2.3.12

Kelas Filsafat untuk Pemula: Kritik

Selasa, 28 Februari 2012

Hari itu adalah pertemuan terakhir Kelas Filsafat untuk Pemula dalam hal pembagian materi. Minggu depannya, kelas akan memasuki pertemuan kedelapan yang disepakati sebagai penutup. Materi pamungkasnya adalah mengenai: Kritik.

Kritik bukanlah hal yang baru muncul di era modern. Tradisi filsafat mula-mula yang konon dicetuskan Thales, adalah semacam kritik juga terhadap pemikiran sebelumnya. Thales mencari sebab musabab alam semesta ini bukan dari jawaban mitos, tapi logos, yaitu berupa prinsip pertama. Katanya, "Alam semesta ini dari air". Ini juga merupakan sebuah kritik terhadap pemikiran sebelumnya, meski tidak secara langsung dipertentangkan. Kata Yasraf Amir Piliang, "Pemikiran yang baik adalah yang menimbulkan pemikiran bagi orang lainnya, meski itu berisi kritik dan penentangan sekalipun."

Sejarah filsafat Barat adalah sejarah yang dibangun atas dasar kritik satu sama lain. Rasionalisme dikritik Empirisme, Idealisme dikritik Eksistensialisme, Strukturalisme dikritik Post-Strukturalisme, bahkan rangkaian Modernisme itu sendiri mendapat serangan dari Postmodernisme. Pijakan filsafat Barat tidak pernah stabil karena selalu ada celah untuk diserang pemikiran berikutnya. Namun hal tersebut dapat dipahami, karena setiap jaman memiliki semangat yang berbeda, sehingga kebutuhan filsafatnya juga berbeda. 

Jika ditilik, istilah kritik baru rajin digunakan oleh filsuf Abad Pencerahan, Immanuel Kant. Ia menyebutkan itu setidaknya dalam tiga buku pentingnya: Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason dan Critique of Judgement. Tradisi kritis ini kemudian dilanjutkan dengan intens oleh Karl Marx. Kritiknya terhadap Kapitalisme menginspirasi sekelompok orang-orang dari sekolah Frankfurt untuk mendirikan mazhab yang "khusus untuk mengritik", dengan istilah critical theory.

Kang Rosihan Fahmi (Ami) selaku mentor kemudian menutup pertemuan dengan pemaparan kritis kelompok Frankfurt terhadap teori tradisional. Kata kelompok Frankfurt, "Tidak ada teori yang bebas nilai, dan teori apapun pada dasarnya bersifat ideologis." Ini menjadi ajakan etis dari Kang Ami untuk bertindak kritis pada apapun, "Jika teori, yang menjadi dasar sains yang katanya lembaga kebenaran itu saja bisa dikritik, apalagi hal-hal yang lebih ilusif di sekitar kita."


 
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin