19.3.12

KlabKlassik: Mabuk bersama 2001: A Space Odyssey

Minggu, 11 April 2012

Setelah terakhir kali menyimak music scoring film Taxi Driver (1976) hampir enam bulan silam, KlabKlassik kembali mengadakan acara serupa dengan film berbeda. Yang sekarang adalah film besutan Stanley Kubrick tahun 1968 yang berjudul 2001: A Space Odyssey.


Film berjudul 142 menit itu cukup unik. Selain karena maknanya yang sulit ditangkap karena dialog yang sedikit, film 2001 juga menghadirkan elemen visualisasi yang tajam dan begitu canggih di masanya. Selain itu, tentu saja, yang menjadi menarik adalah signifikansi peran music scoring yang terasa sekali begitu dominan. Ada musik dari Richard Strauss berjudul Also Sprach Zarathustra, musik dari Johann Strauss berjudul Blue Danube, dan musik avant-garde dari Gyorgy Ligeti berjudul Requiem. Film ini tergolong unik, karena terasa sekali tempo dalam scene filmnya sangat menyesuaikan diri dengan tempo si musik. Seperti misalnya ada adegan ketika seorang awak kapal ruang angkasa menyajikan makanan bagi awak kapal lainnya, ia berjalan seperti halnya mengikuti irama waltz di lagu Blue Danube.

Meskipun bagi peserta cukup melelahkan untuk menyaksikan film bernarasi lambat ini, namun sebagian besar bertahan sampai akhir dan berdiskusi mengenainya. Mas Daus, seorang penikmat film, membagi referensinya yaitu satu music scoring dari Alex North. Ketika Mas Daus bertanya, "Ada gak musik ini di film tadi?" Para peserta bersamaan menggeleng. "Ya, tadinya musik ini yang bakalan dipakai. Tapi Stanley Kubrick berubah pikiran, dan memilih musik-musik yang sudah jadi saja. Tapi Kubrick sendiri tidak bicara pada North sampai North mengetahuinya pas premiere film."

Yang menjadi perhatian Diecky justru ada dua: Pertama, ia begitu menyukai pemilihan Kubrick pada musik-musik Ligeti. Ini dianggap sangat cocok dan menimbulkan sensasi tersendiri. Kedua, dalam film tersebut ada tokoh bernama HAL 9000, semacam komputer yang punya karakter antagonis. Kata Diecky, "Menarik sekali, kenapa HAL 9000 bersuara laki-laki dan bukan perempuan? Apakah punya efek tersendiri? Padahal kita tahu di manapun, entah bioskop, stasiun, atau voice-mail, pengisi suara itu kerapkali perempuan."

Ketika membicarakan makna film, para peserta merasa kesulitan. Memang, Kubrick sendiri tidak berbicara gamblang, katanya bebas saja untuk menafsirkan aspek filosofis dari film tersebut. Kata Mas Daus, "Mungkin saja, di adegan-adegan awal, ada monyet yang memenangkan pertarungan dengan alat, itu simbol bahwa manusia kelak akan menggunakan alat untuk menguasai segalanya. Pada akhirnya, ribuan tahun kemudian memang iya, manusia terbang ke angkasa dengan alat, tapi juga alat itu sendiri mengontrol manusia." Alat yang dimaksud tentu saja adalah sang komputer antagonis: HAL 9000.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin