28.5.12

Klab Filsafat: Manusia Hari Ini Sudah Percaya Logos atau Masih Mitos?

Senin, 28 Mei 2012

Gambar diambil dari sini.

Klab Filsafat Tobucil kemarin membahas tentang “Konsumerisme”. Pemasalahnya adalah Kedot, mahasiswa yang tengah deg-degan menanti sidang skripsinya yang memang membahas tentang topik tersebut. 

Diawali dengan pemaparan Kedot tentang konsumerisme secara teoritik mulai dari Marx hingga Baudrillard, diskusi berlangsung lebih cair dan ramai ketimbang teori itu sendiri. Masalah mulai hadir ketika membadakan istilah ”konsumsi” dan ”konsumtif”. Jika konsumtif adalah sudah pasti konsumerisme, berarti konsumerisme itu sendiri adalah berbeda dari konsumsi biasa. Lantas apa yang menjadi beda? 

Konsumerisme dipercaya sebagai emotional buying. ”Membeli bukan disebabkan oleh fungsi, melainkan karena tindakan membeli itu sendiri,” demikian yang diusulkan Irwan. Dari sisi konsumen memang iya, tapi ada pandangan dari sisi produsen sendiri yang menjadikan perilaku semacam itu terbentuk. Harun misalnya, ia menyorotinya dari sisi medan sosial seni, ”Tidak ada hal yang terlalu rasional dalam penentuan harga suatu lukisan. Memang ada yang namanya profil seniman, konsistensi, dan harga material yang menyusun si karya. Tapi selebihnya ditentukan dengan semena-mena saja.” Sehingga bikin berkerut kening ketika mengetahui ada karya hiu yang diawetkan bisa seharga 12 juta dollar! Namun para kolektor, yang memang punya uang, biasanya membeli saja karena semata-mata harganya yang mahal. Harga mahal itu meningkatkan citra dirinya, terlepas dari apakah lukisan tersebut betul-betul layak dihargai seperti itu atau tidak. Walaupun agaknya kita tidak bisa sepenuhnya tahu, apakah yang disebut ”layak”? 

 Irwan punya cerita tentang keberadaan air mineral pada mulanya di Indonesia. Reaksi masyarakat adalah menolak, karena mengapa air mineral harus dijual? Taktiknya kemudian dari si produsen adalah meningkatkan harganya. Ternyata, tanpa diduga, taktik semacam itu berhasil. Artinya, tidak sepenuhnya, atau bahkan seringnya, masyarakat memang punya dasar konsumeristik, karena membeli adalah berdasarkan mitos saja: Karena harganya mahal, maka patut dibeli. Jika murah, mesti diragukan. 

Diskusi menjadi berujung pada tingkat rasionalitas masyarakat modern. Dulu, kata filsafat, peralihan dari masyarakat mitis ke rasional adalah kepercayaan pada mitos berubah menjadi logos. Dimulai dari Thales yang berkata, ”Alam semesta itu jangan-jangan dari air,” alih-alih ia mencari sebab musabab dari dewa-dewi mitologi. Namun agaknya rasionalitas belum sepenuhnya menjadi pijakan masyarakat hari ini. Seperti halnya percaya akan mitologi, kebanyakan dari kita masih percaya mitos-mitos dalam konsumsi. Ketika membeli yang ini lebih membahagiakan dari yang itu, tanpa tahu sebab musababnya! Bahkan sains sendiri dikooptasi menjadi bagian dari mitos konsumsi. Seperti tutup Satrio: ”Oksigen dalam air itu cuma bisa ditangkap oleh ikan. Tapi ada air minum yang mengklaim punya kandungan oksigen. Argumen saintifik itu ya yang membuat produk mereka sangat menjual.”
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin