21.5.12

Klab Filsafat: Menebar Romansa Demi Diri yang Utuh


Senin, 21 Mei 2012

Setelah Senin minggu lalu Klab Filsafat Tobucil “berpaling” sejenak ke IFI – Bandung untuk mengikuti diskusi film 2001: A Space Odyssey yang digelar oleh LayarKita, senin kemarin klab ini kembali lagi ke Jalan Aceh. Tujuannya satu: Mendiskusikan topik pilihan Kharisma Prima berjudul “Poliamori”.

Topik yang diangkat ini cukup menarik karena untuk pertama kalinya Klab Filsafat Tobucil membincangkan sesuatu yang agaknya termasuk paling sulit didefinisikan yaitu soal cinta. Berdasarkan pemaparan Kharisma Prima alias Kape, poliamori berasal dari bahasa Yunani yaitu poly yang berarti banyak dan bahasa latin amor yang berarti cinta. “Poliamori dapat diartikan sebagai posisi atau praktek yang memiliki lebih dari satu hubungan romantis terbuka pada suatu waktu,” kata sang pemasalah. Kata kuncinya terletak pada keterbukaan dan non-posesif, “Saya bisa jalan dengan wanita lain di satu waktu, asal wanita pendahulunya bisa menerima keputusan ini secara terbuka.” Poligami, katanya, adalah cabang dari poliamori yang terinstitusikan.

Pertanyaan berikutnya datang dari Ping: “Apa bedanya poliamori dengan persahabatan misalnya?” Difa menjawab: “Ada hormon yang tidak ada dalam persahabatan, jika ditinjau secara sains.” Memang, Kape menekankan dalam makalahnya, bahwa dalam pandangan materialis, cinta dan hasrat seksual merupakan hasil aktivitas sumber yang sama, yakni hormon oxytocin di dalam otak. Itu sebabnya poliamori mesti terbatas dalam hubungan romansa, hubungan yang sekiranya melibatkan hormon tersebut. Meskipun Kape menekankan, “Romansa itu tidak selalu dengan seks.”

Perbincangan mengenai poliamori ini awalnya mandeg di seputaran batas-batas poliamori itu sendiri sebelum Freddy hadir untuk membeberkan pengalaman pribadinya, “Poliamori itu setia pada komitmen, bukan pasangan. Intinya, kita mencari apa yang melengkapi kebutuhan kita, tapi tidak bisa dilayani oleh satu pasangan saja, bisa dua, tiga, atau lebih dari itu.” Namun ditekankan juga oleh Freddy, komitmen mesti ditekankan dari awal, “Saya mau pacaran sama kamu, tapi saya juga boleh dong jalan sama cewe lain. Begitupun kamu, kamu boleh juga jalan sama cowo lain.”

Di tengah diskusi, Kape juga membentangkan beberapa pengalaman poliamori dari kisah cinta di luar sana. Misalnya, gerakan hippies di AS tahun 60-an pada golongan tertentu menunjukkan kecenderungan poliamori dengan berkumpul bersama-sama di karavan dan bercinta bergantian. Meskipun Kape juga menekankan bahwa poliamori tidak harus selalu diidentikkan dengan seks, yang jika demikian maka namanya “kumpul kebo”. Lalu ada kisah filsuf-filsuf yang mengalami poliamori juga, seperti segitiga Soren Kierkegaard-Regina Olsen-Frederik Schlegel, lalu Friedrich Nietzsche-Lou Andreas Salome-Paul Ree, dan Jean-Paul Sartre-Simone de Beauvoir-serta “orang lain” yang sering diajak bercinta bertiga oleh pasangan tersebut.

Meski poliamori dianggap asyik oleh orang tertentu karena mencari kelengkapan diri dari banyak pasangan, namun tidak semua orang dalam forum diskusi setuju. Pertama, kelengkapan diri itu bisa saja ilusi. Nyatanya, diri kita tidak pernah puas dan selalu merasa tidak lengkap. Kedua, ada nilai-nilai yang masih agung dari bagaimana menerima pasangan tentang lebih dan kurangnya. Justru ketika seorang monoamori menerima kekurangan pasangannya yang satu-satunya itu, bisa jadi ia tengah melengkapi sang diri.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin