14.2.12

Klab Filsafat: Rokok dan Etika di Ruang Publik

Senin, 13 Februari 2012

Klab Filsafat sore itu penuh dengan kepulan asap rokok. Para peserta hampir semuanya adalah sekaligus para perokok. Ini menjadi relevan dengan topiknya karena tengah membahas rokok kaitannya dengan etika di ruang publik.

 Suasana Klab Filsafat, membahas rokok ditemani asap rokok. Foto oleh Dini Zakia.



Ada tiga topik bahasan artinya: Rokok, etika, dan ruang publik. Pembahasan mulai dari ruang publik itu sendiri apa. Ternyata, untuk memahami ruang publik tidak semudah kelihatannya. Kata Ijal, "Ruang yang di dalamnya terdapat lebih dari satu orang bisa mulai disebut ruang publik." Meskipun jadinya, itu termasuk rumah dan dalam mobil. Atau mungkinkah, ruang publik itu adalah ruang yang isinya kita bayangkan termasuk di antaranya kerumunan orang-orang yang kita tidak ketahui, sehingga kita simplifikasi sebagai "publik"? Ketika kita masuk sebuah ruangan, tapi kita mengenal dengan baik semua orang di dalamnya, maka barangkali kita tidak memasukkan itu sebagai ruang publik, karena asumsinya kita mengetahui tetek bengek etika di dalamnya. Tapi ruang publik biasanya berkaitan dengan suatu ruang yang "kita tidak tahu siapa saja di dalamnya" sehingga kita menyebutnya dengan publik. Bisa jadi.


Pembicaraan menjadi menarik ketika masuk pembahasan mengenai rokok. Bagi para perokok, terang saja rokok mempunyai makna mendalam. Bagi Fredi, "Saya merokok itu dari SD, dan awalnya karena mengusir nyamuk ketika saya sedang memancing bersama." Yang lain beda lagi, "Saya kesel sama bapak saya karena suatu hari dituduh merokok padahal kawan saya yang merokok, saya cuma kena asapnya. Akhirnya karena kesel, saya merokok beneran deh, ketagihan hingga sekarang." Ijal bahkan punya alasan lebih ilmiah, katanya dalam suatu dokumenter ia pernah melihat bahwa rokok mengandung antioksidan. Jika suatu hari dunia mengalami perang nuklir sehingga dimana-mana terdapat radiasi, maka orang yang merokoklah yang selamat. Satrio juga mengemukakan hal yang tak kalah ilmiah, katanya ia pernah mendengarkan suatu seminar yang mengatakan, "Rokok mengurangi usia orang satu menit, tapi kebahagiaan menambah usia orang tiga menit. Jadi kalau merokok menimbulkan kebahagiaan, sebenarnya usianya bertambah!"

Meskipun pada akhirnya tetap kesulitan menemukan kesimpulan yang betul-betul mengerucut, namun ada satu hal yang menarik: bahwa alasan seseorang merokok, berdasarkan diskusi kemarin, adalah selalu alasan eksistensial dan personal. Ini justru berkebalikan dengan orang yang tidak merokok, kebanyakan dari mereka alasan tidak merokok adalah bahwa merokok itu tidak sehat. Alasan bahwa merokok tidak sehat belum tentu sebuah alasan pribadi, bisa jadi itu alasan dogmatis, berdasarkan sandaran pada otoritas sains semata. Tutup Ijal, "Kalau memang merokok tidak sehat, kenapa tidak disematkan juga larangan pada asap pabrik, asap knalpot, dan MSG?"

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin