15.5.12

Red Beard (1965): Isu Nasionalisme atau Kegilaan?

Minggu, 13 Mei 2012

Hari itu, pukul tiga, KlabKlassik mengadakan acara nonton bareng yang dipandu oleh Yunus Suhendar. Apa yang hendak ditonton bukan film yang bisa dibilang ringan. Film yang diputar adalah film berdurasi 185 menit, hitam putih, berbahasa Jepang, garapan Akira Kurosawa, dan bertemakan mengenai rumah sakit jiwa. 


Acara nonton sore itu menjadi agak ramai oleh sebab kedatangan beberapa mahasiswa antropologi yang berniat untuk meneliti perihal KlabKlassik dan aktivitasnya. Setelah KlabKlassik menjawab beberapa pertanyaan singkat, Diecky "memaksa" para mahasiswa itu untuk ikut serta dalam acara nonton bareng sebelum kemudian merumuskan hasil penelitiannya. Sebelum itu juga, Yunus memberikan sedikit pengantar mengenai film tersebut. Katanya, "Ini film yang sepertinya menginspirasi banyak sekali film yang bertemakan rumah sakit jiwa seperti One Flew Over a Cuckoo's Nest."

Film Red Beard secara garis besar mengisahkan tentang dokter muda bernama Yasumoto yang baru pulang dari Belanda pasca studi kedokteran. Di Jepang, ia ditempatkan untuk mengurusi rumah sakit jiwa pimpinan "Si Janggut Merah", julukan bagi sang pemimpin yang memang punya janggut merah. Konflik terjadi karena ternyata pengetahuan Yasumoto yang sudah dianggap mumpuni dan modern, tidak banyak berarti apa-apa di rumah sakit tersebut. Bertentangan dengan Si Janggut Merah yang rupanya lebih banyak mengandalkan pengalaman serta cara-cara yang dianggap "tradisional" ketimbang kedokteran modern. 

Red Beard rupanya memang bukan film yang terlalu mudah untuk dicerna. Yunus sendiri di tengah-tengah film mengakui sendiri bahwa ia menonton film tersebut dengan sering jeda dan istirahat. Maka dengan sangat menyesal film itu mesti diakhiri sebelum waktunya karena terlihat banyak peserta tidak sanggup lagi berkonsentrasi. Film diselesaikan ketika durasi baru menunjukkan 90 menit saja atau setengah dari total 185 menit.  

Namun hal tersebut tidak mengurungkan suasana diskusi yang justru hidup. Jazzy melihat Red Beard itu sebagai analogi dari Si Janggut Merah yang juga merupakan julukan yang disematkan bagi Frederick I Barbaroosa. Jazzy melihat hal tersebut sebagai simbol nasionalisme. Barbaroosa memang seringkali dikaitkan dengan isu nasionalisme, salah satunya disebabkan oleh penggunaan nama tersebut oleh Adolf Hitler dalam salah satu operasi perangnya. Sama halnya dengan Red Beard  di film Kurosawa yang sedemikian lekat dengan isu nasionalisme. Tambahnya, "Ya, Red Beard mengajarkan kita  bahwa nilai-nilai Barat tidak selalu universal. Ada nilai-nilai nasional, atau bahkan lokal, yang barangkali bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu, dalam hal ini isu kesehatan." 

Para mahasiswa antropologi tampak kebingungan karena bagaimana bisa acara nonton seperti ini dikaitkan dengan menonton musik klasik? Ada sebetulnya, dan juga dijelaskan dalam diskusi kemarin. Bahwa mengapresiasi kegiatan seni memang ada yang bisa dikategorikan hiburan, ada juga yang bisa digolongkan sebagai kegiatan seni yang serius dan butuh apresiasi tinggi. Sebagaimana halnya dengan mengapresiasi film-film Kurosawa, mengapresiasi musik klasik juga agaknya membutuhkan sedikitnya stamina. Setelah stamina mulai terbiasa, baru yang dibutuhkan berikutnya adalah pengetahuan dan kerendah hatian. Dua yang terakhir ini menjadi hal terpenting bagi penonton manapun sebelum menerima sesuatu yang tampil di hadapan. Jika itu sukses dilakukan, maka tinggal tunggu seni menampilkan keajaibannya, menari di kedalaman batin kita.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin