11.2.12

KLAB BACA: ‘Tanto Tani’, Dari Bulir Padi Hingga Segenggam Arti



Meskipun diluar udara dingin bekas hujan yang tadi mampir, pertemuan pertama Klab Baca hari rabu, 8 Februari 2012 cukup hangat. Teman-teman yang hadir diantaranya ada Ijal, Ping, Desy, Tarlen, Adi, Dini, Nanda dan tiga orang dari Klab Klasik—yang kebetulan saat itu janjian bertemu di Tobucil—‘dipaksa’ ikut agar pertemuan pertama terkesan gempita.

‘Mas Tanto’, sebuah obituari karya Puthut EA terbilang berhasil menghidupkan kembali klab ini dari ‘mati suri’nya yang cukup lama. Ijal, selaku moderator membuka pertemuan dengan perkenalan satu persatu peserta dan memaparkan secara singkat mengapa klab ini dihidupkan kembali, lalu Tarlen melanjutkannya dengan sejarah Tobucil yang ternyata berawal dari Klab Baca. “Dulu, sebelum Tobucil terbentuk, saya dan beberapa teman lainnya yang suka buku mengadakan pertemuan rutin untuk membicarakan dan mengapresiasi cerpen, novel, atau karya-karya tulis lainnya. Setelah itu, barulah terbentuk Tobucil. Jadi, Klab Baca dulu, baru Tobucil.” Papar Tarlen, Founder sekaligus pengurus Tobucil N Klabs.

Kami membaca dengan suara keras dan gaya yang berbeda-beda secara bergantian. Hal ini juga salah satu upaya menghidupkan kembali cara baca dengan suara terbuka yang harus kita akui, kita sudah kehilangan kebiasaan itu. Ternyata dampaknya cukup baik, selain membaca, kita juga belajar untuk mendengarkan oranglain. Setelah semua selesai dibaca, satu persatu mengeluarkan pendapatnya tentang karya tersebut. “Bagi saya, ini gaya penulisan obituari yang baik. Jarang sekali ada penulis yang mampu menulis obituari dengan gaya seperti ini.” Ungkap Adi, segera setelah pembacaan karya ini selesai. “Biasanya, penulisan obituari sangat kental dengan emosi yang meluap-luap. Hasilnya, pembaca hanya akan mendapati sebuah ‘tangisan’ atas kehilangan. Tidak lebih. Berbeda dengan karya Puthut ini, ia cukup bisa membuat obituari mengalir. Puthut berhasil memaparkan momen-momen penting selama hidup Mas Tanto, memperlihatkan ‘hal-hal kecil’ yang telah dilakukan dan ditinggalkan Mas Tanto. Dengan untaian yang proporsional, kita seakan begitu mengenal Mas Tanto melalui tulisan ini.” Lanjut Tarlen dengan semangat.

“Energi itu kekal” begitu tulis Puthut. Ia seolah ingin menyampaikan pada publik bahwa apa yang ditinggalkan Mas Tanto masih mengalir dalam dirinya dan orang-orang yang kenal dengan Mas Tanto.

Nanda yang baru datang juga menimpali obrolan “Dalam tulisannya yang ini, Puthut sangat terlihat cair. Tidak seperti cerpen-cerpennya yang meskipun bernada keseharian, seringkali membuat kita mengerinyitkan dahi. Diksinya pun pas, tidak menggunakan metafor seperti yang biasa ia lakukan pada cerpen-cerpennya.”

Lalu, ada semacam kesadaran baru bahwa menulis obituari sepertinya harus mulai dibiasakan di kultur kita, karena dengan begitu, yang ditinggalkanpun akan sedikit berlega (mungkin) karena menyadari betapa sudah banyak yang dilakukan oleh almarhum. Karena jangan-jangan tujuan hidup hanyalah itu, memberi makna dan meninggalkannya untuk orang-orang setelah kita.



11 Februari 2012,
-------------------------------------
*Untuk tulisan asli Puthut EA, ‘Mas Tanto’ bisa langsung dilihat di website pribadi Puthut http://www.puthutea.com/baca/2011/09/20/mas-tanto


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin