24.6.12

Edisi Playlist yang Penuh Keprihatinan

Minggu, 24 Juni 2012


Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, Adrian Benn sang koordinator memberikan satu topik yang cukup menyulitkan di KlabKlassik Edisi Playlist #14 kali ini. Ia memilihkan topik tentang musik Indonesia. Tapi yang membuat sulit bukanlah musik Indonesia itu -karena perbendaharaan musik kita tidak bisa dikatakan miskin-, melainkan batasan waktunya yang tahun 2000 ke atas! Hal tersebut agaknya membuat para peserta kelimpungan karena rasanya musik Indonesia justru mengalami stagnasi sejak tahun 2000-an. Generasi terbaik terakhir barangkali muncul di era 90-an sebelum akhirnya musik menjadi semacam mie instan yang dikonsumsi lalu dibuang. Namun dalam keterbatasan itu, para peserta tetap berusaha membawa musik yang sesuai topik. 

1. Putri Penelope - Keong Racun (Syarif Maulana)
Lagu ini jelas tidak bisa dibilang lagu yang menonjol secara teknis di tahun 2000-an. Tapi tidak mungkin dipungkiri bahwa lagu ini pernah amat booming oleh sebab penampilan absurd Sinta dan Jojo.  Keong Racun, disebut Esoy sebagai mixing yang tidak terlalu bagus, jika dibandingkan dengan musik-musik Republik Cinta atau bahkan ia juga mengacu pada Dangdut Pantura. Perlu diakui bahwa youtube, dengan Sinta - Jojo sebagai aktornya, membuat lagu ini amat tenar tanpa usah mempertimbangkan aspek kualitas. Ini contoh kondisi musik Indonesia hari ini yang seringkali dibesarkan oleh hal-hal yang justru non-teknis!

2. Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian (Sutrisna)
Efek Rumah Kaca, menurut Rahar, barangkali merupakan salah satu band yang cukup kritis dan ideologis di tahun 2000-an. Keberadaannya menjadi oase bagi band Indonesia yang tengah marak dengan tema cinta-cinta-an. Meski demikian, Esoy juga mengritik keberadaan anak-anak muda masa itu yang seolah keren dengan mengenakan kaos Efek Rumah Kaca padahal tidak terlalu paham konten kritisinya. "Kayaknya udah rebel banget gitu pake kaos Efek Rumah Kaca atau Aksara Records biarpun gak ngerti juga," tambahnya.

3. Gigi - 11 Januari (Royke Ng)
Band yang dipilih Royke barangkali adalah salah satu dari sedikit band yang tidak terpengaruh oleh "wabah 2000-an". Gigi tetap konsisten dengan musik yang berkualitas, meski lagu ini terancam dituduh ikut pasar karena juga menye-menye. Namun menye-menye-nya Gigi, diakui Royke, masih berkualitas. Karena katanya, "Gua pernah coba ulik lagunya, ternyata tanpa chord. Dewa Budjana hanya menggunakan guide tone dalam membimbing nyanyian Armand Maulana." Hal tersebut setidaknya menunjukkan bahwa Gigi tetap berbeda dari lagu cinta band kebanyakan yang relatif mudah ditebak progresinya. Meskipun Diecky menolak pendapat Royke bahwa ada karya yang tanpa chord, "Bahkan karya kontrapung Bach saja, ada chord-nya."

4. Saurasama - Fajar di Atas Awan (Esa Esoy)
Lagu pilihan Esoy ini adalah lagu dengan durasi cukup panjang yakni sekitar tujuh menit. Meski demikian, musiknya tidak membosankan dan diakui Iqbal, sangat meditatif. Terasa sekali bahwa musik yang dimainkan adalah gabungan harmonisasi Barat dengan lantunan vokal yang terdengar punya sari-sari Sumatra Utara. Kata Esoy, musik ini tidak populer di Indonesia, tapi di suatu majalah luar negeri, rating-nya pernah mengalahkan Coldplay! Lagi-lagi ini menunjukkan kelemahan masyarakat kita dalam mengapresiasi musik anak bangsa. Diecky juga menambahkan bahwa hanya ada dua universitas di Indonesia yang mempunyai jurusan etnomusikologi. Satu di ISI Yogyakarta, satu lagi di Unimed Medan. Medan, yang notabene tempat bernaungnya Saurasama, sering mendapat pujian sebagai pengkaji etnomusikologi yang cukup serius.

5. Musik Tradisional Dayak - Sape (Dien Fakhri Iqbal)
Meski tidak bisa disebut sebagai musik tahun 2000-an, tapi musik yang dibawa Iqbal ini cukup bisa dijadikan renungan kekinian. Musik berdurasi enam menitan tersebut dimainkan dengan instrumen tradisional Dayak bernama sampek. Isinya relatif monoton, dengan petikan-petikan yang seolah-olah improvisatif, tapi kata Diecky, "Tidak, aku pernah ke Pontianak dan bertanya apakah cara main mereka itu adalah berimprovisasi? Mereka menolak mengatakan itu improvisasi karena katanya sudah berpakem. Bahkan lagu selesai pun mereka tidak punya patokan, kalau mereka mau selesai ya langsung selesai!" Hal tersebut menjadi pelajaran bagi musik Indonesia yang terkena "wabah 2000-an", yang kita sudah tahu arah lagunya mau kemana bahkan ketika kita baru saja mendengar intro-nya!

6. Frau - I'm a Sir (Adrian Benn)
Musik dari Frau yang merupakan band asal Yogyakarta ini ditampilkan dalam format ketukan 3/4. Lagu tersebut cukup variatif dan menggigit, bahkan vokalnya tidak terdengar seperti logat lokal. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan dari Diecky, "Jadi apa yang dimaksud dengan musik Indonesia? Apakah yang secara geografis berasal dari Indonesia? Atau menyanyikan lagu-lagu Indonesia? Pertanyaan berikutnya, apa itu lagu Indonesia? Apakah yang industri atau yang tradisi?". Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan kekaguman peserta pada musikalitas Frau yang notabene di atas rata-rata. Hal menarik muncul dari pengakuan Brigitta yang menyukai Frau oleh sebab diberitahu kawannya bahwa vokalis Frau mirip dengan wajahnya.

7. Anane - Tun Alung Alung (Rahardianto)
Lagu yang dibawa Rahar ini menggabungkan aspek etnik dan harmonisasi Barat sekaligus. Namun ada bedanya dengan musik yang dibawa oleh Esoy, yaitu musik Rahar sedikit lebih rapi dalam pengelemannya. Maksudnya, Dieter Mack, seorang pakar musik dari Jerman pernah berkata tentang kriteria sebuah musik dikatakan berhasil digabungkan aspek Timur dan Baratnya, yaitu, "Ketika kita merasa keduanya tidak terpisah, melainkan menjadi satu entitas yang bisa dikatakan 'banci', tidak Barat, tidak Timur." Jika mengacu pada keberhasilan mengelem versi Dieter Mack, maka musik Rahar dianggap lebih cerdas, meskipun jika demikian bukan berarti Saurasama gagal. Namun kembali ditekankan Diecky, "Seseorang mesti mempunyai kecerdasan agar bisa menggabungkan Timur dan Barat. Tidak boleh hanya asal tempel saja."

8. Ballads of The Cliche - Hot Chocolate (Brigitta Arum Setyorini)
Lagu yang dibawa Brigitta ini terhitung sederhana. Hanya ada gitar, vokal, dan sedikit selipan solo trumpet. Meski demikian, lagu ini diakui Brigitta cukup bermakna bagi dirinya karena sering menemani di kala malam ataupun bangun pagi. Selain itu, dalam pengakuan Rahar, band Ballads of The Cliche juga termasuk band yang stabil dan "tidak berapor merah" di dunia musik Indonesia tahun 2000-an. Mereka juga cukup konsisten di jalur indie. Hal yang sebetulnya patut disayangkan ketika banyak band indie yang tidak memahami indie sebagai sebuah pergerakan, melainkan sebuah aliran tersendiri. Padahal indie seharusnya punya esensi pemberontakan, ketika jalur mainstream dianggap membosankan.

9. Ligro - Orgil (Diecky K. Indrapraja)
Lagu yang dibawa Diecky ini berasal dari genre yang bisa dikatakan jazz. Kelompok trio yang dipimpin Agam Hamzah pada gitar itu menampilkan karya komposisi Haryo Yose Soeyoto dari Bandung. Berdurasi agak panjang, jazz yang ditampilkan ketiganya cukup rumit dan bervariasi, sampai-sampai agak sulit mencari tema lagunya. Yang menjadi menarik adalah kenyataan bahwa bagi orang-orang yang minim apresiasi, musik seperti ini sering dikatakan sebagai chaotic. "Padahal," kata Rahar, "Dalam chaos theory, ada yang disebut ketidakteraturan dalam keteraturan." Tentu saja terlalu mensimplifikasi jika musik buru-buru dikatakan tidak teratur. Setidaknya, keberadaan judul karya, komposisi, dan tema lagu, menunjukkan bahwa lagu tersebut dikonsepsikan secara cermat.

10. JKT48 - Heavy Rotation (Tubagus Phandu Mursahdo)
Lagu pamungkas ini dibawa oleh Tubagus yang notabene merupakan peserta paling muda. Katanya, JKT48 adalah girlband yang bisa dikatakan franchise, karena ada pula di berbagai belahan dunia dengan sempalan angka 48 di belakangnya. Misalnya, di Hongkong ada HKG48. Tubagus mengungkapkan keprihatinan alih-alih kekagumannya terhadap band semacam itu, yang ia tuduh sebagai 'pelacur musik'. Karena apa? "Karena mereka tidak bisa main musik sama sekali. Harmonisasi vokal sedemikian buruk. Tapi dengan sedikit bisa menari dan tampang yang menjual, ketenaran bisa diperoleh," papar Tubagus. Hal yang kemudian disambung oleh Rahar, "Mereka harus banyak belajar dari The Commodores atau Manhattan Transfers," katanya mengacu pada dua kelompok vokal yang mempunyai harmonisasi luar biasa.

Kesepuluh lagu yang diputar tidak semua dihadirkan karena kualitasnya. Ada beberapa peserta yang sengaja membawa lagu yang memang tidak berkualitas sama sekali. Tujuannya bukan hanya sesederhana demi kepuasan mengolok-olok, melainkan lebih dari itu, menyadarkan bahwa musik Indonesia sedang berada dalam titik terendahnya. Industri sudah terlalu menguasai, sehingga musik-musik yang dibuat dengan serius dan bernilai tinggi, tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme. Inilah dia KlabKlassik Edisi Playlist yang suram. Suram karena mengingat musik Indonesia pasca tahun 2000.


 


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin