24.2.12

Kelas Filsafat untuk Pemula: Sains

Selasa, 21 Februari 2012


Kelas Filsafat untuk Pemula memasuki pertemuan keenam. Bertemakan "Isu-Isu Modernitas", hari itu kelas membicarakan suatu subtema yang tak kalah abadinya untuk dibicarakan, yaitu: sains.

Istilah sains itu sendiri begitu rancu jika dihadapkan pada Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris punya istilah knowledge dan science untuk membedakan istilah "ilmu" dan "ilmu pengetahuan". Sedangkan Bahasa mempunyai baik ilmu, ilmu pengetahuan, dan sains. Sains itu sendiri dalam khazanah peristilahan di kita, seringkali justru lebih condong ke "ilmu pengetahuan alam". Padahal sekali lagi, di Barat terdapat dua istilah yaitu natural sciences dan human sciences. Yang terakhir itu untuk menyebut ilmu sosial.

Sains baru mengalami suatu pemandirian memang pada jaman modern, tepatnya renaisans. Francis Bacon dan Galileo Galilei, yang hidup nyaris di waktu bersamaan, menjadi pionir dalam pemisahan sains dengan gereja. Sains di Abad Pertengahan bisa dibilang kurang berkembang karena fungsinya yang mesti menjadi "hamba teologi". Bacon menegaskan bahwa sains haruslah "bebas nilai", objektif, observatif, dan menghindari prasangka-prasangka yang tentu saja di dalamnya termasuk agama. Sedangkan Galileo, kita tahu, dia meneruskan ide heliosentris Copernican yang kala itu kontroversial. Terang saja sebuah kegoncangan jika bumi disebut mengelilingi matahari, karena jika memang iya, maka itu menjadi ancaman terhadap posisi Tuhan yang "seolah-olah" berada di bumi, ada untuk para manusia di bumi. 

Kang Ami kemudian maju membahas August Comte yang dianggap punya peran tak kalah pentingnya dalam memandirikan sains. Comte mengajukan suatu teori bernama law of three stages: Tahap pertama, manusia itu menganggap adanya kekuatan yang disebut Tuhan, Dewa, atau apapun yang secara simbolik berkuasa di atas sana. Yang seperti itu disebut tahap teologis. Tahap berikutnya, manusia menganggap adanya prinsip pertama, seperti alam semesta ini dari air, udara, atau apapun yang terdengar logis. Tahap itu dinamakan tahap metafisik. Sedangkan tahap puncak, yang disebut Comte sebagai ideal, adalah tahap positif. Pada tahap tersebut manusia menjadi sedemikian rasional dan apapun yang ada di alam bisa dijelaskan secara objektif.

Kritiknya justru, kata Ami, "Apakah iya, sains menjadi tahap tertinggi bagi kehidupan manusia?" Karena menarik ketika mencermati sains belakangan justru berpotensi juga membunuh manusia itu sendiri. "Buah misalnya, sudah mulai muncul tesis yang mengatakan bahwa buah yang berulat justru baik, karena artinya dia bisa dimakan. Justru buah yang steril itulah jangan-jangan yang beracun," ujar Ami. Atau ditambahkan pula bahwa di Inggris sekarang mulai ada taman khusus yang orang boleh buang air kecil di sana karena dianggap menyuburkan. 

Manakah yang benar? Sulit untuk dicari jawabannya sekarang. Yang pasti sains ternyata, tidak harus selalu identik dengan keberadaban manusia. Seperti halnya agama, filsafat, ataupun seni, ia juga mengandung kelemahan ketika disalahgunakan.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin