| Foto Oleh: Dini Zakia |
Semua mendapat giliran
membaca dengan bagian yang cukup panjang, cerpen ini bukan sejenis cerpen yang
selesai dengan sebatang rokok atau seteguk teh botol. Mungkin cerpen ini butuh
segelas bir atau secangkir kopi pekat. Budi Darma juga seolah paham betul
bagaimana merangkai kata ketika intensitas emosi sedang deras dalam satu
kalimat panjang. Kita cukup banyak mendapatkan contoh kalimat ‘panjang’ dengan
intensitas tegangan yang tinggi. “aku beberapa kali kebagian membaca paragraf
panjang dengan kalimat-kalimat tanpa titik yang seru dan menegangkan. Cape sih,
cuma perasaan nagih membuat aku pengen baca terus” sela Mayang ditengah-tengah
obrolan. Tidak jarang juga kalimat-kalimat pendek dengan banyak titik sengaja
dihadirkan di tengah emosi yang sedang bergejolak membuat hentakan cepat
seperti derap suara kuda. Ini seperti tembakan head shoot berturut-turut yang membuat lawan tumbang dengan cepat.
Pembaca juga tidak bisa
tidak, digiring pada imajinasi tak terduga yang begitu absurd. Dini menambahkan
“iya, seperti –ketika diawal cerita—ketika bapaknya Ores akan melamar Hester.
Ketika Hester terkejut dengan lamaran itu, ia menggambarkannya dengan
imanjinasi yang luar biasa. Hesti seperti tercekik lehernya hingga urat-uratnya
terlihat semua. Dan masih bayak lagi contoh lainnya yang imajinasinya tidak
sesuai dengan dugaan pembaca”. Budi Darma seolah menelanjangi imajinasi
kolektif kita sebagai pembaca dan menggiringnya pada dunia yang benar-benar
tidak dikenali.
Budi Darma mungkin hanya
satu-satunya penulis fiksi Indonesia yang memiliki gaya bertutur yang
benar-benar beda. Kalaupun tidak, dialah orang pertama yang mengenalkan
Indonesia gaya bertutur seperti itu. Banyak penulis lainnya yang sempat tinggal
dan melakukan studi di luar negeri, lalu mencoba menulis dengan cara yang tidak
lazim di mata pembaca Indonesia hasilnya seperti membaca karya penulis
Indonesia yang sedang atau pernah tinggal di luar negeri saja. Budi Darma
melampaui itu, karyanya sudah sulit diidentifikasi sebagai karya penulis
Indonesia.
Selanjutnya klab baca
kembali merundingkan karya apa yang akan diangkat dua minggu kemudian.
Sepertinya kita perlu sedikit berkenalan lagi dengan karya-karya absurd
lainnya, yang bernada gelap makna. Maka diputuskan: Maret adalah bulan baca
absurditas. Sampai bertemu di dua minggu kedepan.
Tobucil,
3 Maret 2012
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment