Sunday, October 30, 2011

Kelas Foto Cerita Tobucil #2: Penutupan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Kelas foto cerita Tobucil #2 akhirnya menemui pamungkasnya. Setelah sukses dengan pamerannnya di angkatan pertama, angkatan kedua ini juga memilih pameran untuk menjadi puncak acara. Tercatat ada tujuh peserta dalam kelas foto cerita angkatan ini, yakni Desiyanti, Rudy, Bocha, Dhiko, Palupi, Claudine, dan Keni.

Acaranya sendiri berlangsung cukup sederhana dengan durasi sekitar satu setengah jam saja. Meski sederhana, namun suasana sentimentil begitu terasa. Ini disebabkan oleh sesuatu yang menurut mentornya sendiri, Arum Tresnaningtyas, "Personal. Aku ingin mereka memotret hal-hal yang dekat dengan keseharian. Bukan ide-ide besar seperti kemiskinan dan lain-lain." Dibuka dengan sajian musik live, acara pameran tersebut dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing peserta tentang fotonya yang disajikan via slideshow plus musik latar yang dipilih atas selera pesertanya sendiri.

 Foto-foto Keni K. Soeriaatmadja dengan papan selancarnya. Ini adalah jepretannya Desiyanti.

Keni K. Soeriatmadja membuka presentasi dengan temanya yang berjudul Lucas and sons. Ini kisah tentang rumah yang memproduksi papan selancar. Bukan itu yang menarik, melainkan bagaimana hubungan ayah dan anak dibangun dengan sangat dekat di rumah tersebut. Berikutnya yang tampil ada Bocha dengan topiknya berjudul My World, Papuli (Benang Upik), Desiyanti (Miauw), Rudy Rinaldi (Baloon Man), Dhika Pranastyasih (Escape), dan Claudine (Jari Jemari). Karya-karya itu sendiri selain dipresentasikan, juga dipamerkan di beranda Tobucil. Dipamerkan tidak hanya foto saja, melainkan juga barang-barang personal yang berkaitan dengan foto tersebut. Misalnya, Mba Keni, ia membawa juga papan selancar.

 Arum sang tutor. Foto oleh Desiyanti


Tentang kelasnya sendiri, Arum berkomentar, "Kelas yang ini, menjadi sangat bersemangat menjelang akhir. Ini berbeda dibanding kelas pertama yang pencapaiannya secara perlahan namun bertahap. Ya, dinamika aja sih." Meski demikian, angkatan kedua ini, bagi Arum, pamerannya lebih ramai dan seru. Acara pun ditutup dengan diskusi ringan dan makan makanan ringan.

Kesan-kesan dari para peserta:
Palupi              : "Asik bisa bikin gurunya stres."
Dhiko              : "Kelasnya rame, menyenangkan, nambah ilmu."
Bocha          : "Kelasnya oke, nambah pengetahuan tentang foto cerita, ketemu orang-orang yang suka fotografi dengan minat yang berbeda-beda." 
Keni                : "Ternyata kelas ini membuat saya bisa melihat yang biasa-biasa aja jadi luar biasa."
Claudine         : "Seru, jadi banyak belajar tentang bercerita lewat gambar."
Echie              : "Seneng ikut kelas ini, temen-temennya asik, foto-fotonya bagus, jadi minder."
Rudy               : "Senang, bisa melihat sesuatu dengan mata baru."

Sampai jumpa di angkatan tiga yang katanya Januari!



Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Kant dan Hegel

Selasa, 25 Oktober 2011

Ada kisah tentang seseorang di Koenigsberg. Ia sangat disiplin dan teratur, sehingga orang itu menjadi acuan masyarakat kota. Misalnya, "Hey, dia lewat alun-alun ini, artinya waktu tengah menunjukkan pukul tujuh." Sampai suatu hari ia terlambat bangun, dan seisi kota pun mengalami keterlambatan.

Namanya adalah Immanuel Kant. Seorang filsuf yang tak pernah keluar kota sepanjang hidupnya, namun sumbangsih pemikirannnya amat penting bagi dunia. Lahir tahun 1724, Kant hidup di jaman transisi antara Pencerahan dan Romantik. Sumbangan pemikiran terbesarnya adalah mendamaikan dua kutub yang berseberangan dari pemikiran sebelumnya, yakni Rasionalisme dan Empirisisme. Kant berkata bahwa, "Keduanya separuh benar." Empirisisme betul bahwa manusia memperoleh segala gagasan-gagasannya lewat pengindraan, namun Rasionalisme juga betul bahwa ada ide bawaan dari lahir yang dibawa manusia, yaitu: meletakkan seluruh pengalamannya dalam kacamata ruang dan waktu.

Setelah itu Kant juga berkata tentang fenomena dan noumena. Katanya, apa yang sanggup diketahui indra manusia adalah dunia fenomena saja. Misalnya, jika kita melihat gelas, maka yang kita lihat adalah "gelas yang ditampakkan pada kita". Gelas itu sendiri mempunyai suatu substansi tersendiri yang kita tidak tahu, alias "gelas pada dirinya sendiri" alias das ding an sich. Noumena juga terkandung pada konsep-konsep ideal seperti keadilan, Tuhan, jiwa, ruh, dan hal-hal non-indrawi lainnya. Lebih jauh, Kant mengatakan bahwa noumena, meskipun tak mampu diketahui, namun bukannya tak penting. Noumena tetap harus ada, sebagai postulat, sebagai tuntutan moral, sebagai fondasi nilai-nilai ideal.


Patung Kant di Koenigsberg yang sekarang bernama Kaliningrad dan menjadi bagian dari Russia. Gambar diambil dari sini.

Setelah Kant ada seorang Prussia lainnya bernama George Wilhelm Friedrich Hegel. Lahir tahun 1770, ia disebut-sebut sebagai "anak kandung jaman Romantik". Hegel, kata Bambang Q-Anees, salah seorang tutor dalam kelas Filsafat untuk Pemula, "Adalah titik puncak paling rendah yang harus dicapai seseorang yang ingin dengan fasih belajar filsafat Barat. Minimal sampai Hegel orang harus hafal pemikiran-pemikirannya, setelah itu baru tak lagi wajib." Pemikiran-pemikiran Hegel sungguh idealis sekaligus optimis, menunjukkan suatu kesamaan dengan jaman Romantik yang begitu yakin dengan intuisi, perasaan, dan self expression, alih-alih akal budi Pencerahan yang dingin dan kaku.

Yang terkenal dari Hegel adalah filsafat sejarahnya. Katanya, ada roh absolut yang mendasari dunia ini. Roh absolut merealisasikan dirinya lewat dialektika kehidupan. Dialektika itu berisi tesis, antitesis, dan sintesis. Misalnya, Hitler, dengan segala perbuatannya, adalah tesis. Lalu datang perang dunia kedua sebagai antitesisnya (penentang), yang menghasilkan suatu kesimpulan baru, yaitu, misalnya berakhirnya dunia. Tapi tidak cukup sampai disitu, perang dunia menjadi suatu tesis baru, yang barangkali antitesisnya adalah perang dingin. Demikian Hegel menyebutkan suatu alur sejarah, yang makin lama "membentuk kesadaran baru bagi roh absolut". Dialektika ini punya tujuan alias teleologis. Membaca filsafat Hegel, efeknya biasanya semacam rasa cerah dan penuh harap.

Demikian pemikiran kedua filsuf besar yang sangat besar pengaruhnya bagi dunia. 



Google Twitter FaceBook

Friday, October 28, 2011

Call for Essays: Dialog Panel Pesta Filsuf "Etika di Media"


Madrasah Falsafah Sophia bekerja sama dengan Tobucil & Klabs mengundang siapapun untuk mengirimkan karya tulis bertemakan Etika di Media. Karya tulis tersebut akan dipresentasikan di acara Pesta Filsuf ke-2 yang akan dilaksanakan pada 11 Desember 2011.

Kriteria Karya Tulis
• Karya tulis berjenis esai
• Panjang tulisan tidak dibatasi

Karya tulis diharapkan sudah diterima pada 19 November 2011; dikirimkan ke tobucil@gmail.com/ setiaphari@yahoo.com

Selain memberikan ruang dan waktu untuk mempresentasikan karya tulis tersebut di acara Pesta Filsuf, kami belum bisa menjanjikan imbalan apapun bagi mereka yang karya tulisnya terpilih.

Semoga Socrates dan kolega-koleganya memberkati.

Salam,
Panitia Pesta Filsuf ke-2
Google Twitter FaceBook

Thursday, October 27, 2011

Pameran & Slideshow Foto Karya Kelas Foto Cerita @tobucil "Kami Punya Cerita #2"

Kami Punya Cerita #2
Pameran & slideshow foto karya kelas foto cerita tobucil angkatan II


Sabtu, 29 Oktober 2011
Pk. 16.00 - 18.00 WIB


menampilkan karya :
Dhika Pranastyasih
Rudy Rinaldi
Claudine Patricia
Palupi Sri Kinkin
Annisa Alhamdani
Desiyanti Wirabrata
Keni K.Soeriaatmadja

Jumpa lagi di Kami Punya Cerita #2


Tidak terasa kelas foto cerita angkatan kedua sudah usai. Tujuh orang peserta kelas foto cerita akan menyajikan cerita yang sederhana, ringan namun menarik. Cerita yang dianggap sepele dan cerita keseharian yang seringkali terlewatkan.

Ada banyak cerita yang akan dipamerkan. Salah satunya cerita tentang perajut dan benangnya, cerita tentang tukang balon dan juga cerita tentang kucing kesayangan.

Fotografi menjadi cara kami menyampaikan cerita. Di kelas ini kami belajar melihat bukan dengan kamera baru melainkan mata baru. Melihat segala sesuatu dengan lebih jeli. Memotret hal hal kecil menjadi sesuatu yang berarti.

Kamera hanyalah alat, kamera sesungguhnya ada pada mata dan hati kami. Kami tidak peduli dengan jenis kamera dan lensa yang kami pakai. Kami hanya ingin berkarya dan berbagi cerita.

Kumpulan cerita sudah siap untuk dibagi. Silahkan datang dan menikmati cerita kami


Sampai jumpa di Kami Punya Cerita #2

Salam
Arum Tresnaningtyas Dayuputri
pecinta fotografi yang kebetulan mengajar Kelas Foto Cerita Tobucil
Google Twitter FaceBook

Sunday, October 23, 2011

KlabKlassik: Nonton Bareng Film "Notes Interdites"




There are three things i don't believe in:
i don't believe in medicine
i don't believe in sunspots
and i don't believe in the art of conducting
--Leo Tolstoy

Tagline tersebut menjadi pembuka film "Notes Interdites", film dokumenter yang mengisahkan tentang konduktor Gennadi Rozhdestvensky, seorang konduktor ternama asal Rusia. Film ini bertutur tentang persiapan, rehearsal, dan kebijaksanaan dari sang konduktor ketika tengah mempersiapkan orkestra untuk konser. Ada juga adegan ketika Gennadi mengajar murid-muridnya di konservatorium Moskow. Gennadi bukanlah konduktor konvensional. Gayanya atraktif, aktif, dan menghibur. Ia ingin orkestra hidup bersama dengan gestur tubuhnya.

Film ini menarik, selain atraksi Gennadi dan juga caranya mengajar yang cukup keras, ada beberapa review sejarah tentang perkembangan orkestra musik di Rusia. Gennadi mengutip banyak kalimat-kalimat dari Prokofiev, Stalin, Tolstoy hingga Gorky. Mereka semua berdebat tentang musik apa yang bagus, tentang musik apa yang cocok bagi Rusia (kala itu Soviet). Apakah musik yang menyentuh? Apakah musik yang menyemangati orang banyak? Atau apa? Demikian adalah hal yang lumrah bagi negara dengan ideologi keras semisal Uni Soviet. 


Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Empirisisme

Selasa, 18 Oktober 2011

Bagaimana Anda Tahu?

Inilah pertanyaan yang menjadi senjata kaum empiris. Berbagai argumen yang melibatkan hal metafisik seperti, "Aku lahir dengan membawa ide bawaan dari dunia sebelumnya," bisa dipatahkan dengan sebaris pertanyaan, "Bagaimana anda tahu?" Bahkan suatu ungkapan sehari-hari seperti, "Sampai jumpa besok ya!" kaum empiris bisa saja bertanya, "Bagaimana anda tahu bahwa hari esok itu akan ada?" 

Pertanyaan tersebut betul-betul bola penghancur. David Hume (1711-1776) adalah tokoh empirisisme yang paling keras dan konsisten. Bahkan ia menolak adanya sebab akibat atau kausalitas, katanya ini pun ilusi. Jika tangan kita merasa panas oleh sebab api, maka sesungguhnya ada dua fakta yang niscaya, pertama adalah aku yang merasa panas, kedua adalah api. Namun persoalan apakah keduanya mempunyai sebab akibat hadir oleh sebab dihubung-hubungkan saja. 

Meski terasa berlebihan, namun empirisisme ini mau mengingatkan kita untuk menghindari keterburu-buruan dalam menggeneralisasi. Misalnya, oleh sebab kita memakan nasi goreng enak di restoran Pak Duleh di jalan Dago, kita langsung menyimpulkan bahwa seluruh menu restoran Pak Duleh adalah enak. Ini jelas sebuah ilusi, bahwa tidak ada pengalaman indrawi yang cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa semua menu restoran Pak Duleh adalah enak. Namun juga tidak mungkin kita mencoba semuanya untuk sekedar berkata menu restoran Pak Duleh adalah enak. 

Manusia perlu generalisasi karena kenyataan bahwa hidup ini singkat, tidak mungkin melakukan verifikasi atas semua hal. Namun derajat probabilitas tetap perlu, ketika kita baru mencoba nasi gorengnya saja, maka derajat probabilitas untuk mengatakan menu restoran Pak Duleh enak terang saja rendah. Tapi kalau kita mencoba sepuluh menu dari seratus, derajat probabilitasnya tinggi dan kesimpulan menjadi cukup valid.

Google Twitter FaceBook

Monday, October 17, 2011

KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)

Minggu, 16 Oktober

KlabKlassik kali ini tidak melulu mendengarkan musik, melainkan ada juga acara menyaksikan film. Hanya saja dari film tersebut tetap dibahas music scoring-nya, atau musik latarnya (bukan soundtrack). Untuk memahaminya betul-betul, film diputar dari awal sampai akhir.

Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorsese yang diperankan oleh Robert de Niro dan Jodie Foster. Ceritanya adalah tentang supir taksi yang gelisah oleh keadaan di sekitarnya. Ia merasa bahwa "Animals come out at night," setelah menyaksikan fakta disana-sini terdapat pelacur, penjahat, dan berbagai ragam keburukan lainnya. Sebagai supir taksi, ia ingin melakukan perubahan, ingin menjadi pahlawan. Maka itu ia membeli pistol, menembaki para penjahat dan menyelematkan salah seorang pelacur untuk dipulangkan pada kedua orangtuanya. Film ini, meski alur ceritanya seperti sederhana, namun penggambarannya agak gelap dan absurd. Betul-betul mencerminkan kegelisahan eksistensial seorang supir taksi yang bisa dibilang tidak tinggi secara strata sosial masyarakat.

Robert de Niro sebagai Travis Bickle. Gambar diambil dari sini.

Meskipun yang datang tak terlalu banyak, Diecky sukses memancing kekritisan para pendatang. Ia menyebutkan bahwa dalam music scoring garapan Bernard Hermann tersebut, hanya ada dua lagu yang dominan. Pertama, lagu jazz sendu. Kedua, lagu dengan interval berdekatan yang menyebabkan disonan. Kata Diecky, "Lagu jazz biasa diputar ketika sang supir tengah bermonolog dan mengendarai taksinya, sedangkan lagu dengan interval berdekatan digunakan ketika adegan-adegan yang dianggap 'penting' dan harus diberi aksen." Kedua lagu dominan tersebut dianggap berhasil menyuguhkan dinamika emosi antara yang ideal dan yang riil, termasuk ketika film memasuki sesi akhir: ada adegan yang tidak masuk akal ketika supir taksi itu berambut normal kembali (sebelumnya di mohawk) dan sehat seperti sediakala (sebelumnya kena tembak tangannya), lalu ia mengantarkan wanita yang sempat menjadi pujaannya. Menilai lagu yang dimainkan adalah lagu jazz itu, maka para pendatang memberi kesimpulan bahwa jangan-jangan adegan terakhir itu semacam sesi nostalgia saja, tidak riil dan mungkin hanya ada dalam pikirannya.

Minggu depan Diecky akan mengusulkan sebuah film musikal yang katanya, "Saya jamin sembilan puluh persen orang belum nonton." Mari kita tunggu!

Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Rasionalisme

Selasa, 11 Oktober 2011

Setelah dua pertemuan membahas latar belakang sejarah, kelas Filsafat untuk Pemula mulai mengerucut membahas pemikiran demi pemikiran. Tema besarnya tetap: "Ada Apa dengan Filsafat Modern?" kali ini dengan subtema "Rasionalisme".

Diceritakan dulu awal mulanya dua pemikir besar dari jalur Rasionalisme. Yang pertama tentu saja Rene Descartes. Dengan cogito ergo sum-nya, Descartes disebut-sebut sebagai Bapak Filsafat Modern. "Aku berpikir maka aku ada," kata Descartes, sebuah ungkapan yang optimis tentang adanya "kepastian yang tak terbantahkan yang bermula dari keraguan". Setelah itu ada yang bernama Boruch Spinoza, seorang Yahudi yang diusir dari komunitasnya oleh sebab paham panteisme. Baginya, alam semesta adalah Tuhan, dan Tuhan adalah alam semesta itu juga. Pada masa itu, pemahaman seperti dianggap bid'ah dan mesti disingkirkan. 

Masa itu, sekitar abad ke-17 atau tak lama pasca berakhirnya Renaisans, Eropa berada dalam masa yang disebut Barok. Masa dimana oleh sebab Perang Tiga Puluh Tahun yang berkepanjangan (dicurigai adalah perang Katolik versus Protestan), rakyat menjadi menderita namun para penguasa terus menerus memperkaya dirinya. Istana Versailles adalah contoh nyata jaman Barok, bagaimana sebuah pusat kerajaan megah dibangun di tengah-tengah rakyat yang sengsara. Di istana itu sendiri termuat ornamen-ornamen yang sangat detail dan terkesan kurang esensial. Misalnya, ada gargoyle di ujung atap yang diukir secara detail, padahal mungkin tak akan ada seorangpun yang akan memperhatikannya! Ini sejalan dengan jaman itu yang mana kaum bangsawannya rajin menggunakan wig serta kaum wanitanya mengenakan renda-renda. Seolah-olah memang banyak yang harus ditutup-tutupi.

Kang Rosihan Fahmi mempresentasikan Rasionalisme

Rasionalisme adalah salah satu produk nyata era Barok. Ada kecenderungan memang, bahwa pemikiran yang ditawarkan cenderung "mengawang-ngawang" dan mengabaikan fakta-fakta indrawi seperti semangat jaman yang dianutnya. Namun perlu diakui juga bahwa filsafat adalah upaya memotret jamannya secara refleksif. Jadi yang terpenting adalah bukan mengatakan "Ah, pemikiran tersebut telah ketinggalan," tapi lebih baik merenungkan bahwa, "Yang demikian adalah relevan pada jamannya." Hal ini terutama untuk membela tuduhan yang kerap disematkan pada Rasionalisme, tentang kenyataan bahwa nalar yang mereka agungkan bertanggungjawab pada banyaknya perang di jaman Modern atas nama nalar. Holocaust misalnya, Perang Dunia, Perang Dingin, apalagi kalau bukan nalar yang membenarkan semua itu?

Google Twitter FaceBook

Revolusi 2.0: Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara

Selasa, 11 Oktober 2011



Bertempat di ruang pertemuan AKATIGA, sebuah diskusi dihelat. Merlyana Lim bertindak sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Indra Hikmawan. Diskusi yang diikuti oleh sekitar lima belas orang itu berlangsung atas kerjasama dari AKATIGA, Aliansi Jurnalis Independen, dan Tobucil & Klabs.

Diskusi yang bertemakan "Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara" ini dibuka dengan presentasi Ibu Merlyana selama kurang lebih satu jam. Ibu Merlyana banyak mengambil contoh dari Arab Spring, yaitu fenomena awal tahun 2011 ketika dunia Timur Tengah dan Afrika Utara dilanda "demam revolusi" untuk menggulingkan kekuasaan yang ada. Tunisia dan Mesir termasuk yang berhasil ketika Presiden Ben Ali dan Mubarak keduanya sama-sama turun oleh sebab aspirasi rakyat. Banyak kalangan percaya bahwa mobilisasi massa penyebab revolusi ini salah satunya adalah peran jaringan sosial semacam Facebook dan Twitter.

Meski demikian, Ibu Merlyana tidak serta merta percaya itu. Penyebab revolusi lebih kompleks dari sekedar Facebook dan Twitter. "Kita harus merunut terlebih dahulu tentang sejarah Arab Spring itu sendiri. Sebelum adanya mobilisasi massa di Tahrir Square, letupan-letupankecil anti pemerintah sudah ada," demikian katanya. Secara statistik, tambahnya, justru jumlah attending di Facebook dengan kenyataan biasanya hanya 0,3 % saja (jika 1000 orang menyatakan attending, maka itu artinya 3 orang yang akan muncul). Selain itu, isu-isu yang sampai itu cenderung "disederhanakan" dan diupayakan agar mudah dimengerti. Misal, pesan "Turunkan Mubarak" adalah lebih mudah dipahami daripada menuliskan segala persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang pelik.

Yang menarik, Ibu Merlyana mencermati fenomena peran supir taksi dalam Arab Spring. Katanya, "Ketika orang naik taksi di Mesir, sang supir selalu menyelipkan kalimat promosi tentang adanya kumpul-kumpul di Alun-Alun Tahrir pada hari dan jam sekian. Meskipun tidak punya kepentingan politis apapun, supir taksi yang mampu bicara politik biasanya menjadi dianggap 'gaya'" Ibu Merlyana kemudian secara tidak langsung menyimpulkan bahwa Facebook dan Twitter adalah bukan penyebab signifikan bagi suatu revolusi. Ia bisa, tapi ketika didorong oleh kompleksitas elemen-elemen lainnya. Tapi Facebook dan Twitter bisa sangat diandalkan untuk mengatasi hal-hal yang sifatnya "narasi kecil", sebagai contoh koin Ibu Prita. Pada tingkat yang narasi yang lebih besar seperti pemberantasan korupsi, Facebook dan Twitter belumlah cukup jika tidak ditunjang bentuk "kekuasaan" yang lain.


Google Twitter FaceBook

Sunday, October 9, 2011

Filsafat untuk Pemula: Renaisans

Selasa, 4 Oktober 2011

Apa sesungguhnya Renaisans itu? Ini adalah suatu periode dalam peradaban Eropa ketika mereka menemukan tiga teknologi utama bernama kompas, mesiu, dan mesin cetak. Meskipun dalam kacamata kita hari ini yang demikian nampak sederhana, namun pada masa itu seolah mengubah segalanya. Manusia menjadi lebih berani, percaya diri, dan mengaku dirinya sebagai pusat (antroposentris).

Renaisans tidak hanya dipicu oleh itu, tapi juga berbagai keadaan seperti runtuhnya kewibawaan otoritas gereja, serta digalinya kembali literatur Yunani, Romawi, dan juga Arab. Eropa sekitar abad ke-14 saat itu dilanda semacam "ledakan kegembiraan" karena seolah lepas dari kungkungan teosentrisme yang dianggap menekan sekaligus korup. Abad Pertengahan lambat laun ditinggalkan, Eropa masuk ke jaman baru yang segala-galanya serba manusia.

Patung Daud karya Michaelangelo. Contoh kesenian Renaisans. Gambar diambil dari sini

Isu menarik dalam Renaisans ini adalah humanisme. Untuk "pertama kalinya", kemanusiaan menjadi sesuatu yang rajin dibicarakan. Kata Ami, sang tutor, "Sebelumnya, nalar adalah budak iman. Di era Renaisans nalar menjadi bebas. Itulah cikal bakal humanisme: kebebasan nalar." Meskipun di jaman klasik Yunani dulu paham "manusia adalah pusat dari segala sesuatu" sudah pernah dibicarakan, namun di era Renaisans paham tersebut sungguh-sungguh dibangkitkan. Efeknya, teknologi meningkat pesat, pengetahuan manusia menjadi bertambah luas. Indikatornya adalah lahirnya banyak manusia unggul seperti Leonardo Da Vinci, Niccolo Machiavelli, Martin Luther, Johann Gutenberg dan Christopher Colombus. 

Tidak hanya di bidang teknologi, filsafat juga berkembang. Renaisans adalah embrio filsafat modern yang kemudian kita kenal ragam-ragamnya. Minggu depan akan mulai dibahas salah satu aliran dalam filsafat modern bernama Rasionalisme. Belum terlambat untuk bergabung!

Google Twitter FaceBook

Kelas Foto Cerita: Berbagi Pandangan Mata

Senin, 3 Oktober 2011

Kelas Foto Cerita angkatan kedua berkumpul dua kali seminggu. Kelas yang ditutori Arum Tresnaningtyas Dayuputri ini adalah yang kedua kali, setelah sukses menutup angkatan pertamanya dengan pameran pada Agustus lalu.

Pertemuan kemarin berlangsung ceria. Penyebabnya adalah foto-foto dari Rudi yang dianggap menarik sekaligus menggelikan. Rudi memotret berbagai situasi yang berhubungan dengan balon. Ia mengambil tempat di jalan Riau sekitar FO Heritage dan suasana Dago Car Free Day di hari Minggu. Foto-foto tersebut ditampilkan satu per satu di laptop milik Mba Arum. Ada foto yang menurut Mba Arum sangat bagus, yaitu ketika balon Spiderman seperti menutupi wajah seorang ibu, terkesan wajah si ibu berubah menjadi Spiderman. Yang menggelikan adalah, seringkali objeknya tidak berhubungan dengan balon, ada misalnya, foto wanita cantik atau orang bermesraan. Hal tersebut yang membuat suasana Kelas Foto Cerita berlangsung gembira.

Selain Rudi, pertemuan hari itu juga membahas foto-foto dari peserta lain. Misalnya Mba Upi dengan temanya, benang. Lalu Claudine berjudul tangan. Diko bertemakan proses ke Gunung Gede, serta Boca yang memotret ekspresi anak. Pembahasan ini terkait dengan pernyataan Mba Arum, "Kita bisa lihat bahwa bercerita itu tidak perlu dengan kata-kata. Rangkaian foto yang disusun apik bisa menjadi sebuah cerita juga." 

Mba Arum bersama-sama dengan peserta secara demokratis mulai memilih foto-foto mana yang kiranya menarik untuk dipamerkan di akhir pertemuan. Kelas ditutup dengan menonton film dokumenter pendek.




Google Twitter FaceBook

Wednesday, October 5, 2011

Undangan Diskusi: Revolusi 2.0: Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara



Munculnya gerakan kolektif warga di berbagai negara yang mampu menumbangkakn rezim berkuasa telah menjadi perhatian banyak kalangan. Perhatian setidaknya ditujukan pada dua hal. Pertama, pada revolusinya itu sendiri; bagaimana pemimpin-pemimpin otoriter yang telah berkuasa selama puluhan tahun di beberapa negara akhirnya ditumbangkan oleh gerakan warga yang berlangsung secara berantai dari satu negara ke negara lain. Perhatian lain ditujukan kepada proses terjadinya revolusi, dengan cara dan alat apa revolusi itu pecah. Tentang hal ini, di antara yang menarik perhatian adalah digunakannya internet—termasuk media sosial seperti twitter, facebook, dan blog—dalam berlangsungnya gerakan revolusi.

Terkait penggunaan internet itu, di Indonesia, gerakan kolektif seperti dukungan terhadap KPK (dalam kasus “Cicak vs Buaya”), juga gerakan koin untuk Prita, dan beberapa kasus lainnya, yang di antaranya digalang melalui internet, dalam tempo singkat mampu mengumpulkan orang secara virtual untuk bersuara dan berkontribusi dalam isu-isu yang diangkat itu.  
Gerakan-gerakan masyarakat, baik yang terjadi di dunia internasional, maupun di Indonesia, yang melibatkan penggunaan internet di dalamnya, sepintas memang bisa mengarah ke kesimpulan bahwa internet memiliki peran amat penting dalam kemunculan dan bergulirnya gerakan-gerakan itu. Meski begitu, sebetulnya masih sulit untuk menemukan suatu kajian mendalam mengenai perkara ini; seberapa besar sebenarnya peran internet dalam mendorong munculnya gerakan-gerakan sosial untuk terjadinya perubahan di suatu negara.

Untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai fenomena gerakan sosial yang mendorong terjadinya revolusi di berbagai negara, serta gerakan-gerakan kolektif yang terjadi di Indonesia, dan hubungannya dengan penggunaan internet dalam gerakan-gerakan itu, AKATIGA Pusat Analisis Sosial bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung dan TOBUCIL, akan menyelenggarakan diskusi dengan tajuk Revolusi 2.0: Internet dan Gerakan Sosial di Berbagai Negara.

Tujuan diskusi ini adalah memahami secara utuh gerakan-gerakan sosial yang mendorong terjadinya perubahan (revolusi) di berbagai negara yang terjadi baru-baru ini; bagaimana konteks sejarah, politik, ekonomi, dan lainnya; memberi pemahaman tentang bagaimana dan seberapa besar peran internet dalam mendorong terjadinya gerakan-gerakan kolektif di berbagai negara; mengetahui peluang kongkrit internet dalam kelangsungan gerakan sosial, terutama di Indonesia.

Pembicara dan Moderator
Pembicara dalam diskusi ini adalah Merlyna Lim. Beliau adalah  anggota The Consortium of Science, Policy and Outcomes and the School of Social Transformation - Justice and Social Inquiry Program  at Arizona State University. Selama beberapa tahun Merlyna Lim telah melakukan studi mengenai hubungan dan peranan internet dalam masyarakat di berbagai negara, termasuk Timur Tengah dan Indonesia.

Moderator diskusi ini adalah Indra Hikmawan. Beliau adalah alumni S-2 Hubungan Internasional Australian National University yang kini mengajar di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran dengan fokus keahlian Komunikasi Media Global, Timur Tengah, Politik Islam, dan Punk Rock.

Waktu dan Tempat
Selasa, 11 Oktober 2011, Jam 9.30 – 12.00 dilaksanakan di Ruang Pertemuan AKATIGA Jalan Tubagus Ismail II No 2 Bandung. Telepon 022-2502302.

Terbuka untuk umum dan Gratis.



Google Twitter FaceBook

Sunday, October 2, 2011

Menyambut (Kembali) Djava String Quartet


Djava String Quartet (DSQ) yang akan tampil Jumat ini di Auditorium CCF bukanlah kelompok yang asing bagi Tobucil. Mereka pernah tampil di beranda Tobucil sekitar Juni tahun 2009 dalam acara Musik Sore Tobucil. Penampilannya amat memikat dengan beberapa lagu yang terdengar ceria, yaitu Eine Kleine Nachtmusic dari Mozart, Cublak-Cublak Suweng (video di atas), dan ditutup dengan The Entertainer, sebuah karya ragtime ciptaan Scott Joplin. Sambutannya sangat meriah, terlebih lagi kenyataan bahwa dua bulan sebelumnya mereka sukses menggelar konser di CCF Bandung dengan rekor penonton sold out. Kenyataan lain kedekatan DSQ dengan Tobucil, juga terbukti dari peran Mba Tarlen (pemilik Tobucil), yang pernah menjadi manajer bagi DSQ.

Jumat ini mereka hadir lagi. Djava String Quartet dengan formasi yang sama, Ahmad Ramadhan (biola), Danny Ceri (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto), dan Ade Sinata (cello) akan menampilkan gelaran lagi di Auditorium CCF. Meski personil sama, tentunya kematangan mereka berbeda. Jika dua tahun lalu itu mereka tengah menjalani masa-masa debut, sekarang mereka sudah aktif hingga ke mancanegara. Konser di Bandung ini persis digelar hanya beberapa hari setelah kepulangan mereka dari konser tur di Filipina. Jika tertarik untuk melihatnya, bisa ke Tobucil untuk membeli tiketnya. 




Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Pemetaan Filsafat Modern


Selasa,  27 September 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan tiga akhirnya dimulai juga. Yang daftar di angkatan ini bertambah ketimbang angkatan sebelumnya. Tercatat ada enam orang mengikuti kegiatan yang ditutori oleh Rosihan Fahmi, Bambang Q-Anees dan saya ini. Setelah sebelum-sebelumnya berbicara tentang era Yunani dan Abad Pertengahan, secara historik pembahasan Filsafat untuk Pemula ini maju ke abad yang dinamakan Modern. 

Rosihan Fahmi alias Kang Ami memulai pertemuan ini dengan membandingkan tiga periode sejarah yang sangat menonjol dalam peradaban Barat. Pertama, adalah era Klasik atau Antiquity. Era tersebut terbentang dari sekitar 500 tahun Sebelum Masehi hingga sekitar abad ke-5 Masehi. Dimulai dengan pernyataan Thales yang terkenal, "Alam semesta ini terbuat dari air." Meskipun sederhana, tapi pemikiran tersebut dianggap menandai perubahan dari cara pikir mitos ke logos. Sejak saat itu dimulailah kejayaan filsafat Yunani, yang melahirkan pemikir-pemikir semacam Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Era ini masih berlanjut meskipun kekuasaan Yunani ditaklukkan oleh Romawi. Romawi dengan Emporium Romanum-nya berjaya hingga Afrika dan Asia.

Kekristenan memulai sebuah peradaban baru di Barat. Meskipun awalnya tidak diterima, tapi lama-kelamaan pengaruhnya sangatlah besar. Momen kejatuhan Romawi salah satunya adalah ketika Kaisar Konstantin memeluk agama Kristen sehingga Kristen itu sendiri lambat laun menjadi agama negara. Itulah momen perdamaian antara Romawi dan Kristen (Padahal dahulunya Yesus sendiri disalib atas otoritas seorang Gubernur Romawi, Pontius Pilatus). Tak lama kemudian Romawi tumbang ke tangan kaum barbar seperti Vandal dan Visigoth. Dari kedua peristiwa itu muncul suatu periode sejarah baru bernama Abad Pertengahan atau Middle Ages. Suatu era dimana Kristen menjadi otoritas, dan filsafat dianggap "budak dari iman". Filsuf terkenal di era Abad Pertengahan adalah Thomas Aquinas, Duns Scotus, dan Petrus Abelardus.

Abad Pertengahan kemudian berakhir oleh sebab terbukanya banyak borok pada kekuasaan atas nama gereja ini. Misalnya, penjualan surat pengakuan dosa yang bernama indulgentia. Atau, keberadaan Paus yang pernah dua hingga tiga orang sekaligus di waktu bersamaan. Dalam tubuh Kristen ini juga terjadi reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther dan John Calvin dan menjadi cikal bakal Protestanisme. Di waktu bersamaan, ditemukannya kompas, mesiu, dan mesin cetak membawa suatu perkembangan kesadaran. Pada saat itu, Modern Age dimulai dengan Renaisans, yaitu jaman dimana masyarakat Eropa menggali kembali kejayaan filsafat Yunani dan mengubah paradigma pemikiran teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat).

Ketika dibandingkan dari kejauhan, memang tampak rapi jali hubungan antar ketiga era di atas. Namun Ami kemarin mengajak untuk melihat keseluruhannya secara lebih mikroskopis. Misalnya, di era filsafat Yunani, jangan salah, Thales itu agak dekat ke Mesir secara geografis dan bukan Yunani seperti Greece yang dibayangkan sekarang. Di Abad Pertengahan, jangan lupa juga filsafat Islam yang sedang terang benderang di bawah pemikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Abad Modern pun, meskipun dianggap suatu "ledakan kegembiraan", jangan lupakan juga bahwa kelak abad inilah yang melahirkan dua Perang Dunia yang amat menyengsarakan umat manusia. Ketika mengingat itu, manusia modern mulai sedikit demi sedikit menengok ke dunia Timur. Inilah sekali lagi, tujuan Kelas Filsafat untuk Pemula, mengajak pesertanya juga menggali kebijaksanaan Timur.


Masih belum terlambat untuk daftar, silakan!


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin