Dari bangun tidur di pagi
hari hingga tertidur lagi di malam harinya, berapa banyak ‘takhayul’ yang
menyusun keseharian kita? Lantas dengan cara bagaimana kita menyikapi takhayul
tersebut? Apa yang sebenarnya dimaksud takhayul?
Dalam keseharian, kita
sering mendapati—entah itu dari teman, orang tua, atau dari guru: “ah, itu kan cuma
takhayul”. Kalimat itu biasanya terucap ketika ada fenomena yang diluar nalar
manusia, seperti: “jangan buang sampah sembarangan kalau lagi naik gunung,
nanti bisa tersesat”. Dari kalimat tersebut, ada sebuah kerancuan, antara ‘membuang
sampah sembarangan’ dengan ‘tersesat’. Secara logis-ketat, ‘membuang sampah
sembarangan’ akan membuat lingkungan menjadi ‘kotor’, bukan ‘tersesat’. Jika
sesederhana itu bisa dipahami, lantas mengapa takhayul masih subur di negeri
ini? Maka dari itu, klab filsafat hari ini membicarakan takhayul dalam keseharian.
Suatu upaya menengok kembali persoalan-persoalan yang biasanya kita anggap
sebagai takhayul.
Dalam kamus besar bahasa
Indonesia, takhayul didefinisikan sebagai berikut: (sesuatu yang) hanya ada dalam
khayal belaka. Rudi sebagai pemasalah, membuka diskusi dengan paparan
singkat mengenai takhayul yang seringkali mengisi kesehariannya. Meskipun ia
tidak merasa terganggu dengan takhayul tersebut, ia tetap merasa berkebutuhan
untuk mengupasnya lebih jauh.
“Khayal, jika kata kuncinya
adalah khayal, maka sains pun awalnya bisa dikatakan sebagai takhayul?” tanya
salah seorang peserta. “pada awalnya memang selalu demikian, tapi ketika pola
nya ditemukan dan menjadi suatu hal yang universal, konsep tersebut akan menjadi
sains yang terbukti dan teruji kebenarannya.” sergah Albert.
“Jika ada takhayul perihal
tanggal kematian seorang yang ber-shio tikus akan mati pada tahun ular,
kemudian ada beberapa orang yang mengafirmasinya karena (entah kebetulan atau
bagaimana) ia menemui peristiwa yang cocok, misalnya temannya ada yang mati, ia
mungkin akan percaya bahwa ‘takhayul itu benar’. Cara mengujinya mudah, hitung
saja menggunakan statistik berapa orang yang mengalaminya untuk menguji
keakuratan ‘takhayul’ tersebut. Karena kita seringkali mengesampingkan fakta
negativa dari fakta yang ingin dimunculkan.” Albert menambahkan.
“Manusia semenjak
kelahirannya, selalu berupaya mencari pola-pola. Jika pola ditemukan, maka
tercipta suatu rumusan, jika tidak, manusia akan menghubungkannya dengan pola
lainnya yang berdekatan, yang sudah ada sebelumnya.” Sebuah kutipan dari
Richard Dawkin yang dikutip oleh seorang peserta klab.
Takhayul, mungkin juga
sebagai upaya manusia mendekati realitas. Tentu saja dengan ‘tujuan’ tertentu,
ujar Albert. Tidak hanya dalam diri sains, takhayul juga seringkali ditutupi
dengan takhayul lainnya, tujuannya hanya satu, yaitu tetap melanggengkan tujuan
yang ditetapkan diawal. “Akal adalah budak nafsu” kalau kata David Hume. Akal
dengan segenap komposisi nalarnya akan segera membuat benteng yang menjaga
nafsu tersebut tetap pada maksudnya, tetap di jalannya.
Obrolan sore ini menjadi
semakin meruncing ketika soal-soal ontologis tentang semesta di ketengahkan.
Sebab bisa jadi seorang yang selalu mencari pola dari alam semesta ini memang
mendasarkan diri pada landasan ontologis semesta yang berpola. Tapi kita tidak bisa menutup mata juga, ada banyak orang yang percaya semesta ini ‘khaotik’
pada dirinya (khaotik an sich?) dan
manusia hanya berupaya membuat pola yang mampu dimengerti, untuk kemudian
dikuasai?
Barangkali, yang dimaksud
dengan takhayul itu adalah upaya mencari ‘kesimpulan sementara’ yang mampu
mendukung suatu aksi. Kesimpulan itu dilakukan melalui sebuah ‘lompatan nalar’
pada kesimpulan yang bersifat ‘aksi’. Seperti Primbon Jawa akan dianggap
takhayul bagi mereka yang tidak mengerti (alih-alih mengimani/mempercayai)
bahwa didalamnya ada perhitungan-perhitungan tertentu, itu akan tetap sunyi di
dalam kalangan mereka sendiri. Sebab jalan itu tetap gelap, sebab kita hanya
tahu pada akhirnya saja. Pada ‘aksi’ nya saja.
Seperti angka-angka dalam
grafik pergerakan ekonomi dunia yang muncul di televisi malam ini, bagi tukang
becak itu takhayul, sebab yang ia mengerti hanyalah besok saya harus ngutang lagi
untuk makan di warung mpok Minah. Seperti pengobatan-pengobatan ‘hitam’ yang
mungkin hanya bisa diturunkan lewat darah, bagi sebagian kalangan terdidik itu
takhayul, sebab ketika mereka batuk, dokter lah yang datang untuk mengusir si
batuk.
“Sebab,
bisa jadi tanah ini memang masih tempat bersemayam roh-roh. Di pohon-pohon
keramat memang masih ada mambang yang menunggu. Di hutan-hutan belantara ada
demit yang menghuni. Di tebing-tebing ada siluman yang menjaga. Pesan mereka
satu: Jangan merusak rumah kami, yaitu bumi dimana engkau hidup sekarang.”
-Ayu Utami, Bilangan FU
Jatinangor, 1 April 2012
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment