3.3.12

Klab Baca: Ores dalam “Orang-Orang Bloomington” Budi Darma

Pada kesempatan rabu kali ini klab baca membicarakan kumpulan cerpen Budi Darma: Orang-orang Bloomington yang diangkat oleh Tarlen Handayani. Seperti biasa, yang hadir tidak begitu banyak, juga tidak bisa dikatakan sedikit, setidaknya untuk ukuran klab yang terbilang baru ini. Rabu itu hadir Tarlen, Adi, Deasy, Rudi, Arum, Mayang, Dini, dan Ijal selaku moderator yang datang terlambat.

Foto Oleh: Dini Zakia

Semua mendapat giliran membaca dengan bagian yang cukup panjang, cerpen ini bukan sejenis cerpen yang selesai dengan sebatang rokok atau seteguk teh botol. Mungkin cerpen ini butuh segelas bir atau secangkir kopi pekat. Budi Darma juga seolah paham betul bagaimana merangkai kata ketika intensitas emosi sedang deras dalam satu kalimat panjang. Kita cukup banyak mendapatkan contoh kalimat ‘panjang’ dengan intensitas tegangan yang tinggi. “aku beberapa kali kebagian membaca paragraf panjang dengan kalimat-kalimat tanpa titik yang seru dan menegangkan. Cape sih, cuma perasaan nagih membuat aku pengen baca terus” sela Mayang ditengah-tengah obrolan. Tidak jarang juga kalimat-kalimat pendek dengan banyak titik sengaja dihadirkan di tengah emosi yang sedang bergejolak membuat hentakan cepat seperti derap suara kuda. Ini seperti tembakan head shoot berturut-turut yang membuat lawan tumbang dengan cepat.

Pembaca juga tidak bisa tidak, digiring pada imajinasi tak terduga yang begitu absurd. Dini menambahkan “iya, seperti –ketika diawal cerita—ketika bapaknya Ores akan melamar Hester. Ketika Hester terkejut dengan lamaran itu, ia menggambarkannya dengan imanjinasi yang luar biasa. Hesti seperti tercekik lehernya hingga urat-uratnya terlihat semua. Dan masih bayak lagi contoh lainnya yang imajinasinya tidak sesuai dengan dugaan pembaca”. Budi Darma seolah menelanjangi imajinasi kolektif kita sebagai pembaca dan menggiringnya pada dunia yang benar-benar tidak dikenali.

Budi Darma mungkin hanya satu-satunya penulis fiksi Indonesia yang memiliki gaya bertutur yang benar-benar beda. Kalaupun tidak, dialah orang pertama yang mengenalkan Indonesia gaya bertutur seperti itu. Banyak penulis lainnya yang sempat tinggal dan melakukan studi di luar negeri, lalu mencoba menulis dengan cara yang tidak lazim di mata pembaca Indonesia hasilnya seperti membaca karya penulis Indonesia yang sedang atau pernah tinggal di luar negeri saja. Budi Darma melampaui itu, karyanya sudah sulit diidentifikasi sebagai karya penulis Indonesia.

Selanjutnya klab baca kembali merundingkan karya apa yang akan diangkat dua minggu kemudian. Sepertinya kita perlu sedikit berkenalan lagi dengan karya-karya absurd lainnya, yang bernada gelap makna. Maka diputuskan: Maret adalah bulan baca absurditas. Sampai bertemu di dua minggu kedepan.


Tobucil, 3 Maret 2012
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin