2.4.12

Klab Filsafat: Takhayul



Dari bangun tidur di pagi hari hingga tertidur lagi di malam harinya, berapa banyak ‘takhayul’ yang menyusun keseharian kita? Lantas dengan cara bagaimana kita menyikapi takhayul tersebut? Apa yang sebenarnya dimaksud takhayul?

Dalam keseharian, kita sering mendapati—entah itu dari teman, orang tua, atau dari guru: “ah, itu kan cuma takhayul”. Kalimat itu biasanya terucap ketika ada fenomena yang diluar nalar manusia, seperti: “jangan buang sampah sembarangan kalau lagi naik gunung, nanti bisa tersesat”. Dari kalimat tersebut, ada sebuah kerancuan, antara ‘membuang sampah sembarangan’ dengan ‘tersesat’. Secara logis-ketat, ‘membuang sampah sembarangan’ akan membuat lingkungan menjadi ‘kotor’, bukan ‘tersesat’. Jika sesederhana itu bisa dipahami, lantas mengapa takhayul masih subur di negeri ini? Maka dari itu, klab filsafat hari ini membicarakan takhayul dalam keseharian. Suatu upaya menengok kembali persoalan-persoalan yang biasanya kita anggap sebagai takhayul.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, takhayul didefinisikan sebagai berikut: (sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka. Rudi sebagai pemasalah, membuka diskusi dengan paparan singkat mengenai takhayul yang seringkali mengisi kesehariannya. Meskipun ia tidak merasa terganggu dengan takhayul tersebut, ia tetap merasa berkebutuhan untuk mengupasnya lebih jauh.

“Khayal, jika kata kuncinya adalah khayal, maka sains pun awalnya bisa dikatakan sebagai takhayul?” tanya salah seorang peserta. “pada awalnya memang selalu demikian, tapi ketika pola nya ditemukan dan menjadi suatu hal yang universal, konsep tersebut akan menjadi sains yang terbukti dan teruji kebenarannya.” sergah Albert.

“Jika ada takhayul perihal tanggal kematian seorang yang ber-shio tikus akan mati pada tahun ular, kemudian ada beberapa orang yang mengafirmasinya karena (entah kebetulan atau bagaimana) ia menemui peristiwa yang cocok, misalnya temannya ada yang mati, ia mungkin akan percaya bahwa ‘takhayul itu benar’. Cara mengujinya mudah, hitung saja menggunakan statistik berapa orang yang mengalaminya untuk menguji keakuratan ‘takhayul’ tersebut. Karena kita seringkali mengesampingkan fakta negativa dari fakta yang ingin dimunculkan.” Albert menambahkan.

“Manusia semenjak kelahirannya, selalu berupaya mencari pola-pola. Jika pola ditemukan, maka tercipta suatu rumusan, jika tidak, manusia akan menghubungkannya dengan pola lainnya yang berdekatan, yang sudah ada sebelumnya.” Sebuah kutipan dari Richard Dawkin yang dikutip oleh seorang peserta klab.

Takhayul, mungkin juga sebagai upaya manusia mendekati realitas. Tentu saja dengan ‘tujuan’ tertentu, ujar Albert. Tidak hanya dalam diri sains, takhayul juga seringkali ditutupi dengan takhayul lainnya, tujuannya hanya satu, yaitu tetap melanggengkan tujuan yang ditetapkan diawal. “Akal adalah budak nafsu” kalau kata David Hume. Akal dengan segenap komposisi nalarnya akan segera membuat benteng yang menjaga nafsu tersebut tetap pada maksudnya, tetap di jalannya.

Obrolan sore ini menjadi semakin meruncing ketika soal-soal ontologis tentang semesta di ketengahkan. Sebab bisa jadi seorang yang selalu mencari pola dari alam semesta ini memang mendasarkan diri pada landasan ontologis semesta yang berpola. Tapi kita tidak bisa menutup mata juga, ada banyak orang yang percaya semesta ini ‘khaotik’ pada dirinya (khaotik an sich?) dan manusia hanya berupaya membuat pola yang mampu dimengerti, untuk kemudian dikuasai?

Barangkali, yang dimaksud dengan takhayul itu adalah upaya mencari ‘kesimpulan sementara’ yang mampu mendukung suatu aksi. Kesimpulan itu dilakukan melalui sebuah ‘lompatan nalar’ pada kesimpulan yang bersifat ‘aksi’. Seperti Primbon Jawa akan dianggap takhayul bagi mereka yang tidak mengerti (alih-alih mengimani/mempercayai) bahwa didalamnya ada perhitungan-perhitungan tertentu, itu akan tetap sunyi di dalam kalangan mereka sendiri. Sebab jalan itu tetap gelap, sebab kita hanya tahu pada akhirnya saja. Pada ‘aksi’ nya saja.

Seperti angka-angka dalam grafik pergerakan ekonomi dunia yang muncul di televisi malam ini, bagi tukang becak itu takhayul, sebab yang ia mengerti hanyalah besok saya harus ngutang lagi untuk makan di warung mpok Minah. Seperti pengobatan-pengobatan ‘hitam’ yang mungkin hanya bisa diturunkan lewat darah, bagi sebagian kalangan terdidik itu takhayul, sebab ketika mereka batuk, dokter lah yang datang untuk mengusir si batuk.

“Sebab, bisa jadi tanah ini memang masih tempat bersemayam roh-roh. Di pohon-pohon keramat memang masih ada mambang yang menunggu. Di hutan-hutan belantara ada demit yang menghuni. Di tebing-tebing ada siluman yang menjaga. Pesan mereka satu: Jangan merusak rumah kami, yaitu bumi dimana engkau hidup sekarang.”
­ -Ayu Utami, Bilangan FU



Jatinangor, 1 April 2012
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin