16.4.12

Klab Filsafat: Anjing!


Senin, 16 April 2012

Dengan topik semacam itu, Rudy kena batunya. Ia mengirimkan SMS pemberitahuan ke temannya, dan teman itu tersinggung. Dikiranya Rudy tengah mengumpat. Topik usulan Ijal tersebut memang tidak direduksi judulnya. Dibiarkan apa adanya: Anjing! 

Ijal sendiri urung hadir. Namun ia menitipkan tulisan menarik: Tentang penggunaan kata ”anjing” yang biasa menjadi pengganti tanda koma. Memang iya, dalam pergaulan sehari-hari, menyisipkan kata tersebut dalam percakapan biasanya merupakan bentuk keakraban tersendiri. Tapi hati-hati jika kasusnya seperti Rudy, mungkin mereka tidak cukup akrab sehingga salah satunya menjadi sensi. Pertanyaan besarnya: Mengapa kata ”anjing” sedemikian krusial? Kenapa tidak binatang lain? ”Babi” misalnya. 

Surabaya, kata Kharisma Prima, punya kata ganti yang mirip-mirip yakni ”jancuk”. Fungsinya sama, selain untuk umpatan, juga sebagai simbol keakraban. Ternyata di Padang juga ada, Jawa Tengah juga ada, hingga Teddy bisa menceritakan bagaimana Bahasa Inggris dan Arab juga memilikinya hal yang sama. ”Sharmuta,” kata Teddy, merujuk pengalamannya beberapa tahun tinggal di Kuwait. 

Iqbal, seorang psikolog, menganalisis mengapa kata ”anjing” dipilih sebagai kata favorit dalam umpatan. ”Jika marah, seringnya orang mengatupkan geraham dan mendengung. Maka itu kata umpat yang berakhiran huruf vokal agak jarang digunakan. Memang ’anjing’ adalah kata yang memenuhi syarat.” Soal mengapa binatang itu yang dipilih, Iqbal juga mengajukan tesisnya, ”Mungkin anjing adalah satu-satunya binatang yang bisa berburu tapi juga bisa tunduk sekaligus pada tuannya. Berkata anjing berarti menundukkan lawan bicara.” Liky dalam hal ini menyetujuinya, ”Memang iya, dalam situasi seakrab apapun, ada hierarki halus yang menunjukkan bahwa yang satu boleh meng’anjing’-’anjing’-i yang lain, sementara yang lainnya tidak. Yang boleh meng-’anjing’-i yang lain inilah yang hierarkinya lebih tinggi.” 

 Namun perlu dicurigai, bahwa kata ”anjing” bermakna lebih dalam dari artinya. Kata ”anjing” bisa menjadi sebuah ekspresi bawah sadar yang paling subtil, yang selama ini keberadaannya kerapkali ditekan superego norma-norma. Kita semua tahu, sebagaimana halnya ditekankan Sudjiwo Tedjo dalam tulisan yang ditautkan Ijal, bahwa petinggi-petinggi yang korup itu berbahasa baik dan benar. Orang kerapkali membutuhkan umpatan untuk berekspresi. Pada titik itu, untuk mendamaikan dengan sekitar, sering dibuat semacam kata-kata rautan, yang diperhalus padahal juga umpatan. ”Anjing” jadi ”anjis”,”anjrit”, ”anjir” atau bahkan Ping menemukan fenomena baru, ”Andai!” 

Google Twitter FaceBook

1 comment:

Leadership Developmant Training said...

kunjungan gan.,.
bagi" motivasi.,.
Seorang pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan,
orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.,
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin