk sedikit berpanjang-panjang.

Saya jadi ingat, sekitar setahun yang lalu, seorang pengunjung agak-agak super galau datang dengan membawa emosi berlebih dan mengomel seperti yang baru diberi mulut oleh Tuhan. Semua gempar: bergosip, membahas, menganalisis. Ipey, saya tak ingat betul apa yang ia sampaikan, tapi saya ingat betul senyum simpul yang mengembang di bibirnya yang biasa-biasa saja itu, nyaris tanpa emosi. Namun, itulah Ipey, sederhana dan lebih senang melihat semuanya sebagai hal ringan. Kesederhanaan Ipey bisa jadi sesederhana Ipey mengamati Tobucil. Kesederhanaan seperti apa? Sulit untuk ditafsirkan. Sesulit kalimat-kalimat keterangan yang kerap tak kunjung muncul. Kalimat yang keluar dari Ipey ibarat hanya subyek dan predikat, malah kerap hanya berupa frasa atau klausa. Pecahan-pecahan berserak yang mungkin membutuhkan waktu yang panjang untuk memahaminya lebih baik, bahkan untuk saya sekalipun. Satu hal yang pasti, saya memahami bahwa kesederhanaan yang dimiliki oleh Ipey adalah kesederhanaan dalam mengamati ruang-ruang dalam koridor yang sangat personal. Tak perlu diketahui secara lengkap oleh publik, karena ia adalah misteri yang justru melengkapi dan menjadikan Ipey “menjadi Ipey” yang sebenar-benarnya.


Hanya tersenyum simpul dan tak banyak bicara. Mengorek lebih dalam mengenai Ipey jelas hal yang terlalu melelahkan sekaligus agak sulit. Ipey sebentar lagi beranjak. Saya teringat kata-kata Seno Gumira Adjidarma di dalam salah satu cerpennya, “hidup adalah sekadar mampir dan minum bir”. Mungkin kalimat itu menjadi penerjemah paling pas untuk seorang Ipey. Ipey yang mampir ke Tobucil, menggegas waktunya dengan menyenangkan untuk lalu beranjak bergerak mencari tempat mampir berikutnya dengan bir-bir baru. Ipey yang akan melangkah dengan setengah tapak yang selalu menjejak di lantai-lantai Tobucil. Percakapan kami ini sengaja tidak saya tuntaskan. Tuntas adalah musnah, selesai. Lebih baik saya berhenti sebelum ia musnah tanpa penyelesaian. Pada waktunya nanti,di satu persimpangan hari, obrolan kami; saya, Ipey, dan Tobucil pasti akan berlanjut. Bukan untuk menuntaskan, tapi untuk menggelar hari menggalah matahari bersama-sama meski dalam mimpi yang berbeda-beda. Semoga. Selamat berjalan-jalan, Ipey.
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 23, 2011

KlabKlassik: Musik Klasik India

Minggu, 23 Januari 2011

Saya sempat tertegun ketika di Facebook terdapat grup Musik Klasik Indonesia (MKI). Secara naluriah saya sudah tahu bahwa ini pasti grup tentang Musik Klasik Barat yang umum itu (Bach, Beethoven, dsb), tapi ditujukan untuk penggemar musik semacam itu di Indonesia. Namun terdapat kerancuan juga, bagaimana jika mengartikan bahwa Musik Klasik Indonesia adalah angklung, karawitan, dan sebagainya? Rasa-rasanya boleh juga, dan gak salah-salah amat. Berangkat dari itu, maka Klab Klassik mengadakan diskusi soal Musik Klasik India, seolah-olah menyejajarkan posisinya dengan istilah Musik Klasik Indonesia. Kebetulan Kang Hardianto mau memberikan materi ini, terkait dengan pengalamannya studi S2 di India selama dua tahun. Pemaparannya cukup lengkap dan asyik. Dan menjadi menarik ketika segalanya bisa dikaitkan dengan Musik Klasik Barat.

Kang Hardianto memulai presentasinya dari deskripsi berbagai macam alat musik di India. Mulai dari sitar, sarod, sarangi, tanpura, esraj, santoor, dan tabla. Keseluruhan instrumen yang disebutkan tersebut, yang patut dicermati adalah kekhasan penggunaan dawai simpatetik yang sangat khas terdapat pada alat musik India. Dawai simpatetik adalah dawai kecil yang jumlahnya sangat banyak (hingga sembilan belas), dan berada tepat di bawah dawai utama. Gunanya adalah mengeraskan suara. Karena bahannya yang ringan, dawai simpatetik selalu ikut bergetar setiap dawai utama dibunyikan. Kang Tikno menambahkan, bahwa setelah diteliti, dawai simpatetik betul-betul cuma ada di India. Barat pernah mencoba, tapi gagal terus dan akhirnya tidak diteruskan.

Kang Hardianto juga menambahkan, bahwa di India, setiap minggu pasti ada pertunjukkan musik klasik ini. Mereka tampil di semacam amphiteater dan peminatnya masih sangat banyak. Hal tersebut menunjukkan upaya pelestarian musik klasik-nya masih sangat besar dan tidak mudah tergerus oleh arus instrumen barat. Adapun violin, instrumen yang akrab di barat, ternyata dimainkan dengan cara yang sama sekali berbeda oleh para musisi India. Lazimnya violin dimainkan dengan disimpan di bahu, dan dijepit oleh leher. Tapi di India, mereka memainkannya di daerah sekitar lengan dan dada. 

dari kiri ke kanan: tabla, sitar, sitar, dan flute. gambar diambil dari sini

Terakhir, diungkapkannya pula bahwa instrumen musik India sering erat kaitannya dengan upacara keagamaan. Sederhana saja, karena para Dewa pun katanya bermain musik. Atas dasar itu, tak jarang mereka-mereka menyakralkan instrumen musiknya masing-masing. Memujanya dan kadang-kadang memberikan sesajen. Menurut Kang Hardianto, jangankan instrumen musik, benda-benda lainnya seperti buku, sapu lidi pun dihargai sebagaimana halnya makhluk hidup. Kafir, musyrik? Bisa saja, dalam kacamata tauhid sempit. Tapi ini justru cara tertentu dari bagaimana masyarakat India melestarikan alamnya.




Google Twitter FaceBook

Kembalinya Manajer Tobucil

Awal tahun 2011 ditandai dengan kembalinya salah satu pilar utama Tobucil yang absen sekitar tiga bulan. Ia adalah sang manajer, Elin Purwanti. Manajer merangkap kasir-pagi-setiap-weekdays ini, ambil cuti oleh sebab ia tengah mengandung anak keduanya. Tugasnya sebagai manajer, susah-susah-gampang, menurutnya, ia mengurus mulai dari urusan administrasi, perekrutan kasir, hingga jadwal jaga. Terang saja cutinya Mba Elin, biasa saya memanggilnya, cukup mempengaruhi keseimbangan Tobucil. Untungnya, awal tahun ini ia kembali bertugas. Mba Elin ogah sendiri, anaknya diajak untuk menemaninya. Berikut petikan obrolan santai dengan Mba Elin sang manajer:

Mba E, selamat nih atas kelahiran anak keduanya, siapa teh namanya teh? 
Aduh, kalau saya sebutin nanti kamu salah spelling. Cek aja di Facebook yah? Cari aja di family, yang list as a daughter.

(Cek Facebook, profil Mba Elin, dan menemukan namanya, cantik sekali: Aurora Rhevakhansa) Mba E, apakah Aurora selalu dibawa-bawa setiap bekerja?
Iya, mesti euy, soalnya kasian kalau ditinggal di rumah, gak ada yang ngurus. Mau minta diurusin sama orang lain, belum percaya.

Lantas, sewaktu cuti, apakah suka merindukan beraktivitas kembali di Tobucil?
Iya, sering kangen. Tapi mau gimana lagi, kan riweuh. Harus beradaptasi dulu untuk mengurusi dua anak sekaligus. Setelah bisa beradaptasi, baru saya beranikan diri untuk masuk lagi.

Nah, setelah masuk, adakah yang berbeda dari Tobucil ini?
Ada, cukup banyak, mulai dari display buku-buku, benang-benang yang dijual, hingga ada beberapa personel yang sudah berganti.

Jelaskan!
Halah naon eta emang soal cerita. Ya maksudnya display itu ya penempatan buku di rak, terus soal benang, dulu itu yang tersedia cuma benang Tipi dan Katun Bali. Sekarang eh tiba-tiba ada benang R, benang Athena, dan benang And +. Sedangkan personel yang udah berganti itu, Wiku (tadinya koordinator Klabs) sekarang udah gak di sini, dan Ipey juga (kasir weekdays-sore).

Oh, terus soal kasir, gimana dong? Bukannya dulu soal kasir itu selalu menghantui ya?
Iya sih, tapi mesti dijalani aja. Untung sudah dapat gantinya, yaitu Mayang. 

Oke, mba E, terakhir yeuh. Adakah semacam harapan dari Mba E pada Tobucil di tahun 2011 ini? 
Ada dong, semoga dengan kelahiran anak kedua saya yang cantik ini. Menjadi berkah dan anugerah untuk Tobucil di tahun ini, dan tahun-tahun selanjutnya.

Demikian obrolan singkat dengan sang manajer. Mengurus dua anak yang masih kecil-kecil tentu tak mudah, tapi Mba E tetap melakukannya sambil bekerja. Tak jarang ia mengangkat telepon, memanaskan air, atau menghitung administrasi, sembari menyusui anaknya



Mba Elin beserta keluarga


Google Twitter FaceBook

Sunday, January 16, 2011

Ririungan Gitar Bandung: Canarios untuk Trio

Minggu, 17 Desember 2011

Bulan Januari memang sudah sewajarnya menjadi momen bagi banyak hal untuk dimulai atau dimulai kembali. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan di Tobucil, setelah kelas Scrapbook diputuskan untuk dimulai secara paket, lalu Klab Nulis mulai berbenah menyiapkan angkatan baru dengan lebih bergairah, Ririungan Gitar Bandung (RGB) juga memulai gerakannya. Cabang kegiatan dari KlabKlassik ini merupakan latihan ensembel gitar untuk umum. Siapa saja boleh gabung, berbayar Rp. 50.000 untuk tiga bulan latihan. Sebetulnya RGB sudah dimulai dari tanggal 3 Desember silam, namun pertemuan saat itu masih dianggap briefing biasa, belum mulai latihan.

Materi tiga bulan pertama adalah Canarios untuk tiga gitar, yang diusulkan oleh salah seorang peserta, Kristianus. Canarios adalah karya dari jaman Barok yang ditulis oleh komposer Spanyol, Gaspar Sanz. Dengan time signature 6/8, tempo 120, dan aksen di ketukan pertama, Diecky memaparkan bahwa karya ini jelas merupakan karya dance. Artinya, "Karya ini pastinya dipakai untuk acara-acara dansa di jaman Barok." Jaman Barok sendiri adalah periode sekitar tahun 1600 hingga 1750-an.

Pertemuan RGB ini ditandai dengan hadirnya beberapa wajah baru, semisal Dini Afiandri yang biasa aktif di Klab Nulis serta dosen di STT Tekstil, Pak Ato Hardianto. Semuanya melebur menjadi satu, dalam alunan dansa dansi Espagnola. Bagi yang berminat ikutan, belum terlambat, silakan datang ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56 dua minggu ke depan atau tanggal 30 Januari. Permintaan partitur bisa dipenuhi dengan menuliskan alamat e-mail di komentar posting ini.

Ririungan Gitar Bandung saat konser di CCF tahun silam
Google Twitter FaceBook

Kelas Scrapbook Pertemuan Perdana: Tentang Aku


Sabtu, 16 Desember 2011

Jika melihat televisi, internet, papan reklame, dan keseluruhan dunia yang melingkupi kita, berapa kira-kira persentase antara teks dan gambar? Sepertinya sudah jelas, gambar jauh lebih dominan. Teks tanpa gambar (ilustrasi) juga seringkali membosankan, terlebih bagi pembaca masa kini yang ingin lebih cepat menangkap makna dan ogah bertele-tele. Dalam film, berita, dan sebagainya, teks atau running text, dimuat amat kecil, di pojokan, seolah itu adalah penampilan sekunder dari bahasa gambar yang lebih utama dalam menyampaikan pesan. 

Scrapbook sepertinya berusaha memaksimalkan kenyataan bahwa gambar jauh lebih dominan ketimbang teks dalam dunia keseharian kita. Scrapbooking sendiri bisa diartikan sebagai kegiatan bercerita tentang hal-hal personal, keluarga, ataupun perjalanan, yang dikemas dalam dominasi foto, gambar dan artwork dalam sebuah buku "polos". Kebetulan, di Tobucil dibukalah kelas semacam ini, dengan pengajar bernama Claudine. Tobucil sendiri membuka kelas scrapbooking konvensional, artinya, tidak seperti aktivitas scrapbooking saat ini sudah banyak difasilitasi oleh teknologi digital. Kelas ini ternyata mengundang banyak minat, terbukti dari jumlah peserta yang kira-kira mencapai sepuluh orang.

Kelas scrapbook diselenggarakan setiap Sabtu jam 10 pagi, dan berlangsung paket selama tiga bulan. Tema besarnya adalah "Aku dan yang Kucintai". Januari ini sub-temanya adalah "Tentang Aku". Aktivitas scrapbooking sangat menarik untuk diamati, karena meja di beranda Tobucil yang putih polos mendadak menjadi hamparan warna-warni yang berasal dari kertas-kertas yang digunakan untuk menghias buku. Martina contohnya, ia memilih tema peta dunia untuk latar belakang halaman "Tentang Aku". Alasannya, "Bagus aja warnanya, keren." Martina sendiri mencomot fotonya untuk ditempel, dan dibubuhi tulisan "Eike" atau "saya" dalam bahasa Belanda. Sedangkan Moelyana, dengan kreatif menggunting gambar monster untuk menggambarkan "dirinya". Dengan tambahan tulisan berbahan acrylic yang bertuliskan "Moel". Fiola lain lagi, ia memilih postcard sebagai background halaman perdana scrapbooknya.

Rencananya, Februari sub-tema scrapbook ini adalah "Bulan Cinta", sedangkan Maret adalah "Bulan Kenangan". Rencananya, karya peserta akan dipamerkan di Crafty Days 2011 di bulan Mei dalam rangka ulang tahun Tobucil kesepuluh.

Google Twitter FaceBook

Thursday, January 13, 2011

Dibuka Pendaftaran Klab Nulis Angkatan IX: Menembus Batas Terkira

Kami Klab Nulis Tobucil kembali datang dengan wajah baru di awal tahun 2011. Tentunya dengan segala penemuan-penemuan baru dalam transfer teknik menulis fiksi, kami selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kami, itu sudah.

Tema angkatan IX Klab Nulis Tobucil diambil dari evaluasi Klab Nulis angkatan VIII. Angkatan VII melakukan yang terbaik dalam perjuangannya menelurkan karya sastra. Ada kekuarangan, itu wajar. Karena karya seni adalah karya yang terus belajar tidak ada titik sempurna. Kemauan untuk terus belajar adalah kunci perkembangan kekuatan karya. Maka, dari hasi evaluasi belajar karya sastra, diperlukan semangat yang tidak lagi sama.

Proses belajar akan semakin menyenangkan dengan satu kesadaran akan kekuatan terobosan yang membutuhkan nyali, perhitungan matang dan kesediaan menanggung resiko. Demi mendorong kesadaran tadi, tema Angkatan IX Klab Nulis Tobucil "Menembus Batas Terkira" adalah upaya menumbuhkan penulis-penulis Indonesia yang sekiranya dapat membawa angin segara bagi perkembangan sastra terkini.

Klab Nulis Tobucil Angkatan IX:
1. Perkuliahan akan dimulai tepat pada waktunya.
2. Ketidak hadiran maksimal 3 pertemuan dan ada pertemuan susulan bagi yang tidak hadir.
3. Setiap peserta akan diberikan handout materi Klab Nulis Tobucil Angkatan IX.
4. Tenggat waktu pengiriman tugas akhir adalah H-3 dari jadwal sidang bersama yaitu tanggal 7 Maret 2011. Penyerahan yang dilakukan selain tanggal tersebut dianggap mengundurkan diri.
4. Biaya keikutsertaan Rp. 250.000 untuk 12 kali pertemuan sudah termasuk handout dan sertifikat.
5. Peserta terbaik akan mendapatkan beasiswa, gratis mengikuti kelas lanjutan diangkatan berikutnya.
6. Klab Nulis Angkatan IX akan dimulai tanggal Kamis, 3 Februari 2011, Pk. 17.00 Wib
7. Kelas diselenggarakan setiap Kamis & Jumat Pk. 17.00 - 19.00 Wib
8. Kelas maksimal 15 orang.
9. Pemateri: Sophan Ajie
10. Tim Pemateri: Sophan Ajie, Syarif Maulana dan F. Pujianto

Materi Angkatan IX:
- Pengantar Materi Klab Nulis dan pembukaan klab
- Isi dan Bentuk Karya adalah sebuah kehidupan baru. Sub Materi: Apakah karya sastra produk imajinasi?
- "Logika Bengkok" Jalan Alternatif Melukis karya
- Sastara Menerobos Dunia Hi-Tech
- Bersastra Lewat Bermusik (aplikasi teknik intro-interlude-reffain-coda dalam bersastra)
- Komedi
- Menerobos Bukan Melawan Arus
- Evaluasi Instrinsik I
- Evaluasi Instrinsik II
- Evaluasi Ekstrinsik I
- Evaluasi Ekstrinsik II
- Sidang Bersama
- Penutupan dan Pemilihan Karya Terbaik

Informasi dan pendataran silahkan menghubungi:Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Tel. 022 4261548
Senin s/d Minggu Pk. 09.00 s/d 20.00 Wib 
http://tobucil.blogspot.com
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 9, 2011

KlabKlassik: Kenapa dengan Lembaga Pendidikan Musik?



Minggu, 9 Januari 2011

KlabKlassik (KK) hari itu berkumpul sejenak untuk rapat. Rapat soal Akademi KlK yang akan diselenggarakan kembali tanggal 3 Februari. Atas dasar itu, pasca rapat ada baiknya kalau KK membahas soal lembaga pendidikan musik. Kenapa? karena pendirian Akademi KK tak lain sebagai bentuk kritik atas lembaga pendidikan musik seperti kampus dan sekolah-sekolah musik yang tengah marak.

Awalnya KK tidak langsung membahas itu, melainkan ngalor ngidul soal kebijakan politik, soal sepakbola, soal pemerataan kemiskinan. Namun kehadiran Diecky di tengah-tengah diskusi langsung menggiring arah pembicaraan untuk mengkritisi lembaga pendidikan musik. Alkisah, Dicky dahulunya adalah seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan swasta. Ia keluar, karena tercerabut dari sistem. Merasa bahwa sistem tak demikian cocoknya. Dan ia pun menemukan hal yang sama kala kuliah S2 saat ini. Maksudnya: mahasiswa tidak terbiasa kritis, mereka diajarkan untuk mencatat teori apa saja yang dipaparkan dosennya. Mereka kaget jika ada dosen yang mengajak mahasiswanya untuk kritis.Mahasiswa telah tunduk dan patuh, dan bersaksi bahwa dosen adalah orang yang lebih pandai dari mereka-mereka. Dan kekritisan sesungguhnya mengancam "singgasana" dosen selama ini.

Artinya, memang ini persoalan akademi kebanyakan. Bahwa akademisi seringkali paham teori semata, padahal yang terpenting adalah mengaitkannya dengan disiplin lain, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. "Tidakkah iya, bahwa akademisi adalah orang yang mengukuhkan generasi bangsa yang bermartabat di kala wisuda, tapi di saat yang sama mereka adalah yang membuat macet di jalanan?"demikian salah seorang punggawa KK menukas. Itu pertanda bahwa akademisi berpikir kurang holistik, atau kurang menyadari adanya paradoks dalam tiap-tiap sendi kehidupan. Seperti halnya akademisi jualah yang menyebabkan terjadinya global warming jika tolok ukurnya jumlah kertas yang kita sia-siakan.

Kemudian pembicaraan mengerucut pada penyelenggaraan Akademi KK yang merupakan antitesis dari situasi akademi di atas. Akademi KK kelak akan menyelenggarakan semacam pelatihan teori komposisi musik barok. Formatnya persis seperti kelas-kelas kebanyakan. Namun apa yang jadi perhatian, menurut Diecky, "Adalah bagaimana peserta akademi mampu kritis dan tidak melulu menyerap apa yang diajarkan secara pasif." Apa yang nanti diajarkan adalah komposisi, dan komposisi tentu saja menuntut kreativitas dan kebebasan. Benar-salah bukanlah sesuatu yang patut dibicarakan. Situasi kelas dijamin akan dibuat macam diskusi, dan Diecky selaku dosen tidak akan merasa dirinya superior, begitu menurutnya. Mahasiswa adalah mereka yang mampu memberi masukan bagi dosennya sekalipun. Karena dunia informasi saat ini sangat berlimpah. Mereka yang pintar, jangan-jangan bukan mereka yang secara akademik berstrata lebih tinggi. Melainkan mereka yang punya akses informasi lebih luas.

Sebagai informasi, KlabKlassik memperluas diri dengan tidak hanya beraktivitas di Tobucil. Akademi KK sendiri akan diselenggarakan di ruang alternatif Garasi 10, Jl. Rebana no. 10 setiap hari Kamis jam 18.30 mulai 3 Februari 2010. Informasi keikutsertaan Akademi KK bisa hubungi Syarif di 0817-212-404. Kegiatan KK di Tobucil setiap hari Minggu tetap dilaksanakan seperti biasa.
Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Kemiskinan Energi dan Macam-Macam Doping



Rabu, 5 Januari 2011

Rabu itu adalah pertemuan pertama Madfal di tahun 2011. Yang hadir cukup banyak, termasuk sang koordinator, Rosihan Fahmi, yang selalu absen dalam sebulan belakangan. Akibat tidak adanya Madfal di pertemuan terakhir bulan silam yakni tanggal 29 Desember 2010 (akibat final sepakbola kah?), maka apa yang diperbincangkan belum dirumuskan. Namun Rosihan Fahmi alias Kang Ami memutuskan dengan jeli topik apa yang mau dibicarakan saat itu, spontan saat Mas Heru Hikayat tengah membicarakan soal doping. Akhirnya diputuskanlah tema saat itu, yaitu: kemiskinan energi. Sebagai informasi, Madfal masih setia pada programnya yaitu membicarakan soal kemiskinan dari berbagai sudut pandang. Pertemuan sebelum-sebelumnya membahas kemiskinan dalam sepakbola, kemiskinan di daerah terpencil, dan kemiskinan lintas generasi.

Mas Heru memulai topik itu dengan cerita masa kecilnya yang diwarnai buku-buku tentang Rumi atau Gibran, yang di dalamnya selalu menyinggung soal anggur merah. Ada apa dengan anggur merah? Konon, itu kerap digunakan sebagai medium, sebagai doping, sebagai cara bagi para orang-orang itu untuk "melampaui dirinya". Bagi apa yang disebut seniman, doping seringkali perlu, karena seniman memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain, sehingga benda-benda seperti anggur, bir, atau LSD bagi kaum psychedelic, adalah cara untuk merangsang secara biologis, agar kesadaran tentang bahwa sesuatu memiliki "sisi lain" menjadi maksimal.

Pertanyaannya kemudian, apakah doping itu sama bagi setiap orang, dalam rangka memaksimalkan timbulnya inspirasi? Ternyata keberagaman jawaban tentang ini yang menarik. Bumi, salah seorang peserta diskusi yang dulu rajin datang-lalu menghilang-sekarang datang lagi, menjawab seperti ini, "Kalau anggur, bir, LSD itu, kesannya 'menggelegak', membuat jadi meledak-meledak. Tapi bagi saya, doping itu justru berfungsi menenangkan, menentramkan, seperti misalnya seks." Adapun Hadi, menukas bahwa doping baginya, adalah keheningan malam. Ia bisa menerima inspirasi dan "melampaui dirinya", kala malam hari. Dengan demikian, cakrawala pemikiran menjadi meluas, bahwa Hadi dan Bumi hanya membutuhkan gejala-gejala alamiah saja untuk menjemput ilham, dan tidak membutuhkan "benda-benda".

Obrolan menjadi meluas lagi, ketika Iman Abda mencetuskan bahwa doping baginya adalah "tujuan-tujuan yang dirumuskan". Artinya, ketika ada dateline, atau "imbalan" dibalik apa yang diperbuatnya, maka itu menjadi doping, menjadi dorongan agar sesuatu dikerjakan dengan semangat yang berlipat. Diecky kemudian mengungkap sisi yang jauh kebalikannya, bahwa jangan-jangan, bagi sebagian besar seniman, atau bahkan agamawan, yang menjadi doping adalah: rasa sakit, rasa tersiksa, atau asketisme. Hal-hal seperti patah hati, atau puasa, atau "doa orang yang teraniaya", seringkali mengendap menjadi energi lebih besar untuk menjadi sumber inspirasi. Semuanya nampak relevan, semuanya nampak memang iya untuk dijadikan doping. Atau jangan-jangan, apa yang menjadi doping, sesungguhnya selalu apa yang kita sadari sebagai cermin atas pelbagai kekurangan diri. Atau dalam kaitan dengan topik ini, doping adalah cara untuk memperkaya apa yang miskin dari kita. Barangkali doping sejati adalah hidup itu sendiri. Namun ada hal lain yang patut direnungkan, bahwa mungkinkah bukan hidup yang menjadi doping, melainkan malah kematian?

Google Twitter FaceBook

Wednesday, January 5, 2011

Survei Penggunaan Kantong Kresek

Informasi ini di publikasikan kembali dari  http://surveykresek.blogspot.com/

Saat ini kantong kresek merupakan barang yang sangat populer digunakan oleh warga di seluruh dunia. Di Indonesia, kehadiran supermarket di tahun 1980an telah mempopulerkan penggunaan kantong kresek. Sejak saat itu perlahan-lahan penggunaan tas/ keranjang belanja mulai ditinggalkan, diganti dengan kantong kresek.

Untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan penggunaan kantong kresek, maka sekelompok warga di beberapa kota di Indonesia berupaya mengembangkan sebuah survei.

Tujuan survei antara lain untuk:

  • Mengidentifikasi pola penggunaan kantong kresek oleh konsumen di beberapa kota besar di Indonesia
  • Menggali sumber utama yang membagikan kantong kresek kepada konsumen
  • Mengidentifikasi kesediaan konsumen & penjual untuk mengurangi kantong kresek
Besar harapan kami warga di kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung, Yogya, Surabaya & Denpasar, bersedia menjadi responden survei, serta turut menyebarluaskan survei ke jejaringnya.

Untuk mengisi survei, silakan klik tombol di bawah ini:



Hari terakhir pengisian survei tanggal 14 Januari 2011.

Hasil survei nantinya akan kami sebarluaskan. Bagi yang berminat, sila kirim surel ke: surveykresek@gmail.com
Google Twitter FaceBook

Kelas Scrapbook Januari - Maret 2011


Kelas scrapbook kembali berkegiatan. Tiga bulan ke depan (Januari s/d Maret 2011) akan mengambil tema besar: "Aku dan yang Kucintai" Tema ini akan dibagi lagi dalam tema-tema kecil setiap bulannya:

Januari: "Tentang Aku"
Membuat scrapbook tentang: profil diri, lagu favorit, quote favorit rahasiaku, kegiatan rutinku dan hal-hal yang aku suka dan tidak aku suka dari diri sendiri.

Februari: "Bulan Cinta"
Membuat scrapbook tentang: Ayah dan Ibu, Kakak dan adik, Teman-teman dan sahabat dekat, project: seminggu bersamaku 

Maret: "Bulan kenangan"
Membuat scrapbook tentang masa kecilku, kenangan di masa kecil, cerita-cerita di masa kecil yang aku suka, dan impian masa kecil.

Setiap bulan pertemuan berlangsung 4 kali pertemuan. Setiap Sabtu, Pk. 10.00-12.00 Wib
Peserta terbuka untuk semua umur: anak-anak, remaja, dewasa, manula.
Biaya pendaftaran: rp. 150.000/bulan atau rp. 400.000/3 bulan biaya sudah termasuk alat dan bahan dasar.
Karya para peserta akan di pamerkan pada acara Crafty Days Mei 2011 dalam edisi Ulang Tahun ke 10 Tobucil & Klabs. 

Daftarkan dirimu segera ke: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung telp dan fax  022 4261548
Senin - Minggu, Pk. 09.00 - 20.00 Wib.  

Google Twitter FaceBook

Sunday, January 2, 2011

Madrasah Falsafah 2011: Dokumentasi dan Regenerasi



Madrasah Falsafah merupakan salah satu klab paling konsisten di Tobucil. Jika kau datang hari Rabu sore, sekitar jam lima atau enam, pasti menemukan mereka tengah kumpul-kumpul di beranda. Konsistensi Madfal ini, menurut Rosihan Fahmi, sang koordinator, bukannya tanpa kekhawatiran. Ada semacam hal yang disayangkan, yakni ketiadaan dokumentasi yang mumpuni. Padahal, apa yang dibicarakan di Madfal, menurut Ami, meski terkadang spontan, tapi cukup berbobot. Dan jika disistematisasikan dengan baik, maka akan mampu menghasilkan semacam dokumen atau artikel yang bermanfaat bagi orang lain. 

Sebetulnya telah hadir upaya semacam itu, yang digagas sekitar akhir November 2010. Yakni mengepung satu tema, lewat berbagai sudut pandang berdasarkan "keahliannya" masing-masing. Ujicoba pertama bertemakan kemiskinan. Pertemuan pertama bertemakan kemiskinan dalam sepakbola, pertemuan kedua bertemakan kemiskinan di daerah-daerah terpencil di Indonesia, dan pertemuan ketiga mempermasalahkan kemiskinan lintas generasi. Semuanya dikawal oleh pemakalah yang berbeda, tergantung latar belakang apa yang dikuasainya. Dengan cara seperti ini, menurut Ami, diharapkan masing-masing pemakalah kemudian bisa menuliskan apa yang sudah dibawakannya, termasuk jalannya diskusi. Jika memang topik-topik tersebut dikuasainya, maka pastilah tak seberapa sulit menuliskannya secara lebih sistematis, ketimbang "orang luar" yang menyimpulkan. 

Hal lain yang diharapkan Ami terjadi di tahun 2011, adalah regenerasi. Hal ini sebetulnya sudah cukup berjalan, dari kenyataan bahwa Madfal, ada atau tiada Ami, tetap konsisten berkumpul. Bahkan beberapa tema sudah sanggup dimoderasi oleh peserta-peserta lain yang non-Ami. Hal ini sepertinya menjadi kekhawatiran Ami yang cukup beralasan, mengingat dalam sekitar satu bulan terakhir, Ami urung hadir oleh sebab kesibukannya dan urusan keluarga. Demikian apa yang diharapkan oleh Ami dan Madfal-nya, semoga tercapai di tahun 2011. Hidup ini absurd dan tak bertujuan barangkali, merunut kacamata para eksistensialis, tapi kita wajib merumuskan tujuan kita sendiri. Meski selalu direvisi, meski selalu disangkal sendiri.


Google Twitter FaceBook

Tobucil 2011: Bersiap Menyongsong Tahun Kesepuluh

Tobucil, ternyata, usianya sudah sepuluh tahun. Tidak, tidak, menurut Mba Tarlen, bukan "sudah", tapi "baru" sepuluh tahun. Mba Tarlen, pemilik Tobucil ini, menyatakan bahwa Tobucil baru merangkak, baru mencoba sistem, dan jangan dulu bicara regenerasi. Regenerasi itu topik yang layak diperbincangkan jika usia Tobucil telah memasuki yang kedua puluh tahun. Menurut Mba Tarlen, justru inilah masa-masa dimana ia mesti lebih sering berada di Tobucil dan berjuang menyiapkan sistem yang baik untuk beberapa masa ke depan. 

Sistem yang tengah diujicobakan ini, memang sukses membawa perubahan dan kemajuan. Seperti misalnya, klab-klab yang bernaung di Tobucil, sekarang lebih jelas dan otonom. Dalam artian: lebih bisa mengelola diri sendiri dan tidak tergantung lagi pada peran koordinator. Kemajuan lainnya, tentunya dari segi finansial. Tobucil sekarang lebih baik secara finansial, terutama dari penjualan benang, buku-buku dan handmade. Setiap Tobucil buka stand di acara-acara tertentu juga, standnya cukup disesaki pembeli. Ini menunjukkan konsistensi Tobucil membawa mereka menjadi cukup dikenal dan dipercayai orang-orang untuk membeli hasil-hasil produknya.

Berbicara rencana ke depan, Mba Tarlen menginginkan banyak hal, menyambut Tobucil yang segera menginjak usianya yang kesepuluh. Yang pertama adalah Crafty Days edisi kelima yang Insya Allah hadir di bulan Mei. Bahkan Mba Tarlen mengingatkan para calon pendiri stand untuk bersiap, karena meja yang jumlahnya cuma dua puluh itu, akan diperebutkan secara keras hehe.Lalu rencana lain, adalah Book Day's Out, yang absen selama nyaris enam tahun, setelah penyelenggaraan terakhirnya di Kyai Gede Utama dulu. Book Day's Out adalah semacam bazaar buku yang digagas oleh Tobucil bersama dengan Omunium dan Rumah Buku. Ini juga menjadi upaya Tobucil untuk mengembalikan citranya sebagai toko buku, setelah sekian lama akrab oleh kegiatan crafty, klab, dan penjualan benang-benang.

Sedangkan jika berbicara rencana-rencana yang sifatnya non-even, Tobucil ingin menerbitkan tulisan-tulisan karya teman-teman Klab Nulis, serta menerbitkan kembali zine Tobucil. Lebih luasnya, Tobucil juga ingin menjadi penerbit independen bagi siapapun yang bersedia menerbitkan karyanya, dengan syarat tertentu pastinya. Mba Tarlen juga menitipkan pesan (bagi saya) untuk kembali mengadakan Musik Sore Tobucil yang pernah jaya di tahun 2009 dan awal tahun 2010, tapi kemudian lenyap entah kemana. Intinya, Tobucil begitu ingin lebih bergairah dan aktif di tahun 2011 ini. Semata-mata agar Tobucil semakin konsisten menjadi tempat dimana orang mengaktualisasikan dirinya. 



Musik Sore Tobucil, acara yang hilang di tahun 2010, diharapkan hadir kembali di tahun 2011


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin