Gambar diambil dari sini.
Mari kita mulai dengan pertanyaan besar: Bagaimana jadinya dunia ini tanpa
manusia? Atau, jika tidak ada manusia, apakah dunia ini ada?
Atas pertanyaan tersebut agama bisa menjawab: Dunia tetap ada karena Tuhan menciptakannya. Dunia bernilai karena
Tuhan memberikan nilai atas segala sesuatu. Tapi meskipun jawaban itu terasa
sangat akurat, tetap saja dari jaman ke jaman, peran manusia kerap
dipertanyakan dalam ”menciptakan” dan ”memberi nilai” bagi dunia ini. Bahkan
secara ekstrim, di abad modern terutama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,
muncul pemikiran bahwa Tuhan pun tidak lebih dari sekedar proyeksi manusia.
Bukan lagi Tuhan yang meng-ada-kan manusia, melainkan manusia yang meng-ada-kan
Tuhan.
Apa yang dipikirkan oleh manusia modern tentang manusia yang mendahului
Tuhan, bukanlah hal baru. Jauh sebelumnya, ratusan tahun sebelum masehi,
Protagoras mengatakan bahwa ”Manusia adalah ukuran bagi segala sesuatu.” Namun
seiring dengan kejatuhan peradaban Yunani-Romawi dan dimulai Abad Gereja di
Eropa, pemikiran tentang manusia bergerak pada wilayah deterministik. Manusia,
dalam pandangan Abad Pertengahan, adalah imago
dei, semacam citra Tuhan. St. Agustinus bahkan meyakini adanya
predestinasi, yaitu paham deterministik yang merujuk pada kenyataan bahwa
manusia, baik atau buruk, sudah ditentukan sebelumnya apakah masuk surga atau
neraka pada akhirnya.
Runtuhnya Abad Gereja adalah sekaligus dimulainya ”ledakan kegembiraan”
renaisans yang menandai otonomi manusia. Antroposentrisme berkembang lewat
penemuan-penemuan yang tidak lagi mesti mengacu pada batas-batas kitab suci yang
kaku dan dogmatis. Manusia renaisans adalah manusia yang ”bisa melakukan apapun
yang ia mau”. Kegembiraan yang ditunjukkan lewat kesadaran bahwa manusia
memiliki kehendak bebas ini tidak berlangsung lama, karena paham-paham tentang
manusia yang deterministik juga masih mewarnai Eropa, terutama di jaman Barok,
sekitar seratus tahun pasca renaisans.
Dinamika tersebut terus berlangsung, suatu pertempuran tanpa henti tentang
definisi manusia itu punya free will
atau malah deterministik. Namun nun jauh di Timur sana, pertanyaan-pertanyaan
tentang itu tidak sedemikian penting untuk dibicarakan. Dalam tradisi Barat
yang dihinggapi virus Aristotelian, terdapat prinsip identitas yang
non-kontradiksi, yaitu ”manusia tidak mungkin sekaligus free will dan deterministik sekaligus”. Tapi Timur menerima kontradiksi ini bukan
sebagai kontradiksi, melainkan paradoks, sesuatu yang keduanya mengandung
kebenaran sama tegak: Manusia adalah free
will sekaligus deterministik tanpa perlu dipertentangkan. Manusia adalah
alam, sekaligus bukan alam. Hal yang di Barat sebetulnya disadari oleh
segelintir filsuf SAJA seperti Leibniz.
Cara pandang Barat dan Timur terhadap manusia sudah sedemikian berbeda. Pun
jika dilihat rentang waktunya, sejarah pun menunjukkan bagaimana pandangan terhadap
manusia bisa berubah-ubah tergantung dari kekuasaan, kepentingan, dan semangat
jaman. Ini adalah suatu peluang, jika ternyata manusia bisa didefinisikan
secara dinamis, bisakah kita, dengan nalar kita sendiri, merumuskan manusia
yang ada pada diri kita, yang mendagingi kita: manusia Indonesia?
Kelas Filsafat Angkatan V
Setiap Selasa Pk. 17.00 -19.00 Wib
Setiap Selasa Pk. 17.00 -19.00 Wib
Kelas dimulai 24 April 2012
Mentor: Rosihan Fahmi, Syarif Maulana,
biaya per angkatan/peserta Rp. 250.000 (sudah termasuk materi dan sertifikat)
Materi:
Pertemuan ke-1: Pendahuluan
Pertemuan ke-2: Manusia Yunani
Pertemuan ke-3: Manusia Abad Pertengahan
Pertemuan ke-4: Manusia Renaisans
Pertemuan ke-5: Manusia Eksistensialis
Pertemuan ke-6: Manusia Posmodern
Pertemuan ke-7: Manusia Timur
Pertemuan ke-7: Manusia Timur
Pertemuan ke-8: Penutup: Manusia Indonesia?
Bookmark this post: |

No comments:
Post a Comment