14.3.12

Klab Filsafat: Membahas Dilema Skripsi

Senin, 12 Maret 2012

Klab Filsafat Senin itu bertemakan "Skripsi dan Saintis Gadungan". Beranda Tobucil cukup disesaki orang-orang yang beberapa diantaranya, sialnya, tengah melaksanakan skripsi. Pembahasan kemudian ditarik ke wilayah filosofis. Apalagi kalau bukan membahas filsafat yang sangat berkaitan dengan keilmuan: Filsafat ilmu.

Untuk pertama kalinya, Klab Filsafat mengangkat pemasalah. Hari itu, pemasalahnya adalah Syarif Maulana, yang diskusinya sendiri dimoderatori oleh Azhar Rijal Fadlillah. Diskusi dimulai dari paparan pemasalah tentang kenyataan bahwa ketika skripsi, banyak sekali mahasiswa yang ingin "meraup keseluruhan". Membahas sesuatu secara luas tanpa fokus pada kedalaman. Contohnya ada pada peserta yang kebetulan sedang skripsi, namanya Rudy. "Rudy ingin membahas pluralisme dan pengaruhnya terhadap perkembangan Timur Tengah. Itu sepertinya terlalu luas, mestinya ada Timur Tengah yang difokuskan," tutur Syarif. 

Selain Rudy, ada juga yang tengah skripsi, seorang mahasiswa komunikasi bernama Kedot. Ia ingin membahas konsumerisme di Bandung. Kesulitannya adalah mencari sampel. Bagaimana ia harus mencari orang-orang yang tepat, yang dianggap mewakili masyarakat Bandung? Kemudian Liki dan Harun mengajak diskusi soal objektivitas. Jika ilmu-ilmu sosial "menyerah" pada objektivitas dan pada akhirnya fokus pada "melukiskan keunikan", jadi bagaimana ilmu sosial bisa dipertanggungjawabkan?

Diskusi menjadi meluas, ketika Difa berbicara soal peneliti di Indonesia yang kurang mendapat perhatian pemerintah. Hal tersebut menyebabkan penelitian menjadi hal yang kurang berkembang di Indonesia. "Tidak berprospek dari segi finansial,"ujar Difa. Hal tersebut juga dicurigai, kata Azhar, menjadi penyebab banyaknya skripsi-skripsi kurang berkualitas. Kasus plagiat semakin marak, jasa pembuatan skripsi seperti yang juga dirintis oleh salah seorang peserta, Kharisma Putra, semakin diminati!

Di akhir diskusi, ada keprihatinan bahwa kelulusan tidak semata-mata disebabkan oleh hasil penelitian alias kedalaman skripsi. Namun perlu dipertimbangkan juga "kecerdikan" mahasiswa dalam bernegosiasi dengan pembimbing. Pengetahuan filsafat ilmu menjadi tidak begitu bermanfaat karena banyak pembimbing perguruan tinggi yang juga tidak terlalu paham tentang metodologi. Pembimbing hanya mau membimbing hal yang ia pahami, dan tidak tertarik untuk penelitian-penelitian baru. Pada titik ini nyaris semua setuju, "Sepertinya boleh saja bikin penelitian yang baru dan unik, namun siap-siap menerima resiko susah lulusnya. Kadang lebih baik kita penelitian yang simpel namun dijamin cepat lulus." 

Keprihatinan akan dunia kampus menimbulkan pragmatisme.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin