7.5.12

Musik Sore Crafty Days: Berkah Pasca Hujan

Sepanjang enam edisi Crafty Days Tobucil, ada dua tradisi yang tidak pernah hilang. Yang pertama adalah hujan, yang kedua adalah musik sore. 

Hujan, meskipun membawa kericuhan karena mesti membereskan stand-stand bazaar di halaman untuk menghindari kebasahan, namun lama-lama Mba Tarlen sang penggagas menyebutnya sebagai, “Berkah.” Pun demikian dengan musik sore. Meskipun juga membawa kericuhan karena mesti menyiasati mungilnya beranda di Tobucil untuk menjadi panggung bagi beberapa kelompok band yang agaknya sudah cukup sering tampil di panggung-panggung “betulan”, namun sama seperti hujan, musik sore juga adalah berkah bagi Crafty Days. 

Berkah karena, pertama, penonton disuguhi sajian gratis sebagai rangkaian penutup bazaar. Kedua, suasana yang dihadirkan juga tergolong lain. Biasanya, dalam pentas musik pada umumnya, panggung itu berupa level. Agar setidaknya para performer sedikit lebih tinggi dari penonton sehingga punya jarak dan mendapat perhatian. Namun inilah yang disebut berkah bagi Crafty Days, ketika level itu tidak ada. Ketika pemain dan penonton tidak punya jarak. Atas dasar itu penonton tidak mesti tengadah ataupun fokus. Mereka bisa saja mengobrol atau celingukan di tengah-tengah permainan musik para pemain. Di sisi lain, ini juga merupakan tantangan bagi para pemain untuk tampil maksimal sehingga sanggup merebut perhatian penonton. Musik sore adalah alur energi dinamis yang terkonsentrasi.

Musik sore, seperti biasa, digelar di hari kedua Crafty Days yaitu hari Minggu. Yang tampil hari itu ada empat kelompok, yaitu Ririungan Gitar Bandung (RGB), Tesla Manaf Effendy dan Rudy Zulkarnaen, Mr. Bean and The Teddy Bear, serta ditutup dengan penampilan Seeblink. RGB adalah kelompok ensembel gitar untuk umum yang rajin ikut berlatih di Tobucil setiap hari Minggu. Mereka membawakan empat karya mulai dari klasik hingga pop. Lagu pertama adalah Romance karya Mozart, lalu La Cumparsita karya Matos Rodrigues, dilanjutkan dengan Tico Tico no Fuba karya Zequinha de Abreu, lantas ditutup dengan Drive My Car dari The Beatles. Penampilan RGB ini dilakukan tanpa sound system sehingga suaranya agak sayup-sayup.

Ririungan Gitar Bandung (RGB) di Musik Sore. Foto oleh Lava.

Tesla dan Rudy bermain memukau. Dua musisi jazz cukup malang melintang di Bandung ini tampil dengan empat karya dengan rincian: Tiga karya dari Pat Metheny (Better Days Ahead, H & H, dan James) dan satu karya ciptaan Tesla (After Her). Duet gitar dan kontrabas itu bermain sangat apik dan terdengar amat bebop oleh sebab cabikan bas Rudy yang begitu "tak henti-hentinya berjalan". Pun gitar Tesla dengan amat dinamis berupaya mengimitasi melody Metheny yang kita tahu, amatlah njelimet. Lagu karya Tesla sendiri menjadi anomali, ketika tiga lainnya demikian cepat dan berderap, lagu miliknya begitu sendu dan galau. Membuat Rudy mesti mengeluarkan busur basnya untuk menggesek senar sehingga terdengar menyayat. 

Penampilan Tesla dan Rudy. Foto oleh Lava.

Setelah penampilan duet Tesla dan Rudy, aroma jazz masih mendominasi Tobucil. Adalah Mr. Bean and The Teddy Bear, yang berformasikan empat orang, memainkan lagu-lagu berirama bossa-nova. Empat lagu termasuk diantaranya dua karya Antonio Carlos Jobim berjudul How Insensitive dan The Girl from Ipanema, mengalir dari sang solis berinstrumen klarinet bernama Adit. Keberadaan gitar, bas, dan cajon membuat ritmis bossa-nova semakin kental, plus melodi yang muncul dari klarinet menimbulkan karakter gloomy yang cukup-cukup membuat beranda Tobucil pasca hujan menjadi sendu. 

Penutupan musik sore dan juga sekaligus Crafty Days adalah penampilan meriah dari Seeblink. Meski hanya berdua, yakni Lava dan Gatot, namun Seeblink meriah oleh sebab perlengkapannya yang elektronis. Lagu yang mereka bawakan konon hanya satu, namun ternyata satu itu berdurasi lima belas menit dan berisikan beberapa lagu yang dimainkan secara medley (Bubuy bulan, Amy Winehouse "You know I'm No Good", Mashup live remix Seven Nation Army vs Rihanna "Only Girl", lagu Seeblink sendiri "Rise & Fall", "2 Sides" dan "Nyong Ondos"). Penampilan Seeblink ini menjadi anomali ketika tiga penampil sebelumnya berformat akustik, mereka tampil dengan turntable dan banyak sekali efek untuk menghasilkan bunyi-bunyi chorus, delay, flanger, dan segala bunyi yang mustahil muncul dari instrumen akustik. 

Duo Seeblink: Gatot dan Lava.
Penampilan puncak tersebut menjadi klimaks, oleh sebab audiens Tobucil telah diajak untuk bertamasya dari keheningan RGB ke pamungkas gemerlapnya sound-sound Seeblink. Setelah Seeblink mengakhiri musiknya, beranda Tobucil kembali hening dan orang menyadari bahwa tempat itu adalah sekadar beranda. Namun pada momen tertentu, Tobucil sanggup menyulapnya menjadi tempat yang asing, yang sanggup membawa pendatangnya lari sejenak dari dunia keseharian yang begitu mumet. Sampai jumpa di Crafty Days dan Musik Sore berikutnya!

Google Twitter FaceBook

1 comment:

Bikinan Jari said...

dan seperti tahun kemaren, kami tidak bisa ikut bergabung menikmati musik sore penutup crafty days :(

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin