Sunday, November 27, 2011

Resital Klarinet & Piano: Urs Bruegger & Ratna Sari Tjiptorahardjo

Bandung
Rabu, 30 November 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.30

Informasi
Syarif (0817-212-404)

Urs Brugger (Klarinet)

Lahir di Biel, Switzerland. Meraih Teaching Diploma di bawah Kurt Weber. Urs Brugger menyelesaikan studinya meraih gelar Soloist Diploma di Hannover Academy of Music di bawah Proffessor Hans Deinzer. Semenjak tahun 1970, dia berkarir sebagai principal clarinet player Orchestra Biel, Lucerne * Basel. Dia juga mengajar para peniup clarinet professional di Lucerne Conservatory. Dia telah beberapa kali mengunjungi Indonesia mengadakan Concert Tour sebagai anggota Trio La Tache. Sebagai dosen tamu mengajar Clarinet di Studio Musik Melodia, mulai bulan Agustus 2011.

Ratna Tjiptorahardjo (Piano)
Lahir di Bandung , dalam lingkungan keluarga yang musikal.Pelajaran musik piano dimulai sejak umur 7 tahun dengan guru-guru pertamanya Mnr Domm, Ibu Yenly Kasim dan Ibu Ibrahim.
Pelajaran musik tingkat lanjut diterima dari Bapak Oerip Santoso, Bapak Su Saw Ching di Bandung meraih Diploma LRSM, ABRSM, London.
Pelajaran musik formal pertama didapatkan dengan bea siswa di Royal College of Music, London dibawah bimbingan Prof. Peter Element dan Mrs Judith Burton untuk pelajaran Music Performance dan Pedagogy. Pendidikan musiknya dilanjutkan di University of Melbourne, Australia dengan meraih gelar Master of Music Studies dibawah bimbingan Dr. Mikhail Solovey, Caroline Almonte dan Julie Haskell.
Ketika mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung pada tahun 1995-2000, banyak menerima bimbingan dari dosen tamu dari Jerman, Prof. Dieter Mack, seorang komponist dan musikolog bersama almarhum Hansjoerg Koch,seorang pianis konser. Sampai sekarang hubungan kerja dalam bidang musik masih terus berlanjut.
Di Melbourne aktif mengajar music sebagai guru piano privat dan aktif sebagai konduktor koor di Keluarga Katolik Indonesia, Melbourne. Konser yang akan diadakan Sepember 2012 untuk merayakan 25 th anniversary KKI Melbourne ini akan membawakan Missa Mozart, the Great Mass in C minor.
Di Bandung, membimbing dan mengelola sekolah musiknya, Studio Musik Melodia , Jalan Cipunegara 15 Bandung.Banyak diantara siswa/i didiknya yang berhasil menyelesaikan study musiknya dan berprofesi sebagai guru musik yang baik.

Program

Schumann - Fantasiestuecke Opus 73 fuer Klavier und Klarinette
Francis Poulenc - Sonata for Clarinet and Piano
Saint-Saens - Sonata for Clarinet and Piano
Darius Milhaud – Scaramouche
Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Persiapan Pesta Filsuf

Rabu, 23 November 2011


Pesta Filsuf yang merupakan acara tahunan Madrasah Falsafah, sebentar lagi akan digelar. Meskipun bertajuk tahunan, namun tahun lalu Pesta Filsuf urung digelar.  Rosihan Fahmi alias Kang Ami tidak mau batal lagi, sebagai koordinator Madfal, ia mengupayakan bahwa Pesta Filsuf mesti jadi digelar meski harus mundur hingga akhir tahun. Pesta Filsuf ditetapkan akan digelar pada 10 Desember alias kurang dari dua minggu lagi. Temanya adalah "Etika di Media".

Sebagai bentuk persiapan acara, Madfal melakukan dua hal, pertama: Membuka untuk umum siapa saja yang ingin jadi pembicara dengan mengumpulkan tulisan tentang Etika di Media, kedua: Mengundang dosen Unpar, Rudi Setiawan untuk "menggawangi" pertemuan Madfal selama tiga kali agar para aktivis Madfal bisa terangsang untuk ikut serta dalam penulisan. Mas Rudi ini datang selama tiga kali untuk membahas etika secara kanonik, yaitu definisi etika secara mendasar, agar ada kejernihan konsep sebelum masyarakat Madfal mulai menulis.

"Etika tidak sama dengan moralitas. Etika adalah kacamata kritis kita dalam memandang moralitas," demikian tekan Mas Rudi di Madfal. Setelah pertemuan pertama kedatangan Mas Rudi disesaki pendatang, pertemuan keduanya agak sepi. Banyak orang ada urusan dalam waktu bersamaan sehingga kehadiran Mas Rudi hanya ditemani Diecky, Mata, Hadi, dan saya. Meski demikian, Mas Rudi tetap bersemangat membagikan ilmunya. 

Mas Rudi menyinggung etika John Rawls yang menganggap keadilan sebagai utopia. Ketidakrataan ekonomi itu adalah hal yang niscaya, namun yang harus dilakukan adalah, "Ketika ada ketidakrataan, yang paling tertindas justru yang harus paling diutamakan," kata Mas Rudi. Lalu disinggung pula etika kepedulian dari Carol Gilligan yang sangat feminis. Selain itu, ada diskusi menarik antara Mas Rudi dan Diecky yang ditulis di sini.

Akan ada kedatangan Mas Rudi lagi ketiga kalinya di minggu depan sebelum Pesta Filsuf benar-benar dihelat. Mari "manfaatkan" kehadirannya!



Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Rudy Rinaldi


Sejak minggu kemarin, akan dimuat berturut-turut tulisan dari peserta Kelas Filsafat untuk Pemula yang telah berakhir dua minggu lalu setelah belajar selama delapan pekan. Temanya adalah tentang filsafat modern. Pemuatan ini menunjukkan hasil belajar (output) yang sudah diterima selama periode pertemuan tersebut. Berikut adalah tulisan output dari Rudy Rinaldi.

Saya memahami bahwa awal berdirinya filsafat modern diawali dengan lahirnya zaman renaisans di daratan Eropa. Ditandai berpindahnya pemikiran theosentris ke antroposentris, Dimulai dari reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther kepada petinggi-petinggi gereja yang pada saat itu secara tidak langsung memegang kekuasaan negara.  Selain memegang kekuasaan negara, petinggi-petinggi gereja pun “membatasi” pemikiran pemikiran yang datang kepada masyarakat dimana pada saat itu apabila ada suatu paham yang keluar dari ajaran gereja dapat dipahami sebagai paham yang “menyimpang” contoh seperti pemikiran Galileo galilea. Semangat renaisans lahir bukan hanya “didobrak” oleh kaum filsuf saja melainkan dari berbagai kalangan seperti seniman maupun musisi, lahirnya semangat ini menandai telah berakhirnya jaman kegelapan di eropa.

Perpindahan pemahaman Tuhan sebagai pusat atau theosentris ke manusia sebagai pusat atau yang kita sebut antroposentris patut kita pertanyakan. Memgapa pada masa paham theosentris eropa disebut sebagai jaman kegelapan atau Dark Age dan mengapa pula bahwa perpindahan kepaham antropsentris disebut sebagai pencerahan? bukankah jika kita renungkan kembali peham tentang Tuhan sebagai pusat segala sesuatu dapat menjadikan kita “Manusia” dan memahami keberadaan kita? Namun apa yang terjadi malah sebaliknya manusia telah menjauhi kemanusiaannya sendiri. Dengan kata lain bahwa pemegang kekuasaan ajaran theosentris telah gagal menjadikan manusia sebagai manusia. Dan jika saya ingin berlebihan pemegang paham theosentris menjadikan Agama sebagai komoditi untuk meraih kekuasaan.

Apabila saya pahami kembali pada masa itu Agama telah gagal menjadi “sekolah” untuk manusai belajar menjadi manusia, melainkan “memaksa” manusia untuk menghaba kepadanya dan menjauhkan manusia dari kemanusiaanya bahkan membuat jarak dengan satu sama lainya. Bukankah Agama hadir untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Laihrnya semangat renaisans membawa eropa menuju abad pencerahan. lahirnya pemikiran-pemikiran, pemahaman-pemahaman tentang pengetahuan baru memandai bangkitnya eropa. juga penemuan-pememuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan semakin membangkitkan gairah masyarakat eropa sebagai manusia-manusia yang maju diantara manusia yang lainnya. Paham-paham baru yang dilontarkan oleh para filsuf juga menandai pemahaman antrposentri telah menjadikan manusia eropa berada di zaman yang lebih maju serta berhasil menjadi “sekolah” bagi manusia untuk belajar menjadi manusa.
Google Twitter FaceBook

Sunday, November 20, 2011

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Iman Purnama

Selasa, 15 November 2011

Setelah tujuh pertemuan membahas materi, akhirnya kelas filsafat untuk pemula menemui pamungkasnya. Isinya adalah tentang kesan-kesan yang didapat selama kelas tersebut berlangsung. Rudy mengatakan, "Saya jadi ngerti pemikiran modern. Plus saya juga jadi mengerti kecemasan terbesar saya, yaitu: saya tidak pernah cemas." Lalu Firman berkata, "Jadi bertambahlah pergulatan batin saya." Grace menambahkan, "Saya jadi bertambah kritis, dan suatu waktu jadi berdebat dengan dosen karena mengatakan Yesus itu filsuf." Iman, peserta yang rajin hadir selama tujuh pertemuan, berhalangan di kelas pamungkas oleh sebab suatu keperluan. Namun ia tetap menyumbangkan tulisan via e-mail. Di bawah ini akan dipaparkan tulisan Iman, sebagai bentuk output dari kelas filsafat untuk pemula yang berjalan delapan pertemuan. Di posting-posting berikutnya akan diangkat juga tulisan dari teman-teman yang lain. Selamat membaca dan sampai jumpa!


Bandung, 15 November 2011

Untuk Mas Ami, Mas Syarif, Rudi, Firman “Dave Grohl”, Grace, Irman, Bapak Guru Agama, Teteh Berkerudung, Mas-mas Jawa yang kerja di penerbitan, kucing belang cokelat-putih, dan semua penghuni kelas filsafat Tobucil. Semoga tidak ada yg lupa disebut. Kalaupun ada, ya maafkanlah.

Barangkali, apa yang didapat dari filsafat modern tidak begitu banyak dari saya pribadi. Begitu-begitu saja. Tidak ada yang baru. Zaman pencerahan, sekularisme, jubah agama mulai dilepas, ilmu pengetahuan berkembang, orang-orang mulai atheis, dan lain-lain. Intinya, sepertinya umat manusia paling maju dalam periode ini (makanya namanya “modern”, seolah-olah “keren”, padahal mungkin juga tidak. Biasa saja). Tapi, jangan lupa juga, semua kemajuan itu juga ternyata membawa dampak lain. Perang Dunia yang dua biji itu terjadi di zaman ini. Bom atom yang bikin manusia cacat seumur hidup sampai ke mental-mentalnya, digunakan di zaman ini. Belum lagi muncul dua kekuatan yang saling ledek, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dalam bidang filsafat sendiri, Hegel berhasil menyempurnakannya. Sistemnya menjadi utuh. Barangkali benar yang Mas Ami dan Mas Syarif sering bilang, “Filsafat itu dari Socrates sampai Hegel itu 'hapalan', ke bawahnya bebas. Eksperimen.” (Tentang filsafat modern sendiri bisa dilihat di tulisan sebelumnya. Itu bagian kecil dari tugas filsafat komunikasi saya di kampus). 

 Bagi saya sendiri, yang paling penting dari setiap pertemuan kelas filsafat bukan pengajaran filsafat modernnya, tapi sesi bebasnya. Kalau tentang filsafat modern, itu bisa dibaca di buku-buku, terus bertanya kalau tidak mengerti. Bisa lah sedikit-sedikit paham dengan cara seperti itu. Saya sendiri, tanpa bermaksud sombong, mulai baca Dunia Sophie sejak 2 SMA. Jadi sudah tidak asing dengan hal-hal seperti itu. Hanya saja sekarang lebih lengkap pemahamannya, berkat temen-temen semua, tentunya. 

 Tapi kalau di sesi bebas? Belum tentu. Karena ya harap maklum, katanya filsuf itu orang yang ribet, susah dimengerti, bicara tentang hal-hal “absurd”, dan sibuk di dunianya sendiri. Jadi, ketika mau bicara dalam kelompok atau forum, mungkin apa yang ingin disampaikannya sebenarnya tidak sama persis dengan apa yang diucapinnya. Seringnya apa yang tersampaikan, hanya secuil, hanya beberapa bagian; padahal mungkin dalam kepalanya itu berputar-putar banyak pikiran, gagasan, saran, pendapat, dsb, yang meledak-ledak ingin keluar. Nah, pada titik itulah, kecerdasan menyampaikan pertanyaan atau pendapat (komunikasi) diolah. Bagi saya, dan mungkin beberapa teman lain, yang dibesarkan dalam lingkungan sekolah dimana guru berceramah seperti ustadz, itu menjadi pengalaman tersendiri. Pelan-pelan saya belajar. Apalagi yang sering dibahasnya tentang filsafat: sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, dan seringkali “radikal”. Ngomong-ngomong, saya kuliah di komunikasi juga ingin belajar hal seperti itu, hehehe. Syukurlah, saya bisa banyak belajar. I hate studying, but i love learning... 

 Di sisi lain, filsafat bagi saya bukan ilmu yang harus dipelajari benar-benar. Dalam artian, menghapal setiap pemikiran filsuf, tahunnya, pertentangannya, konteks zamannya, dsb, itu cuma secuil dari “kegiatan filsafat” saya. Kalau ditanya tentang Sartre atau Descartes, misalnya, saya pasti menjelaskan pemikiran mereka dengan tergagap-gagap, karena belum paham benar. Belum 'molotok' lah istilahnya kalau orang Sunda bilang. Lebih baik saya sodorkan buku tentang mereka saja. “Yeuh baca, urang ge can ngarti-ngarti amat.” 

Lalu, untuk apa filsafat? Menentang agama dan Tuhan? Ah, tidak juga sepertinya. Walau orang-orang luar sering menganggap orang yang berfilsafat itu atheis atau agnostik, termasuk kepada saya, tapi sebenarnya saya tidak bermaksud demikian juga. Mungkin iya, kalau mencermati perkembangan zaman sekarang, dimana agama dijual begitu indah di layar kaca dan di tempat-tempat lain, sehingga kehilangan ruhnya yang paling hakiki, menjadi atheis atau agnostik suatu pilihan yang “wajar” dan “menggoda”. Tapi bukan itu tujuan saya. 

Lalu, apakah untuk menggulingkan pemerintahan? Hahahhaha. Tidak juga. Barangkali ada yang kenal filsafat bermula dari Karl Marx dan aliran “kiri”. Biasanya orangnya itu aktivis; sering demo, kritis, debat, dsb. Ada teman saya yang seperti itu. Tapi, lagi-lagi, itu bukan saya. Bagi saya sendiri, politik tidak cukup sekedar digulingkan, tapi di-”babi”-kan. Jadi, nanti sintesisnya adalah “babi guling”. Kalau teman-teman yang sering demo itu bertujuan “menggulingkan” pemerintahan, maka saya cukup mem-”babi”-kannya saja. Memang benar, semua orang punya fungsinya masing-masing di alam yang fana ini. Hahahha. Duh, ngelantur...

Balik lagi ke topik. Jadi untuk apa filsafat? Kadang-kadang saya juga suka tidak mengerti. Pusing-pusing mikirin dunia, bikin galau menahun, dan hal-hal “muram” lainnya. Tapi, walaupun begitu, entah mengapa, saya kadang suka kangen ke filsafat. Barangkali disana filsafat berfungsi sebagai “jeda” bagi saya. Di tengah kegiatan atau aktivitas (yang mungkin padat), filsafat berguna untuk menelaah kembali, merenungkan kembali: apa sebenarnya tujuan saya? Apa maksud dari semua kegiatan saya? Semua proses pembatinan itu pada akhirnya suka “mencerahkan” kehidupan (walaupun prosesnya itu sendiri gelap dan suram). Mungkin benar apa kata Emha Ainun Nadjib, “Tak ada terang, tanpa gelap. Jika sudah terang, mari gelapkan ruangan, agar bercahaya itu benderang.” Itu kalimat favorit saya. 

Begitulah, saya memang bukan ahli filsafat yang hapal begitu banyak pemikiran filsuf-filsuf besar. Saya juga bukan seorang “pemberontak” dalam hal politik ataupun agama/Tuhan. Saya cuma senang menghayati setiap proses kehidupan itu sendiri. Setiap tahapannya, setiap prosesnya, setiap “semangat zaman”-nya, setiap penelusuran pemikirannya, setiap galaunya, setiap lika-likunya, setiap terjunnya, dan hal-hal lain yang serupa. 

 Barangkali disana filsafat bagi saya bukan sekedar “alat”, tapi jalan hidup. Mungkin pada prosesnya itu gelap dan suram, tapi tak apa-apa. Anggap saja berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian ke tepian (Eh bener ga sih peribahasanya? Lupa). Oh ya, satu lagi, filsafat bagi saya berguna untuk merasa tidak sia-sia ada di bumi ini. Itu saja kira-kira. 

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi; 
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba 


Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia. 
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara, 
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia. 


 Hujan, Jalak, dan Daun Jambu – 

Sapardi Djoko Damono

Salam galau,


Iman Purnama
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik

Minggu, 13 November 2011

Di sore yang hujan itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya. Hari itu bahasannya agak lain, yaitu lebih berat ke arah hukum. Diundanglah seorang pakar hukum bernama Pirhot Nababan, ia berbagi tentang hak cipta musik.

"Hak cipta itu ada ketika kita selesai mencipta, bukan ketika kita mendaftar," demikian kalimat pembuka Pirhot yang biasa dipanggil Iyok itu. "Namun mendaftarkan hak cipta itu ada baiknya juga, terutama jika suatu saat kita bersengketa," tambahnya. Iyok juga mengatakan bahwa tentu saja mendaftar itu perlu uang, ia menambahkan ada solusi lain yang berkekuatan hukum jika memang dirasa pendaftaran itu terlalu mahal, "Amplopi karya tersebut, partitur, contoh rekaman, dan lain sebagainya, lalu kirim pos ke alamat sendiri. Itu sudah berkekuatan hukum jika ada yang mengklaim yang mengatakan bahwa dirinya membuat karya lain duluan."

Kebetulan hari itu juga kedatangan Mba Uci, seorang sarjana hukum dari Solo yang tertarik datang. Selain menjadi peserta, ia juga ternyata bisa memberikan pandangan-pandangan tentang hukum, terutama menjawab beberapa kegalauan peserta. Obrolan itu meluas menjadi banyak hal tentang hukum seperti pidana, perdata, kasus-kasus tertentu, hingga undang-undang pornografi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak banyaknya diantara peserta yang betul-betul mengerti soal hukum, sehingga ini jadi semacam kesempatan untuk bertanya-tanya. 

Kegiatan ini rencananya akan dibuat secara berkala, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hukum secara umum. Karena, kata Mba Uci, "Kita adalah bagian dari hukum, kita tidak bisa mengelak dari hukum dengan argumen 'saya tidak tahu'." Lalu pesan terakhir dari Iyok, "Jika ada sengketa, jadikanlah pengadilan sebagai jalan terakhir, usahakan selesaikan dengan jalur damai dulu. Ada yang dikenal dengan economic analysis of law, yaitu biaya gugatan kamu lebih besar dari kemungkinan hasil gugatannya, itu harus dipertimbangkan betul."

Google Twitter FaceBook

Monday, November 14, 2011

Acara Pamungkas Kelas Public Speaking

Jumat, 11 November 2011

Kelas Public Speaking asuhan Theoresia Rumthe menemui pamungkasnya. Setelah berjumpa delapan pertemuan di hari Jumat, mereka melakukan semacam sidang akhir, berupa tes berbicara depan publik. Ada tujuh orang yang dites di hadapan tiga juri yakni Mba Tarlen, Nunu, dan saya sendiri. Mereka adalah Atu, Kana, Shuan, Riana, Popo, Annisa, dan Dhika. Ketujuhnya ini bukannya berbicara asal-asalan, mereka menyuguhkan sebuah topik yaitu 'aktor pria favorit'.

Masing-masing maju ke depan dan bercerita tentang aktor favoritnya, ada yang menggunakan teks ada yang tanpa teks. Pertama maju Atu alias Restu Pramesti yang mempresentasikan Robert de Niro selama lebih kurang lima menit. Lalu berturut-turut Kana (Johnny Depp), Shuan (James Franco), Riama (Adam Sandler), Popi (Jack Black), Annisa/ Bocha (Rob Pattinson) dan Dhiko (Jim Carrey). Sidang akhir ini dipandu oleh Theoresia Rumthe, sang tutor itu sendiri.



Setelah semuanya tampil, ada beberapa hal yang menjadi penilaian juri. Pertama, yang tertinggi, adalah gestur. Yang berikutnya adalah penguasaan panggung dan isi materi, yang terakhir dinilai adalah intonasi. Dari semuanya, ada beberapa yang menonjol dan mampu menarik perhatian. Akhirnya diputuskan tiga orang yang terbaik. Kategori charming babe adalah Bocha, kategori hot babe adalah Shuan, dan yang tertinggi, favourite babe, adalah Dhiko. Kelas ditutup dengan pembagian bunga dan sertifikat.

Kesan-kesan dari peserta:

Dhiko: Walaupun cuma delapan kali pertemuan, tapi merasa dekat sama yang lain.
Bocha: Saya masih perlu banyak latihan, ternyata masih tegang.
Kana: Pokoknya seru, semoga di luar saya bisa jadi public speaker yang handal. 
Popi: Kurang siap dengan materi, tapi saya tetap berhasil menguasai diri.
Shuan: Kagum, memuji Theo sang tutor yang sangat berbakat. Terima kasih karena sudah diterima.
Riama: Harus lebih siap ke depannya.
Atu: Saya pemalu, tapi di sini saya belajar banyak.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya yang konon Januari!



Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Modernisasi Timur

Selasa, 8 November 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan ketiga memasuki topik terakhir sebelum ditutup di minggu depannya. Topik ini mencoba mengartikulasikan apa yang sudah dibagikan di pertemuan-pertemuan sebelumnya, pada konteks ketimuran. Inilah dia: modernisasi Timur.

Apa itu modern sebetulnya tidak terlalu mudah diartikan. Lebih maju, lebih canggih, lebih cepat, lebih kompleks, adalah stereotip yang biasa disematkan. Ada lagi ciri-ciri modern yang lain, yakni industrialisasi, urbanisasi, dan sekularisasi. Jika mengacu pada pengertian tersebut, maka jelas kita bisa dengan mudah mengatakan mana yang modern dan mana yang bukan. Tapi pertanyaannya kita serahkan pada diri kita masing-masing: Apakah Indonesia sudah disebut modern?

Indonesia, tentu tidak semua wilayah. Ada wilayah yang menolak kemodernan seperti Suku Baduy atau Kampung Naga. Mari kita ambil Jakarta contohnya sebagai ibukota yang metropolitan. Ciri-ciri modern berdasarkan pengertian di atas terpenuhi semuanya, tapi apakah kita sekaligus setuju bahwa pola pikirnya pun modern? Kalau modern hanya sebatas soal struktur sosial, teknologi, dan industri, mengapa kita pun bisa merasakan bahwa kemodernan ada yang 'cocok' dan ada yang tidak. Artinya, kemodernan mesti disertai juga dengan pola pikir. Atau kita bisa kembalikan, jangan-jangan orang Indonesia memang tidak serta merta cocok dengan pola pikir modern?

Dari sudut pandang ketimuran, ada beberapa argumen yang bisa dijadikan sandaran mengapa kemodernan ini tidak serta merta dibilang sebuah 'kemajuan':

  • Salah satu konsep modern adalah manusia yang mengatasi alam. Pengatasan terhadap alam ini ada baiknya terhadap perkembangan teknologi, tapi ternyata manusia akhirnya mengatasi manusia lainnya. Adanya persaingan dalam eksploitasi alam, dan lebih jauh lagi, terjadi alienasi yang menjauhkan manusia dengan manusia.
  • Perang-perang besar dengan teknologi canggih sukses menimbulkan korban yang amat banyak. Perang Dunia I dan II, serta Perang Dingin adalah contohnya. Ini belum termasuk penggunaan nuklir. 
  • Banyak penemuan sains yang diklaim sebagai produk modern, sudah lama diketahui oleh orang Timur. Misalnya, dahulu dikenal ada upacara-upacara ritual tertentu sebelum menanam padi seperti nyanyian dan tarian. Sekarang baru ditemukan bahwa ada struktur biologis tertentu yang berubah, ketika suatu tanaman dipengaruhi nyanyian atau tarian.
  • Filsafat modern yang menggilai bahasa sebagai sarananya, sudah lama dicap orang Timur sebagai labirin. Misalnya, Buddhisme Zen terkenal dengan koan yang seringkali 'mengolok-olok' bahasa lewat paradoksnya. Pemikiran Timur yang dituduh 'bukan filsafat' itu oleh beberapa filsuf Barat, ternyata punya 'jalan keluar' yang lebih cerdas lewat analogi-analogi dan praktek ritual.
Ini belum didukung beberapa hipotesis yang semakin mendukung dunia Timur, seperti argumen Prof. Arysio Santos yang mengatakan bahwa benua Atlantis yang hilang itu terletak di sekitar Indonesia. Belum lagi ahli fisika Amerika, Fritjof Capra, yang mengatakan bahwa fisika semakin lama semakin seperti teka-teki yang mirip koan Buddhisme Zen. Melihat fenomena bahwa ada pergerakan paradigma yang tadinya kebarat-baratan sekarang jadi ketimur-timuran, mungkinkah kita siap menyongsong suatu era bernama "Modernisasi Barat"?

Google Twitter FaceBook

Friday, November 11, 2011

KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik bersama Pirhot Nababan

Minggu, 13 November 2011
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
jam 15.00 - 18.00
Gratis


Masalah hak cipta musik masih menjadi isu yang cukup serius di Indonesia. Perlu diketahui, pelanggaran hak kekayaan intelektual di Indonesia tergolong besar. Di tahun 1999, petugas Direktorat Bea dan Cukai di Bandara Soekarno-Hatta membongkar paket yang berisi ribuan keping video porno dan VCD ilegal. Negara telah dirugikan sebesar Rp 3,655 miliar akibat insiden ini

Selain itu, selain negara telah dirugikan dalam jumlah yang sangat besar dari sektor pajak, akibat adanya pembajakan. Kerugian ini juga dialami oleh pencipta lagu karena tidak menerima royalti.

Masalah lain yang muncul adalah keluhan dari pencipta lagu yang tidak menerima honor sesuai berdasarkan perjanjian dengan perusahaan rekaman. Produser rekaman, tak jarang, memaksakan kemauannya dalam semua aspek seperti sistem kontrak, besar honor, sampai waktu pembayaran honor.

Lebih jauh, pembayaran royalti atas karya cipta musik atau lagu yang diputar atau dinyanyikan di hotel, karaoke, diskotik, restoran, kapal terbang dan lain-lain, tetap menimbulkan berbagai persepsi dari publik.


Pertemuan minggu nanti adalah momen yang baik untuk berdiskusi tentang persoalan hak cipta musik ini. Dipandu oleh pakar hukum Pirhot Nababan, acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Google Twitter FaceBook

Thursday, November 10, 2011

Undangan: Diskusi Berbagi Pengalaman Proses Kreatif Pada Anak-anak Autis

Minggu, 20 November 2011
Pk. 10.00 s/d 12.00 WIB
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung

Pemandu diskusi: Anne Nurfarina, Pengajar di STISI Telkom dan sedang menyelesaikan program doktoral dengan disertasi mengenai Proses Kreatif Pada Anak Autis.

Teman-teman sekalian, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman: keluarga, ibu, bapak, saudara, saudari, para pengajar, handai taulan untuk hadir di acara diskusi dan berbagi pengalaman bagaimana melakukan Proses Kreatif Pada Anak-anak Penderita Autis. Diskusi ini  bermaksud untuk menjadi forum berbagi pengalaman mendampingi dan mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak penderita Autis. Pengalaman yang luar biasa ini tentunya sangat berharga jika bisa dibagi dan siapa tau bisa memberi inspirasi, semangat dan pemahaman baru kepada teman-teman lain.

Pertemuan ini terbuka untuk umum dan Gratis, silahkan langsung datang :)

Salam hangat,
Tobucil & Klabs
Google Twitter FaceBook

Sunday, November 6, 2011

(Ralat Tanggal) Call for Essays: Dialog Panel Pesta Filsuf "Etika di Media"


Madrasah Falsafah Sophia bekerja sama dengan Tobucil & Klabs mengundang siapapun untuk mengirimkan karya tulis bertemakan Etika di Media. Karya tulis tersebut akan dipresentasikan di acara Pesta Filsuf ke-2 yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 bukan hari Minggu 11 Desember seperti yang diberitahukan sebelumnya.

Kriteria Karya Tulis
• Karya tulis berjenis esai
• Panjang tulisan tidak dibatasi

Karya tulis diharapkan sudah diterima pada 19 November 2011; dikirimkan ke tobucil@gmail.com/ setiaphari@yahoo.com

Selain memberikan ruang dan waktu untuk mempresentasikan karya tulis tersebut di acara Pesta Filsuf, kami belum bisa menjanjikan imbalan apapun bagi mereka yang karya tulisnya terpilih.

Semoga Socrates dan kolega-koleganya memberkati.

Salam,
Panitia Pesta Filsuf ke-2
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Eksistensialisme

Rabu, 2 November 2011

Setelah filsafat idealis Hegel kemarin, datang seorang anak muda bernama Soren Kierkegaard yang mengritiknya habis-habisan. Dalam suasana hujan di beranda Tobucil, mari kita dengarkan kritik filsuf Denmark tersebut.

Katanya, yang terpenting dari filsafat justru adalah memahami keberadaan manusia. Memahami hal-hal yang riil dalam kehidupan manusia seperti tragedi, kesedihan, kemarahan, cinta, benci, dan apa-apa yang mendarah daging dalam keseharian kita. Memahami manusia sebagai eksistensi yang mendahului esensi, demikian bahasa para eksistensialis. 

 Soren Kierkegaard (1813 - 1855), diambil dari sini.

Kierkegaard kemudian membagi tahapan manusia ini dalam tiga tahap, yang pertama, yang paling dasar adalah manusia estetis yang ibaratkan seperti Don Juan. Don Juan yang senang memiliki banyak wanita meski harus berperang dengan pacar ataupun suaminya. Artinya, manusia estetis mengikuti apapun yang diinginkan hasratnya. Berikutnya, manusia etis, yang ia contohkan seperti Sokrates. Sokrates adalah orang yang mau dihukum mati demi membela kebenaran. Artinya, manusia etis mau menunda kebahagiaan demi kebahagiaan yang lebih besar. Dalam bahasa umum ia dikatakan sebagai orang yang bertanggungjawab. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, yakni manusia religius. Ia yang memutuskan untuk beriman pada Tuhan padahal tiada satupun hal yang melandasi keimanan itu. Ya, Kierkegaard mengatakan bahwa iman adalah soal lompatan, "Justru karena Tuhan tidak bisa dibuktikan maka kita harus beriman saja."

Disamping Kierkegaard, banyak juga filsuf yang mengemukakan hal serupa. Misalnya, Friedrich Nietzsche dengan amukannya yang berjudul "Tuhan telah mati", ia mau berbicara atas nama manusia yang semestinya berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa konsep Tuhan yang memperbudak. Ada Jean Paul Sartre yang tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa manusia ini bebas, maka itu tidak mungkin ada Tuhan yang mendasari eksistensinya. Juga ada Albert Camus misalnya, yang berkata bahwa manusia ini keberadaannya absurd, oleh sebab adanya kematian. Namun Camus memberikan solusi, bagai mitos sisyphus yang mendorong batu untuk menggelinding kembali ke bawah, meskipun itu pekerjaan absurd tapi toh sisyphus tetap harus gembira.

Demikian, filsafat eksistensialisme melihat manusia ke dalam keunikan individunya masing-masing.


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin