Monday, June 27, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #7: Bernostalgia bersama Kaset

Minggu, 26 Juni 2011

Hari itu KlabKlassik Edisi Playlist berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Jika sebelumnya menggunakan format mp3, sekarang semuanya wajib membawa kaset. Tape pemutar disediakan dari Tobucil dan menarik melihat masing-masing membawa kaset yang bisa dibilang hampir menjadi pemandangan langka. Bersama analisator Ismail Reza, inilah dia lagu-lagu yang dibawakan hari itu:

1. Palti Raja (judul lagu) - Vicky Sianipar (artis)
Lagu yang dibawa oleh Pirhot Nababan alias Iyok ini adalah karya instrumental bertempo cepat dan riang. Palti Raja ternyata adalah generasi ke-6 terhitung dari Raja Batak yang biasanya merupakan pendeta untuk dimintai hujan oleh warga. Vicky Sianipar yang berlatar belakang Batak tulen mengangkat lagu ini dengan instrumen violin, flute, sarune, gondang, gitar, dan drum yang keseluruhannya terdengar ramai ketika berharmoni. Vicky Sianipar, kata Iyok, awalnya dianggap kontroversial karena mengaransemen ulang lagu tradisional Batak menjadi terlampau dinamis. Namun akhirnya lambat laun Vicky diterima karena faktanya terbukti banyak anak muda Batak yang menjadi tahu tentang musik Batak.
2. 9 Januari - Dewa Budjana
Lagu ini lagi-lagi masih instrumental. Karya tahun 1997 yang dibawa oleh Kang Tikno ini katanya pada jamannya sedang hangat-hangat mengangkat musik tradisi. Ini termasuk album gitaris solo yang mula-mula muncul di Indonesia. Dewa Budjana pada masa itu termasuk berani menembus pasar dimana solois instrumental plus etnik belum begitu popular.
3. Ikhlas tapi Jauh - Ikhlas
Nama band ini agak nyentrik, tapi kemudian dapat dipahami jika tahu asalnya dari Malaysia. Band dari Sheila Majid and friends di tahun 1991 ini dibawa oleh Mba Tarlen. Kata Mba Tarlen, "Ini adalah band ketika hubungan Malaysia - Indonesia masih harmonis." Patut diketahui bahwa di dalam band Ikhlas tersebut ada Erwin Gutawa, seorang konduktor dan arranger jenius milik tanah air. Ia mengisi album sebagai pembetot bas. Lagu tersebut cukup panjang hingga hampir tujuh menit dan meskipun slow, tapi ada beberapa gerakan progresif di dalamnya.
4. You're Still The Young Man - The Rollies
Kaset yang dibawa oleh Mas Reza ini adalah rekaman live tanggal 2 dan 3 Juli tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki. Meski live, teknik perekamannya sudah cukup baik dan instrumen keseluruhannya terdengar jelas. Lagu You're Still The Young Man ini sendiri dibuka dengan penampilan drum solo, yang lalu dilanjut dengan tiupan terompet dari Bangun Sugito alias Gito Rollies. Asyik, dan pada masanya, kata Mas Reza, The Rollies wajib ditonton kawula muda dan kaum eksekutif Jakarta.
5. Save a Prayer - Duran-Duran
Kaset Duran-Duran dibawa oleh Nita. Ini adalah kaset yang ia beli sejak SMP. Band beraliran New Wave ini ia pilih sebagai kelompok favoritnya oleh sebab video klipnya yang keren-keren. Selain itu, Duran-Duran juga memang pernah booming terutama diakibatkan oleh rambut dari Simon LeBon yang kemudian mengilhami tokoh Lupus. Lagu ini cukup menghipnotis dari bunyi keyboardnya yang repetitif. 
6. Don't Stop Me Now - Queen
Don't Stop Me Now dari Queen adalah lagu yang dibawa oleh Mas Adi Marsiella. Ini ia ambil dari kompilasi album The Best of Queen. Lagu penuh semangat ini menjadi tema lagu Mas Adi setiap dulu mau berangkat kuliah. Bangun tidur ia langsung menyetel lagu ini. Pada lagu ini gebukan drum Roger Taylor sangat dominan dan raungan gitar David May sukses membangun suasana. "Jangan lupakan juga," kata Mba Tarlen, "Celana ketat dan dada berbulu Freddie Mercury."
7. Since I've Been Loving You Too Long - Led Zeppelin
Lagu ini dibawa oleh Mas Yunus. Katanya, lagu dari album kompilasi blues tahun 1997 ini dahulunya menjadi teman setia ketika Mas Yunus sedang mengerjakan tugas akhir. Lagu tersebut sangat lambat dan lembut dengan dominasi permainan gitar Jimmie Page yang bluesy. Namun kata Kang Tikno yang lebih sering mendengarkan Led Zeppelin, ia yakin bahwa ini adalah cover version. Artinya, bukan Led Zeppelin yang main, tapi seseorang yang menyerupainya. "Siapapun itu, yang main ini pasti band hebat," tutup Kang Tikno.
8. Summer Song - Joe Satriani
Summer Song dari Joe Satriani adalah lagu solo gitar elektrik instrumental. Lagu ini dibawa oleh saya sendiri dan menjadi bagian penting hidup ketika masa-masa SMA. Joe Satriani adalah salah satu gitaris yang sangat senang menjadikan gitarnya bukan hanya sebagai media improvisasi, namun juga media melodi. Dari melodi utama hingga akhir, gitarnya bermain bak nyanyian. Satriani juga senang dengan eksplorasi teknik-teknik seperti feedback dan whammy pedal. 
9. Besame Mucho - Trio Los Panchos
KlabKlassik Edisi Playlist #7 ditutup dengan sebuah kaset jadul tanpa bungkus milik Mba Upi. Kaset Trio Los Panchos warisan ayahnya yang kerap diputar di masa kecil Mba Upi. Trio Los Panchos yang mempunyai format tiga vokal yang semuanya memegang gitar. Iramanya sangat latin dan setiap kalimat nyanyian selalu dibalas dengan petikan gitar spanyol yang eksotik. Trio Los Panchos ternyata tidak cukup didengarkan hanya lagu Besame Mucho saja, beberapa lagu ternyata cukup betah untuk terus diputar.

KlabKlassik Edisi Playlist #7 yang bertemakan kaset ini ternyata memicu obrolan bermacam-macam. Lagu jarang sekali didengarkan sambil terdiam seperti biasanya. Langsung dibahas dan langsung dikomentari ketika lagu itu masih berlangsung. Alasannya, kaset ternyata sukses merangsang romantisme masa lalu dalam diri masing-masing peserta. Bagaimanapun penggemar musik dimanapun ia berada yang lahir sebelum tahun 2000-an adalah penggemar musik yang lekat dengan jaman kaset.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Image


Rabu, 22 Juni 2011
“Kota kini telah membawa iman modernitas yang tak selamanya dirumuskan: bahwa dunia bisa dijinakkan karena manusia bisa mengetahuinya dengan benar, dan mengetahui dengan benar berarti ”melihat”. Bukan ”mendengar”, ”mencicip”, ”menghidu”, atau ”meraba”. Yang visual memimpin pengenalan kita kepada dunia.” 
-Goenawan Mohammad

Kecenderungan mengutamakan mata, oculus, sebagai sumber pengetahuan (dan penguasaan) itu bahkan sudah ada di Yunani Kuno: peradaban yang oculocentric dimulai jauh sebelum Plato[*]. Plato pernah menyebutkan satu upacara purba, satu milenium sebelum dia, yang berlangsung di Eleusis: tiap musim semi ratusan orang berkumpul di sebuah kuil yang gelap pekat bagaikan gua, menantikan ajaran tentang kematian, kelahiran kembali, dan keabadian. Mereka ingin mengetahui hal-hal itu agar dapat mengatur hidup. Nah, Dewi Demeter akan tampil dalam sinar yang terang. Kebenaran akan disampaikan.

Kini jutaan orang, berkelompok atau menyendiri, menantikan informasi. Bukan di Eleusis, tapi melalui sinar di televisi, film, layar komputer di mana saja. Aku melihat, maka aku ada.


Tentu saja beragam hal yang kita lihat setiap harinya, tapi percayalah dari mulai bangun tidur hingga beranjak naik ranjang kembali, kita selalu dikepung media visual; image. Heru Hikayat- yang menjadi pemasalah saat ini mengatakan: “coba saja perhatikan saat akan keluar gerbang tol Pasteur kita akan di suguhkan banyak sekali gambar. Apalagi menjelang pemilukada, jalan-jalan kota Bandung akan penuh dengan gambar wajah calon kepala daerah.”

Yang jadi persoalannya barangkali adalah sejauh mana gambar mampu merepresentasikan realitas aslinya, itu yang di tekankan Heru pada dialog rabu sore ini. Sebenarnya, gambar menjalankan logika pembodohannya sendiri dengan menyuguhkan “bola liar” (istilah yang dilontarkan Mbak Echi). Ketika suatu realitas “dipotong” dari peristiwa aslinya untuk kemudian dilemparkan ke pasar (media internet barangkali yang saat ini paling potensial) menggulung kesana-kemari yang memunculkan banyak sekali tafsir. Realitas dipotong oleh gambar, diambil salah satu sudut pandangnya, itu berarti ada banyak sisi yang dilupakan. Itu berarti ada banyak sisi yang tidak terwakilkan. Hasilnya sudah jelas, kemungkinan multi tafsir jauh lebih besar dibandingkan dengan teks.

Diecky mengambil contoh yang cukup bagus: ketika penutupan pelatihan bermain musik (saya lupa nama dan detailnya seperti apa) mereka ingin mengadakan serupa wisuda ala universitas lengkap dengan toganya, ketika itu ayahnya Syarif dianggap sebagai Rektor karena ia lah yang memfasilitasi kegiatan di garasi Rebana 10. Ia diminta untuk berpakaian lengkap sebagai guru besar (memang ayahnya Syarif merupakan guru besar yang lagi-lagi saya tidak tahu di universitas mana) untuk prosesi penyematan toga pada murid-murid pelatihan tersebut untuk kemudian diambil fotonya. Kontan ayahnya Syarif menolak hal tersebut.

Hal tersebut menjelaskan bahwa foto (gambar) akan sangat berbahaya meskipun diambil hanya untuk seru-seruan dan lelucon barangkali, ketika peristiwa itu hanya berupa peristiwa, mungkin tidak akan begitu masalah. Karena yang menangkap peristiwanya pun dapat melihat kondisi secara menyeluruh, tapi dapat dibayangkan jika peristiwa tersebut “dipotong” atau “dicomot” menjadi fragmen-fragmen gambar. Tentu interpretasi yang melihatnya tidak akan sama, mungkin ada yang menganggapnya serius, ada yang menganggapnya lelucon, bahkan penghinaan. Pada contoh kasus ini dapat terlihat dengan jelas bagaimana gambar dapat menjadi bola liar yang begitu berbahaya.

Kemudian Dini menyambut: “setelah dialog ini, saya jadi takut untuk mengambil gambar karena takut mempersempit peristiwa tersebut.” Kontan Heru menimpali: “Ya pilihannya disitu, ingin mendapatkan sedikit atau tidak sama sekali karena harus disadari juga, tanpa ‘mencatat’ manusia akan lupa tentang apa yang telah terjadi.”

Ya, tanpa mencatat manusia akan hidup pada dunia tanpa ingatan. Dunia tanpa sejarah. Begitupun upaya yang dilakukan saya kali ini dalam mencatat jalannya diskusi adalah upaya menata riwayat agar tertata rapih di dalam ingatan, meski sekadar permukaan mungkin cukup untuk rangsangan kembali mengingat.
Aku mencatat, maka aku ingat.


Azhar Rijal Fadlillah
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Masa Patristik

Selasa, 21 Juni 2011

Filsafat untuk Pemula dengan tema Abad Pertengahan hari itu memasuki subtema masa patristik. Apakah gerangan masa patristik itu? yakni masa dimana ajaran Yesus yang dimulai sekitar nol masehi sudah selesai diajarkan oleh kedua belas muridnya. Masa patristik ditandai dengan berakhirnya masa apostolik atau meninggalnya Yohanes, murid terakhir Yesus. Masa ini berlangsung pada sekitar abad ke-2 hingga abad ke-5. 

Pada masa itu, kredo-kredo Kekristenan dirumuskan. Konon disitu juga "agama Kristen" mulai dilembagakan dan dipasangi aturan-aturan. Tokoh-tokohnya antara lain Yustinus Martir, Gregorius dari Nissa, Cyril dari Aleksandria dan Agustinus dari Hippo. Proyek filosofis yang mereka bawa pada masa itu adalah hubungan Kristen dan Yahudi, penyempurnaan Kitab Perjanjian Baru, apologetik (pembelaan dan penjelasan tentang Kristianitas) serta pembuatan doktrin-doktrin demi konsistensi keimanan. Tantangan terbesar Kristen pada masa patristik adalah bagaimana mendamaikan ataupun mampu membeli diri dari filsafat Yunani yang waktu itu masih mendominasi.

Pembahasan menjadi meluas pada bagaimana agama sesungguhnya dalam perjalanannya mustahil lepas dari campur tangan manusia. Pun jika mau dengan vulgar dituduh sebagai punya hubungan dengan penguasa. Kekuasaan apa pun yang sedang langgeng masa itu, agama adalah alat ampuh untuk menyokongnya. Misalnya, konon salah satu pemicu Kristen bisa berkembang cepat adalah Kaisar Romawi, Konstantin, memeluk agama Kristen dan menjadikannya agama resmi negara. Sebelumnya Kristen kerap inferior di bawah agama-agama pagan. Lalu Rudi, salah seorang peserta kelas itu memaparkan, "Demikian halnya dengan Al-Hallaj, seorang sufi yang dihukum mati justru setelah berganti penguasa." 

Artinya, filsafat dan agama keduanya sering punya hubungan seperti Indonesia-Australia. Kadang mesra kadang panas. Dalam masa patristik, filsafat menjadi jalan untuk melanggengkan agama. Dan agama kemudian menjadi jalan untuk melanggengkan kekuasaan.

Google Twitter FaceBook

Sunday, June 26, 2011

Program Liburan: Crafty Kids, 27 Juni - 1 Juli 2011 @tobucil

Program Liburan  Crafty Kids 2011
27 Juni - 1 Juli 2011 Pk. 10.00 - 12.00
@tobucil Jl. Aceh 56 Bandung

Instruktur:
Moel The Mogus

Program:
27 Juni 2011 Pertunjukkan Boneka Kertas (membuat boneka jari dari kertas beserta panggungnya)
28 Juni 2011  Monster Pompom (membuat boneka monster dari pompom benang)
29 Juni 2011  Permainan boneka lebah (membuat sebuah permainan dari bola dan dus)
30 Juni 2011  Tas serut bermotif (membuat saputangan yang bisa dijadikan tas dan membuat motif dengan teknik stensil)
1Juli 2011  Kreasi tutup botol (Membuat magnet pin dan hiasan pigura)

Biaya:
Rp. 300.000/peserta  sudah termasuk alat dan bahan, karya menjadi milik peserta

Peserta:
Siswa kelas 1 SD s/d 6 SD.

Informasi dan pendaftaran lebih lanjut dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
Senin s/d Minggu, Pk. 09.00 s/d 20.00 WIB

Google Twitter FaceBook

Tuesday, June 21, 2011

Dibuka Kelas Scrapbook Edisi Juli 2011

Tobucil kembali membuka kelas scrapbook selama bulan Juli 2011.
Kelas dilaksanakan pada tanggal 9, 16, 23, 30 Juli 2011. Kelas bulan Juli akan mengusung tema: "Tradisi".
Tujuan akhir: peserta dapat membuat jurnal scrapbook pendek sesuai dengan tema yang telah ditentukan dan menggunakan teknik-teknik scrapbook yang diajarkan.

Biaya: Rp. 200.000  sudah termasuk bahan dan jurnal, alat disediakan.

Instruktur: Claudine

Informasi dan pendaftaran hubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 461548
(Senin - Minggu, Pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Dibuka Kelas Foto Dokumenter

Tujuan dari kelas ini adalah peserta dapat memahami proses pembuatan foto dokumenter dengan konsep story telling. Kelas dilaksanakan dalam waktu satu bulan, sebanyak 8 pertemuan serta bimbingan pembuatan foto dokumenter. Di akhir kelas, setiap peserta diharapkan mampu menghasilkan satu foto cerita yang nantinya akan dipamerkan dan dipresentasikan berupa slide show di Tobucil. Waktu fleksibel

Peserta dibatasi maksimum lima orang, dikhususkan untuk mahasiswa atau umum yang ingin mengenal tentang foto dokumenter. Tidak diharuskan memiliki kamera DSLR. Boleh menggunakan kamera apapun. Memahami dasar fotografi dan editing foto.

Setiap pertemuan akan berlangsung selama 120 menit.

Materi yang akan diberikan :
Pengenalan foto dokumenter ( 2 x pertemuan)

Menggagas cerita untuk foto dokumenter (1x pertemuan)

Riset dan observasi ide cerita (2 x pertemuan)

Praktik pembuatan foto dokumenter (3x pertemuan)

Kelas ini merupakan workshop kecil yang akan melatih peserta untuk bercerita melalui fotografi. Peserta diberi kebebasan memilih tema cerita. Kelas berisi pemberian materi, diskusi ide cerita, referensi foto dokumenter dan praktek membuat foto dokumenter.

Kelas akan berlangsung setiap hari Senin 17.00. Kelas dimulai pada tangga 4 Juli.

Biaya: Rp. 250.000/peserta

Tutor : Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Pembuat foto dokumenter dan penulis lepas,

Pewarta foto Kompas 2007-2010
Peserta workshop Angkor Photo workshop 2010
sedang belajar photojournalism di Ateneo de Manila University
http://www.arumaum.com

Informasi dan pendaftaran lebih lanjut hubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
(Senin - Minggu, Pk. 09.00 - 20.00 WIB)


Google Twitter FaceBook

Sunday, June 19, 2011

Hal Sederhana yang Utama dalam Analisa Feature


Kamis lalu kelas penulisan Feature melakukan analisa secara sederhana terhadap feature yang telah dibawa para anggotanya. Minggu sebelumnya kang Adi dan kawan-kawan memberikan PeeR untuk para peserta agar membawa salah satu contoh feature yang mereka sukai. Kali ini efek keberlanjutan dari PeeR itu adalah membacakan dan menganalisanya dengan sederhana oleh tiap-tiap pembawa tulisannya. Analisa yang dilakukan memang sederhana, seperti pertanyaan-pertanyaan terhadap tulisan itu yang bersifat informatifkah? Apa yang menariknya? Bagaimana cara si penulis bertutur? Apakah tulisannya mudah dipahami? Dapatkah tujuannya diketahui? Dan juga apakah bersifat inspiratif?
Pertanyaan-pertanyaan yang menganalisa secara sederhana itu kadang kala luput dari mata kita baik sebagai pembaca maupun sebagai penulis. Tentunya hal-hal di atas penting untuk diketahui juga dipahami sebagai pedoman diri agar kita (atau siapapun yang ingin menulis) tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam menulis. Kang Adi pun beberapa kali menekankan kepada para pesertanya agar jangan sampai kesalahan yang sama terulang untuk kedua kali, apalagi yang ketiga! Dalam penulisan feature, sebelumnya kita harus memperhitungkan pasar pembacanya. Contohnya, dalam menulis artikel di Koran. Semua harus bisa ditebus dengan tulisan. Dalam artian setiap orang yang bahkan hanya bisa membaca saja atau sekolahnya tidak lulus dapat memahami itu. Bukan berarti kita jadi merasa terpagari karena pasar pembaca yang umum itu, tetapi jika ingin menulis feature usahakan untuk memusatkan pada olahan katanya. Bagaimana gaya bahasa yang umum dan populer untuk topik yang akan dituliskan.
Di awal pertemuan juga sempat disinggung mengenai Lead. Jessie – salah satu peserta – membawa feature dari majalah NatGeo yang berjudul The Secret Ingredients of Everything. Apa yang terlintas di benak kita ketika membaca judulnya? Tentu saja sesuatu yang berhubungan dengan makanan (kalau saya) melihat ada kata ingredients di sana. Apalagi setelah film Po seekor panda yang bisa karate itu menyebar kemana-mana, resep makanan semakin kuat mengikat pembaca yang melihat judulnya. Tetapi ternyata tidak! Didalamnya dipaparkan mengenai rareearth alias mineral yang sangat istimewa yang ternyata banyak digunakan dalam alat-alat yang sangat akrab di keseharian kita. Seperti handphone, televisi, dan alat elektronik lainnya. Pada hal ini penulisnya berhasil membuat pembaca terikat dan tertarik untuk membaca tulisannya. Ini menunjukkan bahwa judul itu sangat menentukan dan penting sekali untuk dipertimbangkan. Buktinya, tulisan itu ternyata berisi sesuatu yang saya sebagai orang awam tidak bisa mengerti dalam sekali baca. Di dalam gaya bahasa penulisnya pun terdapat beberapa kata yang sulit dimengerti, dalam artian mungkin hanya sebagian kalangan yang bergelut di dunia yang sesuai dengan isi tulisan itu saja yang mengerti. Hal ini berhubungan dengan pengolahan kata yang tadi telah dipaparkan. Selanjutnya, tulisan itu memiliki terjemahan berbahasa Indonesia (berhubung bahasa aslinya bahasa Inggris) yang – bahkan judulnya sekalipun – memiliki kapasitas yang jauh di bawah tulisan aslinya. Judulnya serasa kurang menggereget pembaca, dan isinya pun tidak sesuai dengan tata bahasa dari bahasa terjemahan itu. Beruntunglah orang-orang yang sedikitnya mengerti bahasa Inggris karena bisa memahaminya walaupun minim.
Balik lagi ke judul atau Lead, biasanya bagi penulis judul adalah hal yang paling sulit ditentukan. Terkadang orang menulis terlebih dahulu baru menentukan judulnya. Ketika tulisan selesai barulah penulis menyimpulkan kira-kira judul apa yang tepat dan pas untuk tulisannya itu. Hal tersebut SALAH! Kang Zaki mengatakan judul atau Lead itu membantu penulisan (isi) menjadi lebih mengalir. Seharusnya kita menentukan judul dahulu agar termudahkan dalam penulisan berikutnya. Dalam penulisanpun hal yang perlu diutamakan adalah hal-hal yang paling penting, paragraph berikutnya yang agak penting, hingga terus ke bawah ke yang paling tidak penting. Cara bertutur seperti itu adalah cara yang efektif agar isi tulisan tetap menarik dan bisa dibaca sampai habis oleh pembaca.
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #7: Siapkan Kaset Kalian!

Compact Cassette, yang biasa disebut kaset, pita kaset, atau tape adalah media penyimpan data yang umumnya berupa lagu. Berasal dari bahasa Perancis, yakni cassette yang berarti "kotak kecil". Kaset berupa pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara. Dari tahun 1970 sampai 1990-an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik.
Kaset, gambar diambil dari sini.

Mengacu pada kurun waktu yang disebutkan wikipedia di atas, terang saja kaset sekarang bukan lagi media yang umum. Lagu-lagu sekarang sudah disimpan dalam berbagai format yang lebih praktis dan "memuat banyak" seperti Audio CD atau MP3. Atas fenomena teknologi penyimpanan musik yang semakin canggih ini, kaset bisa dalam hitungan tahun akan menjadi kotak kuno yang dimuseumkan. Terutama lagi jika mengingat alat pemutar kaset semakin lama semakin sulit dicari.

Atas dasar renungan romantik-nostalgik tersebut, KlabKlassik Edisi Playlist #7 mengajak kamu-kamu untuk membongkar kaset-kaset koleksi terdahulu untuk dipilih satu lagu favoritnya dan dibawa ke forum untuk diapresiasi sama-sama. Lagu boleh apapun, tidak usah klasik, pemutar disediakan dari kami. Lagu akan diapresiasi bersama dan dikomentari oleh analisator kami, Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Karena kaset membutuhkan waktu untuk rewind atau forward, maka jika dahulu forum berlangsung dari pukul 15.00, sekarang pertemuan dipercepat sejam jadi pukul 14.00. Silakan datang, hari Minggu 26 Juni di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. 
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Bertemunya Filsafat dan Agama

Selasa, 14 Juni 2011

Sore itu hujan sangat deras. Kelas Filsafat untuk Pemula pun baru dimulai pukul enam karena menunggu orang-orang untuk hadir. Yang hadir pun akhirnya hanya segelintir, namun show must go on. Kelas dimulai dari paparan Kang Ami tentang sebuah kisah dari Timur Tengah, yaitu Hasan Basri. Konon penguasa pada jaman itu terkenal lalim dan kerapkali mereka menghindar dengan, "Ini kehendak Allah." Sifat filsafat yang seringkali menggunakan rasionalitas untuk membenarkan suatu perbuatan membawa Hasan Basri pada pertanyaan, "Betulkah kelaliman itu gara-gara filsafat?"

Cerita tersebut merangsang sebuah diskusi kelas yang menarik. Terutama ketika sebelumnya dipaparkan pula mengenai garis besar situasi Abad Pertengahan di Eropa yang notabene merupakan perjumpaan antara filsafat dan Kristianitas. Kristen, sebagaimana halnya agama semit lainnya (Yahudi dan Islam), digolongkan oleh ahli sejarah sebagai agama historis. Bukan agama filosofis sebagaimana halnya Hindu dan Buddha. Itu sebabnya, perlu perjuangan serius bagi filsafat untuk melebur dengan agama Kristen. 

Hanya saja, Agama Kristen yang sedang trend di masa-masa abad ke-5 hingga abad ke-15 itu kerapkali digunakan oleh oknum-oknum kekuasaan. Misalnya, penggunaan bahasa Latin pada Alkitab. Dahulu Alkitab ini tidak diterjemahkan pada bahasa lain sehingga orang-orang yang mengerti bahasa Latin saja yang sanggup membacanya, atau dalam arti kata lain, hanya kaum terpelajar, kaum gereja, atau kaum bangsawan saja yang bisa. Rakyat pada umumnya tidak disuguhi akses ini sehingga yang sampai pada mereka hanyalah kredo-kredonya saja via gereja. Adapun kemudian efeknya adalah, filsafat mesti jadi hamba bagi iman. Filsafat bukanlah cara memaksimalkan nalar secara bebas dan maksimal, melainkan ia harus berada dalam koridor iman Kristen. Dari sudut pandang tertentu, ini sebuah kemunduran. Karena sebelumnya, di era Yunani atau Klasik (Antiquity), filsafatlah yang memegang peranan kunci, bahkan melampaui agama. 

Itu sebabnya renungan filsafat Abad Pertengahan terasa "kurang keren". Argumen-argumennya berkaitan dengan penciptaan, eksistensi Tuhan, dan moralitas murni. Tidak ada sesuatupun yang sekiranya punya kaitan langsung dengan pengalaman keberadaan manusia itu sendiri. Mungkin ini disebabkan oleh kredo bahwa manusia di jaman itu adalah imago dei (citra Tuhan), sehingga manusia sebagai entitas yang unik tidak punya kebebasan.

Pada situasi yang lain, Islam ternyata mengalami kemajuan dari sudut pandang sains dan teknologi. Padahal mereka mengadopsi banyak sekali filsafat Aristotelian (tokohnya seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sinna dan Al-Ghazali). Artinya, pertemuan filsafat dan agama jika dikelola dengan baik ternyata tidak selalu sama dengan kemunduran. Islam dan Kristen, padahal, sama-sama masuk kategori agama historis.
Ibnu Sina atau dunia Barat menyebutnya Avicenna. 
Gambar diambil dari sini


Kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan ini, sekali lagi, bertujuan untuk melihat situasi Filsafat Barat dari sudut pandang yang lain. Ada upaya dekonstruksi dan perumusan kembali, terutama tentang dunia Timur yang kita diami saat ini.
Google Twitter FaceBook

Resensi Buku: Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya


Kepalaku plontos. Kemejaku Ben Sherman. Celanaku Levi's. Sepatuku Doc Martens. Aku Mendengarkan Sham 69, The Business, GBH, dan Rancid. Tapi jiwaku murni seorang hippie, karena The Grateful Dead selalu terngiang di telingaku. Aku menjual magic mushroom. Umurku hampir tiga puluh. Aku lahir dan tinggal di Rancaekek, tapi bergaul di Dago. Namaku Yadi. Orang-orang memanggilku Johnny... Johnny Mushroom.

Demikian paragraf yang tertulis di back cover Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya yang diambil dari paragraf pembuka kumpulan cerpen tersebut. Dari secuil paragraf tersebut, tercatat ada tiga kali penyangkalan eksistensi urban pinggiran: "Tapi jiwaku murni seorang hippie", "Tapi bergaul di Dago", dan "Orang-orang memanggilku Johnny... Johnny Mushroom". Seolah-olah ada upaya dari si Yadi ini untuk tidak terlihat sebagai pemuda dari kaum urban pinggiran. Ia ingin melebur bersama eksistensi manusia di "urban tengah" lewat stereotip-stereotip itu tadi: "hippie", "Dago" dan "Johnny".

Secuil paragraf itu juga cukup menjelaskan tentang beberapa isi kumpulan cerpen yang ditulis antara tahun 2001-2011 ini. Zaky Yamani berupaya menjelaskan persoalan kaum urban dari sudut pandang kegelisahan eksistensialnya. Ia menyoroti dari mulai kaum "urban tengah" yang akrab dengan normalitas rutinitas yang alienatif, hingga urban pinggiran yang lekat dengan kriminalitas. Semuanya ternyata, dalam kacamata kumpulan cerpen ini, punya persoalan masing-masing yang sama-sama absurd. Demikian yang tercermin dari cerita "Johnny Mushroom", "Nihil", "Saturday Night's Lullaby", "Hangover", dan "Percakapan antara Mur dan Baut".

Jika kehidupan kaum urban dikategorikan sebagai narasi keseharian, maka Zaky juga menuliskan beberapa cerita yang boleh dibilang ide-ide besar. Seperti misalnya konsep politik dan penggulingan kekuasaan dalam "Kambing Gunung Padang Bintang" serta moralitas dalam "Dasamuka". Cerita yang disebutkan pertama itu dipaparkan dengan gaya dan jalan cerita yang nyaris mirip dengan fabel dalam Animal Farm-nya George Orwell. Sedangkan "Dasamuka" diceritakan lewat tema karya sastra India yang agung, Ramayana. Keduanya cukup menunjukkan bahwa Zaky punya wawasan yang melebihi pengalaman eksistensialnya semata.

Keseluruhan ide-ide yang relatif beragam ini membuat pembaca dipastikan disuguhi kejutan-kejutan setiap membalik bab. Meski beragam topik, gaya tulisan Zaky yang "absurd" dan kerap sukses menghadirkan kontemplasi tetap konsisten. Namun ada beberapa topik yang bagi saya pribadi, terlalu vulgar diungkapkan konflik-konfliknya. Seperti dalam "Percakapan antara Mur dan Baut" serta "Hangover". Ada upaya penyajian pesan secara langsung agar pembaca langsung mengerti. Menunjukkan barangkali ada keterpepetan ruang teknis sehingga pesan tidak usah bertele-tele dan dibungkus bunga-bunga. Langsung saja. 

Apapun itu, buku ini tetap layak dibaca sebagai sebuah potret kegelisahan kaum urban.

Google Twitter FaceBook

Sunday, June 12, 2011

Diskusi KlabKlassik: Antara Gamelan Jawa dan Ruang Akustik

Minggu, 12 Juni 2011

Bilawa Ade Respati (Menunjuk muka sendiri)

KlabKlassik hari itu terdapat suasana yang lain. Sebelum dimulai, sayup-sayup terdengar musik dari Gamelan Jawa yang diputar via laptop milik Bilawa. Topik hari itu memang cukup unik, ada presentasi dari Bilawa Ade Respati mengenai keterkaitan antara musik Gamelan Jawa, ruang akustik, impuls otak, serta fisika terapan. Ini merupakan upaya dari Bilawa untuk "membumikan" skripsinya yang berjudul "Dampak Perubahan Parameter Akustik Musik Karawitan Jawa terhadap Parameter Fisioakustik". Lulusan Fisika Teknik ITB tersebut berupaya menjadikan skripsi akademik yang biasanya cuma berguna bagi ruang akademi itu sendiri, menjadi punya nilai bagi masyarakat secara umum.  

Bilawa menggunakan beberapa perangkat untuk presentasi, mulai dari laptop, speaker, hingga power point yang ia rangkum dalam layar yang ia bawa sendiri. Dalam presentasinya yang dihadiri sekitar lima belas orang, cukup banyak termuat angka dan hitungan yang cukup rumit. Meski demikian, Bilawa memilih untuk tidak membahas angka-angka dan langsung pada esensi penelitian. Yang sesungguhnya mau ia bahas adalah tentang bagaimana terdapat suatu teori yang berkemampuan memparameterkan akutika ruangan berdasarkan musik klasik Barat beserta instrumennya. Bilawa lalu melanjutkan penelitian ini bukan dengan instrumen musik klasik Barat, melainkan dengan Gamelan Jawa.

Hasilnya, teori tersebut sukses diruntuhkan karena Gamelan Jawa mempunyai efek tersendiri bagi impuls otak. Selain itu, berdasarkan penelitian Bilawa terhadap delay dan reverb (suatu elemen krusial dalam akustik), Gamelan Jawa punya delay dan reverb yang terkandung dalam dirinya sendiri (dalam instrumen itu sendiri, yang disebut dengan Pela Yangan). Artinya, pagelaran Gamelan Jawa yang sering dipentaskan di pendopo yang semi-outdoor, sesungguhnya tidak sama dengan musik tradisi kita tidak mengenal gedung akustik. Musik tradisi kita, menurut Bilawa, justru lebih canggih: bahwa akustikanya terkandung dalam instrumen itu sendiri. 

Bagi Bilawa, penelitian ini diharapkan punya sumbangsih tidak hanya bagi dunia keilmuan, tapi juga harga diri bangsa. Jika kacamata Barat seringkali menuduh musik tradisi terbelakang oleh sebab ketiadaan hitung-hitungan, maka lewat penelitian Bilawa ini, ternyata pengetahuan intuitif manusia Indonesia sejak dahulu telah amat matematis dan presisi. Selain itu, pertemuan KlabKlassik yang membahas skripsi-skripsi yang berkaitan dengan musik akan terus dilanjutkan. Diharapkan bahwa para akademisi mau dengan sadar turun dari "singgasana menara gading" untuk menerangkan penelitian akademiknya sehingga dapat dipahami dan berguna bagi masyarakat umum.
Google Twitter FaceBook

Filsafat Untuk Pemula: Membongkar Sejarah yang Terkubur

Selasa, 7 Juni 2011

Filsafat untuk Pemula Angkatan Dua berkumpul untuk pertama kalinya. Bertemakan kajian Abad Pertengahan, total peserta kali ini bertambah dari yang sebelumnya tiga orang menjadi lima orang. Bambang Q-Anees, dosen teologi UIN Sunan Gunung Jati seperti biasa didaulat mengawali pertemuan.

Kang B-Q, biasa ia dipanggil, mengawali kisah dengan mempertanyakan Yunani. Ia melihat bahwa sejarah filsafat Yunani kerap memulai segala sesuatu dari Thales ("alam semesta itu terbuat dari air"), lalu berlanjut ke Anaximandros, Anaximenes, dan seterusnya semisal Heraklitus, Parmenides, Pythagoras, Demokritus, dan lain sebagainya. Intinya, cara bertutur sejarah filsafat Yunani ini sangat linear, seolah-olah keseluruhan dari para filsuf itu adalah saling berhubungan, saling mengenal, atau bahkan punya hubungan guru-murid secara langsung.
Bambang Q-Anees (Merah)


"Tapi," kata B-Q, "Coba tengok Pythagoras, ketika kebanyakan dari mereka membicarakan asal-usul alam semesta, ia mengambil pendapat sendiri. Pythagoras mengatakan bahwa 'kebenaran itu haruslah yang terukur'. Lalu diketahui bahwa Pythagoras mempunyai semacam pengikut yang mau berpuasa dan mengikuti dirinya semacam nabi." Menurutnya, ini jelas sesuatu yang tidak bisa dilinearkan. Ada klaim sepihak dari Barat bahwa Pythagoras disimplifikasikan seolah menjadi bagian dari Yunani yang barangkali kita kenal sekarang secara geografis. 

Alkisah, ada sebuah bangsa bernama Phoenicia. Mereka terbentang dari wilayah Afrika Utara termasuk Lebanon, dan masuk ke bagian-bagian dari Eropa Selatan seperti Neapolitan dan Corsica. Pythagoras, secara geografis, tidak masuk kepada bagian dari Yunani. Ia justru adalah seorang Phoenician itu tadi (hal yang B-Q kritik sebagai ketidakkritisan kita melihat sejarah). Berikutnya, B-Q menyebut satu per satu filsuf atau orang penting dalam sejarah yang disinyalir punya garis keturunan Phoenicia. Seperti Hannibal, Newton, St. Agustinus, hingga Voltaire lalu Rousseau. Bahkan B-Q menyebut bahwa piramida, sebagai salah satu simbol keajaiban dunia, dibangun di atas tanah Afrika Utara dengan metode pengukuran ala Pythagorean.  Ketika menyebut St. Agustinus pula, B-Q langsung mengajak peserta masuk ke area Abad Pertengahan. St. Agustinus adalah salah satu tokoh Abad Pertengahan yang terkenal dengan pemikiran Neo-Platonisme-nya. St. Agustinus bukanlah lahir di Roma ataupun wilayah-wilayah lain di Eropa. Ia lahir di wilayah Hippo, Afrika Utara. 

Artinya, dari paparan ini, kelas Filsafat Untuk Pemula ingin melihat bahwa sejarah itu tidak linear. Abad Pertengahan tidak dilihat sebagai sesuatu yang "Dari Barat untuk Barat". Peradaban lain semisal Phoenicia, Islam, Jepang, hingga Cina adalah unsur-unsur yang tidak boleh diabaikan dalam perkembangan kebudayaan Barat hingga hari ini. "Bahkan," tutup B-Q, "Jangan pernah lupakan Indonesia."

Belum terlambat untuk bergabung, karena pertemuan kemarin baru saja pembukaan.


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Wednesday, June 8, 2011

Berbagi Pengalaman Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa bersama Farid Gaban



Sabtu, 11 Juni 2011
Pk. 17.00 - 20.00 WIB
@Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung  Telp. 022 4261548

Peta ada di sini

Beberapa waktu lalu, Farid Gaban dan Ahmad Yunus melakukan ekspedisi keliling Indonesia selama10 bulan dari Mei hingga Desember 2009, mengunjungi, mendokumentasikan dan mempublikasikan lewat produk multimedia kehidupan di 100 pulau pada 40 gugus kepulauan. Hasil ekspedisi telah didokumentasikan dalam bentuk buku catatan perjalanan dan film dokumenter.

Untuk itu, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk hadir di acara ini dan berbagi pengalamanan berharga dari ekspedisi ini.

Terbuka untuk umum dan Gratis!

http://zamrud-khatulistiwa.or.id/
http://tobucil.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

Tuesday, June 7, 2011

Diskusi KlabKlassik: Antara Karawitan Jawa dan Akustik Gedung

Minggu, 12 Juni 2011
Pk. 15.30
@tobucil Jl. Aceh 56 Bandung


Bilawa Ade Respati merupakan salah satu gitaris klasik yang cukup aktif di Bandung. Pada kesempatan diskusi KlabKlassik kali ini, ia diundang untuk berbagi tentang suatu tema yang sekaligus juga menjadi tugas akhir kuliahnya di Jurusan Fisika Teknik ITB. Tema berjudul "Dampak Perubahan Parameter Akustik Musik Karawitan Jawa terhadap Parameter Fisioakustik" yang dibawakan Bilawa nantinya akan terdengar sangat menarik karena kita ...akan disuguhi bagaimana seseorang yang punya latar belakang musik klasik, musik tradisi dan juga filsafat, mengolaborasikan kesemuanya secara halus dengan fisika terapan. Berikut isi yang jadi bahasan nanti:


1. Mengenal musik Karawitan Jawa dan kaitannya dengan karakteristik akustik musik
Kita akan lihat apa saja yang menghubungkan antara musik dan ilmu akustik sebagai hidangan pembuka menuju hal-hal menarik lainnya. Pola gendhing, laras, pathet dan apa hubungannya dengan parameter akustik.

2. Fungsi otokorelasi dan parameter akustik temporal
Terlepas dari judulnya yang menyeramkan kita akan coba lihat bersama-sama apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh beberapa persamaan dan istilah-istilah. Mari kita kenali bersama apa itu waktu dengung, waktu tunda, fungsi otokorelasi, dan durasi efektif (dengan kopi aroma dan keripik setan agar lebih nikmat). Walau seolah dari dunia lain, hal-hal tersebut ada di sekitar kita tanpa kita sadari.

3. Electroencephalogram (EEG)
Otak kita memiliki sinyal tersendiri yang dapat diukur. Apa yang otak kita coba sampaikan lewat sinyal-sinyal ini? Bagaimana kaitannya dengan musik (terutama musik karawitan) dan ilmu akustik? Kita akan kenali tentang gelombang alfa, gelombang beta, frekuensi gelombang otak, dan apa respon fisiologis yang dikaitkan dengan gelombang-gelombang otak ini.

4. Durasi efektif musik Karawitan Jawa
Di sini kita akan lihat hasil pengamatan terhadap perubahan durasi efektif musik pada musik Karawitan Jawa dan apa kegunaan parameter ini sebenarnya. Apa yang terjadi jika tempo musik berubah, instrumen musik yang digunakan berbeda, dinamika permainan berganti? Kita akan lihat apa saja yang terjadi di balik notasi kepatihan (partitur karawitan).

5. Dampak perubahan parameter akustik terhadap parameter fisioakustik
Setelah sederet menu akhirnya ini menu utamanya. Bagaimana sebenarnya pengaruh perubahan parameter akustik ruang pada respon otak kita? Kemudian apa gunanya? Ruang seperti apa yang kira-kira cocok untuk pertunjukan musik karawitan Jawa?
 

Terbuka untuk umum dan gratis.
Google Twitter FaceBook

Sunday, June 5, 2011

Kelas Penulisan Feature Edisi Perdana: Peluang Membedah Seluk Beluk Jurnalisme

Kamis, 2 Juni 2011

Setiap hari Kamis, di sore hari, kita akan temukan sebuah kelas di Tobucil. Kelas itu adalah kelas menulis, namun bukan yang lazim perihal fiksi seperti biasa dibimbing oleh instruktur Sophan Ajie. Kelas menulis ini adalah kelas menulis non-fiksi dengan gaya feature. Apakah gerangan feature itu? Menurut Asep Syamsul Romli dalam buku Jurnalisme Praktis, definisi feature belum bisa dirumuskan secara ketat. Namun bolehlah disebutkan bahwa menulis dengan gaya feature mesti setidaknya mempunyai dua ciri, yaitu punya unsur human interest dan disajikan dengan gaya sastra. Dalam arti kata lain, ia dibedakan dengan news, artikel, kolom dan analisis berita oleh karena dua hal tadi.    

Pada edisi perdana Kamis kemarin, jumlah peserta sebanding dengan jumlah pembimbing, yakni tiga banding tiga. Kelas penulisan feature diasuh oleh Rana Akbari Fitriawan, Zaky Yamani, dan Adi Marsiela, kesemuanya aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Kelas ini sendiri berdiri salah satunya atas inisiatif AJI Bandung. Sedangkan pesertanya yang juga berjumlah tiga, adalah Nia Janiar, Jessica Fam, dan Wiku Baskoro. 

Dimulai pukul lima lebih lima belas, kelas penulisan feature itu sendiri masih didominasi dengan perkenalan. Mulai dari perkenalan masing-masing personil, maupun perkenalan konsep dasar jenis-jenis tulisan. Misalnya, jenis news, terbagi atas straight news, feature news, dan in-depth reporting. Meski demikian, perkenalan itu sendiri lebih banyak diinterupsi oleh para peserta yang kerap ingin bertanya. Menunjukkan bahwa seluk beluk jurnalisme sepertinya menjadi hal yang belum terlalu akrab dengan masyarakat. Termasuk misalnya kata Kang Zaky, bahwa judul berita atau artikel seyogianya dimulai dengan hal yang berhubungan dengan manusia. Misalnya, kejadian tabrakan bus, semestinya korban tabrakan dulu yang diekspos ke permukaan alih-alih kejadian tabrakannya itu semata. Sebaiknya, "Lima orang tewas dalam kecelakaan bus" daripada "Bus tabrakan hingga tergelincir". Pembaca seringkali akan lebih tertarik pada sisi kemanusiaannya.

Kang Adi punya gambaran lain tentang feature. Bahwa perbedaan feature dengan berita pada umumnya adalah dari kesegeraannya. Berita pada umumnya adalah kontekstual untuk waktu yang segera. Artinya, lewat sehari atau dua hari dari kejadian, ia dianggap basi. Tapi feature lebih "tahan lama" dan bisa dibaca kapan saja. Barangkali karena di dalamnya kerap mengandung unsur kemanusiaan dan punya renungan-refleksi-filosofis tertentu sehingga dianggap selalu relevan. Kelas tersebut berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Di jadwal mestinya bubar pukul tujuh, tapi kelas tersebut selesai pukul delapan. Kata Nia, salah seorang peserta, kelas tersebut baginya sangat bermanfaat. "Gue jadi sadar selama ini gue salah dalam cara penulisan," demikian diakuinya. Kelas ini, terus terang, punya sisi yang menarik terutama menyadari bahwa semua pembimbing berasal dari latar belakang jurnalistik baik akademik maupun praktik. Ini adalah peluang menarik untuk bertanya perihal cara kerja jurnalisme, terutama ketika di era keterbukaan hari ini, media menjadi salah satu lembaga kekuasaan yang berpengaruh dalam pergerakan sosio-kultural masyarakat. 

Sudah terlambatkah untuk mendaftar? Rasanya belum, karena kemarin baru perkenalan.

Google Twitter FaceBook

Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit "Kangen PerWalian"!

Mas Reza (kiri) ketika mempresentasikan kehebatan piringan hitam.


Teuku Ismail Reza, atau biasa dipanggil Mas Reza, adalah penikmat musik yang belakangan aktif di KlabKlassik sebagai narasumber. Beberapa kali ia membawakan materi menarik semisal soal psikedelik dan pemutaran piringan hitam Those Shocking Shaking Days. Salah satu ciri khas Mas Reza, yaitu suara yang berat serta gaya bicara yang penuh gairah dan meledak-ledak, membuat banyak penggiat Tobucil maupun KlabKlassik mengaku senang mendengarkannya. Pria menikah kelahiran 30 Oktober ini mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya adalah mendengarkan musik sambil bekerja (yang ia akui terpaksa) dan mencari-cari piringan hitam murah. Awal penyebab ia nongkrong di Tobucil adalah karena Mas Reza bertemu Mba Tarlen (pemilik Tobucil) pada tahun 2000 di Bandung Art Event dan setelah itu sering kumpul bareng dan akhirnya mengakui bahwa nongkrong di Tobucil adalah habit yang sukar dilepaskan. Berikut petikan ngobrol-ngobrol dengan Mas Reza, yang kebanyakan membahas seputar permasalahan musik di Indonesia: 

Mas Reza adalah penikmat musik kan?
Iya.

Adakah musik yang tidak bisa dinikmati Mas Reza?
Ada, musik yg dimainkan secara asal-asalan. Dangdut juga keren kalau yang maennya menjiwai musik, bukan sibuk olahraga atau sok sexy. Sayangnya, musik yang asal-asalan ini semakin banyak dipasaran, terutama sekali di pasaran Indonesia.

Sampai saat ini, apa musik favorit Mas Reza? Atau secara spesifik, band favorit Mas Reza?
Tergantung mood, tapi semenjak tahun 1999, menjurus ke eksperimental rock -rangenya kan luas banget, dari yg aroma Jazznya kenceng sampai Noise jaya- kebeneran sekarang sih lagi suka sama genre Drone Doom Metal + Drone Metal semacam Sunn O))), Boris, The Body, Ascend, Earth, dan lain-lain. Di sisi lain yang juga sedang sering didengerin adalah para revivalists, mulai dari Cee Lo Green (Soul Revivals) sampai The Black Keys & The Heavy ( Motown + Blues + Soul revival). Kalau Band favorit sih banyak banget.... hehehehe ....

Mas Reza sering sekali terlihat kritis terhadap musik, termasuk musik Indonesia. Mari kita bicara banyak. Tentang musik Indonesia, bagaimana Mas Reza melihat musik Indonesia sekarang ini?
Musik Indonesia masih terlalu cemen-masak sekian banyak rakyat Indonesia cuman menghasilkan kualitas Kangen perWalian. Di sisi lain, banyak juga orang sok semacam D*a*i D**a yg kesannya jago banget, padahal kebisaannya nyontek dari lagu-lagu luar tahun 70an, parah lah!

Mas Reza apakah punya solusi?
Solusinya; pecat semua purchaser musik wakil major label di Indonesia, yang kerjanya memutuskan cd musik apa yg bisa edar di Indonesia. Mereka ini orang-orang nostalgik tapi nggak punya referens yg nggenah. Selain itu, larang dan persulit semua band ala Kangen perWalian, biar kelaparan dan bikin musik yang bermutu karena lapar dan marah  Dimana-mana artis musik yang lapar dan marah akan menghasilkan karya-karya yang berbobot.

Kalau Mas Reza menjadi pemilik sebuah mayor label di Indonesia, apakah yang akan Mas Reza lakukan pertama kali?
Bikin aksi Urban Terror untuk mengkampanyekan musik bermutu di Indonesia. Memperbanyak produksi vinyl, menggratiskan mp3 - karena orang yg suka musik pasti akan cari format yg lebih representatif dan keren secara sound, dan mp 3 cukup efektif untuk menjadi sarana "coba sebelum membeli". Naon deui nya?

Bagaimana menurut Mas Reza peran ruang-ruang alternatif yang sedang marak dewasa ini dalam kontribusinya terhadap musik di Indonesia?
Peran ruang alternatif masih terbatas untuk menghadirkan musik yg enak didengar, bukan musik yg benar-benar bermutu menurut saya - memang sih kualitasnya agak diatas band ala Kangen PerWalian, tapi saya merasa lumayan stagnan.

Oke, kita ngomong yang lain. Mas Reza secara akademik berlatarbelakang arsitektur, adakah hubungan menarik yang bisa dilihat antara musik dan arsitektur?
Architecture is a frozen music.


Dalam aktivitas Mas Reza sebagai dosen arsitektur (Di UPH -red), adakah Mas Reza menggunakan musik sebagai pendekatannya?
Tergantung mata kuliahnya - ini ada satu yg lagi dicoba mata kuliah eksperimen menggunakan musik dan film-semoga berhasil dan mahasiswanya tidak jadi gila atau bikin agama baru yg mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Oke, sebagai penutup, Adakah tips-tips khusus dalam menikmati sebuah musik? Misalnya, mencari ruang dan waktu yang pas, atau mengikuti perkembangan bandnya, atau apa, Mas?
Intinya memang musik itu merupakan cerminan dari kondisi sosio kultural masyarakatnya-makanya ngedengerin musik bukan melulu masalah musik enak nggak enak, tapi juga kemauan kita untuk memperluas wawasan dan menabung preseden. Mendengar musik adalah sebuah proses aktif, bukan sebuah proses pasif; jadi diperlukan kemampuan mendengar aktif yg dapat memilah-milah bunyi masing-masing instrumen, dan menyatukannya kembali dalam sebuah komposisi.

Baiklah terima kasih, Mas. Jaya selalu musik Indonesia!
Jaya selalu Boris dan Sun O)))!

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin