Monday, September 26, 2011

Resital Kuartet Gesek: Djava String Quartet

desain poster oleh vitarlenology


Djava String Quartet:
Ahmad Ramadhan - biola
Danny Ceri - biola 
Dwi Ari Ramlan - biola alto
Ade Sinata - cello

Jumat, 7 Oktober 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
jam 19.30 - 21.00

Tiket seharga Rp. 25.000 dijual mulai tanggal 30 September di
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548) atau Syarif (0817-212-404)
 


Berawal dari semangat bermain tanpa konsep, akhirnya Danny Ceri (biola), Ahmad Ramadhan (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto) dan Ade Sinata (cello) memutuskan untuk membentuk kuartet gesek pada tanggal 22 November 2008 yang diberi nama D’Java String Quartet (DSQ).

Meski terbilang pendatang baru, namun DSQ aktif menunjukkan eksistensinya dengan menyelenggarakan konser bersama maupun tunggal. Pada 9 Maret 2009, DSQ mengadakan konser apresiasi di UKRIM Yogyakarta. Tanggal 27 Maret 2009, bersama dengan dua string quartet lainnya yang tergabung dalam Yogyakarta Youth String Quartets (YYSQ), DSQ mengadakan konser di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta. Dan 17 April 2009 d’Java menggelar resital tunggal perdananya di auditorium CCF Bandung.

Selain program apresiasi, DSQ mencoba membawa misi edukasi dengan mengadakan Workshop Chamber Music di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 13-30 Oktober 2009 bekerjasama dengan YYSQ dan Jogjakarta Pilharmonic Orchestra, tampil sebagai bintang tamu di acara Music Classic Concert di Purwokerto untuk penggalangan dana bagi anak-anak SLB ( Sekolah Luar Biasa ), memainkan karya Eugene Ysaye Harmonie du Soir for String Quartet and String Orchestra diiringi F-Hole String Orchestra dari Institut Seni Indonesia dalam acara Chamber Music Concert, tampil di acara Chamber Music Festival di Yogyakarta, dan Youth Artist Chamber Music Festival di Goethe Haus Jakarta.

DSQ juga rajin mengikuti beberapa masterclass dari grup string chamber seperti Doric String Quartet dari Inggris, Trio Storioni dari Belanda, Prof. Takashi Shimizu dari Jepang, serta mengikuti Bandung Music Camp 2009 dengan tutor Damien Ventula ( Cellist/France ).

Selain tampil secara kelompok, para personil d’Java pun aktif untuk mengikuti event musik skala Internasional seperti South East Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble (SAYOWE) di Thailand dan Hida Takayama Music Festival di Jepang. Bulan Juni 2010 d'Java String Quartet mendapatkan First Price pada acara Chamber Music Competition di Singapore.

Sebelum tampil di Bandung 7 Oktober nanti, seminggu sebelumnya d'Java tampil di Filipina.
Google Twitter FaceBook

Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural

MInggu, 25 September 2011

Hari Minggu adalah jadwal rutin kumpul KlabKlassik. Meski pada Minggu itu KK tidak berkumpul di Tobucil, mereka tetap mengadakan kegiatannya di Studio Musik Melodia, jalan Cipunagara nomor 15. Ini punya kaitan dengan kerjasama antara Studio Musik Melodia dan KK dalam rangka menggelar suatu seminar berjudul "Musik Kontemporer dan Problem Interkultural". Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dieter Mack, seorang guru besar komposisi asal Jerman dan satu lagi tidak lain adalah aktivis Tobucil yang aktif di Madrasah Falsafah maupun KK, yaitu Diecky K. Indrapraja.

Sebetulnya acara tersebut tak tepat benar disebut seminar. Karena jika berbicara seminar, biasanya konotasinya langsung ke suatu pertemuan besar di gedung besar yang mana suasananya kurang lebih formal. Acara ini tidak. Tempatnya relatif kecil, suasananya santai, dan terjadi dialog yang cukup intens antara peserta dan pembicara. 

Awalnya, Dieter Mack menyatakan awal mula mengapa ia hendak membicarakan topik tersebut. Ini terkait dengan acara yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Barat dari tanggal 2 hingga 9 Oktober. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut itu merupakan semacam kompetisi bagi komposer muda se-Asia Tenggara. Dieter Mack menjadi penggagas sekaligus juri, sedangkan Diecky menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dalam kompetisi tersebut (mari beri selamat). Kemudian Dieter masuk ke apa yang disebutnya sebagai interkultural, dengan menyajikan empat contoh lagu yang mengandung baik instrumen barat maupun timur. Pertanyaannya sederhana, namun agak sulit menjawabnya, "Diantara keempat ini, manakah yang terasa seperti ditempelkan atau digabungkan, dan mana yang terasa seperti satu kesatuan?"

Jawabannya beragam. Namun kesimpulan Dieter cukup mengena, "Soal kepekaan kita tentang mana yang terasa digabungkan dan mana yang terasa sebagai satu kesatuan, ditentukan oleh sebanyak apa kita mendengar. Jika mendengarkan tak terlalu banyak, kita akan sulit menerima pelbagai kemungkinan-kemungkinan dari komposisi baru." Kemudian Diecky tampil mengemuka, memperdengarkan karya pemenangnya pada para peserta. Namun di tengah presentasinya, ketika ia menyebut kalimat, "Tradisi Barat yang sistematis..", Dieter Mack langsung memotong, "Kata siapa tradisi Barat sistematis?" Dieter langsung melanjutkan, "Di Barat sistematis dengan tradisi tulisan. Di Timur sistematis dengan tradisi lisan. Kalau Timur tidak sistematis, bagaimana mungkin kita bisa menabuh gamelan, sekarang ini?"

Menjelang akhir diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu, peserta boleh bertanya secara bebas. Misalnya, Ulung bertanya, "Apakah betul fungsi musik itu terbagi dua antara musik seni dan hiburan? Apakah ada musik yang seni sekaligus hiburan?" Dieter menjawab dengan contoh, ia memainkan dua lagu dalam piano, yang satu agak jazz, satu lagi kontemporer. Setelah lagu yang terakhir, ia berujar, "JIka saya memainkan lagu seperti itu, saya pasti diusir."Kata Dieter, "Musik hiburan tidak salah. Tapi ia tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Ia bisa dimainkan sambil orang melakukan apapun. Tidak harus dinikmati sebagai sesuatu yang independen. Penghasil musik hiburan bisa disebut juga tukang atau pengrajin. Tapi sekali lagi ia tidak salah, tidakkah kita semua butuh tukang atau pengrajin?"

Setelah dua jam setengah yang mengasyikkan sekaligus memabukkan (oleh sebab musik kontemporer yang kadang-kadang tidak cocok untuk semua telinga), diskusi itu ditutup jua. Diakhiri dengan makan kudapan ringan di halaman belakang. 

Google Twitter FaceBook

Wajah-Wajah Berkuasa

(Tulisan Heru Hikayat sebagai bahan diskusi Madrasah Falsafah Rabu 21 September dan akan diteruskan untuk tema Etika Media di Pesta Filsuf bulan November)

Hari-hari ini kita dikelilingi potret. Secara khusus potret itu adalah potret para politikus yang sedang berusaha menampilkan dirinya layak mendapatkan suara kita. Potret dalam pengertian harfiah adalah representasi dari orang. Pengertian ini seringkali dipersempit menjadi gambar wajah. Itulah yang mengepung kita: wajah-wajah. Apakah yang bisa dikatakan gambar wajah-wajah itu pada kita?

Para politikus jelas menampakan keyakinan bahwa gambar wajah akan mampu menyampaikan pesan pada kita para pelihat—para warga yang sedang dirayu untuk memberikan suaranya. Pesan apa yang hendak mereka sampaikan? Tentu saja segala sesuatu yang baik tentang diri mereka sendiri.

Darimana datangnya keyakinan ini—keyakinan bahwa gambar (khususnya gambar wajah) bisa menyampaikan pesan politis?

Seni melalui penyederhanaan bentuk mampu memampatkan pesan. Hingga kini logo dengan bentuk tertentu bisa memancing kemarahan banyak orang atau sebaliknya memicu tindakan patriotik.

Dalam tulisan ini saya memanfaatkan seri dokumenter keluaran BBC. Dokumenter populer yang dituturkan dengan memikat, memanfaatkan sejumlah besar hasil penelitian ilmiah dan ditujukan bagi penonton awam: siapapun bisa mengapresiasinya dengan mudah. Rangkaian seri ini diberi judul “How Art Made The World” (Bagaimana Seni Membentuk Dunia), di dalamnya ada satu seri berjudul “The Art of Persuasion” (Seni untuk Meyakinkan).

Dalam seri ini diceritakan Darius Maharaja Persia adalah pemimpin politik pertama yang menciptakan logo politik pada sekitar tahun 500 SM. Pasalnya sederhana, kemaharajaan Persia melingkupi wilayah amat luas dengan ragam bahasa dan sebagian besar warganya buta huruf hingga penyampaian pesan dengan bahasa tertulis tidak praktis. Darius kemudian menciptakan citra dirinya sebagai “Si Pemanah”. Ahli memanah bagi Bangsa Persia bukan semata soal kemampuan militer, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan dan kontrol. Inilah kualitas pemimpin yang bijaksana. Darius-si-pemanah menjadi pelopor dari berbagai logo politik yang kita akrabi hari-hari ini.

Kemaharajaan Persia tidak berumur panjang. Alexander dari Macedonia mengambil alih wilayah luas tersebut. Alexander Agung kemudian memperbaharui strategi kampanye Darius: ia menjadikan potret dirinya sebagai logo politik. Di jaman Alexander segala sesuatu yang berasosiasi dengan dirinya jadi sumber kewenangan. Kewenangan yang berasal dari satu pusat, yaitu Alexander sendiri, merentang hingga ke seluruh wilayah yang sudah takluk secara politis. Potret adalah asosiasi yang kuat. Lalu bagaimana caranya menyebarkan citra itu? Di jaman kita menyebarkan citra mudah sekali. Tapi di jaman Alexander belum ada kamera dan internet. Ia kemudian mencetakan potret dirinya pada koin. Uang sebagai alat tukar menjadi media sebaran yang efektif sekaligus menandai wilayah kekuasaannya yang luas.

Hingga kini sebaran potret secara masif masih efektif menunjukan siapa yang berkuasa. Jaman Suharto, setiap ruangan kelas di seluruh sekolah di negeri ini memajang potret dirinya. Citra Jenderal murah senyum itu begitu dominan, terus-menerus mengingatkan warganya tentang siapa yang (sedang) berkuasa. Inilah yang hendak dicapai oleh para politikus di masa peralihan kekuasaan seperti sekarang: mengupayakan dominasi tampilan dirinya. Inilah alasan kenapa ruang-ruang terbuka kita dibanjiri potret mereka. Sebelum mereka menempati kursi kekuasaan resmi yang memungkinkan mereka mencetak citra dirinya menjadi monumen, nama jalan, gambar perangko atau uang, mereka harus memanfaatkan celah-celah di ruang-ruang umum.       

Kembali pada dokumenter BBC, diceritakan kejayaan Yunani pada gilirannya diambil-alih oleh Romawi. Sekitar tahun 40 SM Roma terancam perpecahan gara-gara perseteruan kaum Monarki dan Republikan. Kaisar Augustus berhasil muncul mengatasi perpecahan dua golongan ini. Augustus memenangi persaingan karena berhasil memanfaatkan kekuatan citra. Diceritakan bahwa jaman itu kesetiaan politis seseorang bisa dilihat dari caranya berpakaian. Kaum Republikan selalu memilih gaya yang tradional-kaku, Monarki memilih gaya yang flamboyan-trendy. Augustus sendiri berasal dari golongan Monarki. Jika ia tetap dengan penggambaran dirinya dalam gaya tipikal kaum Monarki maka ia akan dianggap ancaman oleh kaum Republikan. Agustus kemudian mengubah citra dirinya menjadi lebih rendah hati, sederhana, dan tidak tampak mengancam. Patung dirinya, walau menggunakan baju zirah, namun bertelanjang kaki dan tidak menggenggam senjata. Citra negarawan yang rendah hati namun tegas ini disebarkan di pusat kerajaan dan berhasil meyakinkan Kaum Republikan.  

Demikianlah para politikus hari-hari ini menggunakan strategi yang mirip dengan Augustus. Potret mereka mengenakan setelan jas dan dasi, menunjukan dirinya yang modern dan berpendidikan. Kaum perempuan kebanyakan akan menampilkan dirinya berjilbab menunjukan kesalehan Islami. Modern-berpendidikan-saleh (Islami), merupakan nilai-nilai yang diyakini akan mengatasi beragam golongan pemilih secara umum, setelan jas-dasi juga baju taqwa dan jilbab merupakan kode-kode yang diyakini bakal menyampaikan nilai-nilai tersebut.       

Para politikus mengabaikan fakta betapa kamera sudah begitu tersebar hari-hari ini, hingga pengalaman merumuskan citra diri bisa dimliki oleh semua orang. Dalam keseharian kita tahu dari praktek berfoto dalam photo box misalnya, atau foto di studio, semua orang akan bergaya. Di ruang-ruang ini disirkulasikan gaya khas tertentu yang dianggap keren. Semua orang yang memasuki ruang ini akan terpengaruh oleh kekhasan tersebut. Perhatikan para orang tua yang tengah berupaya memfoto anak balita mereka. Betapa mereka berusaha keras meminta si anak untuk memandang kamera. Pose menatap pada kamera dianggap keren dan karenanya bahkan anak balita pun diminta (tepatnya dipaksa) untuk menaatinya. Di hadapan kamera semua orang dituntut menampilkan gaya tertentu yang dianggap keren.

Sekarang bayangkan sesi pemotretan dengan latar khusus dan biaya yang tidak murah. Para wisudawati rela bangun jauh lebih pagi agar bisa berdandan di salon dengan tujuan bukan hanya tampil di acara wisuda dengan meyakinkan tapi agar kemudian foto dirinya sebagai wisudawati bisa dipajang di ruang tamu. Bagi wisudawan, menyewa, meminjam atau membeli setelan jas dan dasi adalah kewajiban (sebagai kode kemodernan dan berpendidikan). 

Dalam Bahasa Indonesia kita punya ekspresi “diabadikan” untuk menunjuk tindak pengambilan foto. Ekspresi ini dengan tepat merujuk tujuan dari tindakan ini: membekukan momen pilihan. Apa yang layak diabadikan tentu saja merupakan hal-hal yang istimewa dan, kalau bisa, selalu baik.

Jika semua orang tahu bahwa di hadapan kamera haruslah bergaya maka semua orang juga punya pengalaman bagaimana kode-kode yang ditampilkan merupakan konstruksi fiksional. Jejaring sosial di internet macam facebook makin menggenjot fiksi ini. Dalam media macam fecebook tiap orang tahu bahwa ia dapat menampilkan dirinya sesuai yang ia mau. Bagaimana diri yang nyata  dan objektif makin tidak relevan, atau mungkin mengawang entah di mana.

Itulah hal pertama yang menjadi kelemahan praktek kampanye para politikus melalui potret: keyakinan berlebihan bahwa citra bisa mewakili kenyataan, bahwa kode-kode pilihan mereka bisa tetap ada dalam koridor yang ajeg untuk ditafsirkan oleh para pembaca sesuai maksud asali.

Kelemahan kedua, berkaitan dengan sebaran potret yang memusat di kota, adalah tata kota kita yang buruk. Para pemimpin yang berkuasa tidak pernah memperhitungkan tata kota agar lebih artistik sebagai latar dari penyampaian pesan mereka. Gambar-gambar yang telah diperhitungkan komposisinya dengan baik pun harus tampil di lingkungan yang secara artistik kurang mendukung (apalagi gambar-gambar yang buruk komposisinya). Selain itu, lemahnya kebijakan pengaturan bagi iklan visual membuat ruang-ruang strategis kota bising dengan gambar. Hingga sekali waktu di simpang lima Semarang, saya sempat melihat billboard bergambar pemimpin partai, begitu kebapakan melambaikan tangannya—tampak jelas diupayakan untuk berkesan karismatik—tapi ia bersebelahan dengan gambar model perempuan cantik berkulit putih tengah memamerkan ketiaknya. Dalam ruang bising macam ini, mana yang lebih menarik?
Google Twitter FaceBook

Sunday, September 18, 2011

Ada Apa dengan Abad Modern? (Artikel Pengantar)

(Pengantar untuk Kelas Filsafat untuk Pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?”)


Setelah Eropa dilanda krisis kepercayaan terhadap kekuasaan gereja, masuklah mereka pada suatu fajar pemikiran yang baru. Inilah perubahan dari yang tadinya teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat). Dari yang tadinya takaran benar salah adalah teks-teks Tuhan, sekarang takaran benar salah menjadi rasio manusia itu sendiri. Era itu disebut dengan Renaisans, yang berlangsung sekitar abad ke-15 dan dimulai di Italia. Selain dipicu oleh kekecewaan terhadap gereja, Renaisans juga didorong oleh penemuan akan tiga hal: Mesin cetak, kompas, dan mesiu. Dengan mesin cetak, ide bisa disebarluaskan secara massal dan seragam. Dengan kompas, manusia tidak takut berlayar mengarungi lautan karena selalu tahu arah pulang. Dengan mesiu, manusia mempunyai senjata menakutkan untuk kolonialisasi. Renaisans bisa dibilang merupakan cikal bakal pemikiran modern. 

Efek dari atroposentrisme itu salah satunya adalah kepercayaan bahwa alam harusnya dikuasai manusia. Sebelumnya, alam adalah sesuatu yang tak sanggup diprediksi, yang berbagai pergerakannya adalah metafisis dan di luar kuasa manusia. Kemajuan teknologi membuat manusia percaya bahwa manusia tidak perlu tergantung lagi pada alam. 

Pasca Renaisans, periodisasi dalam abad modern dapat dibagi menjadi era Barok, Pencerahan, Romantik, hingga Abad ke-20. Meskipun pemikiran di dalamnya sangat beragam, namun pemikiran modern dalam digeneralisasikan menjadi beberapa poin sebagai berikut: 

1. Oposisi biner. Pemikiran modern percaya akan adanya kebenaran absolut. Standar yang berlaku bagi semua. Contoh, “Kriteria orang beradab adalah punya skor TOEFL yang tinggi. Maka orang yang tidak punya skor TOEFL yang tinggi adalah orang tidak beradab.” 

2. Subjek. Pemikiran modern berpusat pada manusia. Kebenaran sejati ada pada individu. Subjek ada dalam kondisi sadar dan menentukan nasibnya sendiri. 

3. Grand-Narrative. Mirip dengan oposisi biner, pemikiran modern percaya akan adanya narasi besar seperti Keadilan, Kesejahteraan, Hak Asasi, atau misalnya Ideologi. Grand-Narrative ini dianggap seolah-olah berlaku bagi semua keadaan, bahwa sungguh-sungguh ada keadilan sejati bagi seluruh manusia, kesejahteraan sejati bagi seluruh manusia, dan seterusnya. 

4. Tuhan. Oleh sebab kekecewaan serius terhadap periode sebelumnya (Pertengahan), ateisme menjadi berkembang dan dideklarasikan. Para filsuf seperti Nietzsche dan Sartre dengan terang-terangan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dengan berbagai argumen filosofisnya. 

Empat poin di atas tentu saja merupakan generalisasi yang berlebihan. Nyatanya ada banyak sekali pemikiran yang khas dan barangkali mempunyai beberapa perbedaan dari apa yang digariskan di atas. Namun sebagai pengenalan awal, dalam rangka pemetaan dan garis besar, empat poin di atas boleh juga dijadikan pegangan. 

Kelas filsafat untuk pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?” kira-kira ditujukan untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut: 
•Apa sesungguhnya Abad Modern itu? 
• Bagaimana detail pemikiran di dalamnya?
• Bagaimana jalinan antar pemikiran satu dan lainnya? 
• Bagaimana dengan modernisasi di Timur?



Google Twitter FaceBook

Thursday, September 15, 2011

@wawbaw Day 1.0 di @tobucil 17-18 September 2011

WAWBAW day 1.0

Sabtu, 17-18 September 2011
@Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
Pembukaan: Sabtu, 17 September 2011, Pk. 16.00 WIB

EXHIBITION
WAWBAWavatarbook
WAWBAWarchivalproducts
WAWBAWcolaboration
WAWBAWartefak

FREE WAWBAWavatar
WAWBAWauctionproducts
VITAMINart: WAWBAWseries

EXHIBITION &WAWBAWauctionproducts: 17-18 September 2011
FREE WAWBAWavatar: 18 September 2011 Pk. 11.00 s.d 14.00 WIB
VITAMINart 18 September 2011 Pk. 16.30 s.d 19.00 WIB

Acara ini hasil kolaborasi:
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Ada Apa dengan filsafat Modern?

Tobucil akan kembali menyelenggarakan, untuk ketiga kalinya, kelas filsafat untuk pemula. Setelah di angkatan pertama membahas filsafat Yunani dan yang kemarin mengupas Abad Pertengahan, kelas filsafat untuk pemula ini menghadirkan topik "Ada Apa dengan filsafat Modern?" dengan rincian subtema sebagai berikut:

Pertemuan ke-1: Peta besar pemikiran modern
Pertemuan ke-2: Renaisans
Pertemuan ke-3: Rasionalisme
Pertemuan ke-4: Empirisisme
Pertemuan ke-5 : Immanuel Kant, penengah rasionalisme vs empirisme.
Pertemuan ke-6: Dialektika G.W.F. Hegel
Pertemuan ke-7: Modernisasi timur
Pertemuan ke-8: Penutup

Kelas akan dimulai pada tanggal 27 September 2011. Biaya mengikuti kelas ini adalah Rp. 250.000 untuk sepaketnya (mendapat sertifikat). Info lengkap silakan hubungi Tobucil (022-4261548).

Tutor: Bambang Q-Anees, Rosihan Fahmi, Syarif Maulana.

Angkatan Pertama
Google Twitter FaceBook

Sunday, September 11, 2011

Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now

Minggu, 11 September 2011




Hari Minggu kemarin KlabKlassik punya program baru. Atas usul Ismail Reza, KK sebaiknya memutar sebuah film, lantas dibahas scoring-nya, atau musik latarnya. Setelah melalui diskusi, diputarlah film tahun 1979 berjudul Apocalypse Now. Film garapan sutradara Francis Ford Coppola yang berlatarbelakang perang Vietnam itu diperankan oleh dua aktor kawakan, Martin Sheen dan Marlon Brando. 

Ceritanya, Martin Sheen berperan sebagai Kapten Benjamin Willard, yang ditugaskan untuk membunuh Kolonel Kurtz yang diperankan (secara gemilang) oleh Marlon Brando. Keduanya adalah sesama Amerika, dan misi ini terbilang rahasia, tidak resmi, atau biasa disebut black ops. Cerita menjadi menarik karena sebagian besar berisikan pergulatan batin dari Kapten Willard, karena ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia ditugaskan membunuh sesama Amerika? Segila apakah Kolonel Kurtz itu sehingga harus dilenyapkan?

Film tersebut, meskipun berjudul "film perang", namun yang ditampilkan justru aspek psikologisnya. Mas Daus, salah seorang peserta menyebutkan, "Ini film perang vietnam yang anti-hero, disamping Platoon dan Killing Fields." Film berdurasi sekitar dua setengah jam itu cukup menguras tenaga, beberapa peserta bahkan pulang sebelum berakhirnya film. Terutama juga karena musiknya secara subjektif agak kurang nyaman di telinga, sehingga berpengaruh sekali terhadap endurance. Selain itu, gambar-gambarnya gelap, betul-betul jauh dari hingar bingar heroisme ala Rambo atau Green Berets.

Setelah film berakhir, terjadi diskusi singkat. Pertama, bagaimana scoring mempengaruhi dramatisasi film itu sendiri. Bagi Mas Daus, scoring sangat penting dan boleh dibilang vital. Itulah yang terjadi pada perfilman Indonesia yang mana scoring seringkali digarap asal-asalan. Bahkan dalam banyak sinetron, scoring dicomot saja dari lagu yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kecocokan dengan adegan. Profesi penggarap musik bahkan, kata Mas Reza, "Kawan saya di Berkeley, mengambil jurusan khusus music scoring, dan katanya susah. Jadi di luar sana, profesi music scorer gak main-main."

Program perdana kemarin menginspirasi KK untuk menyusun program berikutnya. Kemungkinan di akhir September ini akan diputar film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noor, dengan agenda sama, yaitu membahas scoring musik. Kata Mas Daus, "Inilah film Indonesia terbaik sepanjang sejarah, bagi saya."



Google Twitter FaceBook

Mengenal Perempuan Sore: Tutor Kelas Public Speaking

Di Tobucil, tanggal 16 September ini akan dimulai sebuah kelas baru. Kelas itu bernama kelas Public Speaking atau jika diterjemahkan secara bebas artinya mungkin menjadi kelas "Berbicara di Depan Publik". Kelas tersebut akan dipandu oleh Theoresia Rumthe yang berprofesi sehari-sehari sebagai penyiar MGT 101,1 FM. Mari mengikuti bincangan dengan Theoresia Rumthe, dara kelahiran 16 Oktober 1983 yang mempunyai nickname Perempuan Sore ini:

Halo, Mba Theo.
Halo, Syarif.

Nanya-nanya dikit, boleh ya?
Boleh dong, kebetulan aku lagi santai nih.

Rencananya mau bikin kelas baru kan di Tobucil, apa sih latar belakangnya?
Pertama, aku punya utang sama Tobucil, dari tahun lalu aku emang udah janji bikin kelas ini. Tapi baru tahun ini terealisasi hehe. Yang kedua, aku cuma pengen bagi-bagi ilmu aja. Aku pengen mengajak orang-orang untuk mengetahui bahwa public speaking itu bukan bakat. Segera ketika orang nyaman dengan diri mereka sendiri, maka akan mudah untuk berbicara di depan publik.

Waduh, berat juga ya. Oke, metode apa nih yang akan dipakai Mba Theo di kelasnya nanti!
Pertama, pastinya aku mau kasih teori-teorinya ya, public speaking dasar ceritanya. Aku juga mau melatih gesture, tentang bagaimana sih pembawaan fisik kita ketika berbicara. Namun yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana agar mereka nyaman dengan diri mereka sendiri. Untuk itu aku juga mau adain sesi curhat hehe.

Oke, Mba. Ngomong-ngomong, berbicara dengan publik itu enaknya dengan teks atau tidak?
Tanpa teks lebih baik. Atau minimal pake pointers, nanti di kelas juga aku bakal ajarin cara bikin poin-poin.

Oke, terus, nantinya, apakah ada semacam "UAS" atau penutup sebagai konklusi dari yang sudah dipelajari?
Iya dong, di akhir nanti ada tes berupa presentasi, aku juga rencananya membuka presentasi itu untuk publik atau umum.

Oke, Mba. Bagi Mba Theo sendiri, berbicara di depan publik seperti apa yang sulit?
ABG hehe, konsentrasi mereka biasanya agak kurang.

Pertanyaan iseng nih Mba. Kalau ngasih humor itu penting gak sih?
Penting banget. Humor diperlukan agar suasana menjadi cair. Kemarin aku sempet liat pertunjukan stand-up comedian. Dari pengalamanku itu, ketahuan bahwa ada beberapa komedian yang kemudian dia menjadi lucu karena justru tidak berniat untuk lucu. Dia cuma berusaha keras membawakan dirinya dengan baik dan melepaskan beban-beban yang ada, ketika itu sukses dilakukan, kelucuan bisa mengikutinya.

Terakhir, wakili public speaking dalam satu kata!
Kepekaan.

Terima kasih ya Mba!
Sama-sama.

Syarif Maulana

Theoresia Rumthe kala siaran.



Tertarik mengikuti kelasnya? Infonya ada di sini.
Google Twitter FaceBook

Tuesday, September 6, 2011

Dibuka Pendaftaran Kelas Penulisan Feature (Non Fiksi) Angkatan II

Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung (AJI Bandung) bersama Tobucil & Klabs menyelenggarkan program Kelas Penulisan Feature (Nonfiksi) Angkatan I. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman cara menulis non fiksi dengan gaya Feature.

Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis, Pk. 17.00 -19.00 Wib.
Setiap angkatan maksimum 15 orang.

Instruktur:
Rana Akbari Fitriawan (Freelance Jurnalis/mantan Jurnalis Tempo), Adi Marsiela (Jurnalis Suara Pembaruan), Zaky Yamani (Jurnalis Pikiran Rakyat)

Biaya pendaftaran: Rp. 250.000/orang

Materi Perkuliahan:

Mengetahui bentuk-bentuk penulisan nonfiksi, bentuk dan etika penulisan nonfiksi
Mengenal dasar-dasar penulisan nonfiksi
Mengenal dan memahami bentuk penulisan feature
Memahami teori penulisan feature
Mengenal dan memahami teknik liputan
mengenal dan memahami teknis penulisan feature
Evaluasi karya tulis peserta
Review kegiatan

Informasi dan pendaftaran:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
T/F 022 4261548
(Setiap Senin s/d Minggu, pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Dibuka Pendaftaran Kelas Foto Cerita Angkatan II

Tujuan dari kelas ini adalah peserta dapat memahami proses pembuatan foto dokumenter dengan konsep story telling. Kelas dilaksanakan dalam waktu satu bulan, sebanyak 8 pertemuan serta bimbingan pembuatan foto dokumenter. Di akhir kelas, setiap peserta diharapkan mampu menghasilkan satu foto cerita yang nantinya akan dipamerkan dan dipresentasikan berupa slide show di Tobucil. Waktu fleksibel

Peserta dibatasi maksimum lima orang, dikhususkan untuk mahasiswa atau umum yang ingin mengenal tentang foto dokumenter. Tidak diharuskan memiliki kamera DSLR. Boleh menggunakan kamera apapun. Memahami dasar fotografi dan editing foto.

Setiap pertemuan akan berlangsung selama 120 menit.

Materi yang akan diberikan :
Pengenalan foto dokumenter ( 2 x pertemuan)

Menggagas cerita untuk foto dokumenter (1x pertemuan)

Riset dan observasi ide cerita (2 x pertemuan)

Praktik pembuatan foto dokumenter (3x pertemuan)

Kelas ini merupakan workshop kecil yang akan melatih peserta untuk bercerita melalui fotografi. Peserta diberi kebebasan memilih tema cerita. Kelas berisi pemberian materi, diskusi ide cerita, referensi foto dokumenter dan praktek membuat foto dokumenter.

Kelas akan berlangsung setiap hari Senin 17.00. Kelas dimulai pada tangga 4 Juli.

Biaya: Rp. 250.000/peserta 

Tutor : Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Pembuat foto dokumenter dan penulis lepas,

Pewarta foto Kompas 2007-2010
Peserta workshop Angkor Photo workshop 2010
sedang belajar photojournalism di Ateneo de Manila University
http://www.arumaum.com

Informasi dan pendaftaran lebih lanjut hubungi:
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
(Senin - Minggu, Pk. 09.00 - 20.00 WIB)
Google Twitter FaceBook

Sunday, September 4, 2011

Dibuka Pendaftaran Kelas Public Speaking Angkatan I

Tobucil  & Klabs membuka kelas Public Speaking Angkatan I dengan mentor Theoresia Rumthe (http://perempuansore.blogspot.com twitter @perempuansore). 


Kelas akan diselenggarakan selama 8 kali pertemuan dan dua jam untuk setiap pertemuannya dengan biaya keikutsertaan Rp. 250.000.


Materi kelas:
Minggu 1: Apa itu Public Speaking?
Minggu 2: Menguasai teknik rahasia berbicara, olah vokal, gesture.
Minggu 3: Menuliskan kerangka pemikiran, diskusi mengenai penghalang bicara di depan umum.
Minggu 4: Mengenal audience.
Minggu 5: Radio announcer
Minggu 6: Scriptwriting.
Minggu 7 & 8: Latihan, Presentasi.

Jadwal: Jumat, setiap Pk. 15.00 - 17.00 WIB
Jumlah peserta: 5-7 maks.
Tujuan: semua orang berani bicara di depan dan mengemukakan pendapatnya tanpa blah bloh  :D

Informasi dan pendafataran dapat menghubungi:
Tobucil & klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548
Senin s/d Minggu Pk. 09.00 - 20.00 WIB

Follow twitter tobucil untuk mendapatkan informasi kegiatan tobucil terkini: @tobucil
Google Twitter FaceBook

Call for Essays: Dialog Panel Pesta Filsuf "Etika di Media"

Madrasaf Falsafah Sophia bekerja sama dengan Tobucil & Klabs mengundang siapapun untuk mengirimkan karya tulis bertemakan Etika di Media. Karya tulis tersebut akan dipresentasikan di acara Pesta Filsuf ke-2 yang akan dilaksanakan pada 20 November 2011.

Kriteria Karya Tulis
• Karya tulis berjenis esai
• Panjang tulisan tidak dibatasi

Karya tulis diharapkan sudah diterima pada 23 Oktober 2011; dikirimkan ke tobucil@gmail.com/ setiaphari@yahoo.com

Selain memberikan ruang dan waktu untuk mempresentasikan karya tulis tersebut di acara Pesta Filsuf, kami belum bisa menjanjikan imbalan apapun bagi mereka yang karya tulisnya terpilih.

Semoga Socrates dan kolega-koleganya memberkati.

Salam,
Panitia Pesta Filsuf ke-2
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin