21.5.12

Merayakan Kehidupan lewat Lagu Kematian




Minggu, 20 Mei 2012

Hari Minggu kemarin KlabKlassik Edisi Playlist menyajikan topik yang agaknya ”kontroversial”. Sesuatu yang gelap, misterius, tapi nyata, yaitu kematian.

Ini bukan semata-mata tentang kematian. Sang koordinator, Adrian Benn, menyulap pengantarnya jadi agak ceria, yaitu: ketika kita mati, lagu apa yang ingin kau perdengarkan pada orang lain, yang mengingatkan mereka merayakan kehidupanmu. Walhasil suasana jadi agak gloomy, karena setiap orang jadi merenungkan kematiannya. Inilah dia lagu-lagu yang dihadirkan yang totalnya ada sembilan lagu.

  1. Tori Amos – Crucify (Margaretha Nita)
Lagu pembuka ini meskipun terdengar riang, namun isinya adalah kemarahan. Sesuatu yang kata Nita demikian lekat dengan tema-tema musik Tori Amos pada umumnya. Untuk lagu ini, kemarahan ditujukan pada agama, nilai-nilai masyarakat, dan kekecewaan pada mereka yang kerap membesar-besarkan konsep kematian. Nita menginginkan kematian yang tidak usah menyusahkan yang hidup. Sendiri, di hutan, dan tenggelam bersama keabadian bumi.

  1. Enya – It’s in the Rain (Permata Andhika)
Lagu pilihan Mata ini mulanya ditujukan pada kematian kucing-kucingnya yang ia tinggal seharian tanpa diberi makan. Tidak ada niat buruk di balik itu, Mata hanya berpikir bahwa karena kucing itu punya induk, maka sudah seyogianya sang induk mencarikan makanan. Rasa bersalah akan kematian kucing-kucingnya itu bisa dibuat lega oleh lagu Enya yang sedemikian terkesan “naturalistik”. Dekat dengan alam, seolah memang kucing Mata adalah from dust to dust.

  1. Metallica – Fade to Black (Syarif Maulana)
Lagu dari Syarif ini semacam keinginan pribadi, bahwa ketika kematiannya, mesti ada grup band Metallica menyanyikan lagu ini. Namun terlepas dari itu, lagu tersebut memang mengisahkan kematian. Bahwa kematian adalah sesuatu yang membebaskan: There is nothing more for me, need the end to set me free.

  1. The Gaslight Anthem – We’re Getting divorce, You Keep a Diner (Rahardianto)
Rahar adalah pribadi yang unik, ia menginginkan dan sekaligus meramalkan bahwa kematiannya akan berlangsung tragis dan mungkin saja menyakitkan. Maka itu ia memutar lagu yang juga tragis. Tentang perkawanan yang kemudian bercerai berai karena masing-masing orang mempunyai kehidupan sendiri. Rahar seolah mau mengatakan bahwa kematian pun seyogianya adalah urusan kesendirian, seperti dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam, “Manusia lahir sendiri-sendiri, mati juga sendiri-sendiri. Tidak ramai-ramai seperti pasar malam.” 

  1. Rollies – Salam Terakhir (Esa Esoy)
Lagu pilihan Esoy ini mengingatkan pada pergaulan ayahnya bersama kelompok rock 70-an Indonesia kala itu yang akrab dengan obat-obatan. Gito Rollies, sang vokalis The Rollies, termasuk yang keberadaannya cukup melekat di memori Esoy. Katanya, Gito menutup hidupnya dengan menjadi ustad, sesuatu yang kontradiktif dengan hidup masa mudanya. Ini adalah sebuah upaya untuk khusnul khatimah, mati dengan baik, mengucap salam terakhir pada kehidupan yang pernah membawanya pada puncak dunia. 

  1. Diecky and The G-Spot Tornado Ensemble Modern – Gogoleran (Diecky K. Indrapraja)
Kematian bagi Diecky adalah seperti orang yang baru bangun tidur. Ia sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, tadinya mau bangun tapi tidur lagi, atau dalam bahasa Sunda disebut gogoleran alias tidur-tiduran. Maka itu musik hasil komposisinya ini ditutup dengan fade out yang “nanggung”. Seperti mau habis tapi bunyinya muncul lagi sayup-sayup sebelum habis total.
  1. Libera – Going Home (Adrian Benn)
“Kematian yang damai”, dengan bidadari yang mengangkat roh menuju ke surga. Kira-kira inilah kesan yang disematkan pada lagu pilihan Ben yang dibawakan oleh kelompok paduan suara anak-anak bernama Libera. 

  1. Jethro Tull – Skating Away on The Thin Ice of The New Day (Muhammad Al-Mukhlisiddin)
Lagu Jethro Tull ini agak optimistis. Ini adalah tentang berselancar di es yang tipis. Meski es itu kelak retak, harus tetap skating away. Suatu ungkapan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya, lebih baik menghadapinya dengan sukacita. Namun sisi magis dari lagu ini adalah keberadaan instrumen tabla asal India yang demikian lekat melatari si lagu, membuat kematian mengepung suasana playlist di sore yang habis hujan itu.

  1. Omar Faruk Tekbilek, Yair Dalal & Azam Ali – Inshallah (Dien Fakhri Iqbal Marpaung)
Lagu instrumental kedua setelah musiknya Diecky tersebut, otomatis membawa pendengarnya pada suasana gurun pasir yang sepi dan tak bertuan. Namun titik berat Iqbal bukan pada kesendirian itu, melainkan pada judulnya yaitu inshaallah. Kata Iqbal, kata insha tidak punya padanan dalam bahasa apapun. Itu adalah bentuk perbatasan transsendental antara yang khalik dan yang makhluk.

Lagu dari Iqbal tersebut rupanya menjadi penutup. Yang hadir di edisi playlist itu sendiri ada dua belas orang namun tidak semua membawa lagu. Yang tidak memutar lagu, tetap asyik mengikuti jalannya ritual dan diskusi yang gelap dan galau.

Mati adalah niscaya, apa yang kita lakukan untuk menunggu gong itu berbunyi?
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin