17.5.12

Kelas Filsafat untuk Pemula: Manusia Yunani

Selasa, 15 Mei 2012

Sore itu Klab Filsafat untuk Pemula memulai pertemuannya yang kedua. Peserta yang jumlahnya harusnya empat -namun yang hadir cuma tiga- itu datang untuk mencoba mendefinisikan manusia. Namun sebelum mendefinisikan secara mandiri, ada baiknya mendengarkan beberapa penjelasan tentang definisi manusia secara umum dengan menunjuk beberapa periode, peradaban, atau bangsa, tertentu. Kelas dimulai dengan membahas Manusia Yunani.

Kelas dimulai dengan pertanyaan, "Jika kalian lapar, apakah akan makan atau datang kemari?" Jae menjawab: "Terang saja saya makan dulu, sebelum kesini." Inilah titik pijak manusia Yunani, bahwa kesanggupan mereka memikirkan alam semesta, datang setelah urusan-urusan "logistik" keseharian. Konon, tahun 500 SM itu, ketika Thales menyerukan suatu pernyataan "filosofis pertama" bahwa alam semesta ini terbuat dari air, keadaan wilayahnya ketika itu tidak sedang mengalami kegawatan. Bahkan urusan-urusan rumah tangga banyak dikerjakan oleh para budak sehingga para tuan bisa punya waktu untuk memikirkan segala sesuatu yang lebih abstrak. Bandingkan misalnya dengan sekitar tahun yang sama di Cina, ketika Konfusius berpikir tentang apa yang seharusnya diperbuat secara praktis, oleh sebab negara yang tengah kacau di kala itu. 

Secara garis besar, periode manusia Yunani pra-Sokrates ditandai dengan proyek filsafat yang lebih mengarah pada alam. Pertanyaan seperti: "Alam semesta ini terbuat dari apa?" menjadi umum untuk dibacarakan oleh Thales, Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, hingga Demokritos. Pada titik ini posisi manusia Yunani dibanding dengan alam adalah kira-kira seperti ini:


Pemaparan menjadi menarik ketika memasuki Yunani di masa Socratic Era. Penjelasan hanya seputar Sokrates dan Plato saja karena Aristoteles dianggap lebih mempunyai pengaruh ke Abad Pertengahan. Sokrates mulai mengarahkan proyeknya pada manusia tanpa mengaitkan dengan dominasi keberadaan alam. Sokrates mulai berbicara etika, tentang "apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia". Ia bicara tentang pengetahuan dari dalam, yang absolut, yang membawa pada eudaimonia (kebahagiaan). Kata Sokrates, manusia seyogianya berbuat baik bukan karena aturan ataupun konsekuensi, tapi oleh sebab keutamaan, karena ia tahu apa yang baik.

Plato bisa jadi merupakan "pelopor" bagaimana manusia dipandang terdiri dari dua unsur, yaitu jiwa dan tubuh. Tubuh bisa mati dan merupakan pengindra yang tidak stabil, berubah-ubah, serta rapuh. Sedang jiwa di dalamnya terkandung pikiran yang seringkali mempunyai kontak dengan dunia ide nan abadi, tetap, dan kokoh. Cara pikir Plato ini mengilhami cukup banyak cara pandang terhadap manusia yang barangkali masih relevan hingga saat ini: tentang keabadian jiwa, tentang kerinduan ruh terhadap kebenaran Ilahi, hal yang sedemikian menyenangkan ketika dibicarakan dalam agama-agama. 

Dalam Manusia Yunani sebenarnya banyak terpilah lagi beberapa gaya pikir yang tidak bisa diseragamkan. Namun agar dapat mudah memahami peta kognitif, tidak ada salahnya juga melakukan generalisasi semacam itu. Manusia Yunani adalah manusia yang agaknya mengawali banyak cara memandang manusia, terutama manusia sebagai entitas yang selalu berupaya menjadi otentik. Karena di pertemuan berikutnya, di Manusia Abad Pertengahan, akan ada pembahasan ketika manusia tidak punyai nilai otentisitas di hadapan otoritas Gereja dan Kitab Suci.



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin