14.3.12

KLAB BACA: Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya


Gambar diambil dari sini

Rabu sore ini ada yang berbeda di meja beranda tobucil. Sore yang biasanya hanya dihadiri oleh para ‘pembaca’ dan ‘penikmat’ karya, hari ini klab baca berkesempatan berbincang langsung dengan penulisnya. Zaky Yamani, seorang wartawan Pikiran Rakyat yang mendapatkan gelar Master of Art and Journalism dari Ateneo de Manila University, Filipina pada tahun 2008 yang lalu.

Sesuai dengan tema bulan Maret sebagai bulan baca absurditas, pada kesempatan pertama, cerpen berjudul Insomnia Bersama Johnny Walker yang dilanjut dengan Saturday Night’s Lullaby dibacai bersama-sama dengan cara ‘membaca nyaring’—suatu kebiasaan membaca yang sudah jarang, bahkan mulai ditinggalkan para pembaca—satu persatu diantara yang hadir sore itu. Disela-sela proses membaca, kita seringkali tersenyum tipis, tertawa malu, hingga terbahak-bahak sebab tidak bisa menahan rasa yang didapat ketika membaca. Tidak jarang juga kita menemui sejenis tawa yang lain, sebentuk cara menertawakan diri sendiri melalui tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Sebuah cerpen yang tanpa pretensi apapun dalam penulisannya, bertutur ringan, dan menampakkan fenomena urban sebagaimana adanya.

“Hanya serupa upaya pemetaan antropologis masyarakat urban pada suatu masa, tidak ada tendensi mengajarkan apalagi berpesan hal-ihwal moral” sambar Tarlen ketika Zaky menjelaskan latar belakang peristiwa yang membidani lahirnya kumpulan cerpen ini. Ada yang menarik dalam penjelasan Zaky mengenai Insomnia Bersama Johnny Walker, tulisan itu dibuatnya ketika ia hangover sehabis meminum si Johnny di kamarnya, sendiri. Ia baru sadar ketika terjaga paginya dan melihat di layar laptop sudah ada beberapa paragraf. Tidak ada proses editing, paling-paling hanya membetulkan ‘selip kata’. “Psikedelik banget lah!” tambah Tarlen.

“Saya pikir, kumpulan cerpen ini bisa hadir seperti ini tidak lepas dari pergaulan saya dengan teman-teman. Keseharian saya. Sebab, jika saya—atau para pembaca—cermati kembali, seluruh cerpen dalam Johnny Mushroom adalah ekstraksi keseharian yang mengendap.” Zaky menjelaskan maksudnya. Mungkin, bagi para pembaca yang selalu menantikan ‘hikmah’, pesan moral, narasi besar, atau embel-embel fiksi lainnya—yang seringkali dianggap wajib ada dalam setiap cerita—akan kecewa dan segera meremehkan ‘daya magis’ Johnny Mushroom

Dalam kumpulan cerpen ini, Zaky memarkirkan dulu etika dan soal-soal moralitas pada tempatnya, lalu dengan mabuk ia mengendarai fenomena-fenomena urban, membawanya pada agora, tempat masyarakat berkumpul. Menunjukkan realitas yang seringkali terpinggirkan, terlipat oleh gempita sebuah komoditas kota.
Sebab realitas kadang lebih absurd dari cerita fiksi paling gelap seperti sisifus-nya Albert Camus sekalipun.
Pertemuan ditutup dengan quote pembuka dalam buku Johnny Mushroom, kami membacanya dengan kepala yang mulai limbung, mabuk.

“Taukah kau dimana kita hidup?” tanya seorang kakek kepada cucunya. Si cucu menggelengkan kepala. Dia tak paham maksud pertanyaan itu. Si kakek memberikan jawaban, “Ditengah keramaian dunia yang mejadi akar dari segala kesepian kita.”  –Zaki Yamani


Yang menulis notulensi ini, sumpah! Tidak sedang mabuk atau dalam pengaruh mushroom. Hanya ditemani kopi dan Lucky Strike.

Azhar Rijal Fadlillah, 15 Maret 2012
-------------------------------------

*KLAB BACA pertemuan selanjutnya masih akan membicarakan karya-karya bertema serupa, sementara ini pilihan masih condong ke tulisan-tulisan di majalah aktuil.
*Mengenai proyek ‘tulisan berantai’, deadline nya per-satu minggu ya. Minggu pertama Stefanus Ping Setiadi yang mendapat mandat untuk membuka cerita. Selamat menyelami bangkai ingatan yang menyerupai karya fiksi.
Sampai bertemu dua minggu lagi.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin