Monday, April 25, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #5: Dari Gito Rollies hingga Secret Garden

Minggu, 24 April 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #5 digelar di sore yang hampir-hujan itu. Seperti biasa, seluruh peserta memulai acara dengan memasukkan lagu favoritnya masing-masing ke dalam laptop Beben, sang operator. Kegiatannya sederhana, semuanya mengapresiasi lagu yang dibawa oleh masing-masingnya, untuk kemudian dikomentari oleh yang lain, sementara narasumber Diecky K. Indrapraja dan Ismail Reza memberi semacam analisis singkat. Yang datang hari itu cukup banyak, termasuk beberapa mahasiswa jurusan seni musik UPI dan dosen apresiasi musik UPI, Pak Tono Rachmad. Berikut lagu-lagu yang diputar hari itu berikut pembahasan singkatnya:

Gito Rollies - Burung Kecil
Lagu yang dibawa oleh Kang Tikno ini cukup datar dan tidak banyak perubahan dinamika, namun liriknya diam-diam cukup dalam serta suara Gito Rollies sangat dipenuhi penghayatan. Hal ini, menurut Mas Reza, sekali lagi menunjukkan hebatnya musisi Indonesia, namun yang sangat disayangkan adalah pengarsipannya yang kadang kurang teliti. Kang Tikno menambahkan bahwa pemilihan lagu ini disebabkan oleh mulai digunakannya efek-efek synthesizer yang pada masa itu masih sangat langka.
Itzhak Perlman - OST Schindler's List
Lagu yang dibawa oleh Aldi ini sepaket dengan videonya. Sehingga beberapa dari peserta bisa melihat raut wajah serius dan penuh kesan mendalam dari Itzhak Perlman, sang violinis keturunan Yahudi itu. Pembahasan menjadi cukup serius ketika Mas Reza berbagi pengalamannya ke museum Yahudi di Jerman. Betapa bangsa Yahudi sangat pandai dalam menuturkan kembali tragedi-tragedi yang mereka alami sehingga suasana dramatis menjadi terbangun. Ini barangkali cukup mendasari bagaimana seorang Yahudi seperti Perlman sanggup menerjemahkan karya yang ditujukan bagi film Schindler's List itu dengan sangat sukses. Schindler's List sendiri adalah film tentang holocaust.

L.V. Beethoven - Symphony no. 5
Lagu ini dibawa oleh saya sendiri, agar kemudian menjadi pembahasan yang cukup analitikal terutama dari sudut pandang akademisi dari UPI seperti Pak Tono dan mahasiswanya. Symphony no. 5 dibahas cukup dalam oleh Pak Tono, dari sudut bagian-bagiannya seperti eksposisi, pengembangan, dan rekapitulasi. Serta kalimat-kalimat lagunya yang diulang-ulang, namun sesungguhnya menggambarkan suasana hati Beethoven yang waktu itu sudah mulai kesulitan pendengaran. Bagi orang yang kesulitan pendengaran, bunyi yang didengar biasanya hanya berupa gelombang-gelombang saja, dan demikian Beethoven menuangkan "kegelombangan" itu dalam kalimat lagu yang diulang-ulang dan berbeda range suara tersebut.

Pat Metheny - Last Train Home
Lagu ini dibawa oleh Martina. Melodinya relatif sederhana, namun pembahasannya cukup asyik. Ternyata ada bunyi drum yang dibunyikan secara konstan, mengilustrasikan roda kereta yang berputar. Lagu diakhiri secara fade out, karena menurut Mas Reza, agar pesan "kereta menuju pulang"-nya terasa, mesti ada kesan "menjauh". Dicky pun membenarkan dengan mengatakan bahwa lagu seperti ini, dengan konstanta seperti ini, haruslah di-fade-out-kan.

Bilie Holiday - Gloomy Sunday
Lagu yang dibawa oleh Nia ini dijuluki juga dengan Hungarian suicide song. Memang lagu ini sangat lambat, melendut, mengawang-ngawang, dan liriknya seolah mengajak "pergi dari dunia", dengan bas konstan yang sengaja dipasang keras-keras. Meski demikian, ada beberapa peserta yang tidak sepakat akan efek bunuh diri yang ditimbulkan oleh lagu ini, meskipun Nia sudah memaparkan "data-data mitos" tentang lagu ini yang konon meningkatkan angka bunuh diri di Hungaria. Bisa dicoba untuk didengarkan.

Maurice Ravel - Bolero
Lagu berdurasi lima belas menit yang dibawa oleh Gilang ini adalah lagu yang terpanjang hari itu. Temanya diulang dalam instrumen yang berbeda-beda, dan dinamikanya turun-naik sepanjang karya. Karya jaman Romantik tersebut tidak banyak dibahas oleh sebab waktu yang sudah melebihi jam yang ditentukan, sedang karya yang belum diputar masih banyak.

John Zorn - The Big Gundown (OST Spaghetti Western)
Karya kontemporer bawaan Mas Reza ini mempunyai banyak sekali elemen kejutan sepanjang tujuh menitnya. Mulai dari irama country, hentakan-dentuman, musik Afrika, hingga piano fur-elise dicampur adukkan dengan "seenaknya", membuat beberapa peserta tertawa-tawa. Kata Diecky, ini adalah salah satu bentuk karya kolase. Menempelkan potongan-potongan karya untuk jadi sesuatu karya yang baru.

Leonard Cohen - Hallelujah
Karya ini dibawa oleh Margaretha. Leonard Cohen adalah seorang penyair-musisi, maka itu lagunya seringkali digarap dengan lirik-lirik yang puitis. Lagu tersebut menjadi lebih relevan karena Edisi Playlist #5 bertepatan dengan hari paskah. Karya tersebut juga tidak dibahas panjang-panjang karena lagu-lagu lain masih menanti. 

Tom Waits- Walk Away
Lagu ini dibawa oleh Mba Tarlen. Lagu "blues murni" tersebut membuat peserta terkagum-kagum karena dalam era sekarang ini sulit sekali menemukan musisi yang betul-betul menjiwai blues. Blues sendiri, sering didengungkan Mas Reza sebagai bentuk penghayatan mendalam, alih-alih sebagai aliran musik saja.Tom Waits punya kekuatan dalam bertutur, sehingga satu lagu pun, bagi Mba Tarlen, punya arti yang baru terus setiap kali didengarkan.

The Project - Fables of Faubus
Lagu jazz ini dibawa oleh Jazzy via iPod. Lagu tersebut baru ia dengar hari itu sehingga ia pun tidak bisa membahas secara mendalam. Akhirnya Mas Reza membahas bahwa lagu ini adalah ciptaan komposer jazz Charles Mingus yang mengritik Gubernur Arkansas di tahun 1957, Orval Faubus, atas kebijakannya yang melarang beberapa anak sekolah keturunan Afrika untuk bersekolah.

Lukas Sulic & Stepjan Hauser - Smooth Criminal
Lagu ini dibawa oleh Beben, sang operator. Karya yang dipopulerkan oleh Michael Jackson tersebut dibawakan oleh duet cellist muda Kroasia, Lukas Sulic dan Stepjan Hauser. Meskipun hanya berdua, tapi karya tersebut ditampilkan dengan sangat penuh dan spektakuler. Peserta terhibur dibuatnya, dan banyak mengira lagu itu dimainkan dalam format kuartet.

Secret Garden - Hymn to Hope
Lagu penutup ini dibawa oleh Haris. Tidak banyak pengetahuan yang mendasari mengapa ia memilih lagu ini, namun jelas bahwa lagu ini sarat dengan kedekatan emosional dengan si pembawa lagu. Lagu yang menenangkan dengan instrumen utama bagpipe Skotlandia itu berlangsung datar tapi sangat melodius.

Demikian kedua belas lagu yang diputar dalam Edisi Playlist #5. Sesungguhnya pertemuan tersebut bukan ditujukan untuk mencari kesepahaman atau objektivitas musik. Hanya sekedar sebagai tempat dimana kita bisa menghargai "kepercayaan" yang dipunyai oleh orang lain. Metallica, yang menjadi teman saya di kala SMP, dari bangun tidur hingga tidur lagi, tidak ada guna apapun bagi saya kala ia dibahas aspek musikalnya sekalipun. Bagi saya ia sudah melekat, mendarah daging, dan yang pribadi itulah yang jauh lebih penting dari kesepahaman apapun. 






Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Memecahkan Kegalauan Ijal dan Ratna

Rabu, 20 April 2011

Rabu itu semestinya Hadi yang menyajikan topik, yakni pembahasan mengenai buku Lekra dan Manikebu. Hingga pukul enam, Hadi belum juga hadir. Akhirnya Madrasah Falsafah mulai mengobrol ngalor-ngidul, berharap salah satu dari celetukannya sukses nyantol untuk menjadi topik. Ternyata salah satunya memang berhasil, yakni ketika Ratna dan Ijal menceritakan tentang rencananya untuk mengikuti Eagle Awards. Eagle Awards adalah kompetisi film dokumenter yang diselenggarakan oleh MetroTV. Tema film dokumenternya adalah Bagimu Indonesia. Para peserta tidak mesti membuat filmnya, melainkan hanya menyumbang konsep untuk kemudian digarap oleh kru MetroTV itu sendiri.

Jadilah diputuskan, tema hari itu adalah tentang pematangan konsep film dokumenter Ijal dan Ratna. Dalam workshop yang digagas oleh MetroTV, didorong bagi para peserta untuk lebih menyoroti lingkungan sekitar, dari yang terdekat. Maka itu Ijal dan Ratna terpikir soal Gasibu pagi, yakni pasar tumpah yang hadir setiap Minggu pagi. Persoalan Gasibu inilah yang kemudian dibahas secara filosofis. Dalam pembicaraan Madfal, keberadaan pasar di Gasibu dapat dilihat sebagai tiga hal: Pertama, sebagai bentuk disfungsi ruang. Ruang yang semestinya dipakai untuk berolahraga, ternyata dipakai untuk hal yang non-olahraga. Kedua, perspektif yang lebih damai, adalah geliat sektor informal. Artinya, ketika sektor formal minim kesempatan, sektor informal inilah sumber roda ekonomi masyarakat yang baru, dan kemudian memanfaatkan Gasibu sebagai tempatnya. Terakhir, adalah bentuk perlawanan ideologis untuk merebut ruang. Ini perspektif yang lebih radikal sepertinya.

 Suasana Gasibu pagi, diambil dari sini

Namun dalam observasi Ijal, ternyata nomor satu dan nomor dua benar adanya. Namun yang nomor tiga sepertinya tidak ada, sepertinya para pedagang itu baik-baik saja dan tiada upaya melawan secara ideologis. Bahkan Ijal menganggap keberadaan mereka sebagai hiburan, karena ternyata ada tukang-tukang yang jarang ditemukan dalam keseharian, seperti tukang patri misalnya. Apapun itu, setidaknya memang nyata adanya, bahwa belakangan ini di berbagai bidang telah terjadi Indonesianisasi secara serius, termasuk filsafat dan seni. Seolah-olah memang sudah waktunya manusia Indonesia mencari kediriannya ke dalam, dan bukan ke luar. Tema diskusi-diskusi filsafat misalnya, Extension Course Filsafat Unpar mengangkat tema Manusia Indonesia Abad ke-20, senada dengan Kelas Filsafat untuk Pemula di Tobucil yang berujung pada perumusan apa itu manusia Indonesia. Di bidang seni, selain tema film dokumenter Eagle Awards ini, juga belakangan di musik digelar konser Mahagita Nusantara oleh ITB, serta kompetisi lagu daerah oleh salah satu lembaga musik. Demikian, semoga perenungan ini menjadi sesuatu yang nyata. Bukan sesuatu yang trendi semata. Maju terus Ijal dan Ratna.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Sunday, April 24, 2011

Crafty Days #5, Sabtu- Minggu, 14-15 Mei 2011, @tobucil



SALE BENANG RAJUT TIPI UP TO 50%

BAZAAR HANDMADE 14-15 Mei 2011 Pk. 09.00 - 18.00 WIB
Bagus Bagus
tilunik!
Anything Sunday
OCAROL
ARC Pernik

WORKSHOP HANDMADE :
Sabtu, 14 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Merajut/knitting bersama klab merajut (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.00 WIB Workshop Yubiami bersama The Men Who Knit (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.30 WIB Workshop Boneka Pom Pom bersama The Mogus (Gratis)                      

Minggu, 15 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Membuat Boneka Bantal bersama Idekuhandmade (Tempat terbatas & GRATIS)
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Scrap Book. Biaya alat dan bahan Rp. 10.000/peserta bersama Klab Scrap Book
Pk. 13.00 -15.00 WIB Workshop Merenda/Crochet bersama klab merenda (GRATIS)

CRAFTYPRENEUR FORUM, Sabtu 14 Mei 2011, Pk. 15.00 -17.00 WIB
Obrolan santai Berbagi pengalaman memulai usaha handmade.
Bersama: Martha Puri (idekuhandmade, Jakarta), Ojan & Putri (Nest of Ojanto, Yogjakarta), Ika Vantiani (Vantiani, Jakarta) dan Tarlen Handayani (Vitarlenology & Pendiri Tobucil & Klabs, Bandung).

MUSIK SORE, Minggu 15 Mei 2011, Pk. 15.30 - 17.30 WIB
Menampilkan: 
Yustinus Ardhitya
Grace and Tesla
Ammy Alternative Strings
Informasi lebih lanjut:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56  Bandung  Telp/Fax 022 4261548
www.tobucil.blogspot.com  www.tobucilhandmade.blogspot.com
twitter: tobucil   fb. www.facebook.com/tobucil
 
 
Google Twitter FaceBook

Monday, April 18, 2011

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5 yang akan berlangsung tanggal 24 April 2011 jam 15.00-18.00. KlabKlassik Edisi Playlist adalah kumpul-kumpul rutin yang terbuka untuk umum. Peserta kumpul -kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Di akhir pemutaran setiap lagu, akan dianalisis oleh komposer Diecky K. Indrapraja dan penggalau musik Ismail Reza. Calon peserta diharapkan mendaftarkan dahulu lagu yang akan diputar ke tobucil@gmail.com atau syarafmaulini@gmail.com untuk diatur urutan pemutarannya.

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Catatan: Lagu tak perlu lagu klasik biarpun ini KlabKlassik.
Google Twitter FaceBook

Talk The Peace: Damai bersama Dr. Rick Love

"Ajari aku tersenyum. Seperti matahari yang takkan berhenti tersenyum pada siang. Ajari aku tersenyum. Seperti bulan yang takkan berhenti tersenyum pada malam."

Lagu berjudul "Ajari Aku Tersenyum" tersebut didendangkan oleh Ustad Yusef Rafiki dengan rasa damai. Beriringkan gitar di tangannya, ia bernyanyi di sela-sela acara Talk The Peace #1 yang digagas oleh kelompok Peace Generation. Acara tersebut semestinya dimulai pukul 18.30, namun tertunda hingga satu jam akibat hujan. Suasana Tobucil malam itu betul-betul lain dari biasanya. Di berandanya, berbicara seorang narasumber bernama Dr. Rick Love yang terus menerus meniupkan kampanye perdamaian. Ditemani penerjemah bernama Eka J. Lewis, ia berkisah tentang bagaimana membangun dialog Muslim-Kristen di Amerika.

Di Amerika, katanya, Muslim adalah minoritas, sedang Kristen adalah mayoritas. Dengan demikian, Kristen menjadi pihak yang semestinya berinisiatif untuk merangkul minoritas itu. Dr. Rick Love membeberkan cara-caranya yang unik: via kuliner. Diantara kedua kaum tersebut, mereka menggagas sebuah acara bernama Peace Feast. Dalam acara tersebut, masing-masing tokoh agama memasak semacam hidangan khas, bersantap sama-sama dalam satu meja, setelah semua gembira baru silakan menceritakan soal iman. Inilah yang dikampanyekan oleh Dr. Rick Love di Indonesia. Sebaliknya, pihak Muslim sebagai mayoritaslah yang seharusnya berinisiatif merangkul Kristen.

Apa yang mau disampaikan oleh Dr. Rick Love sebetulnya bukan sesuatu yang betul-betul baru. Ia hanya mengingatkan kita bahwa agama sejatinya adalah cinta kasih. Ketika cinta kasih sudah menjadi landasan hubungan manusia, maka perbedaan-perbedaan bisa diatasi dengan mudah. Ia menolak kampanye-kampanye keagamaan yang berdoktrinkan, "Mereka yang menyatakan bahwa agama mereka adalah satu-satunya jalan, adalah agama yang buruk." Bagi Dr. Rick Love, meskipun pernyataan itu cukup baik, tapi mesti dikoreksi. Yang betul, "Mereka yang tidak mengajarkan cinta kasih, adalah agama yang buruk."

Acara ditutup dengan nyanyian Eka J. Lewis. Eka J. Lewis yang murni berwajah Eropa Barat atau bule tampil jenaka ketika ia mendendangkan lagu Sunda dengan sangat fasih dan penuh penghayatan. Mengingatkan kita kembali bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk meruntuhkan perbedaan.


Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

Wednesday, April 13, 2011

Undangan: Talk The Peace #1: Dr. Rick Love berbagi cerita tentang membangun dialog Muslim Kristen di Amerika

Jumat, 15 April 2011
Pk. 18.30 - 20.30 WIB
Tempat: Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung

Bersama: Dr. Rick Love (consultant for Yale Center for reconciliation & Pendiri Peace Catalist International)

Tempat Terbatas dan Gratis!
RSVP bisa di klik di sini

Dear Peace Generation Friends, Rangkaian acara Talk The Peace akan segera bergulir. Talk The Peace #1 akan menghadikan pembicara yang penuh cinta, namanya aja Dr. Rick Love. Dr Love Adalah pendiri Peace Catalist International. Kalau ada yang pernah dengar project "Common World" di mana lebih dari 150 pemimpin agama Islam dan Kristen di dunia bersatu mencari titik temu "common word", Dr Love ini adalah salah satu penggagasnya.

Dr Rick Love ini memang terkenal getol membangun dialog Muslim Kristen di Amerika, dia sering menjadi host untuk konferensi Muslim-Kristen. Dia juga akrab dengan para pemimpin Muslim baik di Amerika maupun di beberapa negara muslim di dunia, Din syamsudin dari Indonesia dan Pangeran Jordan adalah sahabatnya.

Dialog antar agama (terutama Muslim-kristen sebagai 2 komunitas terbesar di dunia) menjadi modal penting untuk mewujudkan dunia yang damai. Dr Rick Love akan berbagi cerita tentang pengalamannya membangun dialog dan mempromosikan perdamaian.

Acara ini dipersembahkan oleh Peace Generation dan didukung oleh Tobucil & Klabs.

Informasi lebih lanjut tentang:
Peace Generation: http://www.peace-generation.com/
twitter @PeaceGenID

Tobucil & Klabs: http://tobucil.blogspot.com
twitter @tobucil

Peace Catalist International: http://www.peace-catalyst.net
Google Twitter FaceBook

Sunday, April 10, 2011

Diskusi KlabKlassik: Menghayati Musik lewat Piringan Hitam


Minggu, 10 April 2011

Ada yang menarik di hari minggu genap pertemuan KlabKlassik kemarin. Ismail Reza atau Mas Reza, turun dari mobilnya membawa tiga tas besar ke beranda Tobucil. Perlahan-lahan ia memburaikan isinya, dan kamipun mulai tertegun. Mulai dari alat pemutar (jangan lupa jarumnya), trafo, speaker, kabel, dan yang pamungkasnya: piringan hitam! Hari itu memang sesuai rencana, Klablassik menyelenggarakan suatu diskusi mengenai piringan hitam. Sesungguhnya bukan diskusi, yang esensial justru “mendengar”, mengetahui kualitas audio yang dihasilkan oleh benda tersebut.


Mas Reza dan Kang Tikno di hadapan piringan hitam beserta pemutarnya

Piringan hitam yang dicobakan pertama untuk didengarkan dalam forum adalah karya Piotr Ilyich Tchaikovsky. Karya panjang berdurasi sekitar lima belas menit itu, sukses melahirkan ambience yang betul-betul berbeda di Tobucil: Sayatan biola terasa jernih, gegap gempita orkestra terasa di dada, ketebalan musik menjadi sangat mengenyangkan. Satu jam pertama forum tiada berbicara apa-apa, kecuali hanya duduk kagum, seolah kami adalah masyarakat Indian yang tertegun menyaksikan telur diberdirikan oleh Kolombus. Padahal telur itu, kita tahu, bukanlah sesuatu yang istimewa. Hanya benda yang sesungguhnya berasal dari keseharian yang luput dari pengamatan, persis seperti kasus piringan hitam ini.

Berturut-turut kemudian diputar piringan hitam dari komposer Denmark, Craig Nielsen, lalu Louis Armstrong (ah, indahnya kala ia memainkan La Vie en Rose), dilanjut Stanley Clarke, hingga Emerson, Lake & Palmer. Tidak ada suatu diskusi serius sampai tiba di beranda Tobucil, Pak Tono, seorang dosen apresiasi musik dari UPI. Pak Tono mengangkat tema menarik, bahwa ada dua macam karya musik, yang pertama adalah yang dimanipulasi, yang kedua adalah yang murni. Manipulasi berarti sudah direkam, diedit, dan dipadatkan, sedangkan yang murni berarti musik pertunjukkan atau live music. Piringan hitam jelas masuk dalam jenis manipulasi. Hanya saja, manipulasi piringan hitam masih mengupayakan agar experience (saya tidak menerjemahkannya dengan pengalaman) musik pertunjukannya masih terasa. Beda dengan format mp3 hari ini yang mana experience musik pertunjukkan tidak lagi menjadi inti. Yang penting manusia bisamengunduh lagu sebanyak-banyaknya. Tidak perlu capek-capek beli piringan hitam dengan ukuran besar, mahal, tapi durasinya pendek, cukup download gratis, atau beli enam ribu bajakan, lagu isinya berlimpah, tanpa mempertimbangkan lagi aspek kualitas experience itu tadi.

Pembahasan menjadi masuk kepada sistem perekaman piringan hitam yang masih analog. Dengan sistem analog, kata Kang Tikno, sesungguhnya memang ada proses yang lama dan melelahkan. Tapi sebenarnya detail-detail seperti timbre, dinamika, dan ketebalan masih dijaga. Sedangkan dalam proses digitalisasi, proses menjadi mudah, cepat, massal, tapi ada pengompresian kualitas yang cukup serius. Pada akhirnya, musisi-musisi yang pernah dipasarkan karyanya dalam piringan hitam, niscaya lebih mementingkan kualitas bermain, karena proses editing masih belum canggih, dan output suara lebih detail. Beda dengan musisi sekarang yang melemparkan output pada kualitas digitalisasi alih-alih kualitas permainan.

Mas Reza juga menyayangkan cara mendapatkan musik hari ini yang begitu mudah, cepat, tapi kemudian gagal untuk mengenal si kreator. Dalam piringan hitam, dengan eksklusifitasnya, penikmat musik dapat bersentuhan langsung dengan si musisi lewat kualitas suara, dan juga lewat desain grafik si bungkus piringan hitam itu sendiri. Di piringan hitam Emerson, Lake & Palmer misalnya, terdapat semacam gambar yang mengilustrasikan isi keseluruhan album tersebut. Dengan membeli piringan hitam beserta paket desain itu, kita sesungguhnya tidak hanya membeli musik, tapi juga membeli experience.

Demikian kami mengobrol. Mengobrol yang sebetulnya cuma selingan. Selingan dari sajian musik yang hari itu membius kita semua. 


Ketika Louis Arsmstrong diputar, banyak yang tertunduk bagai berdoa
Google Twitter FaceBook

Akhir Kelas Filsafat untuk Pemula: Merumuskan Manusia Indonesia


Selasa, 5 April 2011


Filsafat untuk Pemula akhirnya memasuki pertemuannya yang terakhir. Kelas yang bertatap muka selama delapan kali tersebut, menutup sesi puncaknya dengan melakukan review terlebih dahulu. Bersama Bambang Q-Anees (dosen filsafat UIN), diulas kembali bagaimana kelas tersebut berjalan, berdasarkan urutan materinya: Dimulai dari mitos, filsafat tradisi non-semitik, filsafat tradisi semitik, filsafat pra-Socrates, filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta filsafat Hellenisme. Didapatkan semacam “pemetaan ulang”, bahwa kiblat filsafat tidak melulu mesti ke Barat. Nilai-nilai Timur sesungguhnya merupakan filsafat juga, dan padanya terkandung nilai kebijaksanaan yang seringkali oleh Barat “dikelola” ulang sehingga nampaknya pemikiran Timur itu hanyalah gagasan kosong berbasis keimanan semata (baca: agama). 

Ternyata kelas pamungkas tersebut tidak hanya menyimpulkan hal di atas, melainkan juga ada diskusi tambahan yang cukup ekstrem dari Mas B-Q: “Mari kita rumuskan, apakah manusia Indonesia itu, secara filosofis.” Ini nampak seperti pekerjaan cukup sulit, karena setelah dengan susah payah memilah manusia Barat dan Timur, akhirnya ketimuran itu sendiri dieliminasi menjadi khas manusia Indonesia saja, yang tidak ada ciri-ciri serupa menempel pada manusia Cina ataupun manusia India, dan lainnya.

Mas Tanto, salah seorang dari empat murid kelas, menyebutkan kemungkinan bale-bale. Bale-bale adalah semacam alas berbentuk persegi terbuat dari kayu –dimana orang-orang duduk bersila- yang sering ditemui di masyarakat-masyarakat pertanian di Indonesia. Di tempat itu biasanya mereka berkumpul untuk makan atau apapun kegiatan sebelum dan sesudah pertanian. Bale-bale menurut Mas B-Q, bisa jadi merupakan cara yang khas bagi masyarakat Indonesia untuk berefleksi, mawas diri, menjadi bagian yang harmoni dari semesta, dengan cara yang sama sekali lain dengan Barat ataupun bangsa-bangsa Timur lainnya.

Kemungkinan lainnya adalah wayang. Wayang kita tahu, berasal dari India. Namun tengok bagaimana orang Indonesia melakukan counter-culture dengan menghadirkan kuartet punakawan: Semar, Gareng, Bagong dan Petruk. Seluruh ksatria dalam pewayangan, sehebat apapun mereka, dalam perjalanan mencari mustika DewaGuru, mestilah diantar punakawan. Inilah salah satu kreativitas manusia Indonesia, ketika secara perlahan mereka menyusupkan sekelompok tokoh jenaka padahal sangat esensial bagi kehidupan para ksatria. Inilah yang juga ditemui pada banyak aspek kehidupan lain yang mungkin tidak kita sadari. Bagaimana orang Indonesia selalu dengan halus berkelit dari aturan eksternal, mempunyai daya kreatif sendiri untuk bertindak atas normanya sendiri. Indonesia mustahil bisa diatur seperti Singapura yang bagi Goenawan Mohamad, “Negara yang seperti ruang gawat darurat.”

Contoh-contoh lain seperti pekerjaan “polisi cepek” di perempatan, istilah “masuk angin” (sehingga dengan menyederhanakan berbagai penyakit dalam satu konsep, konsep penyembuhannya pun cuma satu), hingga “tragedi nasi aking” (nasi aking dianggap tragedi dalam kacamata modernis, tapi itu adalah sebentuk kreativitas, dalam kacamata lain), menunjukkan bahwa jangan-jangan manusia Indonesia, adalah manusia yang kreatif dan selalu cepat dan kuat dalam beradaptasi. “Lihat krisis moneter, bagi masyarakat bawah, tidak ada pengaruhnya,” tambah Mas B-Q.

Filsafat untuk Pemula pun ditutup dalam suasana yang cukup aneh, karena ada hal berani yang tidak pernah dilakukan sebelumnya: merumuskan siapa kami ini sesungguhnya, dalam konteks yang lebih makro. Merumuskan eksklusivitas, kekhasan, dan pada akhirnya mengembalikan kepercayaan diri kami yang sempat hilang ditelan jejalan filsafat Barat yang seringkali menjadikan kami berpisah dengan diri-identitas. Sampai bertemu di kelas berikutnya: Abad Pertengahan.

Para peserta dan fasilitator Filsafat untuk Pemula memamerkan sertifikat tanda kelulusan.
Google Twitter FaceBook

Friday, April 8, 2011


Google Twitter FaceBook

Sunday, April 3, 2011

Akhir Cerita Klab Nulis Angkatan IX

Klab Nulis angkatan XI akhirnya ditutup tepat 1 April kemarin. Penutupan berlangsung meriah sekaligus sendu sekaligus emosional. Acara penutupan ini diawali dengan performance art dari Satre (komunitas teater) Unpar. Bermodalkan dua orang, mereka menghadirkan apa yang disebut Sophan Ajie (koordinator Klab Nulis) sebagai terpen alias teater pendek. Tema Klab Nulis ini adalah "Alay", dan kedua orang tersebut menerjemahkan dengan jenaka tema tersebut. Ceritanya ada orang remaja yang sedang menantikan satu orang yang sama, bernama Darsi. Kedua pria itu saling sesumbar tentang siapa yang paling pantas mendapatkan hati Darsi. Salah satunya adalah dengan mengejek rivalnya soal seragam yang dipakainya. Katanya, "Mana ada ketemu cewek pakai seragam putih dan dasi begitu." Ternyata, si pengejek itu, di akhir cerita, diketahui juga memakai seragam yang sama di balik jaketnya.

 Aksi teatrikal menerjemahkan konsep "Alay"

Demikian kira-kira bagaimana Satre Unpar menerjemahkan konsep "Alay" sebagai, "Ngejekin orang lain begitu, sebenernya sendirinya yang begitu." Acara kemudian dilanjutkan dengan membedah kesan dari masing-masing peserta tentang Klab Nulis angkatan IX ini, mulai dari Rifda, Ibrahim, Dini, Iman, dan Desy. Selesai suasana berbagi kesan yang cukup sentimentil tersebut, dibacakan pengumuman pemenang cerpen terbaik versi para juri, yakni Mas Puji dan Teh Dewi. Hasil penilaian tersebut menghasilkan Rifda Amalia sebagai pemenang dengan cerpennya yang berjudul Epoché. 
 
 Ophan dan dua orang juri, Teh Dewi dan Mas Puji

Sebagai penutup dari acara penutupan ini, diadakan performance art lagi. Yang ini spontan, yakni kolaborasi musik, gerak, serta gambar. Kedua anak Satre tersebut memperagakan gerak yang tidak-direncanakan-sebelumnya, diiringi dua gitar, dan akhirnya sebagai konsklusi, kawan Ophan yang bernama Agus, menjelaskan gambar yang dihasilkan dari pemahamannya terhadap keseluruhan spontanitas tersebut. Klab Nulis betul-betul ditutup dengan performa dari Deu Galih yang menyajikan karya-karya balada dengan bermodalkan gitar dan vokal semata. Demikian Klab Nulis Angkatan IX berakhir, sampai jumpa di Klab Nulis angkatan berikutnya, nantikan pengumumannya!
 
 
Foto : Rifda Amalia
Klab Nulis angkatan XI beserta tutor dan pemeriah acara penutupan
.

 
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Hellenisme

Mari berkenalan dulu dengan Aleksander Agung dari Makedonia. Lahir tahun 356 SM, ia sukses menjadi raja dari sebuah wilayah kekuasaan terbesar sepanjang sejarah: Membentang dari Laut Ionia hingga Himalaya. Yang lebih hebat, ia melakukannya dalam kurun waktu sepuluh tahun, yang diawali dari Asia Minor yang kala itu dikuasai Persia. Aleksander Agung meninggal dalam usia relatif muda, yakni 32 tahun. Namun warisannya sungguh tak terkira. Ketiranian tentu menjadi salah satu warisan kelam. Namun warisan positifnya adalah, murid dari Aristoteles ini telah menyatukan dunia Yunani dan Romawi, dimana di dalamnya lahir banyak sekali pengaruh yang ditularkan ke peradaban Barat (penanggalan Januari-Desember sekarang adalah salah satu contoh kecilnya).

Tak terkecuali aliran pemikiran pun bermunculan di era yang disebut dengan Hellenisme ini. Yunani yang pernah jaya dan merdeka, dicaplok dengan mudahnya oleh Aleksander. Selanjutnya akan dikutip dari buku Brian Magee berjudul Story of Philosophy, tentang bagaimana keadaan dunia Hellenis:
"Aleksander mendirikan kota-kota baru untuk mengatur dan mengurus wilayah taklukannya. Proses kolonisasi ini dilakukannya dengan kerja sama dengan orang-orang Yunani. Mereka umumnya menikahi perempuan setempat. Populasi kota-kota ini cepat sekali menjadi kosmopolitan, namun etos pemerintahan serta bahasa mereka tetaplah Yunani. Demikianlah, seluruh dunia saat itu dijalankan dari kota-kota "Yunani" yang tidak berada di Yunani, dengan penduduk yang multirasial dan multilingual. Inilah dunia Helenistik."

Keadaan seperti ini, yakni akulturasi antara Yunani, Romawi, -dan juga Mesir-, telah menyebabkan lahirnya aliran-aliran pemikiran yang sangat beragam dalam waktu nyaris bersamaan. Dalam pertemuan Filsafat untuk Pemula kemarin yang dihadiri tiga orang, tidak dibahas seluruhnya, melainkan beberapa saja:

  • Epikureanisme. Epikureanisme berasal dari seorang pemikir, Epikuros. Tujuannya adalah membebaskan orang dari ketakutan, bukan hanya ketakutan terhadap kematian, melainkan juga ketakutan terhadap kehidupan. Dalam zaman ketika kehidupan masyarakat serba tidak pasti, paham ini mengajarkan agar orang mencari kebahagiaan dan kepenuhan dalam kehidupan pribadi. "Hiduplah tanpa dikenal" merupakan salah satu semboyannya.
  • Stoisisme: Ini adalah filsafat yang dominan di zaman Romawi. Inti filsafat Stoisisme terletak dalam pandangan bahwa tidak ada autoritas yang lebih tinggi daripada nalar. Pertama, dunia sebagaimana dihadirkan oleh nalar kepada kita, yakni dunia Alam, adalah satu-satunya realitas yang ada. Tidak ada yang "lebih tinggi". alam diatur oleh prinsip-prinsip yang dapat dipahami secara rasional. Kita pun bagian dari Alam. Roh rasionalitas yang merasuki diri kita dan Alam itulah yang disebut Tuhan. Jadi, Tuhan tidak berada di luar atau terpisah dari dunia, melainkan hadir merasuk dalam segalanya di dunia. Karena kita menyatu dengan Alam, dan karena tidak ada dunia yang lebih tinggi lagi, maka tidak ada pernyataan "ke mana kita pergi setelah mati". Tidak ada tempat lain yang akan kita tuju. Kita kembali larut dalam alam.
Pembahasan ketiga sesungguhnya adalah tentang Neopitagoreanisme. Tapi baru sepuluh menit penjelasan, obrolan tiba-tiba menjadi sangat "mistik". Awalnya, Kang Ami sebagai pemandu menjelaskan tentang pemikiran Neopitagoreanisme soal pemisahan tubuh dan ruh. Bu Maria tiba-tiba mengaitkan dengan pengalaman Near Death Experience (NDE) yang diperolehnya masa SMA. Ia pernah terpisah dari tubuhnya selama beberapa saat, dan cerita itu memancing banyak pengalaman-pengalaman mistik. Apakah kemudian aroma filsafat yang rasional teracuni dengan adanya cerita-cerita mistik ini? Tidak, kata Kang Ami, karena filsafat juga mengawali berbagai ujarannya dari sesuatu yang "mistik", mengejawantahkan yang tak terejawantahkan, menjelaskan yang tidak terjelaskan, merasionalkan yang tidak rasional, menampakkan apa yang tak kelihatan. Dan kadangkala, hasil pemaparan filsafat tetap saja hmmm mistik. 

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin