Sunday, August 28, 2011

Inilah dia Cerpen Terbaik Klab Nulis Angkatan Sepuluh

Hujan Tanpa Pelangi
oleh: Fuad Hasan

Suara teriakan warga bercampur suara pecahan kaca terdengar ketika beberapa orang polisi membawanya keluar dari rumah, sambil tetap menunduk Pelangi bisa melihat warga yang tampak berkerumun di pekarangan bunga yang dulu selalu dirawat ibunya itu. 

“Anjing, bangsat, setan, pembunuh!!” Begitu warga meneriakinya, 

Beberapa dari mereka bahkan ada yang iseng berusaha memukul wajah ataupun menarik paksa jilbabnya, beruntung polisi sigap melindungi dirinya dari pukulan-pukulan warga, sampai akhirnya ia dibawa dengan sebuah mobil ke kantor polisi.

Satu bulan kemudian, setelah melewati proses hukum yang panjang dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan ayahnya.

Masih terngiang hingga kini ketika dengan tegas hakim berkata “25 tahun kurungan penjara” 

Ketukan palu yang dilanjutkan oleh tangisan histerisnya. Ia bahkan belum hidup selama itu. Ia berpikir bahwa inilah akhir dari masa depannya. Menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara. Tidak ada lagi tanaman milik ibunya, tidak ada lagi gerobak unik milik ayahnya, hanya jeruji , tempat tidur dan toilet seadanya.

Gadis itu bernama Pelangi, nama yang dia dapatkan hanya karena dia lahir di sore hari setelah hujan reda. Jauh sebelum pembunuhan itu terjadi, Pelangi adalah seorang gadis manis yang jarang bicara. Selain kedua orang tuanya, bunga selalu menjadi teman dia bicara. Bunga yang sebetulnya milik ibunya, yang terkadang membuatnya cemburu, namun tak ragu ia sayangi karena dia begitu menyayangi ibunya.

Bersama kedua orang tuanya, dia tinggal di desa di mana senyum dan keramah tamahan masih menjadi sesuatu yang murah. Suara klakson dan knalpot kendaraan bermotor menjadi sesuatu yang sangat mahal. Disini, kecuali hujan turun, suara tetangga yang sedang berteriak dari dalam rumah dapat dengan mudah terdengar hingga jarak dua sampai tiga rumah.

Selepas pulang sekolah, sambil menunggu ayahnya pulang berjualan, dia biasa menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya, membaca buku-buku tentang berbagai macam pengetahuan, tentang sejarah negara, tentang jenis-jenis hewan dan cara mereka tumbuh. Tentang matahari dan bulan yang datang silih berganti. Terkadang ibunya mengajak dia mengaji dan belajar tentang agama. “Berbaktilah pada orang tua nak, Tuhan menyayangi anak yang berbakti” begitu ibunya biasa menasehatinya sehabis mengaji.

Ayahnya adalah seorang pengidap polio, penyakit yang diderita hanya karena ketidaktahuan orang tua ayahnya tentang pentingnya imunisasi. Penyakit yang akhirnya memaksa ia untuk berjualan bakso karena selalu gagal mendapatkan pekerjaan. 

Nyatanya Tuhan memang maha adil, kekurangan fisik yang diderita ayahnya tertutupi dengan tingkat kreativitas yang tinggi. Dengan brilian ayahnya menciptakan gerobak dengan motor penggerak, yang akhirnya mempermudahnya dalam mendorong gerobak ketika harus berjalan berpuluh-puluh kilometer.

Ketika itu dia masih berseragam putih abu dan lebih tertarik dengan bedak dan gincu daripada sepasang boneka yang dulu dihadiahi orang tuanya. Tak ada satupun orang yang meragukan kecantikannya sehingga tidaklah sulit untuk dia mendapatkan perhatian dari banyak lelaki. Selalu terpikir dalam benak Pelangi bahwa hidupnya nyaris sempurna. Orang tua, lingkungan, dan wujud fisik yang rupawan. Apalagi yang perlu dia cari.

Tapi nyatanya memang tak ada gading yang tak retak. Tuhan tidak pernah mengizinkan mahlukNya meraih kesempurnaan yang hanya akan menjadi milikNya. 

Suatu malam ketika hujan turun begitu derasnya, Ibunya pergi. Tanpa pamit dan tentu saja bukan untuk kembali.

Ayahnya yang dulu bersahabat dengan ayat suci, kini lebih memilih bersahabat dengan alkohol dan meja judi. Sampai akhirnya, nyaris tidak ada lagi harta yang tersisa. Semua habis di meja judi.
Dalam bernaknya terlintas, bahwa mungkin ini saatnya untuk berbakti, sebagaimana yang diajarkan oleh almarhumah ibunya dulu. Tanpa sempat menyelsaikan sekolahnya, Pelangi memutuskan untuk mencari pekerjaan. Salah satu wujud berbakti yang dia rasa paling tepat dilakukan saat itu.
Pergilah Pelangi mencari pekerjaan, bermodalkan paras cantik dan kemolekan tubuh. Namun untuk mendapatkan pekerjaan rupanya ijazah pendidikan jauh lebih berharga daripada paras cantik, beberapa minggu berselang, pekerjaan tak juga didapatkan. 

Sampai suatu hari temannya yang bernama Midah datang menawarinya pekerjaan. Tentunya bukan pekerjaan yang membutuhkan ijazah sebagai syarat utama. 

“Kamu hanya perlu menemani pelanggan minum bir. Itu saja!” begitu Midah menjelaskan mengenai pekerjaan itu.

Karena keinginan yang kuat untuk berbakti, maka dengan terpaksa Pelangi mau bekerja ditempat yang orang-orang sebut pub itu. Setiap malam selepas isya, dia gunakan gincu serupa cahaya lampion kemudian membiarkan rambutnya tergerai sampai menutupi payudaranya yang setengah terbuka lalu siap melayani pelanggan menghabiskan gelas demi gelas bir sampai pagi menjelang.

Rupanya Midah lupa atau sengaja lupa menjelaskan bahwa tangan para pemabuk itu kerap kali tidak bisa diam, awalnya jemari itu hanya menyentuh tangan dan wajah, lama-lama merayap ke segala arah. Beruntung peraturan pub yang melarang pelanggan menyetubuhi pelayan di tempat, membuat Pelangi masih bisa mempertahankan kehormatannya.

Batinnya menangis. Ingin rasanya dia berhenti, namun keinginan kuat untuk berbakti membuat Pelangi bertahan. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk kemudian digunakan oleh ayahnya untuk mabuk dan berjudi.

Dengan tubuh molek dan wajah rupawan ditambah dengan pakaian yang menantang, membuat semua pria ingin menyetubuhi dirinya, termasuk ayahnya.

Suatu hari ketika hujan turun begitu deras, sang ayah yang sedang mabuk berjalan ke arah ke kamarnya, dengan langkah sulit ia memaksa masuk, seakan tidak peduli dengan tangisan Pelangi yang semakin kuat, ayahnya terus menghampirinya, lalu dengan paksa menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di badan mereka.

“Jangan takut sayang, ayah cuma mau mengajarkan kamu bagaimana berbakti” begitu kata ayah.
“Jangan ayah, istigfar! Ini Pelangi anakmu”
“Justru karena kamu anakku, maka ibumu tidak akan keberatan bila aku mencintaimu”
“Jangan ayah, jangan.”

Hujan yang turun semakin deras menenggelamkan teriakan Pelangi, semenjak hari itu, setiap hujan turun, ayahnya selalu menyetubuhinya berulang-ulang. Sampai hujan akhirnya reda.
Cinta dan juga keinginannya untuk berbaktilah yang membuat dia tetap bertahan, menutup rahasia perbuatan dosa sang ayah. Bukankah agama melarang manusia untuk membuka aib orang lain. Begitu pikirnya.

Rasa cintanya yang besar pada sang ayah juga, yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk membunuh sang ayah. Ketika anjuran agama tak lagi dihiraukan, maka hanya dengan membunuh ayahnya dia dapat menyelamatkan sang ayah dari dosa yang lebih besar tanpa perlu membuat orang lain tau apa dosa ayahnya.

Sekarang di sinilah dia, di balik jeruji, menanti pelangi yang entah kenapa tak juga tiba setelah hujan reda, di cap berdosa karena menyelamatkan sang ayah dari dosa.

Google Twitter FaceBook

Klab Nulis: Penutupan yang Manis

Jumat, 26 Agustus 2011

Klab Nulis yang telah berlangsung selama dua belas minggu itu akhirnya mencapai puncaknya. Seperti sembilan angkatan sebelumnya, angkatan kesepuluh ini juga ditutup dengan semacam seremoni. Ada musik, pembagian sertifikat, serta tentu saja, pengumuman cerpen terbaik.

Karena dilangsungkan di bulan puasa, maka acara penutupan Klab Nulis diwarnai oleh meja yang berisikan tajil dan makanan ringan. Sebelum adzan maghrib berkumandang, acara terlebih dahulu dibuka oleh penampilan dari KlabKlassik. Setelah itu, ada pembacaan cerpen oleh Riki, yaitu cerpen dari Fuad Hasan yang berjudul Hujan tanpa Pelangi. Penampilan Riki ini amat menarik, karena cerpen tersebut ditampilkan secara teatrikal. Terkadang Riki berteriak lantang, menghentak-hentakan kakinya, hingga tertawa cekikikan sambil rokok terselip di jari-jarinya.

Setelah berbuka dan bertajil ria, dipanggil ke depan dua kandidat peserta Klab Nulis dengan cerpen terbaik. Fuad dan Riska didaulat maju ke depan dan diberi sejumlah pertanyaan oleh moderator. Pertanyaan itu terkait dengan kesan pesan selama Klab Nulis, proses kreatif cerpen yang mereka buat, hingga apa arti menulis untuk mereka. Di tengah-tengah "sidang" itu, terdapat beberapa selingan musik seperti For Life, Sapta Luna, dan penampilan solo dari Prianggono.

Musik memang hadir sebagai selingan, tapi secara umum sukses membuat perpisahan itu hangat dan penuh haru. Puncak acara bukan terdapat pada pengumuman pemenang yang jatuh pada Fuad, melainkan pada pemberian kenang-kenangan dari para peserta terhadap sang tutor, Sophan Ajie. Pemberian kenangan itu sendiri sifatnya kejutan dan tidak diketahui oleh Ophan sebelumnya. Sebagai epilog, Sapta Luna yang tampil dalam format duet, menjadikan suasana beranda Tobucil menjadi temaram dengan musik-musiknya yang jazzy. 

Demikian kisah pamungkas Klab Nulis angkatan kesepuluh. Sampai jumpa di angkatan berikutnya!

Google Twitter FaceBook

Monday, August 22, 2011

KlabKlassik: Discovering Music in Ourself

Minggu, 21 Agustus 2011

Hari Minggu itu Tobucil kedatangan oleh-oleh dari Jerman. Berupa pengalaman yang dibawa oleh Fiola Christina Rondonuwu. Ia baru saja mengikuti sebuah festival musik di sana selama kurang lebih dua minggu. Lewat forum KlabKlassik ia berbagi.

Berbekal power point dan catatan yang cukup panjang, Fiola membagikan sejumlah pengalamannya selama di sana. Mula-mula ia berbagi tentang usia dengan pertanyaan kritis, "Apakah usia berpengaruh dalam belajar musik?" Menurutnya, "Pengaruh pasti ada, tapi soal apakah orang lanjut usia bisa belajar musik, jawabannya bisa!" Jawaban ini ia peroleh setelah menyaksikan sendiri wanita berusia 65 tahun di festival musik tersebut, masih mempelajari vokal dan bahkan bernyanyi dengan sangat baik. Fiola juga meminta forum untuk mengetik kata kunci Late Bloomer di Wikipedia untuk mengetahui banyak orang yang justru produktif di masa tuanya.

Bahasan berikutnya, Fiola menceritakan tentang sikap apa yang mendukung seseorang dalam belajar musik. Ia menyebutkan kalimat kuncinya, "Bahwa seseorang mesti tahu alasannya bermain musik, dan sebaiknya itu memang ditujukan untuk dirinya sendiri." Dengan mempunyai alasan kuat, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ketat seperti yang disaksikannya di Jerman sana. Di Jerman, kompetisinya amat keras dan nyaris tidak ada toleransi. Terlambat hingga 30 detik dapat diceramahi hingga nyaris setengah jam. Fiola pun tidak jarang menemukan sesama pemain saling mengritik secara pedas. Fiola juga menambahkan, "Sikap-sikap lain seperti rendah hati, disiplin, kontrol ego, dan sikap baik juga sangat mendukung dalam belajar musik." Di akhir kalimat Fiola sering menambahkan, "Tidak cuma dalam belajar musik, tapi juga dalam kehidupan pada sehari-hari."

 Fiola tengah mempresentasikan pengalamannya (kiri)

Fiola juga menjelaskan tentang bagaimana latihan musik yang baik, mulai dari stretching (peregangan), tuning (penalaan), pemanasan (dengan memainkan tangga nada misalnya), memainkan lagu, membuat catatan latihan dan membuat progress latihan. Soal ini Mas Yunus bertanya, "Bagaimana cara agar kita bisa rajin latihan?" Fiola menjawab, "Mula-mula coba letakkan instrumen di tempat yang mudah kelihatan dan dekat dengan sehari-hari kita. Di samping tempat tidur misalnya." Mba Tarlen juga menambahkan, "Teknik sungguh penting. Karena orang yang mau berkreasi secara bebas pertama-tama harus melampaui teknik dasar dulu hingga mumpuni."

Penjelasan dari Fiola berlangsung cukup panjang dan bahkan hingga empat jam. Dipotong oleh buka puasa, Fiola melanjutkan lagi dengan berbagi soal performance atau penampilan. Fiola meminta forum untuk maju ke depan orang demi orang untuk mempraktekkan tata cara berjalan ke panggung, hormat, memulai dan mengakhiri lagu, hingga meninggalkan panggung. Ternyata semuanya mengandung detail-detail yang menarik. Kata Fiola, "Performance dimulai bukan ketika lagu dimulai, tetapi ketika kita mulai menjejak panggung."


Pertemuan hari itu pun ditutup dengan manis. Dengan duet Fiola dan kekasihnya, Bilawa, memainkan Waltz of the Flowers-nya Tchaikovsky. Setelah itu Fiola tampil sendiri, membuat sendu beranda Tobucil dengan lagu Allemande dari Johann Sebastian Bach.

Google Twitter FaceBook

Klab Nulis: Sidang Kecil Angkatan X


Jumat, 19 Agustus 2011

Dalam kesederhanaan beranda Tobucil, tersulap sedemikian rupa sebuah tata letak meja agar terlihat seperti sebuah persidangan. Ada tempat duduk terdakwa dan ada tempat duduk untuk majelis hakim. Memang tidak berlebihan jika sore itu terdapat semacam sidang di Tobucil. Yakni sidang Klab Nulis, sidang kecil untuk menentukan cerpen karangan siapa yang terbaik diantara para peserta.

Dengan Sophan Ajie sekaligus mentor dan moderator, sidang Klab Nulis dihadiri oleh dua juri yaitu Mas Pujo dan Mas Puji. Keduanya menyidang peserta secara bergantian. Sidang selalu dimulai dari presentasi dari masing-masing peserta mengenai karyanya. Ternyata seluruh karya sudah dikenai tema berjudul "Kedewasaan". Tidak hanya itu, mereka juga telah diberi pattern berupa sinopsis yang dibuat berdasarkan game pada kelas harian Klab Nulis.

Tampil ke depan pertama, peserta bernama Lodra yang akan mempresentasikan karyanya berjudul Malang. Karya ini berkisah tentang seorang istri yang tidak setuju cara suaminya memperlakukan hubungan ia dan ayahnya. Ayah sang istri yang rajin mengontak setiap saat, dianggap mengganggu bagi sang suami yang tengah fokus bekerja. Ujungnya, ayah sang istri meninggal dunia dan sekitar empat hari kemudian sang istri itu menceraikan suaminya. Definisi kedewasaan menurut Lodra ada pada keputusan berani sang istri untuk menalak suami di hari berkabungnya.

Setelah Lodra maju ke depan, ada Marlina menyuguhkan karyanya tentang pengalaman yang ia peroleh dari temannya yang sukses bangkit dari koma. Baginya, kedewasaan adalah perjuangan tanpa henti. Berikutnya tampil ke depan dua orang sekaligus, yaitu Fuad dengan karyanya Hujan tanpa Pelangi dan Riska dengan karyanya On the Way. Keduanya mempunyai definisi kedewasaan yang mirip-mirip, yaitu bagaimana cara mereka memandang kerelatifan moralitas. Karya Fuad mendapat pujian terselubung dari juri bernama Mas Pujo, "Karyamu ini kirim aja ke Kompas," begitu katanya. 

Sidang ditutup oleh penampilan dua orang bernama Bagus dan Lidya. Keduanya menyuguhkan cerpen yang relatih panjang, Bagus dengan Menggapai Angkasa, Lidya dengan Realita Kehidupan. Keduanya mempunyai definisi kedewasaan yang persis bertolak belakang. Bagus melihat kedewasaan sebagai cara pengambilan keputusan yang mempertimbangkan banyak hal, sedangkan Lidya melihat dewasa sebagai pengambilan keputusan yang berani, mengikuti kemauan diri, dan maju terus dengan resiko ditanggung sendiri.

Klab Nulis angkatan kesepuluh ini hampir seluruh pesertanya "mengeluhkan" hal yang serupa, "Ternyata sulit sekali menulis dengan sinopsis yang sudah dibuat sebelumnya." Meskipun demikian, memang sudah tradisinya Klab Nulis kerap menyuguhkan tantangan bagi pembuatan karya akhir. Sophan sebagai mentor selalu menyelipkan pesan bahwa kemampuan menulis yang baik harus datang dalam berbagai kondisi, termasuk dalam tekanan. Karena hanya dalam tekanan kreativitas bisa muncul. 

Sampai jumpa minggu depan tanggal 26 Agustus, akan dilakukan penutupan Klab Nulis angkatan kesepuluh beserta pengumuman dua karya terbaik.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Sunday, August 21, 2011

Kelas-Kelas Baru Di Tobucil Periode September s/d November 2011

Tobucil & Klabs akan membuka pendaftaran kelas-kelas baru periode September s/d November 2011. Pendaftaran akan dibuka mulai tanggal 5 September 2011. Informasi dan pendaftaran lebih lanjut hubungi: 
Tobucil & Klabs 
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
Senin s/d Minggu, Pk. 09.00 s/d 20.00 WIB

Informasi lebih lanjut ikuti melalui blog ini.

Kelas Penulisan Skenario Angkatan III
Mentor: M. Syafari Firdaus

Kelas Filsafat Angkatan III
Mentor: Rosihan Fahmi, Syarif Maulana, Bambang Q-Anees

Kelas Penulisan Feature Angkatan II
Mentor: Adi Marseila, Zaky Yamani, Rana Akbari Fitriawan (AJI Bandung)

Kelas Foto Cerita Angkatan II
Mentor: Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Kelas Menulis Angkatan XI
Mentor: Sophan Adjie

Kelas Merajut
Mentor: Palupi Kinkin

Kelas Merenda
Mentor: Dian Rinjani

Kelas Public Speaking Angkatan I
Mentor: Theoresia Rumthe

Kelas Crafty Kids
Mentor: Mulyana "The Mogus"

Kelas Sulam Pita
Mentor: Kenti Prahmanti

Kelas Printing by Hand
Mentor: Vitarlenology


Google Twitter FaceBook

Monday, August 15, 2011

Discovering Music in Ourself: Berbagi Pengalaman Mengikuti Sebuah Festival Musik di Jerman

Fiola Christina Rondonuwu, seorang violinis dan juga mahasiswi jurusan Arsitektur ITB, mendapat kesempatan untuk mengikuti InterHarmony Festival Musik Internasional yang diselenggarakan di kota Hinterzarten/Schwarzwald - Birklehof, Jerman Selatan, minggu-minggu kemarin. Selama dua minggu itu, ia mendapatkan banyak sekali pengalaman mengenai pegembangan kemampuan musik, pencapaian pertumbuhan artistik, peningkatan pelatihan profesional, serta jaringan dengan sesama musisi dan tampil di konser.

Atas dasar pengalaman berharga yang sudah diperolehnya, Fiola berniat untuk berbagi sekaligus mendiskusikannya di Tobucil pada hari Minggu, 21 Agustus 2011 jam 15.00 - 17.00. Diskusi akan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Apakah umur berpengaruh dalam belajar musik?
  • Sikap/ attitude seperti apa yang bisa membantu dalam belajar musik dan berkembang lebih lanjut?
  • Bagaimana cara berlatih yang baik dan benar?
  • Bagaimana cara untuk melatih penampilan agar baik dan benar?

Sharing dan diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.


Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Menggeliat Mencari Kebahagiaan

Rabu, 10 Agustus 2011

Berbeda dengan Rabu sebelumnya dimana obrolan Madfal seperti tanpa arah, Rabu kali ini Madfal terlihat serius dan terkonsentrasi. Keberadaan sang moderator abadi, Rosihan Fahmi alias Kang Ami rupanya sangat signifikan dalam peningkatan tensi obrolan.

Topik Madfal adalah tentang kebahagiaan. Kebahagiaan atau dalam bahasa Yunani adalah eudaimonia, konon diamini Sokrates sebagai tujuan utama semua umat manusia. Baginya, kebahagiaan hanya mungkin dicapai dengan perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik hanya mungkin jika kita mempunyai pengetahuan tentang apa yang baik. Bagi Sokrates, jika seseorang masih berbuat jahat, maka sesungguhnya ia belum mempunyai pengetahuan tentang kebaikan. Karena bagaimana mungkin ada manusia yang memilih untuk tidak menjadi bahagia?

Baik Diecky dan Mas Daus, kebahagiaan seringkali datang dari pengakuan atas eksistensi. Ketika membuat karya misalnya, kebahagiaan terjadi setelah karya itu selesai dan diakui. Diecky punya pengalaman ketika karyanya disarankan untuk dibakar oleh teman-temannya. Katanya, "Agar aku tidak terlena dan mau membuat karya baru terus menerus." Namun ia menolak, alasannya, "Aku akan menyimpan karya tersebut, sehingga ketika suatu saat aku kehabisan ide, aku bisa mengingat kejayaanku di masa lampau. Kebahagiaanku dulu, sebagai sumber motivasi."

Sedangkan Ijal punya pemikiran lain, ia merasa kebahagiaan hanya mungkin dicapai setelah melampaui keterdesakan. Menurut pengalamannya, "Kemarin saya berkutat dengan komputer berhari-hari demi sebuah instalasi. Setelah melewatinya, perasaan lega dan bahagia." Kang Ami kemudian menimpali, "Barangkali kebahagiaan itu adalah sesuatu yang terus menerus mesti dicari. Dan ketika tercapai, kebahagiaan menawarkan suatu bahaya di dalamnya. Jika terlena kita bisa saja terjerumus pada kepahitan. Maka itu jangan-jangan kebahagiaan juga membutuhkan jeda demi jeda untuk merenungkan makna kebahagiaan itu sendiri."
Google Twitter FaceBook

Liputan Kami Punya Cerita #1: Pameran & Slideshow Karya Kelas Foto Cerita Tobucil Angkatan I

Senin, 8 Agustus 2011

Tobucil sore itu disesaki banyak orang. Tidak hanya itu, di kiri kanannya tergantung sesuatu yang menarik. Ada foto-foto di sana, foto-foto yang di sebelahnya termuat kata-kata narasi yang menarik. Jadi memang Senin itu adalah momen penting bagi Tobucil, karena beranda kecilnya mendadak menjadi ruang pameran. Hal yang oleh salah satu pengunjung disebut dengan, "Alamiah. Pameran foto di galeri biasanya memperhitungkan tata letak sebagai bagian dari estetika. Namun pameran foto di sini betul-betul apa adanya dan tidak ada estetika lain selain dari foto itu sendiri."


Kelas Foto Cerita Tobucil yang diadakan setiap Senin dan Kamis itu rupanya menemui puncaknya di Senin itu. Setelah berjumpa dua kali seminggu selama sebulan, kelas bimbingan Arum Tresnaningtyas itu menjadikan pameran para peserta sebagai pamungkas. Kelas Foto Cerita Tobucil berlangsung cukup menarik, Arum tidak hanya mengajarkan teknik dasar fotografi, melainkan juga menggali keseharian dari pesertanya. "Saya ingin menyadarkan mereka tentang keseharian mereka. Bahwa jangan-jangan justru karena terlalu terbiasa dengan keseharian, mereka lupa bahwa banyak ditemukan peristiwa yang menarik untuk diabadikan," begitu ujar Arum. 


Mba Tarlen misalnya, peserta yang juga sekaligus pemilik Tobucil, ia akhirnya memutuskan untuk mengabadikan ruang kerjanya dalam karya berjudul "My Little Corner in The World". Ini menjadi dramatik karena ruang kerja yang ia duduki setiap hari nyaris luput dari perasaan bahwa itu semua menarik. Membuatnya tersadar bahwa rutinitas seringkali membenamkan kesadaran kita tentang asyiknya dunia ini. Karya menarik tentang keseharian lainnya ada pada Vina Vinessa, yang mengabadikan hari-hari kedua buah hatinya, Dipta dan Putri. Tema yang mirip juga dilakoni Jane Tanggalung. Sedangkan Ina Meliana menyuguhkan tema "Cemerlang di Usia Senja", memotret masa tua dan berbagai keindahannya. Teringat filosofi Cina, bahwa makin tua biasanya seseorang harus semakin produktif. Sedangkan Arin Sulaskin bercerita yang lain, yaitu tentang beban anak-anak yang harus menghabiskan masa kecil di jalanan. Lalu Arif Hidayah dengan judul "Behind The Stage" mengisahkan tentang Achi, seorang vokalis band hard-core yang sehari-harinya menjadi seorang istri, ibu, dan guru TK sekaligus.

Proyek Kelas Foto Cerita Tobucil memang ditujukan terutama pada kejadian yang dekat dengan diri sendiri. Seolah-olah mau memberitahu bahwa jangan sampai teralienasi oleh sebab kesibukan yang menjauhkan dirimu dengan kejadian sekitar yang barangkali -jika dihayati-, selalu baru setiap harinya.
Google Twitter FaceBook

Sunday, August 7, 2011

Ada Semangat Tobucil n Klabs di Manba'ul Huda

Minggu, 7 Agustus 2011

Pesantren Manba'ul Huda adalah sekolah berbasis Islami yang terletak di wilayah Cijaura. Kepala sekolahnya bukan orang yang asing bagi Tobucil. Ia adalah Rosihan Fahmi alias Kang Ami alias koordinator Madrasah Falsafah Tobucil.

Dengan basis filsafat dan kebiasaannya berkomunitas, Kang Ami menularkannya pada siswa-siswi di pesantrennya. Ia mengadakan suatu program bernama Student's Day yang diselenggarakan setiap hari Minggu. Jadi, di pesantren tersebut libur adalah setiap hari Jumat alih-alih Minggu. Minggu menjadi semacam "Hari Ekstrakurikuler", meskipun definisinya tak tepat benar karena Student's Day masuk perhitungan nilai dalam rapor. Untuk Student's Day ini, Kang Ami memberikan siswanya beberapa pilihan materi. Dari seluruh materi, tiga diantaranya diinspirasi dari kegiatan-kegiatan Tobucil n Klabs yaitu Klab Nulis, Klab Rajut, dan KlabKlassik. Walhasil, wajah pesantren Manba'ul Huda setiap hari Minggu menjadi "wajah Tobucil". Disana dapat disaksikan beberapa awak Tobucil berkeliaran.

Di hari pertama Student's Day minggu kemarin, Klab Nulis memulainya dengan menonton bersama dan belum memulai menulis. Sedangkan Klab Rajut dibawah bimbingan Mba Upi dan Rudi memulainya dengan Yubiyami atau merajut tanpa alat. Yubiyami adalah teknik merajut dengan mengandalkan tangan saja. Kata Mba Upi, "Agar tangannya lentur dulu sebelum mulai merajut menggunakan alat." Kelas merajut cukup diminati, isinya ada tiga belas siswa. Adakah kesulitan dalam menjinakkan siswa sebanyak ini? Rudi bilang, "Tidak." Sedangkan KlabKlassik diminati terbanyak yaitu dua puluh siswa. Meski awalnya diberi tajuk "Kelas Gitar Klasik", namun di dalamnya berubah. Kelas yang dibimbing oleh saya dan Kristianus ini, diganti jadi "Kelas Musik" saja. Hal tersebut tak lepas dari kenyataan bahwa tidak semua orang punya dasar gitar yang cukup, serta peminat yang terlalu banyak cukup menyulitkan penyerapan materi.

Kang Ami, ketika ditanya mengapa mengadakan Student's Day itu, menjawab, "Agar si anak tidak melihat kebenaran itu hitam putih. Berbagai kegiatan kesenian terutama yang dibangun lewat komunitas, akan menghaluskan budi si anak dan menyadari bahwa kehidupan itu abu-abu." Filosofis dan cukup mendalam nampaknya. 


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Membedah Kegembiraan Diecky


Rabu, 3 Agustus 2011

Madrasah Falsafah hari itu nyaris tidak ada obrolan jika bukan Diecky yang tiba-tiba memberi kejutan. Ia yang daritadi mondar-mandir dengan teleponnya, tiba-tiba duduk di tengah-tengah forum dan berkata lantang, "Karyaku diterima di Jerman!"

Kegembiraan Diecky berbuah diskusi. Diskusi dimulai dari sejumlah pertanyaan Madfal tentang karya itu sendiri. "Karyamu itu, coba ceritakan," Iqbal bertanya. Diecky menjawab, "Aku merenungkan Indonesia itu sendiri. Karena Indonesia isinya adalah perbedaan-perbedaan, maka perbedaan itu sendiri adalah interupsi bagi kehidupan kita sehari-hari. filosofinya yaitu menyandingkan yang berbeda tanpa sibuk mencari perbedaan" Diecky yang seorang komposer musik-musik kontemporer itu, menjelaskan lebih lanjut bagaimana idenya bisa tertuang secara musikal, "Karya ini untuk ensembel campuran, setiap instrumen  adalah dirinya sendiri dengan segala keluasan gramatika bahasa bunyinya masing." 

Pembahasan menjadi meluas pada renungan Iqbal, "Mana sesungguhnya yang duluan dalam mengapresiasi, etika atau estetika dulu?" Beberapa orang sepakat estetika, beberapa lainnya sepakat etika. Estetika, karena ketika menyerap bunyi, keindahan adalah tidak punya filter. Keindahan ada pada dirinya sendiri. Namun sebagian yang berpendapat etika menyerukan,"Keindahan itu punya filter, berupa pengalaman pribadi yang membentuk kita tentang keindahan itu sendiri." Mas Daus contohnya, sebelum ia datang untuk menyaksikan pertunjukan, ia membawa pengetahuan-pengetahuan untuk mengomentari, kritisi, maupun apresiasi. Inilah yang disebut etika, selain daripada seperangkat aturan dari pihak pertunjukkan. Seperti halnya dalam pertunjukkan musik klasik yang mempunyai sederet etika untuk menyaksikannya. Di tengah-tengah perdebatan seru itu, Mba Eci menyelipkan guyonan, "Tentu saja estetika, lihat saja KBBI. Pasti estetika dulu baru etika." 

Nama kompetisi yang diikuti Diecky adalah Young Composers Competition of Southeast Asia 2011 yang disponsori oleh Goethe-Institut. Kompetisi tersebut adalah kompetisi untuk komponis yg memiliki kewarganegaraan di Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapore, Thailand, Philippines and Vietnam. "Yang menarik dari kompetisi ini," kata Diecky, "Komposisi yang dikirim tidak boleh diberi judul dan nama komponis. hal ini untuk menghindari subjektivitas dewan juri dalam memilih karya. Dewan juri diketuai oleh Prof. Dieter Mack."  Sebagai informasi, karya Diecky ini akan ditampilkan di tiga tempat di Indonesia, yaitu tanggal 8 Oktober di Taman Budaya Bandung, 10 Oktober di Taman Budaya Yogyakarta, 11 Oktober di Gouthe-Haus Jakarta.

Selamat untuk Diecky, renungan filosofisnya berbuah juga. Jadi ingat perkataan Bapak, "Orang bisa mencapai hal-hal yang material dengan memikirkan sesuatu yang justru immaterial."



Diecky K. Indrapraja berfoto di pintu masuk Tobucil
Google Twitter FaceBook

Saturday, August 6, 2011

Kami Punya Cerita #1: Pameran & Slideshow Karya Kelas Foto Cerita Tobucil Angakatan I


Kami Punya Cerita #1


Pameran & slideshow foto karya kelas foto cerita tobucil angkatan I
Senin, 8 Agustus 2011
Pukul 15.00-sampai selesai
Tobucil jalan Aceh 56 Bandung
...
Sejak kemunculan kamera digital, fotografi kini menjadi milik sejuta
umat. Kamera digital menjamur dengan harga yang terjangkau. Hampir setiap telepon kini selalu dilengkapi dengan kamera dengan pixel besar. Memotret menjadi hal yang akrab terlihat sehari hari di
sekitar kita. Bahkan kamera sepertinya kini menjadi tentengan wajib di pusat perbelanjaan dan tempat tempat wisata.

Kamera memudahkan orang untuk mendokumentasikan segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Munculnya berbagai macam jejaring sosial juga turut memicu kegiatan ini. Semua orang berlomba lomba memamerkan hasil jepretan kamera, diunggah ke dalam situs jejaring sosial dengan harapan menuai komentar dan pujian.

Semua orang bisa memotret, semua orang bisa menjadi fotografer.
Teknologi kamera digital menjadikan memotret menjadi kegiatan yang mudah. Jangan khawatir jika belum pernah belajar fotografi sebelumnya,kemudahan pengoperasian kamera digital memungkinkan semua orang menjadi fotografer. Bahkan keponakan saya yang berusia lima tahun saja sudah tahu bagaimana cara memotret.

Segala sesuatunya serba digital dan otomatis. Pengaturan diafragma dan kecepatan bisa kita pasrahkan saja pada mode otomatis kamera dan hasilnya tentu tidak akan mengecewakan. Bahkan hasil jepretan langsung bisa kita lihat begitu kita selesai membidik. Jika hasil tidak bagus, foto bisa langsung dihapus dan mulai memotret lagi.

Hal itulah yang mendasari konsep dari dibukanya kelas foto cerita
tobucil. Kami tidak sekedar memotret, namun juga bercerita. Kelas
perdana foto cerita ini diikuti oleh enam orang dengan latar belakang yang sangat beragam, dari mahasiswa, ibu rumah tangga hingga nenek cantik penuh semangat.

Kelas foto cerita tobucil angkatan I telah usai dan angkatan II akan mulai sesudah lebaran. Kami memang bukan sekumpulan fotografer dengan alat alat canggih dan mentereng. Kami juga bukan fotografer dengan hasil foto yang mengundang decak kagum. Kami hanya tak ingin cerita kami hanya tersimpan rapi dalam folder di komputer.

Kami punya cerita dan ingin berbagi cerita. Datanglah jika ingin
mendengar cerita dari kami.


Sampai jumpa di Kami Punya Cerita
Salam

Arum Tresnaningtyas Dayuputri

pecinta fotografi yang kebetulan mengajar Kelas Foto Cerita Tobucil 


Acara terbuka untuk umum dan gratis!
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin