23.4.12

Klab Filsafat: Fundamentalisme dalam Keseharian

Senin, 23 April 2012  

Sore itu, Klab Filsafat memasalahkan topik “Fundamentalisme”. Yang menjadi pemasalah adalah Ratu Kica, seorang mahasiswi hukum yang telah menjadi bagian dari forum diskusi selama sekitar satu bulan belakangan. Kica mengawalinya dengan definisi, lalu memberi contoh fundamentalisme dalam agama dan juga pasar. 

Setelah pemaparan singkat dari Kica, diskusi dimulai dengan berbagi pengalaman masing-masing mengenai fundamentalisme (sebelum didefinisikan lebih lanjut). Reza misalnya, ia menceritakan bahwa fundamentalisme ada dalam keluarga. Ia pernah bertemu seorang wanita yang “dipenjara” oleh orangtuanya, karena harus berpacaran hanya dengan orang keturunan Cina plus beragama Kristen. Alasannya, dua kombinasi latar belakang itu diasumsikan berkelakuan baik. 

Fundamentalisme kemudian oleh Irwan disebutkan ada dalam dunia akademik, yang oleh Albert diamini secara lebih luas yang mana ada juga seperti itu dalam sains. Kisah menarik datang dari Ardi yang membicarakan fundamentalisme dalam agama. Ketika ia berdebat dalam forum di kampusnya di Makasar, ia difatwa “halal darahnya” karena dianggap bertentangan ketika diskusi. Kica pun menambahkan, ketika berkomentar di Twitter soal represi terhadap Ahmadiyah, ada kawan sekelasnya yang justru menghardik cukup keras. 

Dari beberapa pengalaman tersebut, ditarik semacam pemahaman sementara, bahwa fundamentalisme adalah suatu cara pandang terhadap suatu hal yang kemudian dibela habis-habisan. Problemnya, fundamentalisme itu baik-baik saja jika pasif, kata Ijal, yang mengganggu adalah fundamentalisme aktif, yaitu mereka yang secara ekspansif memaksakan pandangannya ke orang lain. Atau dalam arti kata lain, perbedaan dianggap sesuatu yang mesti diluruskan. ”Fanatik itu perlu,” tambah Ardi, ”Karena dunia ini khaos, kita perlu keyakinan mendasar agar dunia ini tampak teratur.” 

Namun oleh sebab kata fundamentalisme ini menjadi bisa dipakai dimana saja, Sulhan dan Diecky menyarankan agar kata itu khusus diperuntukkan bagi agama. Penyebabnya, dalam seni atau sains, tidak ada dogma yang ketat. Sains misalnya, selama teori baru bisa terbukti meruntuhkan yang lama, maka harusnya bisa diterima. Tidak perlu khawatir ada perang antara teori lama dan teori baru. Pun demikian seni, ketika murid kemudian menghayati sesuatu yang berbeda dari gurunya, maka yang demikian sah-sah saja. Hal yang demikian tidak ada dalam agama yang dianut secara keras. Murid harus seperti guru, meskipun dunia kesehariannya berbeda. 

Pada titik ini mari kita mengutip Nietzsche: “Murid belum berhasil jika ia selamanya menjadi murid.” Hal demikian agaknya yang dilupakan oleh fundamentalisme. 

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin