Tuesday, May 31, 2011

Program Liburan: Crafty Kids, 20 -24 Juni 2011 @tobucil

Foto Dokumentasi tobucil. Vanny, Dhea, Dea dan Kinara, peserta Crafty Kids 2010


Program Liburan  Crafty Kids 2011
20 Juni - 24 Juni 2011 Pk. 10.00 - 12.00
@tobucil Jl. Aceh 56 Bandung

Instruktur:
Moel The Mogus
http://themogus.blogspot.com

Program:
20 Juni 2011 Pertunjukkan Boneka Kertas (membuat boneka jari dari kertas beserta panggungnya)
21 Juni 2011  Monster Pompom (membuat boneka monster dari pompom benang)
22 Juni 2011  Permainan boneka lebah (membuat sebuah permainan dari bola dan dus)
23 Juni 2011  Tas serut bermotif (membuat saputangan yang bisa dijadikan tas dan membuat motif dengan teknik stensil)
24 Juni 2011  Kreasi tutup botol (Membuat magnet pin dan hiasan pigura)

Biaya:
Rp. 300.000/peserta  sudah termasuk alat dan bahan, karya menjadi milik peserta

Peserta:
Siswa kelas 1 SD s/d 6 SD.

Informasi dan pendaftaran lebih lanjut dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
Senin s/d Minggu, Pk. 09.00 s/d 20.00 WIB


Google Twitter FaceBook

Pembacaan dan Komentar: Kumpulan Cerpen Karya Zaky Yamani "Johnny Mushroom"



Tobucil & Klabs dan Zaky Yamani mengundang teman-teman untuk hadir dalam pembacaan cerpen dan mengomentari buku kumpulan cerpen karya Zaky Yamani yang berjudul Johnny Mushroom.

Jumat, 3 Juni 2011, Pk. 16.00 WIB
Tempat Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung

Komentator yang akan hadir dalam acara ini: Rana Akbari Fitriawan dan teman-teman yang hadir bisa memberikan komentar serta apresiasinya untuk karya ini.

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Zaky Yamani sehari-hari bekerja sebagai jurnalis harian umum Pikiran Rakyat. Enam belas cerita pendek yang ada di kumpulan cerpen Johnny Mushroom, di tulis dalam kurun waktu 2001 sampai 2010. Selain menjadi jurnalis dan penulis fiksi, Zaky juga menjadi vokalis dan penulis lirik untuk band punk rock asal Bandung, Citizen Echo.
Google Twitter FaceBook

Sunday, May 29, 2011

Filsafat Untuk Pemula Angkatan Dua: Kajian Abad Pertengahan

Setelah Filsafat Untuk Pemula digelar untuk pertama kalinya bulan Maret hingga Mei kemarin, kelas tersebut kembali digelar dengan tema yang berbeda, yakni "Di Sini Terang, Di Sana Gelap" (Kajian Filsafat Abad Pertengahan). Filsafat Untuk Pemula di Tobucil, seperti biasa, mempunyai upaya dekonstruksi. Tidak hanya mengajarkan filsafat secara an sich, tapi juga mencoba memperbandingkan, mempertentangkan, dan melihatnya dari sudut pandang yang lain. 

Abad Pertengahan, acapkali menjadi tema-tema film Hollywood yang memikat mata. Robin Hood, King Arthur, Kingdom of Heaven, hingga Black Death adalah beberapa contohnya. Ksatria berpedang, berjubah, bertameng baja, berkuda, hingga raja-raja lalim ada di latar jaman ini. Di samping keindahan setingnya, Abad Pertengahan juga mencatat beberapa hal yang menjadi "trauma" bagi sejarah Barat. Ia konon disebut dengan "pertengahan", karena berada diantara dua periode yang "beradab" dalam sejarah Barat, yakni Romawi dan Renaisans. Ia terapit di tengah-tengah, dan seolah dianggap sebagai masa transisi keberadaban.

Abad Pertengahan, bagi kaum skeptis, tak jarang disebut sebagai Abad Kegelapan. Masa yang terentang dari abad ke-5 hingga abad ke-15 tersebut, disebut demikian salah satunya karena hadirnya inkuisisi. Di Abad Pertengahan, ada periode serius dimana yang berbeda keimanan dieksekusi di tiang-tiang pembakaran. Beberapa pemikiran malah menyebutkan bahwa di Abad Pertengahan, filsafat dikatakan mengalami kematian. Ia kerap dipertentangkan dengan keimanan, dan adapun beberapa upaya penyatuan filsafat dan keimanan menjadi rancu dan tak valid. Salah satu produknya ya itu tadi, inkuisisi, yang berasal dari Neo-Platonisme Santo Agustinus. Bahkan Abad Pertengahan sering sekali filsafatnya diejek dengan, "Menggaruk tidak di tempat yang gatal."

Meski demikian, jika Barat menganggap Abad Pertengahan sebagai periode yang kelam, nanti akan kita lihat betapa periode tersebut adalah justru keemasan bagi peradaban yang lain. Misalnya, Islam waktu itu sedang ada dalam salah satu jaman terbaiknya, dengan lahirnya beberapa ilmuwan dan saintis yang amat berpengaruh juga bagi dunia Barat kemudian. Demikian halnya Jepang, di bawah periode Kamakura, mereka mengalami kemajuan pesat, sama seperti Cina yang melahirkan mesiu (sesuatu yang menjadi peletak dasar Renaisans Eropa). 

Filsafat untuk Pemula Tobucil, yang dimulai tanggal 6 Juni nanti, akan berlangsung delapan kali pertemuan. Ada upaya untuk melihat Abad Pertengahan dari sudut pandang yang lebih luas dan dekonstruktif. Ia bisa jadi gelap untuk sudut pandang tertentu, bisa jadi terang dari sudut pandang yang lain. Kita akan berpindah-pindah tempat duduk, agar penglihatanmu lebih jelas. "Di Sini Terang, Di Sana Gelap."

Filsafat untuk Pemula Angkatan Pertama

Google Twitter FaceBook

Berbincang Hingga Larut Bersama Eric Sasono

Selasa malam itu, di tengah hujan-hujan rintik, berkumpul suatu forum di beranda Tobucil. Mereka tengah membahas tentang film Indonesia bersama kritikus film Eric Sasono. Dimoderatori oleh Mohammad Syafari Firdaus alias Mas Daus, forum yang dipadati sekitar sepuluh orang itu berlangsung hangat dan akrab.  

Mas Daus memulai pembicaraan dengan mengajak Mas Eric membahas persoalan film Indonesia saat ini secara umum, terutama bagaimana film-film tersebut tidak dekat dengan realitas keseharian. Mas Eric memulainya dengan, "Sehari-hari saya naik busway. Berjuang di dalam sana, dan sampai kantor saya kerak berteriak tanda gembira. Itu adalah salah satu realitas yang kita lihat sehari-hari di masyarakat, tapi tidak banyak kan film yang mengambil latar busway? Hanya dua yang saya ingat." Mas Eric juga melihat bahwa tema-tema nya pun tidak menyentuh persoalan-persoalan keseharian yang subtil, seperti misalnya anti-korupsi. 

Mas Eric yang sangat senang mengembangkan pembicaraan ini, akhirnya menyentuh sisi teknis yang amat menarik dari film-film Indonesia. Menurutnya, film-film Indonesia, sinetron contohnya, lebih banyak menyoroti wajah pemain (eksplorasi middle shot dan close up), ketimbang gesturnya. Ia menyebutkan dengan gamblang, "Lihat alisnya, semua ekspresi ada di alis." Lantas ia sambung, bahwa sinetron memberikan ruang interpretasi yang minim, maka itu acapkali tidak edukatif. Misalnya, suatu ekspresi marah, akan dipertegas dengan ungkapan "saya marah", dan lagu yang juga mendukung hal tersebut. Sehingga, sangat sulit bagi pemirsa untuk berpikir dan menarik interpretasi yang luas lagi mencerdaskan.

Bioskop, lanjut Mas Eric, adalah sebuah fasilitas yang tidak cuma menyuguhkan film saja, tapi juga social event. Via bioskop, masyarakat menjadi berkumpul dan mendapatkan hiburannya dari tidak cuma sekedar film, tapi juga sosialisasi. Persoalannya, penyebaran bioskop di Indonesia mengalami problem struktural, sehingga distribusinya kurang merata. Banyak film-film yang bagus dan inspiratif, tidak bisa menjangkau daerah-daerah terpencil yang barangkali jua membutuhkan. Mas Eric mengambil contoh di India, ketika bioskop dan film-film lokal begitu merajai dunia hiburannya, dan sanggup merata secara distribusi.

Obrolan malam itu ternyata berlanjut hingga pukul setengah dua belas. Banyak yang dipetik dari kritikus film yang juga penulis skenario film Brownies dan peraih best film critic Piala Citra 2005 dan 2006 ini. Segala tentangnya dan tulisannya, bisa ditengok di sini.

Google Twitter FaceBook

Sunday, May 22, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #6: Dari Pat Metheny sampai Jose Gonzales

KlabKlassik Edisi Playlist #6, seperti biasa digelar di minggu keempat pertemuan KlabKlassik. Masing-masing dari orang yang hadir membawa satu lagu untuk diputar dan didengarkan sama-sama. Jika beruntung, narasumber dan analisator Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja akan angkat bicara menyoal lagunya.  

Di hari Minggu yang ceudeum itu, peserta playlist beberapa diantaranya hadir lebih cepat sebelum jam tiga sore. Ketika acara itu sendiri dimulai sekitar jam setengah empat, lagu yang sudah didaftarkan di operator Beben mencapai sebelas lagu. Akhirnya acara dibuka, dan ini dia ulasan-ulasannya.

1. Last Train Home - Pat Metheny
Lagu ini dibawa oleh Mas Daus atau Moh. Syafari Firdaus. Lagu ini sebetulnya pernah diputar oleh Martina di edisi sebelumnya, namun yang ini versinya agak berbeda. Kata Mas Daus, ia punya sejarah yang melankolik-romantik terhadap lagu ini. Awalnya ia tak tahu Pat Metheny sama sekali dan cuma diberi oleh kenalannya. Ketika mendengarkan lagu tersebut dalam kereta perjalanan pulang ke Bandung, ia merasa karya Letter from Home sangat mewakili perasaannya kala itu, "Padahal sebelumnya saya gak tahu judul lagunya apa, cuma dengar aja sambil tidur-tiduran."

2. Paranoid Android - The Section Quartet
Lagu ini dibawa oleh Nia Janiar. Versi asli dari Radiohead, digubah dengan cukup aman menurut pandangan Diecky. Tidak banyak perubahan komposisi dari karya orisinilnya, hanya perpindahan instrumentasi dari Radiohead ke kuartet gesek saja (dua biola, satu biola alto, dan cello). Yang asyik adalah perasaan-perasaan gelisah yang ditimbulkan oleh lagu bagian verse-nya, yang lalu disambung dengan bagian tengah yang "metalistik". Menurut Diecky, menanggapi Mas Daus yang mengusulkan bagian biola diganti saksofon, "Memang bisa, tapi instrumen gesek punya efek glissando yang menyebabkan suasana metalnya lebih asik." Glissando sendiri merupakan efek yang ditimbulkan dari jari-jari kita ketika menggeserkan posisi dalam dawai. 

3. Lady Gaga Fuga
Lagu ini dibawa oleh Sebastian A. Nugroho. Ia mengambil karya tersebut dari Youtube, dan sepertinya lupa mencantumkan pemainnya. Karya fuga tersebut dimainkan pada piano, mengambil tema dari Bad Romance-nya Lady Gaga. Karya Fuga, kata Diecky, adalah karya yang populer di jaman Barok (abad ke-17) dan menonjolkan rajutan kalimat-kalimat musik yang susul menyusul dan sahut menyahut. Karya ini menarik karena bagi Bastian, "Fuga bisa juga dilakukan dengan materi lagu pop."

4. My Friend - Sweeney Todd
Karya ini dibawa oleh operator Adrian Benn atau Beben. Soundtrack dari The Demon Barber of Fleet Street ini dipilih oleh Beben karena menurutnya, "Asyik aja, ketika lagu ini dinyanyikan, meskipun berjudulkan My Friend, tapi sebetulnya si penyanyi menujukan 'friend' itu pada pisau belatinya." Di tengah-tengah lagu, lanjut Ben, terdengar ada suara penyanyi wanita yang muncul tapi cuma sebentar. Dalam film, si wanita ingin mengatakan bahwa "Akulah temanmu!", tapi apa daya si penyanyi pria kadung cinta pada pisaunya.

5. Bolero - Maurice Ravel (Aransemen oleh Frank Zappa)
Karya ini dibawa oleh Pak Tono Rachmad. Dosen Apresiasi Musik dari UPI tersebut memutar lagu sepanjang kurang lebih lima menit itu, dan membawa serta juga partiturnya. Beliau sebut karya ini sebagai "karya prosesual", karena dari awal musik hingga akhir, ada perkembangan dari sudut pandang nada, harmoni, instrumentasi maupun dinamika dari simpel ke kompleks. Bolero adalah tema dari tarian pergaulan di Kuba, dan dikomposisi ulang seorang Prancis bernama Ravel. Asyiknya, komposisi itu digubah ulang oleh seorang Amerika bernama Zappa yang membuat si karya itu menjadi unik secara instrumentasi dan warna bunyi.  

6. You Suffer - Napalm Death 
Karya ini dibawa oleh Patra Aditia. Karya ini sangatlah unik dan menarik perhatian karena cuma satu atau dua detik saja! Ia cuma berisi growl singkat dengan pukulan drum, bass, dan distorsi gitar secara simultan. Kata Patra, "Walaupun lagunya singkat, moga-moga diskusinya tidak singkat." Betul saja, diskusinya sendiri berlangsung selama hampir dua puluh menit. Kata Pak Tono, karya-karya seperti ini menunjukkan bagi kita pentingnya "diam". Karena tanpa diam ataupun kesunyian, bunyi sesungguhnya tidak punya arti. Yang menarik, dalam growl itu sesungguhnya, kata Google, ia mengatakan, "You Suffer, but why?" 

7. Dalai Gama - Acid Mothers Temple & The Melting Paraiso UFO
Karya yang dibawa oleh Ismail Reza ini, seperti biasa, punya banyak unsur keanehan. Lagu yang dibuat tahun 2006 ini adalah hasil karya dari mahasiswa-mahasiswa-nya Karlheinz Stockhausen, seorang komposer kontemporer asal Jerman. Isinya cuma bebunyian elektronik tanpa tonal, tanpa gravitasi, tanpa nada dasar. Hanya spiral, mengembang, dan bunyi cuit cuit cuit. Iman, seorang musisi elektronik yang hadir juga hari itu menyebutkan, "Ini bukan soal enak gak enak, tapi kejutan-kejutan yang dihasilkannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibuat di tengah lagu." 

8. Bluebird of Delhi - Duke Ellington.
Karya ini dibawa oleh Al-Mukhlisiddin alias AM. Lagu ini begitu kental aroma jazz-nya, meskipun AM merasakan ada bau rock di dalamnya. Bagi Mas Reza, dalam karya ini, Duke Ellington sangat rendah hati. Ia seorang pemain piano dengan skill eksepsional, tapi bunyi pianonya malah tak terdengar dalam lagu ini! Karya ini juga, kata Nia, menjadi karya favoritnya di playlist hari itu.

9. True Romance Main Theme - Hans Zimmer
Karya ini dibawa oleh Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal. Karya ini sejuk, lembut, dan jauh dari absurd,  tak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak banyak yang dibahas dari karya yang diangkat dari film Quentin Tarantino ini, karena banyak orang betul-betul menikmatinya, diakibatkan sepanjang playlist mendengarkan musik-musik yang secara harmoni "kurang nyaman". 

10. Dorotea - Jim Saku
Karya ini dibawa oleh Kang Tikno. Jim Saku adalah kependekan dari duo drum-bass Akira Jimbo dan Tetsuo Sakurai. Tidak seperti pada umumnya kala mereka membawakan lagu-lagu berteknik tinggi, dalam Dorotea mereka membawakan lagu lembut-melankolik-romantik. Patra menanggapi karya ini dengan menyamakan pada kecenderukan musik-musik yang dihasilkan oleh musisi Jepang pada umumnya, "Mereka skillful, berteknik tinggi, tapi ada unsur 'gelap', mewakili bagaimana cara pandang mereka terhadap teknologi yang apokaliptik, alih-alih mencerahkan." Ia mencontohkan soundtrack film Ghost in the Shell sebagai perbandingan.

11. Mere Words- Bobby McFerrin
Karya ini dibawa oleh Permata Andika Rahardja alias Mata. Bobby McFerrin mengusung teknik a capella dalam musiknya. Ketika sudah biasa dalam playlist menghadirkan karya-karya instrumentalia non vokalia, Mata tiba-tiba menyuguhkan karya vokalia non instrumentalia. "Two thumbs up," demikian seru kebanyakan hadirin tanpa banyak berkomentar. Bobby McFerrin sendiri terkenal dengan lagunya Dont Worry be Happy yang rajin menjadi soundtrack beberapa film seperti Flushed Away, The Simpsons, Nip/Tuck, Dawn of the Dead, dan Jarhead. 

12. Heartbeats - Jose Gonzales
Karya terakhir ini dibawa oleh Haris. Menurutnya, setelah mendengarkan lagu ini, untuk pertama kalinya ia mau menelisik hingga ke sejarah lagu tersebut via Google maupun wikipedia. Sehingga lagu tersebut berarti tinggi karena membuat Haris menjadi "melek teknologi" (haha). Meskipun demikian, ia juga punya alasan-alasan objektif, seperti misalnya lagu itu sering diputar di iklan-iklan elektronik dan iklannya itu sendiri sangat menarik. Meskipun namanya berbau hispanik, Jose Gonzales, tapi ternyata ia adalah seorang Swedia.

Demikian kisahan Playlist hari itu, lagi-lagi pengalaman eksistensial masing-masing dibagikan di satu forum. Sebuah perayaan akan kemajemukan. "Jagat bunyi," kalau kata Diecky.


Suasana edisi playlist

Google Twitter FaceBook

Cello & Piano Recital: Neam S.R. Hidayat & Sheila V. Pietono



KlabKlassik bekerjasama dengan Yayasan Musik Internasional dan Maestro 92,5 FM kembali menggelar konser musik klasik dengan judul Cello & Piano Recital: Neam S.R. Hidayat & Sheila V. Pietono. Resital yang akan digelar pada tanggal 25 Mei jam 19.30 di Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32 ini membawakan karya-karya dari Bach, Chopin, Popper, Saint Saens, Romberg, Beethoven, dan Messiaen. Tiket seharga Rp. 20.000 dapat diperoleh lewat Syarif (0817-212-404 ) atau di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548) mulai hari Senin tanggal 16 Mei 2011.

Neam S.R. Hidayat

Neam lahir 17 Mei 1995 di Yogyakarta. Belajar Piano umur 4 tahun di bawah guru musiknya sewaktu di Jepang, Ms.Sugimoto, bakat musiknya sudah terlihat sejak kecil. Sekembali ke Jakarta, Neam belajar di Yayasan Musik Internasional dengan Ibu Retno, dan sekarang di bawah bimbingan Ibu Linda Suharso. Minat dan ketertarikan terhadap cello dimulai umur 10 tahun,ketika ayahnya sedang mengadakan resital cello, yang mana ayahnya sendiri itulah yang menjadi guru pertamanya. Debut konser cellonya adalah bersama Bina Musika, dan resital solo di CCF Bandung. Orkes Symphony Yogyakarta pun pernah mengiringinya dalam rangka festival musik Barok di Yogyakarta, dengan reportoar Vivaldi Cello Concerto. Neam juga mengikuti Masterclass dengan Prof.Alexander dari Inggris dengan reportoar Haydn Concerto in C mayor, dan mengikuti Masterclass bersama Daniel Kurtz dari Symphonia Vienna. Ia mengikuti kompetisi festival musik di di Yong Siew Toh Concervatory of Music Singapore dengan reportoar Suite Bach no.3 dan mendapatkan penghargaan "The most favorite cellist based on polling the audience and jury in the play works of Bach "

Sheila Victoria Pietono

Sheila Victoria Pietono dilahirkan pada Januari 1993. Pendidikan piano pertamaya diperolah di usia 3,5 tahun dari Jamnie dan Stela (Rhapsody Music School Surabaya). Sheila kemudian meneruskan pendidikan pianonya dengan Hendrata Prasetya dan Tan Fey Lan (alm.). Saat Sheila pindah ke Jakarta ia meneruskan pendidikan pianonya dengan Annalely Hartawan dan Sutanni. Setelah itu Shelia berguru pada Henoch Kristianto dan kini bersama Iswargia R. Sudarno.
Sheila telah memenangkan berbagai kompetisi dan mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai kompetisi piano di Indonesia. Sheila telah lulus ujian ABRSM Grade 8 dan Grade 5 untuk teori di usianya yang ke-13. Sheila juga terpilih untuk bermain pada Konser High Scorer ABRSM tahun 2006.
Sheila telah mengajar pada Sekolah Musik Clavier sejak 2006 sambil menjalani kehidupan persekolahannya dan kehidupannya sebagai pemain piano. Murid-muridnya telah menjadi pemenang dari beberapa kompetisi nasional di Indonesia. Setelah tampil di hadapan publik sejak usia 5 tahun, Sheila telah menggelar resital tunggalnya di usianya yang ke 17.
Sheila telah mengikuti beberapa masterclass dari pianis-pianis terkemuka dunia seperti DR.Steven Spooner, DR.Thomas Rosenkranz, Sam Haywood, Ananda Sukarlan, Teguh Sukaryo, Ani Takidze, dan Adhi Jacinth. Pada tahun 2010, Sheila menerima beasiswa untuk mengikuti Adam Gyorgy Castle Academy 2010 di Pomaz, Hungaria. Pada AGCA 2010, Sheila tampil pada dua konser dan mengikuti masterclass bersama Adam Gyorgy, Prof. Balasz Reti, Prof. Gyorgy Nador, dan DR.Steven Spooner.
Pada akhir tahun 2010, Sheila terpilih sebagai salah satu dari 18 pianis yang mendapatkan kesempatan tampil di workshop Yong Siew Toh Conservatory of Music di Singapore sekaligus menghadiri masterclass Prof. Thomas Hecht dan Albert Tiu serta tampil pada konser di Conservatory Hall Yong Siew Toh Conservatory.
Tahun ini, Sheila akan memulai studinya di Yong Siew Toh Conservatory of Music dengan beasiswa penuh.
Google Twitter FaceBook

Saturday, May 21, 2011

Ngobrol Santai Bareng Eric Sasono: Mari Mengapresiasi Perfilman Indonesia

Kelas Penulisan Skenario mengundang teman-teman untuk ngobrol santai bareng Eric Sasono (kritikus film) untuk berbincang-bincang mengenai Dunia Perfilman Indonesia. Acara ini akan dipandu oleh M. Syafari Firdaus (Mentor Kelas Penulisan Skenario).




Selasa, 24 Mei 2011
Pk. 18.30 WIB
Di Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Tentang Eric Sasono:
http://www.ericsasono.blogspot.com/
http://new.rumahfilm.org/
Google Twitter FaceBook

Friday, May 20, 2011

Menembus Garis Batas Asia Tengah

Foto: Dokumentasi Tobucil
SAAT duduk di bangku sekolah dasar, di Lumajang, Jawa Timur, Agustinus Wibowo ditanya oleh gurunya, "Cita-citamu menjadi apa?"
Dengan tegas Agustinus menjawab, "Saya ingin menjadi turis."

Jawaban itu tidak dapat diterima oleh sang guru karena cita-cita seorang anak haruslah menjadi dokter, pilot, insinyur, dan berbagai predikat "bergengsi" lainnya. Menjadi turis tidak boleh menjadi cita-cita. Akan tetapi, Agustinus tetap bersikukuh ingin menjadi seorang turis.
Belasan tahun kemudian, pada 2003, pada usianya yang baru 21 tahun, Agustinus memang menjadi turis. Namun, dia bukan seorang turis biasa. Pemuda yang tampak culun itu sedang berada di Afganistan, negeri yang sedang terca-bik-cabik perang untuk keseki-an kalinya.
Keberadaan Agustinus di Afganistan bukan tidak sengaja. Dia merencanakan perjalanan itu sejak 2001 ketika dia melihat berita di televisi tentang Taliban yang menghancurkan patung Buddha raksasa. Bukan masalah hancurnya patung Buddha yang membuat Agustinus ingin mengunjungi Afganistan, tetapi gambar panorama alam di sekitar parung itu yang memukau matanya, sampai terbawa ke alam mimpi.

 "Saya lihat sekilas di televisi. Afganistan begitu indah. Kemudian saya bermimpi datang ke Afganistan, di sebuah tempat yang hijau, dan ada seorang perempuan bercadar di sana. Saya singkap cadar itu, dan mungkin itu pertanda bahwa saya harus menyingkap Afganistan," kata Agustinus saat berbagi pengalamannya di Tobucil, Jalan Aceh No. 56, Kota Bandung, Jumat (13/5) lalu.

Ke Afganistan, Agustinus tidak menggunakan pesawat terbang. Dia menempuh jalan darat dari Cina selama berbulan-bulan. Perjalanan itu begitu berat sampai membuat dia terserang hepatitis di Indiadan Pakistan. Akan tetapi, semuanya terbayar tunai ketika dia memasuki Afganistan untuk menyingkap keindahan negeri itu yang tersembunyi di balik debu dan bisingnya peperangan.

Bukan kenyamanan hotel dan resor mewah yang diharapkan Agustinus dari Afganistan, melainkan keindahan hakiki dan juga perkenalan dengan penduduk setempat yang dia inginkan. Semua itu dia dapatkan setelah menetap di Afganistan selama dua tahun.
"Perjalanan di Afganistan tidak selalu mudah. Saya pernah hampir diculik pada tengah malam oleh seorang sopir taksi yang menginginkan uang saya. Saya pernah kehabisan uang di sana. Untungnya penduduk Afganistan sangat ramah. Selalu saja ada yang memberi saya air, makan, dan tempat untuk tidur selama di perjalanan," kata Agustinus yang sekarang merasa Afganistan adalah salah satu rumahnya.

Foto dokumentasi Tobucil
SELEPAS dari Afganistan, Agustinus melanjutkan perjalanan ke negara-negara Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Menyeberang dari Afganistandengan mengendarai keledai, melalui bukit-bukit yang curam, dan menyeberangi derasnya Sungai Amu Darya yang ganas.
Lima negara pecahan Uni Soviet berhasil didatangi Agustinus satu per satu selama tujuh bulan. Dari perjalanannya itu, Agustinus menyingkap makna negara bangsa, dan batas-batas ima-jiner yang memisahkan manusia dari akar budaya dan nenek moyangnya.
Misalnya, betapa warga Ta-jikistan sekarang mengagung-agungkan para pahlawan dan kota-kota penting dalam peradaban Islam di masa lalu. Padahal, para pahlawan dan kota-kota penting itu juga diklaim sebagai bagian dari sejarah bangsa Persia dan Uzbek. Aksi saling klaim warisan leluhur itu mengingatkan Agustinus atas perilaku serupa yang dilakukan oleh warga Indonesia dan Malaysia.

"Dahulu mereka itu satu bangsa, kemudian penjajahan Uni Soviet membuat mereka terpecah-pecah. Garis-garis batas ditegaskan, perbedaan dijadikan identitas masing-masing. Sama saja seperti Indonesia dan Malaysia, di managaris batas negara bangsa ini dibuat oleh para penjajahnya," kata Agustinus.

Perjalanan panjang menembus garis-garis batas itu membuat Agustinus lebih memahami makna dari persamaan dan perbedaan. Pengalaman perjalanan itu pula yang kemudian dia bagi di dalam dua buku yang tebal. Kisah perjalanan di Afganistan dia rangkum dalam buku Selimut Debu. Sementara kisah perjalanan ke lima negara pecahan Uni Soviet dia ruliskan di dalam Garis Batas.

Sebagai seorang pengemba-ra, Agustinus memiliki nilai lebih. Dalam dua bukunya dia membuktikan diri bahwa dirinya adalah seorang penulis perjalanan (travel writer) yang andal. Dia tidak men-dangkalkan diri pada tulisan panduan wisata, tetapi jauh menggali pada persoalan manusia dan lingkungannya di tempat-tempat yang dia kunjungi. Selain itu. Agustinus juga membuktikan diri sebagai seorang fotografer andal. Dia mampu menangkap momen yang menggairahkan hasrat dengan sudut pandang yang memukau. (Zaky Yamani/-"PR")"#

Tulisan ini di publikasikan kembali atas seizin penulisnya (Zaky Yamani) dari Harian Umum Pikiran Rakyat, 16 Mei 2011.
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #6 @tobucil

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #6 yang akan berlangsung tanggal 22 Mei 2011 jam 15.00-18.00. KlabKlassik Edisi Playlist adalah kumpul-kumpul rutin yang terbuka untuk umum. Peserta kumpul -kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Di akhir pemutaran setiap lagu, akan dianalisis oleh komposer Diecky K. Indrapraja dan penggalau musik Ismail Reza.

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.
Google Twitter FaceBook

Dibuka Kelas Menulis Angkatan X: “Kebermainan dalam Bersastra”


Menekuni dunia sastra bukan semata-mata menekuni dunia tulis menulis, ada sesuatu yang lebih dibalik kata-kata yang menjadi alat bantu utama bersastra.  Sesuatu dibalik tulis menulis sastra, tentunya sebuah kajian menarik untuk ditekuni, seperti permainan di masa kanak-kanak kita yang mengundang gelak tawa, canda riang, air mata sedih, dan kecewa. Permainan apakah yang berada dibalik kata-kata saat bersastra? Selamat bermain dan menemukan jawabannya dalam Klab Nulis Angakatan X dengan tema Kebermainan dalam Sastra.
Jumlah pertemuan : 12 x pertemuan
Waktu :  (Setiap Jumat, 17.30-19.00 wib)
Pendaftaran : 23 Mei-7 Juni 2011 (Tobucil, Jl. Aceh 56)

Biaya keikutsertaan: Rp. 250.000/peserta
Jadwal Materi:
  • Pertemuan I (10 Juni 2011) : Filsafat Menulis I
  • Pertemuan II (17 Juni 2011) : Filsafat Menulis II
  • Pertemuan III (24 Juni 2011) : Membangun Karya Original Dalam Konstruksi Instrinsik I
  • Pertemuan IV (1 Juli 2011) : Membangun Karya Original Dalam Konstruksi Instrinsik II
  • Pertemuan V (8  Juli 2011) : Membangun Karya Original Dalam Konstruksi Instrinsik III
  • Pertemuan VI ( 15 Juli 2011) : Membangun Karya Original Melalui Unsur Rancang Visual
  • Pertemuan  VII (22 Juli 2011) : Shaun The Sheep, Legislatif, dan Alayfiction (studi pos-struktural)
  • Pertemuan VIII (29 Juli 2011) : Diskusi Karya
  • Pertemuan IX (5 Agustus 2011) : Bimbingan Karya I
  • Pertemuan X (12 Agustus 2011) : Bimbingan Karya II
  • Pertemuan XI (19 Agustus 2011) : Seleksi Sidang Karya
  • Pertemuan XII (26 Agustus 2011):
  • Sidang Karya, Pentas Seni, Pengumuman Nilai Karya, dan Wisuda Klab Nulis Angkatan X (Terbuka Untuk Umum)
Pemateri : Sophan Ajie, Pujianto, Agus Triadi
Informasi dan pendaftaran: Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung Telp. 022 4261548 (Senin s/d Minggu, Pk. 09.00 s/d 20.00 WIB)


Google Twitter FaceBook

Wednesday, May 18, 2011

Dibuka Kelas Penulisan Skenario Film Pendek Angkatan II

Tujuan dari kelas ini adalah peserta bisa memahami skenario film dan mampu menulis skenario untuk film pendek.

Kelas dibatasi maksimum untuk 15 orang peserta
Setiap pertemuan akan berlangsung selama 120 menit.

Materi yang akan diberikan:

  • Pengenalan skenario (2 kali pertemuan)
  • Dasar-dasar penulisan skenario (2-3 kali pertemuan)
  • Pemahaman dasar mengenai Film Pendek (1 kali pertemuan)
  • Menggagas Cerita untuk Skenario Film Pendek (4-6 kali pertemuan)
  • Praktik Penulisn Skenario Film Pendek (7-12 kali pertemuan)
Instruktur: M. Syafari Firdaus (Filmmaker aktif di Komunitas Perfilaman Intertekstual) dan pernah memenangkan penghargaan Film Dokumenter terbaik di Yamagata Film Festival, Jepang).

Biaya keikutsertaan: Rp. 250.000/peserta
Kelas akan  berlangsung setiap Senin (17.00 - 19.00 dan Rabu 15.00 - 17.00).
Kelas akan dimulai tanggal 30 Mei 2011.

Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Dibuka Pendaftaran Kelas Penulisan Feature (Non Fiksi) Angkatan I

Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung (AJI Bandung) bersama Tobucil & Klabs menyelenggarkan program Kelas Penulisan Feature (Nonfiksi) Angkatan I. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman cara menulis non fiksi dengan gaya Feature.

Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis, Pk. 17.00 -19.00 Wib. Angkatan pertama dimulai tgl 26 Mei 2011. Setiap angkatan maksimum 15 orang.

Instruktur:
Rana Akbari Fitriawan (Freelance Jurnalis/mantan Jurnalis Tempo), Adi Marsiela (Jurnalis Suara Pembaruan), Zaky Yamani (Jurnalis Pikiran Rakyat)

Biaya pendaftaran: Rp. 250.000/orang

Materi Perkuliahan:

  • Mengetahui bentuk-bentuk penulisan nonfiksi, bentuk dan etika penulisan nonfiksi
  • Mengenal dasar-dasar penulisan nonfiksi
  • Mengenal dan memahami bentuk penulisan feature
  • Memahami teori penulisan feature
  • Mengenal dan memahami teknik liputan
  • mengenal dan memahami teknis penulisan feature
  • Evaluasi karya tulis peserta
  • Review kegiatan
Informasi dan pendaftaran:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Dibuka Pendaftaran Kelas Filsafat Untuk Pemula Angkatan II: "Di Sini Terang Di Sana Gelap" (Kajian Filsafat Abad Pertengahan)

Madrasah Falsafah bersama Tobucil & Klabs menyelenggarkan program Kuliah Singkat Filsafat Untuk Pemula. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai peta perkembangan pemikiran filsafat secara sistematis.

Kelas diselenggarakan setiap hari Selasa, Pk. 17.00 -19.00 Wib. Angkatan pertama dimulai tgl 31 Mei 2011. Setiap angkatan maksimum 15 orang. Terbuka bagi siapapun yang meminati dunia filsafat.

Instruktur:
Bambang Q-Anees (Filsuf dan pengajar teologi UIN Sunan Gunung Djati), Rosihan Fahmi (Koordinator Madrasah Falsafah), Syarif Maulana (Koordinator Klab Klassik dan Kontributor Blog Tobucil & Klabs).

Biaya pendaftaran: Rp. 250.000/orang

Materi Perkuliahan:

  • Pengantar Menuju Filsafat: Abad Pertengahan
  • Pertemuan Filsafat dan Agama
  • Masa Patristik
  • Masa Skolastik
  • Menengok Filsafat Islam
  • Kematian Filsafat
  • Embrio Filsafat Modern
  • Review Kegiatan
Informasi dan pendaftaran:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Tuesday, May 17, 2011

Crafty Days #5: Musik Sore yang Menghebohkan

Crafty Days edisi lima Tobucil, seperti biasa, memilih musik sebagai pamungkas acaranya. Karena diselenggarakan di waktu sore, maka dinamailah Musik Sore. Untuk Crafty Days ini, diundanglah empat pengisi acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung, lalu disambung Grace dan Tesla, Yustinus Ardhitya, dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Acara yang semestinya dimulai pukul setengah empat ini agak molor karena hujan dan pemasangan sound system yang cukup rumit. Sound System ternyata dipasang cukup serius, plus mixer dan speaker aktif yang mengelilingi beranda mungil Tobucil. 

Ririungan Gitar Bandung (RGB)
Penampil pertama adalah homeband Tobucil, yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB) dari KlabKlassik. Dengan format ensembel gitar akustik, mereka membawakan empat karya sekaligus. Yang pertama Air on G String, lalu Drive My Car, La Cumparsita dan ditutup dengan Canarios. Kecuali lagu nomor dua, sisanya adalah lagu klasik "murni". Meski bermain cukup apik, namun penampilan dari RGB ini belum didukung penuh oleh sound system sehingga volume suara kurang banyak terdengar, terlebih lagi penonton sudah sangat memadati beranda sehingga suara semakin teredam. 

Duo Maut 'Grace & Tesla'
Meski tadinya dijadwalkan Yustinus Ardhitya yang mengisi acara berikutnya, namun Grace dan Tesla menawarkan diri untuk main berikutnya. Duo gitar-vokal ini, meski berbau jazzy, namun berulangkali mereka menekankan bahwa mereka tidak sedang main jazz. Bebas saja, katanya, mau diartikan apa. Mereka berdua membawakan dua karya, yakni Blackbird dari The Beatles, dan Putih Melati dari Guruh Soekarno Putra. Grace dan Tesla, meski cuma berdua, namun sukses menghadirkan suasana mistis. Hal ini terutama keluar dari suara vokal Grace. Berkali-kali ia minta mikrofon diberi reverb atau gema ternyata bukannya tanpa alasan, ia ingin memberi sentuhan mistis itu. Sayang sekali, akibat Grace merangkap jaga stand juga, maka ia cuma menyanyikan dua lagu. 

Yustinus Ardhitya, penyanyi balada plus juragan bengkel mobil

Yustinus Ardhitya hadir berikutnya. Ia bermain gitar vokal dibantu rekannya dengan gitar pula. Ia membawakan karya-karya balada ciptaannya sendiri. Yustinus menampilkan empat lagu, membawa penonton pada suasana lirih, setelah RGB dengan keademannya dan Grace-Tesla dengan kemistisannya. Suara Yustinus termasuk impresif: serak-keras-bertenaga. Genjrengan gitarnya pun asyik dan mantap.

Ammy Kurniawan & Alternative Strings
Penampil terakhir adalah Ammy Alternative Strings. Kang Ammy Kurniawan, pemain biola 4 Peniti, hadir beserta murid-muridnya, para pebiola. Kang Ammy sendiri kemarin tidak bermain biola, melainkan gitar. Mereka menampilkan banyak karya, mulai dari tradisional, klasik, hingga pop yang kesemuanya diaransemen ulang dengan gaya alternative strings. Yang paling menarik adalah kala kelompok tersebut membawakan Java Medley yang menampilkan lagu-lagu daerah seperti Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Cingcangkeling, Rek ayo Rek, Manuk Dadali dan lain-lain. Gaya alternative strings adalah gaya bermain biola yang bebas dan mengedepankan improvisasi. Walhasil, dengan sajian pemain berbanyakan sejumlah 24 orang plus groove gitar Kang Ammy yang asyik mengiringi, puncak acara Crafty Days pun ditutup dengan manis dan juga heboh. 

MC kondang sekaligus gegedug klab klassik merangkap kontributor blog tobucil dan pemandu kelas filsafat pemula, cowo paling banyak jabatannya di tobucil: Syarif Maulana

Foto-foto Crafty Days #5 bisa di lihat di sini

Google Twitter FaceBook

Crafty Days #5: Kisah Even Pembawa Hujan

Crafty Days adalah even tahunan Tobucil yang isinya memuat bazaar dan workshop handmade plus sajian musik. Kemarin, 14 dan 15 Mei, Crafty Days sukses diselenggarakan untuk kali kelimanya. Dua puluh stand handmade memeriahkan halaman Tobucil. Di garasinya, atau beranda, atau Adi Marsella menyebutnya dengan, "Auditorium," selalu sambung menyambung gelaran workshop mulai dari yubiami, scrapbook, boneka pom-pom, merenda, hingga boneka bantal. Auditorium itu juga multifungsi, di lain waktu ia diisi oleh semacam talkshow berbagi pengalaman memulai usaha handmade, serta pagelaran musik dengan perangkat sound system cukup lengkap dan pengisi acara yang cukup serius.

Workshop Boneka Bantal bersama Puri dari Idekuhandmade
Jika awal mula masuk dan melewati pagar Aceh 56, yang pertama "menyambut" di meja stand paling depan adalah Pyur!. Stand yang menjual boneka monster, tas, dompet, dan kayu lukis ini menjadi hangat karena adanya figur Ibu Sutjiharti yang rajin menyapa lembut para pengunjung. Ibu Sutjiharti adalah penjaga stand sekaligus pembuat produk Pyur! ini. Di Crafty Days ini banyak stand yang menarik, diantaranya Oma Anna yang juga menjual selai organik selain barang-barang handmade. Selai organik ini menarik sekali, kata Mba Mei, pembuatnya, "Perbandingan gula dan buah adalah setengah banding satu, jadi buah lebih banyak. Produk selai pada umumnya satu banding satu." Saya mendapati satu rasa, yakni jeruk-melati yang sangat menggelikan di lidah. Selain stand-stand handmade, ada juga stand non-handmade seperti stand makanan takoyaki dari Garasi 10. Stand takoyaki ini cukup fenomenal, di awal kehadirannya di hari Sabtu jam 9 pagi, mereka sudah sold out jam 12 siang! Akhirnya stand takoyaki ini beristirahat selama dua jam untuk mengaduk adonan lagi dan kembali berdagang. Adapun stand keramik, Kandura, selain menjual barang-barang, ia juga mendirikan meja workshop membuat keramik. Dengan harga Rp. 30.000 saja, siapapun yang datang boleh mencoba membuat keramik, dan nantinya si produk boleh dibawa pulang setelah dibakar di tungku 1200 derajat celcius.

Ojan dari Nest of Ojanto  sedang mengikuti workshop Keramik Bersama Tisa dari Kandura Keramik

Acara Crafty Days ini secara umum dipandu oleh MC Theoresia Rumthe. Setiap pengunjung yang datang disapa dan kadang dijahili. Sekarang mari kita tengok stand tuan rumah, Tobucil Handmade. Tobucil Handmade dijaga oleh Dian dan Mayang. Isinya macam-macam, mulai dari benang diskon, keripik dan basreng kering, pameran scrapbook, kacamata, hingga produk kongsi handmade dari Rinja-Rinja, Mogu, Dentelle, Laugh on the Floor, Vitarlenology, Kineruku, dan Wawbaw. Stand tuan rumah, menurut pengakuan Dian, "Alhamdulillah laku banyak." 

keceriaan crafty days

Puncak dari Crafty Days adalah Musik Sore. Diisi oleh empat penampil yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB), Yustinus Ardhitya, Grace dan Tesla, serta Ammy Alternative Strings. Format musiknya sangat beragam, demikian pula aliran yang dibawakannya. Ririungan Gitar Bandung menggunakan format gitar akustik dengan sebagian besar membawakan lagu klasik, Yustinus Ardhitya gitar duet plus vokal dengan berisikan lagu-lagu balada, Grace dan Tesla meskipun sangat jazzy tapi duo gitar-vokal itu ogah dibilang jazz, serta terakhir, Ammy Alternative String yang menyuguhkan format biola berbanyakan sampai dua puluh empat orang!

Mbah dari jendela Aceh 56, saat lagu Happy Birthday dinyanyikan
 Di sela-sela Crafty Days terdapat selipan yang manis. Yakni seluruh penonton musik sore bernyanyi lagu happy birthday yang ke-85 bagi Mbah pemilik rumah sebelah. Tanpa restu Mbah, tentu saja Crafty Days yang ramai ini mustahil terselenggara. Di sela-sela Crafty Days juga terdapat selipan yang akhirnya harus diputuskan bahwa ini manis: hujan. Crafty Days, diselenggarakan bulan apa pun, ternyata selalu diberkahi hujan. Hujan ini terang saja kerap membuat panik para pemilik stand maupun sound system. Karena beranda tempat mereka bernaung termasuk kategori outdoor. Meski demikian, akhirnya perlu diterima bahwa Crafty Days adalah sebagai pembawa hujan itu sendiri. Jika suatu saat Bandung dilanda kemarau panjang dan hewan-hewan kehausan, manusia kepanasan, maka mari kita selenggarakan Crafty Days agar hujan. Sampai jumpa di gelaran berikutnya!  Syarif Maulana 



Foto-foto Crafty Days # 5 dapat di lihat di sini 
Google Twitter FaceBook

Monday, May 9, 2011

Di Balik Kepemimpinan Habibie


Madfal 4 Mei 2011 
Seperti biasa, Rabu sore adalah waktu untuk berdiskusi secara terbuka di Tobucil. Walaupun hanya beberapa tobucilers yang hadir, namun diskusi tetap berjalan menarik. Kali ini Heru Hikayat menjadi pembawa masalah dari Detik-detik Yang Menentukan, sebuah buku mengenai berbagai polemik yang dihadapi Habibie selama menjabat menjadi pemimpin nomor satu di Negeri ini. Pembukaan diskusi dilakukan dengan menelisik hubungan antara Suharto-Habibie, di mana banyak sekali mentri-mentri yang menjadi pesimistis ketika Suharto lengser dari jabatannya dan Habibie naik menjadi presiden. Tentunya menarik ketika seorang scientist dipaksa menjadi Presiden hanya karena kedekatan yang sangat dengan Suharto (sang Bapak). Sama halnya ketika Diecky Kurniawan Indrapraja bercerita mengenai seorang pemain musik yang sangat dekat dengan seorang Raja di suatu negeri (saya lupa) yang terpaksa menjadi Raja ketika negerinya diserang oleh musuh karena Raja yang asli telah melarikan diri entah kemana. Satu pertanyaan kemudian muncul dari Diecky yang ditujukan kepada Heru berkaitan dengan tema yang selalu dia bawa ( dua minggu sebelumnya Heru membawakan tema ‘Gusdur’ ) “mungkinkah di balik tema-tema yang dibawakan terdapat keinginan menjadi pemimpin? Atau menjadi tokoh politik?”
Sebelumnya Diecky telah diminta menjadi pembicara pada sebuah seminar yang membahas mengenai taman budaya dan pihak-pihak (entah itu pemerintah atau bukan) yang dapat mengurusnya—supreme father—. Kepedulian Diecky terhadap hal itu membuat para peserta seminar langsung menunjuk kepada dirinya untuk menjadi pihak yang bertanggung jawab tersebut.
Kejadian yang serupa terjadi di madfal kali ini, karenanya terdapat sedikit kecurigaan pada Heru. Apakah memang ia ingin menjadi pemimpin? Dengan senyumnya yang khas, Heru menjawab “ tidak, hanya saat ini adalah masa transisi, dan kita bisa dengan tenang dan puas membahasnya tanpa takut ditangkap atau bahkan diseret ke penjara.”
Google Twitter FaceBook

Obrolan Santai Bersama Agustinus Wibowo, Jumat 13 Mei 2011 @tobucil

AJI Bandung dan Wartawan Foto Bandung serta didukung oleh Tobucil & Klabs, menghadirkan pengelana Agustinus Wibowo yang akan berbagi soal perjalanan ke negeri-negeri Asia Tengah. 

Agustinus memulai perjalanan daratnya lintas benua Asia pada tanggal 31 Juli 2005 dari Stasiun Kereta Api Beijing (China). Dia sempat berhenti di Beijing karena berbagai alasan pribadi dan finansial setelah melakukan perjalanan empat tahun berturut-turut.

Perjalanan darat ini dilakukan dengan segala alat transportasi, mulai dari bus, kereta api, hingga keledai dan kuda. Perjalanan ini telah melintasi negara-negara seperti China, Nepal, India, Pakistan, Afganistan, Iran, Tajikistan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan Mongolia. 

Agustinus tidak sekedar berjalan-jalan saja, dia menggali kekayaan ragam kehidupan di berbvagi pelosok Asia dengan kereta api, bis, taxi, ojek keledai dan berjalan kaki. Apa sebenernya yang dicari olehnya?

Datanglah ke Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung, Pada hari Jumat, 13 Mei 2011, Pk. 14.00 - 17.00 WIB, untuk mendengarkan Agustinus berbagi pengalamannya yang luar biasa ini. Terbuka untuk umum dan gratis.


foto diambil dari sini

 Keluar dari Khayalan Indonesia

Mungkin kita menyimpan mimpi menyambangi negeri-negeri yang jauh. Ke bandar-bandar yang sama sekali tak mirip dengan asal sendiri.
Apa yang kita cari? Membuat hati, tubuh, dan jiwa bersenyawa dengan debar semesta? Apakah sebuah perjalanan membuat Anda menjadi bagian dari kegelisahan global?

Agustinus Wibowo mendatangi tempat-tempat terpencil di dunia. Seperti desa di Indonesia, predikat terpencil berarti tempat itu sulit dijangkau, akses modernitas rendah. Dia melangkah ke negeri-negeri di Asia Tengah yang tidak menjual pesonanya lewat kartu pos: Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Agus membukukan pengalamannya dalam Garis Batas, setebal 510 halaman yang kaya sarat karya fotografi.

Ketika Uni Soviet teriris, maka teriris pula sejarah negara-negara Stan. Pahlawan, kebanggaan dan segala warisan masa lalu diperebutkan. Tajikistan, misalnya, tidak punya sejarah panjang karena dibentuk Stalin untuk memecah Uzbekistan. Namun penduduk negeri ini gemar mengingkari fakta sejarah. Agustinus harus tertipu oleh ilusi sejarah kota Istaravshan di Tajikistan Utara. Tak ada mesjid kuno, seperti yang dia fantasikan tentang kota yang mengklaim sejarahnya sudah 2500 tahun.

Setiap bangsa mungkin perlu menghidupkan kebanggaannya, meski dibangun dari puing-puing ilusi. Seperti Indonesia yang sebenarnya disatukan oleh kesamaan sebagai jajahan Belanda. Maka tepat bila Andreas Harsono dalam pengantarnya untuk Garis Batas menyebut Agustinus berani keluar dari kahayalan soal Indonesia lalu mempertanyakan diri keberadaan dia sendiri.

Membaca tulisan Agustinus seperti tersedot seperti ke petualangan Karl May tanpa pretensi-pretensi berat. Agus tidak punya misi serius seperti perdamaian dunia atau mengecam penindasan atas suatu bangsa seperti yang dilakukan Karl May. Dia rajin melempar pertanyaan-pertanyaan tentang kemerdekaan, sejarah, atau agama. Semua itu terjadi lewat interaksi dengan penduduk setempat.

Interaksi itu membuat penuturannya menjadi basah, tidak seperti kisah pelancong yang hanya mengandalkan deksripsi subjektifnya. Agustinus punya trik menawar polisi bertubuh gendut yang memanfaatkan bulan Ramadan untuk memalak dengan menyebut diri miskin. Aparat korup ada dimana saja.
Dia juga harus merogoh koceknya yang pas-pasan untuk visa atau ongkos bermalam yang jumlahnya kerap tak masuk akal. Namun dia sadar frustrasi turis tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami setiap hari oleh pendudul lokal.

Agus tidak membuat petualangannya sebagai sebuah pengalaman yang heroik. Karena perjalanan itu tidak selamanya menyenangkan hati. Kerap Agus melontarkan gerundelan, yang justru terbaca lucu. Pada pembukaan Garis Batas, Agus membuat metafora tentang keledai sebagai makhluk yang bodoh menjadi relevan. Menunggang keledai adalah pengalaman yang mengesalkan. Tapi hewan itu sangat dibutuhkan oleh para kafilah di Afghanistan.

Agustinus tidak membuat Garis Batas menjadi sebuah panduan wisata atau referensi bagi pembaca yang ingin mengecap pengalaman sama. Sebuah hotel di Tajikistan dia gambarkan: bangunan raksasa buruk rupa di tengah kota yang arsitekturnya mengingatkan pada gaya birokrasi komunisme: besar, membosankan, menakutkan.

Garis Batas adalah catatan-catatan Agustinus ketika mengelilingi Asia Tengah yang dimulai tahun 2006 dan berakhir pada 2007. Garis Batas bisa dianggap sebagai sekuel dari Selimut Debu yang memuat kisah Agus di Afghanistan. Dia pernah bekerja sebagai fotografer di negeri yang belum sepenuhnya terbebas dari perang itu.

Negeri-negeri Stan di mata Agustinus begitu gemerlap. Dia melihatnya dari Afghan yang hanya berbatasan selebar sungai. 20 meter.

Batas-batas negeri kerap sangat tipis. Tapi melewati batas itu begitu banyak hal yang berbeda. Agustinus menghadirkan narasi tentang pemuda Afghan yang akan sekolah ke seberang, melewati garis batas sungai Amu Darya. Berangkat dengan cambang di dagu, kopiah, jubah panjang kedodoran, dan celana kombor mirip pakaian Aladdin. Begitu tiba di Tajikistan, mereka segera mengenakan jas, dasi, kemeja, sepatu dan tas kerja. Karena yang kode pakaian yang berlaku di negeri seberang adalah modernitas ala Eropa yang diperkenalkan Rusia.

Bagi Tajikistan sungai adalah sumber energi, sehingga rumah mereka bisa diterangi lampu listrik. Sementara bagi orang Afghan yang hidup dengan pelita di malam hari, arus sungai tinggal menjadi pembatas. Pemisah takdir.
Ditulis oleh: Alfred Pasifico

Bagi teman-teman yang masih penasaran seperti apa Agustinus Wibowo itu bisa langsung lihat di laman

avgustin.net atau agustinuswibowo.wordpress.com

sampai jumpa di tobucil...
Google Twitter FaceBook

Musik Sore Crafty Days: Tesla Manaf Effendi dari Grace & Tesla



Kurang dari seminggu lagi Craft Days jilid lima Tobucil akan digelar. Bazaar dan workshop kerajinan tersebut juga mempersiapkan sajian musik di dalamnya. Acara musik yang diberi nama Musik Sore tersebut akan digelar di hari kedua yakni 15 Mei pukul 16.30 hingga pukul 18.00. Musik Sore dibuka dengan penampilan KlabKlassik, lalu dilanjut Yustinus Ardhitya, Grace & Tesla dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Salah seorang penampil dari Musik Sore nanti berhasil diwawancarai, yakni Tesla Manaf Effendi, gegedug dari Grace & Tesla. Ia juga seorang gitaris jazz muda yang amat progresif dan tengah naik daun. Kelahiran 29 Agustus 1987 ini mengawali karir musiknya dari belajar gitar klasik, dan akhirnya lima tahun terakhir ia banting setir ke jazz. Penggemar Pat Metheny dan Yo-Yo Ma ini akan berkisah singkat pada kita, sekaligus menambah penasaran, “Drama apa yang disajikan Musik Sore nantinya?”

Tobucil: Halo Tesla.
Tesla: Halo.
Tobucil: Akhirnya main lagi di Tobucil. Dulu kan pernah main juga ya di Tobucil, gimana kesan-kesannya?
Tesla: Keren, tapi saya berharap nanti apresiatornya bertambah.
Tobucil: Haha pasti, karena ini ada bazaarnya, pasti seru. Apa yang kamu siapin, Tes, untuk penampilan nanti?
Tesla: Hihi penasaran ya, ada aja pokoknya mah!
Tobucil: Okelah, ditunggu! Gimana mulanya bias terbentuk Grace dan Tesla? Mulainya kapan?
Tesla: Dari tahun lalu. Saya sama Grace awalnya sebatas teman berimajinasi saja, tapi kemudian kami memutuskan untuk bikin duo.
Tobucil: Adakah pengalaman main yang berkesan dari duo ini?
Tesla: Semuanya berkesan, sampai penonton pada tutup telinga hehehe.
Tobucil: Terus pendapat Tesla tentang Grace sendiri?
Tesla: Haha dia mah temen gossip. Kalau ketemu gosip, bukannya latihan.
Tobucil: Hmmm.. terus apakah kamu punya rencana rekaman serius?
Tesla: Hehe udah kok, udah banyak rekaman seriusnya. Coba aja kunjungi www.soundcloud.com/tesla-manaf-effendi. Kepingan CD juga udah tersedia, kalau gak salah di Tobucil juga jual kan? Atau bias pesen ke www.jazualty.com.
Tobucil: Wow asik! Oke, terus terkait sama kelulusan kamu kemarin. Hehe benar kan baru lulus kuliah?
Tesla: Iya, bener.
Tobucil: Apakah penting seorang musisi menamatkan kuliahnya, walaupun ia sudah sukses sebagai musisi?
Tesla: Penting dong, utang ke orang tua, dan bukan berarti musisi tapi gak bisa kerja kantoran, hanya saja bermain musik itu pilihan.
Tobucil: Oke, Tes, rencana kamu ke depan apa?
Tesla: Saya ingin main saja. Kalau ngajar, gak bakat hehe.
Tobucil: Oke sekarang bahas basic kamu ya. Penting gak sih, Tes, belajar apa-apa dari klasik dulu?
Tesla: Dulu sih berasa gak penting, karena kerjaanya cuman baca partitur tanpa tau teori, eh makin kesini makin berasa klo main klasik itu penting, gak hanya dari sight reading, tapi teori tanpa batas dan teknik bermainpun berguna. Gak harus selalu mulai dari klasik kok, mulai dari yang suka aja
Tobucil: Ah, penting banget itu, kata kuncinya: Mulai dari yang suka. Oke, terakhir, jazz sepertinya lagi naik daun nih, terutama akibat pagelaran javajazz yang rutin. Bagaimana Tesla melihat fenomena tersebut?
Tesla: Itu musiman kok, paling lama 5 tahun lagi juga keliatan siapa aja yg suka jazz dan siapa yg gak kuat.
Tobucil: Wah terima kasih, Tes, atas waktunya. Salam buat Mas Niman dan KlabJazz-nya ya, gimana kabarnya sekarang?
Tesla: Klabjazz baik dan sejahtera, masih jadi wadah untuk bermain dan mencari pengetahuan. Sunday jazz minggu pertama di Potluck dan ketiga di Dago Plaza. Sama-sama terima kasih juga.
Tobucil: Siap untuk tampil di Craft Days??
Tesla: Siap! Udah ah nanya mulu nih.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Diskusi KlabKlassik: Pendidikan Sejarah dan Kewarganegaraan bersama Those Shocking Shaking Days


Hari itu KlabKlassik mengajak pendengarnya bernostalgia ke era tahun 70-an. Meskipun beberapa diantaranya belum lahir di tahun-tahun itu, tapi suasana “ke-dulu-an” tetap terasa. Keterlemparan itu dipicu oleh piringan hitam Those Shocking Shaking Days (TSSD) yang dibawakan oleh Ismail Reza. Album kompilasi berjudul lengkap Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 itu (ironisnya) dirilis oleh Now Again Records dari Amerika Serikat dan mulai dipasarkan pada 8 Maret 2011. Di Indonesia sendiri album tersebut baru resmi dipasarkan pada 27 Maret.
Lewat piringan hitam yang menyuguhkan kualitas audio analog yang total, acara hari itu dimulai dengan pemutaran karya The Panbers berjudul Haai yang bagi Mas Reza, “Tidak kalah dengan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin.” Sangat enerjik, memabukkan, penuh kejutan, dan tidak menyangka bahwa band-band Indonesia zaman dulu demikian berkualitas. “Padahal, waktu itu era-nya serba terbatas dan terkungkung. Sekarang sudah serba terbuka, tapi kok kreativitas malah semakin rendah,” demikian lanjut Mas Reza.
Setelah itu lanjut diputar lagu-lagu psychedelic seperti Bad News dari The Rollies, Evil War dari Shark Move, Hear Me dari Golden Wing, Do What You Like dari AKA, Pemain Bola dari Rasela, Uang dari Duo Kribo dan banyak lagi. Total empat jam setengah dihabiskan forum hari itu untuk membahas dan mendengarkan seisi albumnya. Termasuk penutupan yang cantik dari “band lokal” Don’t Talk About Freedom dari The Gang of Harry Roesli. Kebanyakan dari lirik-lirik tersebut menggunakan bahasa Inggris, yang menurut Budi Warsito, seorang aktivis dari Rumah Buku, “Menghindari sensor yang ketat jaman itu.” Yang bagi Nia Janiar, justru menjadi hal yang disayangkan karena ia berharap band-band Indonesia menggunakan lebih banyak bahasa Indonesia.
Yang lebih menarik justru pembahasannya, terlebih ketika mempertanyakan ada apa dengan musik Indonesia saat ini? Pertama, sudah jelas bahwa musik hari ini sudah sangat fokus pada kepentingan-kepentingan industri. Yang artinya, keragaman ditekan, dan keseragaman diangkat. Sedang musim gaya pop melayu, maka semua band jika ingin laku haruslah juga pop melayu. Padahal, mendengarkan TSSD tersebut, sudah jelas bahwa Indonesia punya sejarah kreativitas musik yang sampai diakui hingga mancanegara. Yang kedua adalah soal sejarah. Bagaimana mungkin Barat sanggup meramu sejarah hingga ke jaman pra-sejarah sekalipun, tapi musik Indonesia dalam kurun waktu tiga puluh sampai empat puluh tahun ke belakang saja akurasinya masih dipertanyakan?
Demikian pertemuan hari itu menjadi renungan menarik tentang nasionalisme dan juga kesejarahan. Kang Tikno menutupnya dengan patriotik, “Mendengar album ini, saya jadi bangga menjadi orang Indonesia.”

Google Twitter FaceBook

Monday, May 2, 2011

Azhar Rijal Fadlillah: Penggalau Madfal Generasi Baru

Jika sesekali mampir ke Madrasah Falsafah (Madfal) hari Rabu, tengoklah ke sekeliling manusianya. Kalau ada yang terlihat paling muda, gelisah, dan resah, barangkali itulah Azhar Rijal Fadlillah alias Ijal. Kelahiran 29 Februari 1992 (dia berulangtahun setiap 1 Maret) tersebut, aktif di Madfal sejak Januari 2010 atau lebih dari setahun yang lalu. Ia bergabung pertama kali ketika Madfal tengah membahas topik berjudul "Musik: Bahasa Universal". Dalam kurun waktu setahun sejak itu, Ijal berevolusi. Dari tadinya pria rapi flamboyan, menjadi gondrong acak-acakan. Akibat filsafatkah? Mari kita kenal lebih dekat.

Tobucil (T): Halo Ijal
Ijal (I): Halo

T: Apa kabarnya nih, apa aktivitas sekarang?
I: Saya sehari-hari kuliah, Kang. Tapi kemarin-kemarin sempat mau berhenti saja.

T: Kenapa? Memang kuliah dimana?
I: Di Administrasi Bisnis Unpad angkatan 2009. Ya saya merasa kuliah disitu kurang memenuhi harapan dan rasa ingin tahu saya, jadi saya sempat kepikiran untuk pindah ke tempat lain. Tapi sekarang gak jadi kok, Kang, mau terus saja. Hehe.

T: Hehe okelah. Coba ceritakan Madfal menurut kamu!
I: Madfal seru, Kang. Saya banyak bertemu macam-macam pemikiran. Meski demikian, kegalauan saya ternyata lebih tersalurkan ketika sendiri. Dengan berpikir-pikir sambil begadang. Bagi saya Madfal itu seperti bidan, ia membantu melahirkan pemikiran-pemikiran baru bagi saya. Meskipun pemikiran itu pada akhirnya saya sendiri yang mengolahnya agar autentik. Madfal juga bikin saya terlihat tua, Kang. Hehe.

T: Oke, itu secara garis besar. Madfal sekarang ini, menurutmu bagaimana?
I: Madfal masih asyik kok. Tapi sejak Januari 2011, memang ada sedikit persoalan dalam sistematisasi tema dan juga jalannya diskusi. Saya agak curiga ini disebabkan oleh ketiadaan moderator tetap. 
T: Sehingga?
I: Iya, terutama karena tidak adanya moderator ini, menyebabkan beberapa orang yang baru datang ke Madfal sulit untuk dirangsang bicara. 
(Dien Fakhri Iqbal Marpaung, peserta tetap Madfal yang waktu itu kebetulan ada di sebelah Ijal, menimpali): Iya, harus ada moderator tetap, siapapun itu, yang bisa menguasai seluruh peserta.

T: Oh, baiklah, kalau begitu, adakah pesan-pesan berikutnya bagi Madfal dan penggiat filsafat lainnya?
I : Hmmm.. Apa ya? Pertama mungkin, sesekali Madfal bisa kembali membahas keseharian seperti dulu. Maksudnya, agar orang-orang yang baru kenal filsafat bisa dengan mudah memasuki topiknya. Yang kedua, "Jangan sesekali berani datang ke madfal, terlebih lagi menjadi galau jika tidak ingin tubuh menua mendahului usia."

Demikian obrolan singkat dengan Ijal, seorang anak muda yang dituakan oleh filsafat. Sekedar informasi, Madrasah Falsafah diadakan setiap Rabu pukul 17.00 sampai sekitar pukul 20.00. Diskusi filsafat bebas, dengan semboyan "Semua Orang adalah Filsuf".



Azhar Rijal Fadlillah, diambil dari dokumentasi pribadi

Google Twitter FaceBook

Ririungan Gitar Bandung: Persiapan Menuju Crafty Days #5

Tanggal 14 dan 15 Mei ini, Tobucil kembali mengadakan acara tahunan Crafty Days. Acara semacam bazaar dan workshop handmade itu, menyisipkan juga acara musik di dalamnya. Beberapa penampil sudah dikonfirmasi untuk meramaikan diantaranya Ammy Alternative Strings, Grace and Tesla, Yustinus Ardhitya, dan "home band" Tobucil, yakni KlabKlassik. Menghadapi acara akbar ini, -terutama juga karena Tobucil berulangtahun kesepuluh- KlabKlassik terlihat melakukan persiapan secara serius lewat salah satu programnya yaitu latihan bersama ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB).

Ensembel RGB menyiapkan diri menghadapi Crafty Days #5

Pada sesi latihan kemarin, RGB dihadiri oleh enam orang yakni Pak Ato, Aldi, Mas Yunus, Haris, Taqqya, dan Ilham. Kesemuanya berencana menampilkan empat karya pada Crafty Days nanti. Selain Canarios dari Gaspar Sanz yang rutin dilatih belakangan, RGB juga akan memainkan La Cumparsita dari G. Rodriguez Matos, Air on G String dari J.S. Bach, dan Drive My Car dari The Beatles. Format penampil RGB adalah "ririungan", jadi setiap lagu bisa dimainkan oleh bersepuluh atau bisa saja cuma dimainkan berempat. Bebas saja, tergantung siapa yang siap. 

Selain RGB, akan tampil pula bintang tamu utama yaitu Ammy Alternative Strings. Ensembel pimpinan Ammy Kurniawan (violinis 4 peniti) ini, menghadirkan kumpulan pemain biola muda yang atraktif dan improvisatif, menghadirkan karya-karya yang menghibur dan seringkali bluesy. Jangan sesekali lewatkan Crafty Days #5 tanggal 14-15 Mei nanti. Musik sendiri akan hadir pada tanggal 15 Mei-nya, pukul 15.00 sampai selesai.

Salah satu penampilan Ammy Alternative Strings (Ammy: Tengah)
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin