23.1.12

Klab Filsafat: Motivator

Senin, 16 Januari 2012

Klab Filsafat Tobucil edisi perdana, meski dihadiri enam orang saja, namun pembicaraan tetap menarik dan beragam. "Motivator" diangkat sebagai topik karena ada korelasi dengan bahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa, yaitu "Isu-Isu Modernitas". 

Motivator yang profesinya marak belakangan, ternyata tidak semuanya diterima secara positif. Belakangan ada semacam tagline yang mengritik keberadaan motivator, yaitu "Hidup itu Tak Semudah Cocot Mario Teguh". Plus minus kehadiran mereka inilah yang menjadi bahan diskusi Klab Filsafat edisi perdana. Satu per satu ditanyai tentang mengapa motivator ini, yang jelas-jelas melakukan hal yang positif yaitu memotivasi, tidak semuanya merasa senang dengan kehadirannya.

  • Theoresia Rumthe, yang juga tutor kelas Public Speaking, mengaku bahwa salah satu metode dalam menggali kepercayaan diri para peserta adalah curhat, membiarkan mereka mengeluarkan uneg-uneg dan keluhan. Ketika ditanya, "Apakah ini adalah sebentuk motivasi?". Jawab Theo, "Bukan, karena motivator biasanya tidak memberi kesempatan pesertanya untuk bicara, menggali ke dalam diri. Motivator menyamaratakan para peserta, seolah-olah masalahnya sama semua."
  • Permata Andika Rahardja alias Mata punya pendapat bahwa motivator seringkali tidak murni memberi motivasi untuk hidup. Para motivator biasanya ditunggangi kepentingan perusahaan. Ada banyak diantaranya yang memang disusupkan oleh perusahaan tertentu agar karyawannya menjadi lebih produktif. 
  • Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal berkata bahwa motivator bisa saja membuat orang bersemangat, tapi belum tentu sanggup menemukan potensi dalam diri seseorang, "Jika engkau ingin seseorang menjadi yang kamu inginkan, maka paling hebat adalah dia menjadi seseorang yang kamu inginkan. Namun jika engkau ingin seseorang menjadi diri sendiri, maka dia akan berkembang lebih hebat dari apa yang kau bayangkan."
Yang dicurigai berikutnya adalah, jangan-jangan motivator ini tidak disukai oleh sebab "tampilan kapitalisme"-nya. Kenyataan bahwa motivator selalu tampil dengan jas, setting panggung yang megah, massa yang banyak, serta harga untuk mengonsumsinya yang seringkali mahal, membuat motivator menjadi instrumen kapitalis yang baru. "Padahal," kata Mata, "yang mereka paparkan sangat normatif, tidak ada hal yang baru sama sekali."

Mari kita pertanyakan diri kita sendiri, perlukah motivator untuk menyemangati diri?


Syarif Maulana





Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin