29.1.12

Klab Filsafat: Status Online

Senin, 23 Januari 2012

Sesuai kesepakatan sebelumnya, Klab Filsafat edisi kedua membahas "status online". Ini tidak lepas dari pembahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa yang tengah membahas subtopik "agama". Kata Bang Iqbal, sang pengusul, status online adalah semisterius wahyu, kita tidak bisa tahu darimana datangnya, namun ia terpampang di hadapan sebagai fenomena yang dibaca dan diwartakan. Meski demikian, Bang Iqbal sang pengusul tidak datang di hari diskusi, maka itu pembahasan tentang status online ini menjadi tidak terbatas dikaitkan dengan agama.

Klab hari itu dihadiri delapan orang, masing-masing mulai bercerita tentang apa yang mendasari dirinya menulis status online, dimulai dari jaringan sosial Facebook. Diecky punya jawaban menarik, "Aku ingin dengan orang membaca status-status aku, orang jadi tahu siapa aku." Artinya, Diecky menjadikan status sebagai identitas diri. Sedangkan beberapa lainnya tidak punya pakem tentang status itu harus seperti apa. Grace misalnya, "Gue sih kadang status pendek, kadang panjang. Tergantung mood aja."

Pembicaraan mulai masuk pada pembedaan antara status di Facebook dengan Twitter. Di Facebook, status bisa ditulis dengan ribuan karakter (kabar terakhir bahkan menyebutkan bisa hingga 63.206 karakter!) sedangkan Twitter hanya 140 karakter. Perbedaan jumlah karakter ini tentu saja membedakan cara berekspresi, ibarat sempit luasnya kanvas bagi seorang seniman. Kata Pirhot, "Keterbatasan twitter yang 140 karakter itu harusnya tidak dijadikan miss-use bagi sebagian orang yang suka membuat kultwit (kuliah twitter-red)." Maksudnya, masing-masing jaringan sosial punya fungsinya masing-masing. "Atau misalnya pengen bikin tulisan yang panjang, kan udah ada blog atau Facebook. Twitter harusnya memang difungsikan untuk menuangkan tulisan-tulisan pendek." Argumen Iyok ini mendapat pro dan kontra, menjadikan diskusi semakin hidup.

Meski demikian, di tengah-tengah pro dan kontra tentang "etika menulis status", Theo menyiratkan kerinduannya terhadap diari. Kenapa? "Karena diari itu adalah tempat curhat yang personal. Sekarang orang sudah tidak bisa lagi membedakan tempat curhat personal dan publik karena adanya status. Maka itu sebetulnya ada keuntungan tersendiri dari generasi orang yang pernah menulis diari, yaitu punya pengetahuan tentang mana yang harus dicurhatkan dan mana yang tidak." 

Generasi diari, hmmm.






Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin