7.5.12

Klab Filsafat: Video Game, antara Hasrat dan Realitas

Senin, 7 Mei 2012

Klab Filsafat sore itu membahas tema cukup menarik yaitu tentang video game. Sang pembahas, Irwan Izukage Syah, tampaknya adalah orang yang sedemikian menguasai seluk beluk video game oleh sebab dirinya juga merupakan pelaku aktif.

Dari makalah yang dibagikan oleh Irwan, poin pertamanya adalah kenyataan bahwa banyak video game memberikan pesan filosofis tertentu. "Pesan filosofis bisa sampai cukup kuat," kata Irwan, "Karena video game menyuguhkan interaksi dan intensitas yang tinggi." Maksudnya, seseorang bisa menghabiskan waktu di depan video game lebih banyak dari medium seni lainnya seperti misalnya film atau novel. Ini tentu saja tidak terlepas dari kenyataan bahwa video game punya daya tarik grafis juga. Pesan filosofis itu Irwan kutip dalam bentuk tagline dari beberapa game:

"How do you prove that you exist? Maybe we don't exist." -Vivi, Final Fantasy IX-
"War.. war never changes." -Fallout 3-
 "A man chooses, a slave obeys." -Andrew Ryan, Bioshock-

Namun lebih dari itu, ketika orang-orang mulai berbagi pengalamannya, rasanya video game juga mewakili hasrat tertentu. Misalnya, Kape menceritakan tentang video game Grand Theft Auto yang memberi pilihan bagi si pemain untuk berlaku membunuh dan merusak kota. Agaknya, kata Kape, video game menyuguhkan suatu opsi untuk membangkang pada norma tanpa harus berisiko melanggar hukum atau norma-norma itu sendiri. Hal tersebut juga diamini Mayang, yang bermain The Sims secara serius dan jujur (tanpa cheat) namun kemudian ketika keluarga yang ia bangun sudah lengkap dan bahagia, ia merasa harus men-delete beberapa anak agar tidak menyibukkan dirinya. Ini juga menjadi semacam hasrat yang hampir mustahil dilaksanakan di dunia nyata, ketika kita menyikapi anak yang ribut dengan men-delete-nya.

Ada beberapa video game, kata Irwan, yang bukan cuma menyalurkan hasrat tapi juga mengaburkan realitas. Ia mencontohkan video game berjudul Majestic yang ketika awal mulai main, kita diwajibkan melakukan entri alamat e-mail dan nomor hape. Nantinya pihak game akan menelpon, SMS ataupun mengirimkan via e-mail, tugas-tugas kita sebagai agen rahasia. "Sehingga," kata Irwan, "bisa jadi di tengah-tengah tidur ada SMS yang menyuruh kita untuk melaksanakan misi!". Satrio bahkan mengenal orang yang meninggal dunia oleh sebab bermain bertahun-tahun lamanya di game online hanya makan coca-cola dan mie. Meskipun video game yang dimainkan almarhum bukan real time, tapi yang demikian adalah contoh bahwa realitas dan virtual sudah dikaburkan. Seseorang tidak sanggup lagi menjalani kehidupan yang dipijaknya dan hanya sanggup tampil di dunia cerita dalam video game.

Majestic. Game berbasis Real TIme.
Namun, ternyata dari video game ada juga hal-hal positif yang bisa diperoleh. Albert misalnya, menyatakan bahwa video game menjadi perkenalan pertama yang baik bagi anak-anak untuk bahasa asing. Selain itu, dengan video game juga seseorang bisa mengetahui bidang kehidupan yang lain seperti militer, sepakbola, ataupun kedokteran misalnya. Irwan menambahkan, ia juga pernah menyelesaikan konflik dengan seseorang oleh sebab bermain video game bersama. "Hasrat kekerasan sudah terlampiaskan lewat video game sehingga selesai bermain kami sudah enak perasaannya," tutupnya. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin