15.1.12

Klab Filsafat: Motivator


Tulisan ini adalah pengantar Klab Filsafat edisi perdana yang akan digelar Senin, 16 Januari 2012 di Tobucil jam 17.00 - 19.00. Klab Filsafat adalah sesi bincang-bincang yang mencoba mengupas lebih dalam tema-tema keseharian. Tema yang diangkat disesuaikan dengan Kelas Filsafat untuk Pemula yang diadakan setiap hari Selasa di Tobucil. Jika Selasa bentuknya kuliah, maka Senin bentuknya ngobrol santai. Kelas Filsafat untuk Pemula sedang membahas "Isu-Isu Modernitas", maka itu ada asyiknya Senin besok membahas topik "Motivator". Adakah hubungannya?

Salah satu sumbangsih peradaban modern terbesar adalah "standar". Tentang bagaimana mereka menciptakan suatu takaran yang dipercaya "universal". Misalnya tes IQ (Intelligence Quotient), bagi banyak orang masih dipercaya sebagai cara terbaik mengukur kecerdasan seseorang. Tes IQ ini sah-sah saja, namun implikasinya adalah pernyataan oposisi bener, "Yang tes IQ nya di atas sekian berarti cerdas, yang tes IQ nya di bawah sekian berarti bodoh." Bisa saja yang bermasalah bukan orang yang dites, tapi justru standar itu sendiri, takaran itu sendiri. Bahwa tes IQ barangkali hanya mengukur satu jenis kecerdasan diantara kecerdasan-kecerdasan lain yang dimiliki manusia yang tidak sanggup diukur dengan barometer tersebut. Kata Alfred Binet,

"The scale, properly speaking, does not permit the measure of intelligence, because intellectual qualities are not superposable, and therefore cannot be measured as linear surfaces are measured"

Tes IQ tersebut sekadar contoh saja, bahwa "sisa-sisa" peradaban modern masih sangat terasa dalam kehidupan sekarang, yang menunjukkan bahwa manusia kerap menyandarkan diri pada standar di luar sana tentang kemampuan serta potensi dirinya. Masih banyak contoh-contoh "kepraktisan" yang membuat manusia kehilangan kemampuan merefleksikan diri, seperti self help book atau yang sedang marak belakangan: motivator.

Motivator (Ing: Motivational Speaker) dalam KBBI diartikan sebagai "orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu; pendorong; penggerak". Berdasarkan definisi ini, motivator bisa siapa saja: Orangtua, sahabat, pacar, dll. Namun hari ini motivator itu sendiri menjadi profesi, sebuah pekerjaan yang memang dibayar untuk menyemangati orang lain. Contoh paling mutakhir di negara kita tentu saja Mario Teguh atau Bong Chandra.

Sisi positif motivator tentu saja tidak perlu kita bahas, yang perlu kita lakukan justru mengurainya secara kritis:
  • Motivasi selalu berkaitan dengan tujuan, jika motivasi dilakukan oleh orang lain, jangan-jangan tujuan kita juga dirumuskan oleh orang lain, mungkinkah?
  • Apakah motivator adalah sebuah respon alamiah dari gejala masyarakat modern yang konon sering disebut-sebut sebagai "kekosongan batin"?
  • Motivasi tidak selalu berkaitan dengan hal yang general, adapun motivasi yang memang punya kepentingan, seperti meningkatkan kinerja karyawan agar perusahaan tambah produktif, bukankah itu manipulasi?
  • Filsafat kerapkali tidak menghasilkan suasana hati yang "positif" seperti halnya ucapan-ucapan para motivator, filsafat lebih sering menimbulkan kegelisahan dan kebimbangan hidup. Jika demikian adanya, maka betulkah seyogianya umat hari ini sebaiknya memperbanyak pergi ke seminar motivasi daripada ke tempat diskusi filsafat?

Semoga bisa menemukan jawabannya di sesi diskusi Senin, 16 Januari jam 17-19 di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Klab Filsafat: Gratis!

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin