Monday, March 28, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #4: Dari Metallica hingga Jason Becker

Seperti biasa, minggu keempat KlabKlassik mesti diisi edisi Playlist. Yakni kumpul-kumpul dimana masing-masing orang membawa satu lagu dalam flashdisk. Diputar dan didengarkan sama-sama, acara ini mengharuskan stamina dan konsentrasi yang sangat tinggi, karena seringkali kita dipaksa untuk mendengarkan musik yang bukan selera kita.

Seperti biasa juga, dua analisator dihadirkan agar listening party ini menjadi agak berbobot, yakni Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Awalnya acara diadiri beberapa orang saja, yakni Deni dan Firman dari Bandung Guitar Network, Nia dari Reading Lights dan Martina Klab Rajut. Hanya saja menit demi menit berlalu, mulai berdatangan orang-orang ke Tobucil dan akhirnya hadirlah sekitar total dua belas orang. Kedua belas orang tersebut sukses memutar lagunya masing-masing di mesin bernama laptop yang disambungkan pada speaker. 

Meski dua belas orang, tapi lagu yang ditampilkan ada sekitar lima belas. Ini dikarenakan Mas Reza dan Mas Beben masing-masing menyuguhkan dua lagu. Maksudnya, mereka ingin mengkomparasi dua lagu yang bertemakan sama. 

  • Edisi Playlist dibuka dengan lagu dari saya yakni Metallica dengan judul Master of Puppets, disambung dengan lagu dari Deni yang sama-sama Metallica dengan judul Enter Sandman. Analisis dari Mas Reza adalah, bahwa Enter Sandman sudah dipadatkan dalam format radio friendly. Durasi lebih pendek, solo gitar lebih ringan, dan beat yang lebih familiar. Bahkan bagi penggila metal tertentu, Enter Sandman yang masuk dalam Black Album disebut-sebut sudah tidak metal. Ke-metal-an Metallica stop di album keempat, yakni And Justice For All. 
  • Mas Beben dapat giliran berikutnya, yaitu menampilkan opera dari Rossini yang berjudul Miau Miau Miau ( Duetto Buffo di Due Gatti) yang ia setel dalam dua versi: yang dinyanyikan anak-anak dan orang dewasa. Lagu ini cukup menarik perhatian karena suara lengkingan opera yang khas hanya berisikan satu kata, yakni "Miau". Apresiasi yang terlalu serius mendapat kritikan dari salah seorang peserta yakni Brigitta. Katanya, "Kalian kok pada serius, aku sih malah geli denger lagu ini."
  • Mas Reza dapat giliran nomor tiga, ia membawakan karya band progresif Italia yakni Premiata Forneria Marconi dengan dua judul yaitu Per un Amico dan Dolcissima Maria. Seperti biasa Mas Reza yang mempunyai telinga khusus, lagu ini cukup sukar diapresiasi, karena musik yang diusung cukup asing. Mereka menyuguhkan skill tradisional klasik sekaligus akar musik Italia, digabung dengan rock progresif. Grup yang sejaman dengan Genesis dan Yes ini di masa itu dianggap menyuguhkan semacam estetika percampuran baru yang cukup segar dan konon "khas" Italia.
  • Nomor empat Mas Yunus yang maju. Masih dengan tema sama, yaitu akulturasi klasik dan rock, Mas Yunus menyuguhkan String Quartet tribute to Linkin Park dengan judul karya In The End. Meskipun riff rock nya sangat kena via hentakan cello, namun Royke menyayangkan aransemennya yang kelewat sederhana dan gagal mengeksplorasi potensi dari sebuah kuartet gesek. Namun Diecky cukup menetralisir dengan mengatakan, "Mungkin aransemen ini ditujukan bagi anak-anak atau orang yang baru belajar, sehingga dibuat sederhana saja."
  • Setelah berkutat di bau-bau klasik, akhirnya forum memutuskan untuk meninggalkan sejenak dan mendengarkan milik Nita. Ia membawa lagu Simon and Garfunkel berjudul America. Lagu melendut khas psychedelic di akhir 1960-an ini cukup menenangkan suasana dan membuat beberapa peserta berimajinasi ke alam lain. Seperti kata Firman, "Seperti tiduran di padang rumput disinari sang surya."
  • Lagu yang dibawa Nia yakni Adele berjudul Rolling in The Deep mendapat pembahasan yang cukup panjang. Salah satunya dikarenakan Adele dianggap sukses menyanyi seperti penyanyi kulit hitam padahal dia seorang putih. Intinya, soul dan blues Adele dianggap "dapet" dan "kena". Diecky malah tertipu karena dikiranya ini penyanyi era 80-an dimana skill penyanyi masih unggul.
  • Jethro Tull dengan Songs from The Wood kiriman AM (nama orang, semoga betul cara menulisnya) mendapat perhatian lebih karena aransemennya yang dahsyat. Tidak banyak kata terucap selain kekaguman. Royke menyentil bahwa menarik jika Jethro Tull diputar di kafe-kafe, bisa-bisa orang yang santai dan kerap mengetukkan kakinya akan salah ketuk karena Jethro Tull punya banyak sekali variasi ketukan.
  • Lagu dilanjutkan dengan Bubuka dan Mystical Mist dari Krakatau. Kiriman Kang Tikno itu membawa peserta playlist pada musik Indonesia untuk pertama kalinya hari itu. Pembahasan menjadi berkembang pada keprihatinan musik Indonesia yang lebih dihargai di luar ketimbang di dalam negeri. Contohnya ya Krakatau itu, yang begitu dicari di Eropa, hingga wanita-wanita bersedia mengetuk kamar hotelnya. Sedangkan di Indonesia job manggungnya relatif jarang dan apresiasinya kurang.
  • Brigitta dapat giliran berikutnya. Ia memutar karya band Indie Yogya bernama Frau yang berjudul Rat and Cat. Meski lokal, hidangan band ini betul-betul terasa jazzy dengan swing yang cukup mantap. Hadirin cukup kaget dengan logat vokalnya yang sangat Barat dan tidak medhok.
  • Firman berikutnya, menjelang akhir pertemuan, memutar karya Parkway Drive yang berjudul Idols and Anchors. Karya tersebut sangat menginspirasi dirinya untuk bermain drum hingga hari ini. Berhubung sudah berlangsung hingga tiga jam, akhirnya pembahasan dipersingkat dan langsung ke karya pamungkas yakni Jason Becker berjudul Air yang dibawa oleh Kang Aka. Karya terakhir sangat cocok sebagai penutup. Beraroma klasik, Jason Becker menampilkan teknik gitar elektrik yang amat tinggi.
Speaker yang dikitari bagai api unggun di malam hari

Playlist edisi keempat ditutup dengan aura cukup segar, karena ternyata beberapa diantaranya, seperti Nita, mengakui bahwa ia menemukan wadah tempat musik-musik favoritnya dihargai secara tulus. Ia mengaku sering mendapat cemoohan karena menyukai musik-musik macam The Doors. Dua minggu ke depan, KlabKlassik akan bertemakan "Mengenal Piringan Hitam dan Kualitas Suara yang Dihasilkannya". Jangan lupa hadiri ya. Gratis, ditraktir kopi pula.


Google Twitter FaceBook

Sidang Klab Nulis Angkatan IX: "Revolusi Mimpi" dan "Penunggu Pelangi dan Pecinta Hujan"

Sesuai tradisi, Klab Nulis mengadakan semacam sidang karya di penghujung kelasnya. Maksudnya, peserta diminta membuat cerpen sebagai tugas akhir, untuk lalu dibedah, disidang, dan dimintai pertanggungjawabannya. Sidang karya yang digagas Sophan Ajie, sang koordinator ini, memang sangat bernuansa akademis. Dipimpin moderator dan dua orang juri (Mas Puji dan Teh Dewi), sidang karya Klab Nulis cukup menghandirkan kesakralan tersendiri.

Terdakwa hari itu adalah Ibrahim Ismullah dan Dini Afiandri. Keduanya sukses menamatkan penulisan cerpen berjudul "Revolusi Mimpi" dan "Penunggu Pelangi dan Pecinta Hujan". Sebagai informasi, semuanya ada di bawah payung besar tema berjudul "Alay". Ibrahim mendapat kesempatan disidang pertama. Ia mau menyuguhkan kealayan lewat ceritanya yang berfokus pada tokoh Aku. Aku yang dimaksudnya, adalah yang gundah gulana di tengah dua pilihan, menjadi pakar hukum atau musisi? Di belakang kedua pilihan itu, terdapat wanita. Awalnya, si aku menjadikan wanita di belakang kedua pilihan tersebut sebagai motivasi utama. Tapi lama-lama akhirnya si aku mendapati bahwa kebenaran sesungguhnya ada pada dirinya sendiri, bukan pada wanita-wanita tersebut. Kritik dari kedua juri adalah sama, yakni bahwa cerita dari Ibrahim tersebut terbilang datar. Kegundahan kurang terasa, walaupun di dalamnya penuh pergolakan batin. Meskipun demikian, pesan yang disampaikannya terhitung cukup kuat.

Terdakwa kedua, adalah Dini Afiandri. Ia menyajikan sebuah karya penuh kode berjudul "Penunggu Pelangi dan Pecinta Hujan". Karya yang sebetulnya cukup simpel ini, dibubuhi stabilo dimana-mana. Yang ternyata masing-masing fotokopian cerpen ternyata mendapat penstabiloan yang berbeda-beda. Dini memaparkan bahwa ia sesungguhnya ingin memberikan semacam clue, atau membuat pembaca terheran-heran dan menebak ada teka teki apa di baliknya. Meskipun demikian, Mas Puji mengritik Dini terlalu membelitkan pembaca dengan ke-Da Vinci Code-an ini. Karena bagi Mas Puji, yang terpenting justru adalah apakah karya itu menggugah atau tidak, sama sekali tidak punya kaitan dengan kerumitan makna dibaliknya. 

Dini Afiandri disidang


Sidang karya Klab Nulis angkatan IX hari itu dibuka dan ditutup oleh permainan biola Brigitta Arum dari KlabKlassik. Hadirilah sesi sidang karya berikutnya tanggal 31 Maret dan 1 April. 



Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Antara Socrates, Plato, dan Aristoteles

Bayangkan ada orang sedang berjalan-jalan di alun-alun. Ia tidak sedang berbelanja atau mencari barang apapun. Ia di alun-alun untuk menanyai orang-orang. Tentang apapun. Pertanyaannya biasa saja, tapi dalam, menerjang, menggali, dan akhirnya sukses mempermalukan ia yang kedapatan ditanyai.

Dia adalah Socrates. Pria yang sering menghardik seseorang di alun-alun dan membuatnya menjadi manusia paling malang di dunia. Socrates si bidan, yang lewat dialognya ia tidak hendak mendoktrin seseorang seperti layaknya kaum Sophis. Ia ingin pengetahuan datang dengan sendirinya dari dalam orang yang ditanyainya. Mulia, canggih, jarang ditemui di dunia pendidikan hari ini, tapi tetap saja menyebalkan. Terbukti bahwa Socrates akhirnya diadili penguasa, diminta memilih: angkat kaki dari Yunani atau minum racun cemara. Demi kebenaran Socrates memilih mati. 

Demikian pembukan Filsafat untuk Pemula pertemuan keenam. Yang hadir lengkap, ada empat peserta plus beberapa peserta gelap. Dipandu Rosihan Fahmi, topik hari itu bercerita tentang tiga filsuf besar jaman Yunani Klasik, yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles. Menarik karena Kang Ami terbilang fasih tentang Socrates. Madrasah Falsafah Sophia yang ia gelar tiap Rabu di Tobucil menggunakan metode ala Socrates. Ami bertanya, menggali, dan akhirnya mendapatkan kebenaran dari kedalaman jawaban si yang ditanya itu sendiri. 
Plato berikutnya, adalah murid Socrates paling setia. Atau justru, sesungguhnya tiada yang namanya Socrates, karena kita mengetahui Socrates cuma dari karya-karyanya Plato. Socrates tak pernah berkarya. Plato adalah seseorang yang sedemikian kuat mengatakan bahwa yang nyata ini adalah sementara dan kerap berubah. Yang sejati adalah dunia ide, tempat kita hidup sebelumnya: pra-eksistensi, "Mengetahui berarti mengingat sesuatu dari alam ide". Aristoteles, sang murid, adalah persis lawan dari Plato. Ia mengatakan bahwa yang sejati adalah dunia eksistensi. Dunia ide sesungguhnya cuma khayali, semacam proyeksi dari dunia kita sekarang.

Setelah memaparkan secara singkat ketiga pemikiran filsuf besar tersebut, akhirnya diperoleh semacam konklusi bahwa pada awalnya (terutama Socrates), filsafat betul-betul sesuai akar katanya: philo dan sophia yang berarti cinta kebijaksanaan. Socrates sama sekali tidak mempunyai perbedaan serius dengan pecinta kebijaksanaan lain semisal Buddha atau Konfusius. Entah kenapa semakin kesini filsafat jadi diklaim milik kelompok tertentu saja. Rumit, berbelit-belit dan tidak bersahabat. Mari hidupkan kembali heroisme Socrates.


Syarif Maulana

Plato kiri, menunjuk ke langit. Konon disimbolkan sebagai pemujaannya terhadap dunia ide. Aristoteles menunjuk ke bumi, menunjukkan bahwa yang sejati adalah yang berada di "sini". Dunia eksistensi. Gambar diambil dari dunia maya.
Google Twitter FaceBook

Saturday, March 26, 2011

Siapa Mau Ikut Bazaar Crafty Days #5, 14-15 Mei 2011 @tobucil ?


 Tobucil & Klabs, kembali menyelenggarakan acara tahunan Crafty Days untuk kelima kalinya sekaligus bertepatan dengan ulang tahun Tobucil & Klabs yang ke 10. Crafty Days kali ini mengambil tema: "Craftivism in our everyday life", meliputi kegiatan pameran, bazaar dan workshop.

Untuk itu, kami membuka pendaftaran untuk kegiatan bazaar dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Barang yang dijual adalah karya kerajinan tangan buatan sendiri dan tidak diproduksi dalam jumlah masal.

2. Peserta yang mendaftar mengirimkan data dan foto contoh karya ke tobucil@gmail.com.

Untuk data silahkan copy form berikut ini:
NAMA LENGKAP PESERTA:
NAMA LABEL/MEREK (jika ada):
ALAMAT LENGKAP:
NO TELEPON & NO. HP:
ALAMAT EMAIL:
ALAMAT BLOG (jika ada):
DESKRIPSIKAN BARANG YANG AKAN DIJUAL:
sertakan foto maksimal 5 foto

3. Pendaftaran peserta bazaar dibuka mulai: 27 Maret - 14 April  2011 (terbuka bagi peserta dari bandung maupun luar Bandung).

4. Formulir pendaftaran di serahkan selambat-lambatnya tanggal 14 April 2011, melalui email maupun datang langsung ke Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung. Formulir yang terlambat masuk tidak akan diikutsertakan dalam seleksi pemilihan peserta bazaar.

5. Tobucil & Klabs akan menseleksi peserta yang mendaftar berdasarkan: keunikan desain dan bahan yang belum pernah ditampilkan di crafty days sebelumnya. Hanya tersedia 20 meja.

6. Peserta yang terpilih akan di hubungi selambat-lambatnya tanggal 17 April 2011 melalui email dan telepon.

7. Peserta yang terpilih membayar biaya sewa meja rp. 300.000 (untuk dua hari/meja)

8. TOBUCIL TIDAK MENGAMBIL PRESENTASE DARI PENJUALAN.

keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
tobucil 022 4261548 (senin-minggu, Pk. 9.00 - 20.00 wib)
Google Twitter FaceBook

Sunday, March 20, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #4

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #4 yang akan berlangsung tanggal 27 Maret 2011 jam 15.00-18.00. KlabKlassik Edisi Playlist adalah kumpul-kumpul rutin yang terbuka untuk umum. Peserta kumpul -kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Di akhir pemutaran setiap lagu, akan dianalisis oleh komposer Diecky K. Indrapraja dan penggalau musik Ismail Reza.  Untuk edisi keempat ini, agar lebih tertib, calon peserta diharapkan mendaftarkan dahulu lagu yang akan diputar ke tobucil@gmail.com atau syarafmaulini@gmail.com untuk diatur urutan pemutarannya. 

Catatan: Lagu tak perlu lagu klasik biarpun ini KlabKlassik.

Suasana KlabKlassik edisi Playlist #3 bersama Ismail Reza (biru) dan Diecky K. Indrapraja (paling kiri). 
Sedang mendengarkan paparan Mba Tarlen tentang lagu favoritnya, The Hardest Button to Button dari White Stripes
 

Google Twitter FaceBook

Klab Rajut dan Sinergi di Hari Minggu

"Mba Upi, sedang apa?"
"Merajut bantal."
"Bantal untuk apa?"
"Untuk yang punya Tobucil. Hadiah ulang tahun. Hehe."

Klab Rajut adalah salah satu klab yang paling tua dan eksis di Tobucil. Umurnya lebih dari enam tahun dan sudah mulai berdiri sejak Tobucil masih di Kyai Gede Utama no. 8. Klab ini juga kumpul paling sering, yakni dua kali dalam seminggu. Lantas mengapa klab ini jarang terliput jika memang ternyata eksis? Jawabannya sederhana, karena mereka rajin terpampang dalam blog mandiri yang lain bernama Tobucil handmade. Meski demikian tak ada salahnya jika posting ini bercerita tentang kegiatan mereka kemarin.

Di jam 13.00 itu, jam dimana mereka memulai aktivitasnya di hari Minggu, saya merapat dan melihat kegiatan mereka dari dekat. Mba Upi, sang instruktur, ketahuan sedang merajut bantal untuk Mbak Tarlen, pemilik Tobucil sekaligus kakak kandungnya. Lalu disana duduk dua orang lainnya. Mba Widi, ia tengah membuat selimut. Menarik ketika selimut tersebut sama sekali tak nampak wujudnya, ia cuma merajut bagian-bagian kecil sebesar tatakan gelas. Konon rajutan kecil itu lantas dirangkai menjadi selimut besar. Duduk juga disana Bu Uke, yang tengah merenda. Ditemani suami dan anaknya, ia tengah membuat rompi bagi dirinya sendiri. Perbedaannya, Mba Widi menggunakan teknik merajut dengan menggunakan knitting, sedangkan Bu Uke disebut merenda dengan menggunakan crochet. Mereka bernaung di bawah dua guru yang berbeda, Mba Upi (knitting) dan Dian (crochet).

Tarif kelas merajut maupun merenda sama, yakni Rp. 500.000 untuk tiga bulan dengan 24 kali pertemuan. Keduanya mensyaratkan pakaian semisal sweater sebagai hasil puncak dari keseluruhan pertemuan ini, meskipun tidak tertutup kemungkinan membuat produk-produk lain di tengah-tengah kelas. Mba Upi dan Dian juga menyediakan diri untu waktu-waktu privat di luar Sabtu dan Minggu dengan harga Rp. 60.000 untuk dua jam.

Yang menarik adalah melihat bagaimana peran mereka di hari Minggu, ketika persis di waktu yang sama KlabKlassik juga berkumpul. Klab Rajut biasanya tenang, diam, sedangkan di seberang meja ada KlabKlassik yang penuh riak dan gaduh. KlabKlassik berkelakar, Klab Rajut diam-diam tersenyum. Namun Klab Rajut juga menjadi garis batas kebebasan KlabKlassik. Jika Klab Rajut sudah sedikit demi sedikit menyingkir dari meja, artinya KlabKlassik terlalu liar dan berisik. Keduanya bersinergi bagai Yin dan Yang.

Sebelah sini Klab Rajut, sebelah sana KlabKlassik

Syarif Maulana


Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Para Filsuf Pra-Sokrates

Filsafat untuk Pemula edisi kelima membawa pesertanya "akhirnya mempelajari Barat", setelah beberapa pertemuan sebelumnya dijejali pengetahuan-pengetahuan tentang filsafat non-barat seperti Konfusianisme, Hinduisme, Buddhisme, dan kebudayaan-kebudayaan Semit. Edisi ini  berkisah mengenai sejarah filsafat pra-Socrates, yaitu ketika para filsuf Miletos di kawasan Asia Kecil (yang diklaim sebagai Yunani) seperti Thales, Anaximandros, dan Anaximenes menuturkan pemikirannya.

Sebelum memaparkan apa inti pemikiran mereka-mereka, mari simak konteks sosio kultural kala itu. Di Yunani, yang konon menjadi tempat lahirnya konsep demokrasi, waktu itu berdiri polis-polis. Polis adalah negara kota, yakni semacam wilayah otonomi yang isinya didominasi oleh orang-orang yang disebut oleh Yunani sebagai "merdeka". Artinya, Yunani tidak berada dalam suatu kekuasaan tirani raja tertentu (itu sebabnya kita tak pernah mendengar istilah "Raja Yunani). Mereka hidup dalam suatu sistem pemerintahan rakyat, dimana rakyat bebas berbicara dan mengemukakan pendapat untuk kepentingan bersama. Bagaimana dengan pekerjaan-pekerjaan kasar? Tenang, mereka sudah menyewa para budak, sehingga banyak diantaranya menjadi sangat kurang kerjaan dan punya waktu untuk berpikir tentang hakekat alam semesta ini.

Atas dasar itu, Thales, salah seorang diantara warga polis itu, sanggup menelurkan spekulasi bahwa alam semesta ini terbuat dari air. Thales diklaim sebagai filsuf pertama, karena pernyataannya waktu itu yang dianggap sebagai mandiri, rasional, dan tidak berlandaskan doktrin mitos tertentu. Setelah itu muncul muridnya, Anaximandros, yang bilang bahwa alam semesta ini berasal dari sesuatu yang tak terbatas atau to apeiron. Anaximenes, pengikutnya, berbeda pendapat lagi (menunjukkan bahwa ciri filsafat adalah berpikir atas dasar pijakan nalar sendiri), ia mengatakan bahwa alam semesta ini jangan-jangan terbuat dari udara.

Oke, mari tinggalkan Yunani sejenak. Waktu itu mereka berada di sekitar tahun 500 SM, yakni di waktu yang sama ketika di belahan Timur sana, tepatnya Cina, Konfusius mengajarkan filsafatnya di hadapan murid-muridnya. Saat para filsuf Yunani itu sibuk mencari ontologi (filsafat berkaitan dengan hakekat atau "ada"), Konfusius sudah masuk ke etika sesama. Ia tak lagi pusing memikirkan alam semesta ini terbuat dari apa, melainkan langsung pada bagaimana semestinya manusia berbuat baik, persis seperti ajaran Socrates di Yunani ratusan tahun kemudian.

Ini sekali lagi menunjukkan klaim Barat terhadap kepemilikan filsafat. Mereka konon lupa bahwa ada seseorang yang semacam Socrates di Timur, lebih duluan, dan faktanya, ajarannya lebih mengakar dalam diri masyarakat Cina hingga hari ini. Pembahasan berlanjut ke pemikiran-pemikiran filsuf Yunani pra-Socrates berikutnya, mulai dari Heraklitus, Parmenides, Empedokles hingga Xenophanes. Pembahasan Filsafat untuk Pemula berikutnya akan masuk pada pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

Sunday, March 13, 2011

KlabKlassik: Menghadirkan Alam Lain lewat Musik Psikedelik

Minggu, 13 Maret 2011



Eight miles high and when you touch down
You’ll find that it’s stranger than known
Signs in the street that say where you’re going
Are somewhere just being their own


Lirik di atas adalah penggalan dari lagu The Byrds yang berjudul Eight Miles High. Lagu tersebut menjadi pembuka pertemuan KlabKlassik yang bertemakan musik Psikedelik. Dipandu oleh Ismail Reza, diskusi tersebut berlangsung dalam kelompok kecil, sekitar lima orang, namun menarik. Secara sederhana, musik psikedelik diartikan sebagai musik yang terinspirasi oleh penggunaan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin dan sejenisnya. Dalam musik itu, diupayakan hadirnya ilustrasi dari "alam lain", yakni alam yang dihasilkan oleh pengaruh obat-obat tersebut.

Musik yang dihadirkan memang "sesuai", misalnya temponya yang mendayu, melendut, sampai terdapat bebunyian eksperimen yang tiba-tiba, persis seperti jika seseorang dalam pengaruh obat-obatan. Mas Reza kemudian menjelaskan, fenomena tahun 60-an dan 70-an di Amerika dan sebagian Eropa ini sebetulnya tak bisa langsung dicap sebagai penyalahgunaan. Bagi sebagian besar masyarakat Amerika, misalnya, ini adalah bentuk perlawanan terhadap Perang Vietnam yang kala itu sedang marak sebagai efek Perang Dingin. Masyarakat Amerika merasa bahwa realitas begitu menyedihkan, begitu menakutkan, rasionalitas ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain". Ini juga didorong oleh pengaruh budaya Timur yang mulai masuk ke Amerika. Di Timur, orang-orang "berpindah alam" dengan meditasi, membuat Barat pun tergiur. Bedanya, Barat memakai obat-obat.

Diskusi berlangsung cukup padat dan mendalam, terutama ditambah dengan kehadiran Budi Warsito yang juga penggemar musik-musik macam ini. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Bach dan Beethoven, juga membutuhkan semacam "doping" dalam menelurkan mahakaryanya? Diecky K. Indrapraja menjawab begini, "Seniman manapun selalu membutuhkan sesuatu dari luar dirinya dalam mencipta. Doping itu tak mesti obat-obatan, bisa istri, bisa pacar, bisa kopi, ataupun bir. Tapi yang pasti, 'alat bantu' itu mustahil tidak ada." Di ranah agama, Rudi, salah seorang peserta memaparkan profil Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang membutuhkan anggur dan tarian memutar untuk "mencapai hakekat". 

KlabKlassik seolah berubah arah, berganti kiblat, tak lagi membahas komposer abad ke-16 hingga ke-18. Tapi tidakkah wikipedia sudah hadir memfasilitasi semuanya jika kau ingin tahu? Yang esensial barangkali adalah bukan soal tiadanya bahasan tentang abad Barok hingga Romantik tersebut, melainkan bagaimana caranya agar musik psikedelik ataupun musik Kangen Band sekalipun, bisa menjadi puzzle yang melengkapi cara kita dalam memandang perkembangan musik Barat secara komprehensif. Amin.

Kover album Santana, Abraxas, contoh gerakan psikedelik di bidang seni rupa. 
Gambar diambil dari sini.


Playlist hari itu:
1. Pendahulu - American Scene:
The Byrds - Eight Miles High
13th Floor Elevator- You Don't Know (How Young You Are)
Jefferson Airplane - White Rabbit
 

2. Pendahulu - British Scene: 
The Yardbirds - For Your Love
Soft Machine - A Certain Kind
Soft Machine - Pataphysical Introduction pt 2 / Out of Tunes
Pink Floyd - Mathilda's Mother / Interstellar Overdrive

3. yang Mempopulerkan:
The Beatles - Being for the Benefit of Mr. Kite!

‎4. Tell me a Story:
Cream - Tales of the Brave Ulysses
Gong - Oily Way

‎5. Soundtrack for the Era
Sly & the Family Stone - Thank You (Faletinme Be Mice Elf Agin)

6. Jazz 
Miles Davis - Black Satin

7. Grunge/Seattle Sound
Soundgarden - Black Hole Sun

‎8. Neo Psychedelia:
The Black Mountain - Wucan
Boris - My Neighbor Satan

Google Twitter FaceBook

Filsafat Untuk Pemula: Mencari Kebenaran dalam Tradisi Semit

Selasa, 8 Maret 2011

Syahdan, Ibrahim dan Sarah, istrinya, sudah berpuluh-puluh tahun tanpa dikaruniai momongan. Di umurnya yang sudah tiga digit, Ibrahim pun akhirnya menikahi Hajar, seorang wanita yang lebih muda. Singkat cerita, Ibrahim dan Hajar diberkahi putra yang diberi nama Ismail. Ismail inilah awal mula garis keturunan Muhammad. Tak lama pasca kelahiran Ismail, ternyata Sarah, istri tua nya pun mengandung, dan akhirnya melahirkan putra bernama Ishak. Ishak ini kemudian mempunyai anak bernama Yakub dan Esau. Dari jalur Yakub, lahirlah dua belas suku Yahudi yang mana salah satu anaknya yang bernama Yusuf kelak menjadi awal dari garis keturunan Daud, Sulaiman, hingga Isa.

Cerita tersebut mengawali pertemuan keempat Filsafat untuk Pemula di Tobucil tentang filsafat tradisi Semit. Semit secara sederhana adalah kebudayaan yang berkembang di kawasan Timur Tengah tempat lahirnya bangsa Arab dan Yahudi. Dari kebudayaan tersebut lahirlah tiga agama besar, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Jika Timur Tengah kita setujui sebagai kawasan "Timur", maka pertanyaan kritisnya, kenapa Kristen seolah-olah menjadi milik "Barat"? 

Jawaban secara historis sesungguhnya cukup sederhana, yaitu keberadaan Paulus yang menyebarkan ajaran Isa hingga ke Yunani sehingga akhirnya peradaban Yunani (beserta Romawi)-lah yang mengembangkan Kristen. Salah satu ciri agama Semit adalah tidak menjadikan indra penglihatan sebagai sesuatu yang krusial. Kita tahu dalam Islam dilarang menggambar Allah dan rasulnya. Ternyata demikian halnya dengan Yahudi dan Kristen, sesungguhnya mereka pun dilarang "berlomba-lomba dengan Tuhan dalam hal mencipta". Lalu mengapa Yesus digambarkan dan gereja Kristen dipenuhi gambar-gambar? Karena demikianlah kebudayaan Indo-Eropa, yakni kebudayaan tempat asal muasal India, Yunani, Romawi, dan Eropa pada umumnya dilahirkan: mereka lebih suka gambar-gambar dan memanjakan indra penglihatan. 

Gambar diambil dari sini

Konon, filsafat lahir karena adanya respon terhadap Abad Kegelapan yang dihasilkan oleh tirani gereja Kristen. Sejak itu Renaisans berkembang, dimana manusia mulai berpikir  mandiri dan akhirnya disebut sebagai awal mula filsafat modern. Jika ditarik benang merah ke belakang, sebelum filsafat ada gereja, sebelum gereja ada Paulus, sebelum Paulus ada Isa, dan sebelum-sebelumnya Isa ada Ibrahim yang lahir di Timur, maka bolehkah kita, sebagai orang Timur, "kecewa" dengan klaim filsafat bahwa dirinya adalah sebagai produk Barat semata? Karena artinya, sumbangsih Timur pada Barat sungguh sudah sangat purba, dan bahkan menyebabkan lahirnya filsafat Barat yang merajalela itu.

Agama Semit memang kerap disibukkan dengan penulisan kitab suci dan penafsirannya, maka itu pertentangan antar mereka masih abadi hingga hari ini. Filsafat yang konon rasional, paling gembira jika mesti menyerang warisan Ibrahim ini. Seolah lupa bahwa Semit justru merupakan ibu kandungnya, lupa bahwa Semit juga mempunyai nilai kebenaran, dan filsuf-filusf besar lahir karenanya.


Google Twitter FaceBook

Monday, March 7, 2011

Filsafat Untuk Pemula: Menyoal Filsafat Tradisi Non-Semitik

 Selasa, 2 Maret 2011

Setelah dua pertemuan sebelumnya membahas soal pemetaan filsafat barat-timur dan mitos, Kelas Filsafat untuk Pemula kali ini mengetengahkan tema filsafat tradisi non-semitik. Apakah gerangan non-semitik? Sebelum masuk ke sana, penting sekali untuk mengetahui apa itu filsafat semitik. Filsafat semitik adalah filsafat yang berasal dari agama-agama semit alias agama Ibrahim. Yang dimaksud agama Ibrahim tentu saja tiga agama besar yakni Kristen, Islam, dan Yahudi. Maka itu yang dimaksud non-semitik disini mencakup Konfusianisme, Buddhisme, Hinduisme, maupun Taoisme.

Di bawah arahan Rosihan Fahmi, kelas tersebut diikuti oleh empat orang yakni Tanto, Wawan, Rudi, dan Bu Maria. Selain mengemukakan profil singkat masing-masing paham tersebut, Kang Ami juga mengajukan semacam pertanyaan kritis: mengapa Buddha, Hindu, Tao, dan Konfusianisme sering sekali disebut dengan agama (alih-alih filsafat) oleh masyarakat Barat? Konon, Barat mempunyai syarat yang "ketat" tentang mengapa suatu pemikiran dapat disebut dengan filsafat, yakni: kritis, radikal, komprehensif, dan reflektif.

Kang Ami (panggilan Rosihan Fahmi) kemudian dengan tajam membongkar "agama-agama" tersebut dengan pisau bedah persyaratan filsafat menurut Barat itu tadi. Ternyata ditemukan bahwa Buddha, Hindu, Tao, dan Konfusianisme sangat pantas dilabeli filsafat. Misalnya begini: Konfusianime punya kepercayaan bahwa kematian tidak sanggup digambarkan, maka itu yang terpenting adalah memahami kehidupan. Demikian kiranya pernyataan tersebut dianggap kurang kritis dan radikal. Namun perhatikan bagaimana pernyataan itu jika diselami dengan baik secara aksiologis (manfaat bagi kehidupan sehari-hari): Masyarakat Cina sebagai penganut Konfusianisme paham betul bahwa bekerja di dunia adalah bagian dari aktualisasi nilai spiritualnya, itu adalah cara mereka memahami kematian. Dengan demikian tak sulit bagi kita untuk menyimpulkan orang-orang Cina sebagai orang-orang yang ulet, tekun, dan pekerja keras.

Kang Ami kemudian membagi dua pemahaman seseorang tentang filsafat, yang pertama: ada orang yang ahli filsafat, yakni mereka yang paham sejarah filsafat dan teori-teorinya secara mendasar. Yang kedua adalah filsuf, adalah mereka yang menggunakan filsafat sebagai world view, dimana pemikiran dan perbuatan adalah sejalan. Inilah yang menjadi patokan kelas hari itu, yakni kenyataan bahwa bagi orang Timur, filsafat lebih dari sekedar teori-teori, ia adalah pandangan tentang dunia, tentang bagaimana cara berbuat dan bertutur-laku.
Google Twitter FaceBook

(Pra) Koperasi Makmuraya, Demi Kemakmuran Para Anggota


Mungkin ada yang masih ingat, bahwa salah satu bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Mohammad Hatta adalah juga bapak koperasi Indonesia. Bung Hatta menafsirkan bahwa bentuk perekonomian yang paling sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, khususnya Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, adalah koperasi.
Koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi.Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani non-anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri.[1]

Idealisme besar koperasi Makmuraya tentu saja sejalan dengan penafsiran Bung Hatta tentang koperasi itu sendiri, Makmuraya yang berdiri pada tanggal 5 Juli 2010 ini, berusaha mengusung semangat kemandirian bagi dan tentu saja memakmurkan para anggotanya, sesuai dengan namanya. Kebetulan saja, para penggagasnya sering berkumpul di tobucil, meski koperasi ini sendiri merupakan organisasi mandiri yang terpisah sama sekali dari tobucil. Dari tujuh orang anggota: Erri Nugraha, Kenti Prahmanti, Palupi, Dian Rinjani, Yuliana, Mulyana dan Tarlen Handayani, kini anggota Makmuraya bertambah menjadi tiga belas anggota (sampai Maret 2011).

Makmuraya bergerak di bidang simpan pinjam. Setiap anggota berkewajiban menyimpan simpanan pokok sebesar Rp.100.000 sekali selama jadi anggota, iuran wajib perbulan sebesar Rp. 20.000 dan simpanan sukarela dengan jumlah sukarela, sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota. Dana simpanan ini yang kemudian menjadi dana kewirausahaan mandiri bagi anggota yang membutuhkannya. Anggota bisa meminjam dengan jumlah maksimal tiga kali lipat dari tabungan masing-masing dan pengembaliannya dapat diangsur maksimal sepuluh kali. Dari jumlah angsuran yang telah ditetapkan itu, setiap anggota juga menambahkan bagi hasil usaha sebesar 1.5 % menurun. Di pertemuan tahunan, hasil usaha yang terkumpul ini akan dibagikan kembali bagi para anggotanya. Jadi dari anggota akan kembali lagi untuk anggota.

Hal yang lebih penting dari Koperasi Makmuraya tidak hanya soal simpan pinjam saja, tapi bagaimana setiap anggota yang punya usaha bisa saling mendukung satu sama lain. Misalnya anggota yang biasa membuat kegiatan bisa bersinergi dengan anggota lain yang memiliki usaha membuat jajanan pasar. Jadi koperasi Makmuraya ini juga bisa menjadi semacam kongsi dagang komunitas.

Demikian cara Marmuraya yang terbilang cukup sederhana ini, memakmurkan dan memandirikan anggota-anggotanya. Hal tersebut sejauh ini dirasakan sudah sesuai dengan yang diinginkan Erri sebagai ketua Makmuraya, "Ya, selama ini sudah hampir semua anggota memanfaatkan jasa simpan pinjam dari Makmuraya untuk kepentingan usaha masing-masing."Hal ini juga diakui oleh Bendahara, Kenti Prahmanti, "Alhamdulillah, anggota Makmuraya cukup disiplin dalam mencicil pinjaman masing-masing, jadi aset koperasi bisa bergulir lancar dan berkembang sedikit-demi sedikit tapi pasti. Senang juga kalau nanti bisa bagi-bagi Sisa Hasil Usaha yang cukup lumayan buat para anggota."

Penasaran dengan koperasi Makmuraya boleh tanya-tanya ke: makmuraya@gmail.com blognya masih underconstruction :)

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin