24.4.12

Kelas Filsafat untuk Pemula: Paradoks Manusia


Selasa, 24 April

Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan kelima memulai pertemuannya untuk pertama kali. Temanya adalah Re-definisi Manusia. Kelas yang diasuh oleh Rosihan Fahmi dan Syarif Maulana ini membahas pandangan tentang manusia mulai dari era Yunani hingga era kontemporer. Pada ujungnya, kelas ini mencoba memberi tantangan bagi pesertanya: Bisakah manusia Indonesia dirumuskan?

Sebelum memasuki pandangan-pandangan beragam tentang manusia, kelas dimulai dengan membahas tentang definisi manusia itu sendiri. Ada banyak definisi yang berserakan, misalnya manusia sebagai makhluk yang berakal budi, makhluk yang berbicara, makhluk yang menggunakan simbol, makhluk yang berbudaya, makhluk yang spiritual, hingga makhluk yang berkehendak bebas.

Definisi itu jelas tidak mutlak. Karena manusia adalah makhluk paradoks, ia punya dua kecenderungan sekaligus yang kedua-duanya sama-sama benar. Misalnya, manusia adalah makhluk yang berkehendak bebas, tapi juga tidak bebas. Kenapa? Karena manusia terbatas pada hal-hal misalnya fisik, psikologis, dan lingkungan. Artinya, manusia adalah makhluk bebas tapi juga terbatas, yang mana jika terbatas adalah artinya tidak bebas. Manusia juga adalah makhluk yang tertutup, dalam artian yang ia bisa ketahui hanya dirinya sendiri untuk dirinya sendiri. Namun di waktu bersamaan manusia juga adalah makhluk yang terbuka, ia selalu berusaha melampaui dirinya. Misalnya, ia kerap berupaya memahami orang lain, masyarakat, alam semesta, hingga Tuhan. Padahal yang semua itu berangkat dari pemahaman manusia itu tentang dirinya sendiri.

Kelas Filsafat untuk Pemula edisi kali ini diupayakan menghasilkan keluaran berupa buku kumpulan tulisan untuk para peserta. Maka itu sebelum pulang, disodorkan sebuah pertanyaan sebagai koridor bagi peserta, untuk menyicil tulisannya: Apa-siapa itu manusia menurut penghayatanmu?

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin