19.3.12

Klab Filsafat: Menyingkap Absurditas Arti "Seni"

Senin, 19 Maret 2012

Setelah berkutat dengan pikiran di minggu sebelumnya dalam topik skripsi, Klab Filsafat kemarin membahas sesuatu yang berkaitan dengan rasa, yaitu mengenai seni. Meskipun terlambat, namun sang pemasalah yaitu Harun tetap sukses membuat galau para peserta, terutama mereka yang terus menerus mempertanyakan: Apa itu seni dan dimana batas-batasnya?

Kata Harun, mempertanyakan batas-batas seni itu seringkali absurd dan bahkan tidak penting lagi. Bahkan katanya, "Dosen saya pun bingung katanya." Tapi Harun sekaligus juga berusaha mengatasi keabsurdan diskusi, dengan mengangkat optimismenya, "Namun ada loh, banyak yang percaya, ada yang bisa ditangkap dalam fenomena seni itu, definisi dan pengertiannya." Optimisme Harun itu kemudian yang menjadikan sesi diskusi tetap berjalan.

Sebetulnya pernah ada masa dimana mendefinisikan seni itu tidak susah-susah amat. Plato dan Aristoteles nyaris sepakat bahwa seni itu adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan nikmat-indah. Namun, kata Harun, menjadi agak sulit ketika kemudian muncul kredo seni untuk seni. Seni menjadi ekspresi pribadi dan cenderung "kumaha aing". Pada titik itu seni menempatkan dirinya terpisah dari masyarakat, dan tidak peduli lagi pada efek nikmat-indah bagi apresiatornya. Hal tersebut diperparah oleh keberadaan Marcel Duchamp yang memamerkan karyanya berjudul The Fountain. Karya tersebut adalah urinoir yang dipajang dan diberi tandatangan. Pada titik itu orang mulai mempertanyakan: Apakah seni itu punya nilai keindahan pada objeknya, atau justru subjek yang membentuk keindahan itu?

Diskusi menjadi bergeser pada hubungan antara seni dan kekuasaan. Seni, jangan-jangan adalah tergantung siapa yang mengatakan itu seni, bukan lagi soal karya atau si senimannya. Harun mengakui bahwa kerja kurator juga salah satunya ada pada wilayah itu, "Mengumpulkan karya, memamerkan, dan memberi intellectual framework. Intellectual framework inilah yang membuat karya-karya tersebut seolah punya nilai dan makna." Kurator juga punya pergeseran peran, dulu dia adalah semacam pengelola galeri dengan kantornya di belakang. Sekarang kurator seolah "berkantor di paling depan", ia menjadi garda depan dalam legitimasi seni atau medan sosial seni.

Sebelum diskusi diakhiri, Albert mencoba melakukan saintifikasi arti seni dengan mengaitkan pada definisi humor, katanya, "Humor adalah sesuatu yang tidak terduga, tapi tidak mengancam. Seni barangkali juga adalah sesuatu yang tidak terduga, tidak pernah dipikirkan orang-orang sebelumnya, dan dia punya wilayah techne atau ketrampilan." Pendapat Albert ini diamini sebagian orang, namun masih belum sanggup menangkap fenomena seni itu sendiri, karena faktanya, ada seni yang tanpa ketrampilan, yang justru begitu konseptual. 

Namun setidaknya, diskusi kemarin menunjukkan bahwa upaya menangkap seni dalam kata-kata adalah sekaligus sia-sia, karena seperti kata Heidegger, "Kita ada di dalam dunia sebelum memikirkannya." 

Topik minggu depan terinspirasi dari celetukan Albert yang terakhir, yaitu: Humor. Diskusi dimulai jam 16.00 karena sebelum diskusi mari kita saksikan dulu seorang stand-up comedian internasional bernama Russell Peters sebagai stimulus obrolan.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin