30.4.12

Klab Filsafat: Mempersoalkan Judi

Senin, 30 April 2012

Disebabkan oleh hujan yang melanda sebagian besar wilayah Bandung sore itu, Klab Filsafat agak sepi pengunjung. Namun yang demikian tidak menghalangi beberapa orang yang hadir untuk tetap berbincang agar suasana menjadi hangat. Liem Freddy selaku pemateri yang terlambat hadir, minggu kemarin mengusulkan agar hari itu dimasalahkan topik berjudul “Judi”. 


Mendengar topik ini, peserta tidak buru-buru untuk bercerita mengenai pengalamannya bersentuhan dengan judi. Irwan mengusulkan untuk mendefinisikan terlebih dahulu tentang judi itu sendiri: Apakah judi itu sebentuk mindset atau aktivitas? Maksudnya, apakah judi itu adalah segala-gala pola pikir mengenai penyikapan atas masa depan, atau permainan yang menggunakan uang sebagai taruhannya? 

Pertanyaan Irwan tersebut tidak mudah untuk dijawab. Karena ketika direnungkan, banyak sekali kejadian yang bisa dikategorikan berjudi. Kica misalnya, menganggap memilih jurusan di SMPTN pun semacam berjudi. Bahkan Ping menyebutkan bahwa beragama pun berjudi, karena tidak ada yang tahu siapa kelak yang mencapai kebenaran. Sampai-sampai Kharisma Putra mesti mempertanyakan: Apakah ada kegiatan yang non-judi? 

Sebetulnya, kata Teddy, apapun yang berkaitan dengan future adalah berjudi. Sedangkan present dan past, itu barulah non-judi. ”Ketika saya menunjuk Satrio ada di sini, maka itu bukanlah berjudi, karena ada suatu kepastian. Tapi kita bisa berjudi tentang apakah gempa bisa terjadi semenit lagi atau tidak.” Satrio mengiyakan dan menceritakan tentang percobaan terkenal bernama kucing Schroedinger. Salah satu interpretasinya menyatakan bahwa percobaan mengenai kucing yang dikenai radioaktif di dalam kotak itu, kita hanya bisa tahu bagaimana hasil percobaannya satu-satunya hanya dengan membuka si kotak dan melakukan observasi. Artinya, segala sesuatu adalah judi sebelum dipastikan dengan observasi. Ketika ia sudah diobservasi maka statusnya menjadi present atau bahkan past

Liem Freddy yang akhirnya datang, mencoba menjawab pertanyaan Irwan pertama dengan suatu kalimat yang cukup romantis, ”Ada orang yang hidup untuk judi, dan judi untuk hidup.” Kata Freddy, yang hidup untuk judi, itulah yang dinamakan mindset. Hidup ini sudah dikelilingi ketidakpastian maka berjudi sebagai pola pikir adalah niscaya, sebagai bentuk keberanian dalam menghadapi keabsurdan. Sedangkan judi untuk hidup, itulah yang dimaksud aktivitas. Ketika ketidakpastian disikapi dengan taruhan uang, dan yang demikian menjadi sumber penghidupan. 

 Soal dampak-dampak judi, Ping menutupnya dengan beberapa pernyataan cukup nakal, ”Judi yang menggunakan uang sebagai taruhan, melatih diri kita untuk ikhlas. Menganggap bahwa segala hal merupakan titipan jadi kita tidak perlu mempermasalahkan kalah atau menang. Selain itu judi juga bisa digunakan untuk mengukur integritas seseorang. Ada orang yang jika kalah, bayarnya susah. Yang demikian bisa kita ragukan integritasnya pada kondisi lainnya.”

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin