Senin sore hujan deras,
seperti diskusi Klab Filsafat yang saat itu membahas “Kuminis dan Keseharian
Kita” mengalir begitu deras. Seperti biasanya, tema dan isu-isu komunis memang
selalu diminati begitu intens oleh golongan tertentu. Pada kesempatan ini,
Licky yang menjadi pemasalahnya. Ia memulai diskusi dengan paparan singkat
sejarah Materialisme-Historis Marx, dialektika Hegel, lalu Feuerbach. Para
peserta yang hadir sedikit mengerinyitkan dahi, entah siaga menyimak, atau
memutar otak atas penjelasan Licky.
Ijal, yang saat itu
memoderatori jalannya diskusi merasa ‘pembukaan’ ini harus segera dibatasi agar
tidak menyuruk pada persoalan yang lebih ngejelimet.
Kemudian diskusi mulai didominasi oleh cerita-cerita dan pengalaman
sehari-hari. Salah satu peserta mengingatkan, jangan-jangan komunisme itu akan
menjadi jalan untuk ‘diktator komunis’ naik tahta. Sebab pada akhirnya memang suatu
gerakan—apalagi negara—harus dipimpin oleh seseorang. Pada kasus ini, mungkin ‘buruh-terdidik’
yang mengambil peranan. Licky kemudian menjelaskan cita-cita Marx dalam paham
komunisnya bukan menciptakan tatanan negara baru, tapi lebih pada anarkisme.
Anarkisme disini perlu
dibedakan dengan vandalisme. Sebab masih saja banyak yang mencampuradukan
keduanya, Nino menambahkan “anarkis itu mengidealkan sebuah masyarakat tanpa
negara, maka jika kemarin saat demo BBM di Jakarta, itu bukan anarkis. Mereka
masih menghendaki pemerintahan. Kekerasannya bisa hanya digolongkan vandalis.”
Licky menyahut “betul, itulah yang dicita-citakan Marx dengan komunisnya”
Memang pemikiran Marx ini
sering menimbulkan banyak reaksi, beragam tafsir, sebab ideologi-praxis yang
berbasis gerakan memang selalu mudah jatuh pada jurang kepentingan. Tergantung
golongan mana yang akan menyitir pemikiran tersebut, tentu saja untuk
kepentingannya.
“Bagi saya yang setiap
harinya bekerja sebagai budak kapitalis, memang merasa sangat ‘dimanfaatkan’,
sementara para pemilik modal semakin bertumpuk kekayaannya, buruh-buruh seperti
saya ya begini saja hidupnya. Bagun pagi, kerja rodi, pulang malam, tidur,
bangun, begitu seterusnya” seru salah seorang peserta yang hadir.
Lalu apa yang bisa kita
lakukan? Sepertinya jika payung besar bernama negara dan pasar sudah terlalu
banyak bolongnya, banyak bocornya, kita tidak mesti selalu merecoki payung itu.
Ada baiknya kita berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk membuat
payung-payung kecil, lalu menyusuri jalan setapak yang kita pilih sendiri,
singgah sebentar di gubuk untuk menghangatkan badan, jalan lagi. Begitu seterusnya…
ah sudahlah, begitu saja. siapa tahu lebih hangat.
Tema
minggu depan “Anjing!”
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment