Selasa, 24 April
Kelas Filsafat untuk Pemula
angkatan kelima memulai pertemuannya untuk pertama kali. Temanya adalah
Re-definisi Manusia. Kelas yang diasuh oleh Rosihan Fahmi dan Syarif Maulana
ini membahas pandangan tentang manusia mulai dari era Yunani hingga era
kontemporer. Pada ujungnya, kelas ini mencoba memberi tantangan
bagi pesertanya: Bisakah manusia Indonesia dirumuskan?
Sebelum memasuki pandangan-pandangan beragam tentang manusia, kelas dimulai
dengan membahas tentang definisi manusia itu sendiri. Ada banyak definisi yang
berserakan, misalnya manusia sebagai makhluk yang berakal budi, makhluk yang
berbicara, makhluk yang menggunakan simbol, makhluk yang berbudaya, makhluk
yang spiritual, hingga makhluk yang berkehendak bebas.
Definisi itu jelas tidak mutlak. Karena manusia adalah makhluk paradoks, ia
punya dua kecenderungan sekaligus yang kedua-duanya sama-sama benar. Misalnya,
manusia adalah makhluk yang berkehendak bebas, tapi juga tidak bebas. Kenapa?
Karena manusia terbatas pada hal-hal misalnya fisik, psikologis, dan
lingkungan. Artinya, manusia adalah makhluk bebas tapi juga terbatas, yang mana
jika terbatas adalah artinya tidak bebas. Manusia juga adalah makhluk yang
tertutup, dalam artian yang ia bisa ketahui hanya dirinya sendiri untuk dirinya
sendiri. Namun di waktu bersamaan manusia juga adalah makhluk yang terbuka, ia
selalu berusaha melampaui dirinya. Misalnya, ia kerap berupaya memahami orang
lain, masyarakat, alam semesta, hingga Tuhan. Padahal yang semua itu berangkat
dari pemahaman manusia itu tentang dirinya sendiri.
Kelas Filsafat untuk Pemula edisi kali ini diupayakan menghasilkan keluaran
berupa buku kumpulan tulisan untuk para peserta. Maka itu sebelum pulang,
disodorkan sebuah pertanyaan sebagai koridor bagi peserta, untuk menyicil
tulisannya: Apa-siapa itu manusia menurut
penghayatanmu?
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment