30.4.12

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Mengurai Kompleksitas Black Metal


Minggu, 29 April 2012

Ternyata keliru, jika menganggap musik klasik sebagai musik yang kompleks baik secara musikalitas maupun historisitas. Hal tersebut baru disadari ketika KlabKlassik mengundang narasumber Black Metal untuk memaparkan sejarahnya. Genre tersebut malah bisa dibilang amat kompleks dan terus berdinamika hingga hari ini. Berbeda dengan musik klasik yang misalnya, dinamikanya agaknya sudah terhenti di persoalan interpretasi alih-alih ideologi.

Rahardianto, sang narasumber, memaparkan sejarah Black Metal dari awal sekali. Ia menyebut Heavy Metal atau Hard Rock sebagai biang keladinya. Band-band seperti Led Zeppelin, Black Sabbath, serta Deep Purple "bertanggungjawab" dalam melahirkan aliran New Wave of British Heavy Metal semisal Iron Maiden atau Def Leppard. Mereka inilah jembatan menuju kelahiran Black Metal. Kata Rahar, "Black Metal adalah musik metal yang meminimalisir unsur-unsur blues dan vokal terlampau estetis yang akrab dengan band-band Heavy Metal."

Embrio Black Metal sendiri, Rahar merunutnya ke band Venom yang melahirkan album berjudul Black Metal di tahun 1982. Banyak yang percaya nama Black Metal itu sendiri adalah pengaruh dari penamaan album tersebut. Rahar menyebut tahun-tahun itu sebagai first wave, yang termasuk di dalamnya juga band-band semacam Hellhamer, Bathory dan Celtic Frost. 

Venom, sang embrio.

Suasana menjadi agak mencekam ketika Rahar berkisah tentang second wave yang diinspirasi oleh band-band dari wilayah Skandinavia. Gelombang kedua ini memiliki beberapa ciri, misalnya gitar yang tremolo picking, drum yang blastbeat, vokal yang scream, serta kualitas rekaman yang raw. Gaya tersebut, kata Rahar, menjadi agak umum, semacam pengukuhan bahwa yang seperti itulah semestinya Black Metal. Ditambahkan pula pentingnya faktor corpse paint, yaitu dilukisnya wajah agar menyerupai mayat dalam performa band Black Metal. Hal yang demikian juga menjadi standar.
Corpse Paint.

Di bagian-bagian penutup, diskusi yang lebih banyak dihadiri oleh anak-anak di genre metal ketimbang di genre klasik tersebut, mengisahkan tentang beberapa kejadian unik yang melibatkan pemain-pemain band di wilayah Black Metal terutama scene Skandinavia. Misalnya, kasus pembakaran beberapa gereja yang dipelopori oleh vokalis Burzum, Varg Vikernes. Selain itu, ada juga kejadian bunuh diri seorang musisi Black Metal yang mana bekas mayatnya malah dipotret untuk dijadikan cover album. 

 Rahar kemudian memaparkan betapa Black Metal hari ini sudah sangat berkembang dan jauh dari akarnya. Ada Black Metal yang lebih depresif karena musiknya tidak kencang namun justru pelan dan membius. Ada Black Metal yang environmentalist karena menggunakan akustikdan meminimalisasi penggunaan pengeras suara! Ini menjadi menarik karena mempertunjukkan kompleksitas tersendiri dari dunia musik metal yang biasanya terlalu disimplifikasi menjadi musik-musik yang berisik saja. Ketika menelusuri sejarahnya macam ini, meskipun singkat, namun terasa kompleksitasnya. Bahwa musik tidak sebatas genjrang-genjreng saja, ada ideologi yang rumit, kuat, keras, dan seringkali filosofis di sana. 

Salah satu presentasi Rahar tentang salah satu perkembangan Black Metal berikutnya: Symphonic Black Metal.



 Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin