26.3.12

Klab Filsafat: Menyoal Humor

Senin, 26 Maret 2012

Klab Filsafat Senin itu di Tobucil membahas hal yang bisa jadi kontradiktif: Humor. Mengapa kontradiktif? Karena humor yang melegakan urat saraf, mesti dibicarakan secara filosofis yang notabene serius dan justru menegangkan urat saraf. Untuk merangsang masuk ke wilayah pembicaraan humor, dimulai tidak dengan filosofi, melainkan langsung dengan humor. Selama kurang lebih satu jam lima belas menit, para peserta disuguhi penampilan stand up comedian asal Kanada bernama Russell Peters. Ditayangkan via proyektor, peserta Klab terbahak-bahak menyaksikan aksi komedian yang berlangsung di Madison Square Garden, New York itu. Sambil terbahak sambil merenung: Apakah yang membuat ia begitu lucu?

Albert Liang selaku pemasalah, yakin bahwa ada yang universal dalam humor. Kenyataan bahwa Russell Peters melakukan humor-humor dengan cara menyinggung pelbagai isu ras, kebudayaan, serta agama, Albert percayai sebagai, "Di manapun yang seperti itu bisa jadi lucu." Tapi Mba Tarlen menolak ide universal itu, termasuk juga Azhari dan Teddy, yang mensyaratkan adanya pengetahuan serta kepekaan tertentu dalam memahami komedi. Teddy mengatakan, bahwa dalam komedi The Office, ia tidak mengerti pada awalnya, namun seiring dengan pemahaman ia terhadap kondisi sosio-kultural Amerika, maka lama-lama Teddy jadi paham mengapa hal-hal tersebut menjadi lucu. Kata Mba Tarlen, "Gaya komedi Russell Peters adalah sarkas khas Kanada, dan itu bisa sangat dimaklumi bagi orang New York. Namun belum tentu gaya lawak ala Peters ini ditertawakan juga oleh orang di budaya lainnya, bisa jadi malah tersinggung."

Meski demikian, Albert tetap percaya bahwa ada yang universal, yaitu satu persyaratan bahwa humor haruslah, "Tidak mengancam." Katanya, bagaimanapun, sudah ada setting tentang Russell Peters tersebut. Orang datang untuk kemudian memosisikan diri sebagai seseorang yang siap tertawa dan menyadari tiada potensi ancaman apapun yang muncul dari Peters. Secara tidak langsung Albert juga mensyaratkan adanya setting untuk setiap adegan komedi. Persis seperti Marcel Duchamp yang seolah mensyaratkan segala sesuatu jadi seni ketika ia berada di dalam galeri. Artinya, komedi sendiri harus memiliki prasyarat rasa aman sebelum diungkapkan. Seperti kata Mba Tarlen, "Ricky Gervais gagal melawak di sebuah forum, kemungkinan diakibatkan tidak berhasilnya menciptakan rasa aman."

Perbedaan pendapat apakah humor itu universal atau partikular, dicoba didamaikan dengan kemungkinan bahwa universalitas humor itu terletak pada kenyataan bahwa humor adalah fenomena universal. Maksudnya, di peradaban manapun pasti ada humor, sebagaimana pasti ada musik, seni, pengetahuan, ataupun filosofi. Namun humor dari peradaban Yunani, belum tentu bisa dipahami oleh peradaban Afrika, pun sebaliknya. Pada titik ini, dalam diri humor ada yang partikular dan juga universal. Kata Mba Theo, "Untuk isunya, kemungkinan partikular. Orang Bandung belum tentu ngerti humor orang Jakarta, pun sebaliknya. Tapi ada satu yang bisa ditangkap, yaitu mimik dan body languange. Barangkali di situ titik universalitasnya. Orang bisa tidak tertawa oleh konten, tapi bisa terhibur oleh gerakan."

Tentang yang partikular dan universal, tidak dibincangkan lebih jauh, diserahkan pada apa yang dianggap masing-masing sebagai lucu. Yang lebih penting daripada itu, adalah kenyataan bahwa penutupan Klab Filsafat ditutup oleh lontaran humor-humor dari beberapa peserta. Pada titik itu, filsafat menjadi keseharian, praktis, dan senda gurau belaka. 


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin