10.4.12

Klab Filsafat: Kuminis dan Keseharian Kita


Senin sore hujan deras, seperti diskusi Klab Filsafat yang saat itu membahas “Kuminis dan Keseharian Kita” mengalir begitu deras. Seperti biasanya, tema dan isu-isu komunis memang selalu diminati begitu intens oleh golongan tertentu. Pada kesempatan ini, Licky yang menjadi pemasalahnya. Ia memulai diskusi dengan paparan singkat sejarah Materialisme-Historis Marx, dialektika Hegel, lalu Feuerbach. Para peserta yang hadir sedikit mengerinyitkan dahi, entah siaga menyimak, atau memutar otak atas penjelasan Licky.

Ijal, yang saat itu memoderatori jalannya diskusi merasa ‘pembukaan’ ini harus segera dibatasi agar tidak menyuruk pada persoalan yang lebih ngejelimet. Kemudian diskusi mulai didominasi oleh cerita-cerita dan pengalaman sehari-hari. Salah satu peserta mengingatkan, jangan-jangan komunisme itu akan menjadi jalan untuk ‘diktator komunis’ naik tahta. Sebab pada akhirnya memang suatu gerakan—apalagi negara—harus dipimpin oleh seseorang. Pada kasus ini, mungkin ‘buruh-terdidik’ yang mengambil peranan. Licky kemudian menjelaskan cita-cita Marx dalam paham komunisnya bukan menciptakan tatanan negara baru, tapi lebih pada anarkisme.

Anarkisme disini perlu dibedakan dengan vandalisme. Sebab masih saja banyak yang mencampuradukan keduanya, Nino menambahkan “anarkis itu mengidealkan sebuah masyarakat tanpa negara, maka jika kemarin saat demo BBM di Jakarta, itu bukan anarkis. Mereka masih menghendaki pemerintahan. Kekerasannya bisa hanya digolongkan vandalis.” Licky menyahut “betul, itulah yang dicita-citakan Marx dengan komunisnya”
Memang pemikiran Marx ini sering menimbulkan banyak reaksi, beragam tafsir, sebab ideologi-praxis yang berbasis gerakan memang selalu mudah jatuh pada jurang kepentingan. Tergantung golongan mana yang akan menyitir pemikiran tersebut, tentu saja untuk kepentingannya.

“Bagi saya yang setiap harinya bekerja sebagai budak kapitalis, memang merasa sangat ‘dimanfaatkan’, sementara para pemilik modal semakin bertumpuk kekayaannya, buruh-buruh seperti saya ya begini saja hidupnya. Bagun pagi, kerja rodi, pulang malam, tidur, bangun, begitu seterusnya” seru salah seorang peserta yang hadir.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Sepertinya jika payung besar bernama negara dan pasar sudah terlalu banyak bolongnya, banyak bocornya, kita tidak mesti selalu merecoki payung itu. Ada baiknya kita berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk membuat payung-payung kecil, lalu menyusuri jalan setapak yang kita pilih sendiri, singgah sebentar di gubuk untuk menghangatkan badan, jalan lagi. Begitu seterusnya…

ah sudahlah, begitu saja. siapa tahu lebih hangat.

Tema minggu depan “Anjing!”


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin