Minggu, 17 Juni 2012
KlabKlassik Edisi Nonton sore itu menghadirkan film dokumenter yang
sebetulnya pernah diputar sekitar empat tahun lalu ketika KlabKlassik
masih berkegiatan di CommonRoom. Film itu berjudul From Mao to Mozart:
Isaac Stern in China.
Film berdurasi sekitar sembilan puluh menit itu dihadirkan Yunus Suhendar, sang koordinator, dengan alasan, “KlabKlassik sekarang sedang giat-giatnya mengadakan acara yang ‘kembali ke musik klasik’,” katanya mengacu pada konser yang digelar KlabKlassik baru-baru ini yaitu Resital Piano Levi Gunardi. Musik klasik di sini diartikan sebagai musik klasik yang secara periodik mengacu pada musik-musik sebelum abad ke-20, yang isinya seputar Renaisans, Barok, Klasik, dan Romantik.
Film From Mao to Mozart menceritakan tentang kehadiran Isaac
Stern, seorang violinis terkemuka di Amerika Serikat di Cina yang pada
masa itu baru saja membuka diri pada pengaruh Barat. Film itu dibuat
pada periode pemerintahan Deng Xiaoping sekitar akhir tahun 70-an. Deng,
yang menggantikan Mao Zedong, mengubah jalur kebijakan Cina yang
tadinya menganggap Amerika Serikat sebagai imperialis, menjadi sarana
untuk mendukung apa yang disebut Deng sebagai “Sosialisme ala Cina”.
Kehadiran Isaac Stern lebih dari sekedar workshop musik.
Kehadirannya lebih merupakan simbol kesiapan Cina dalam menerima
pengaruh-pengaruh baru dari luar. Isaac Stern yang mengunjungi Beijing
dan Shanghai, tidak hanya berbagi soal pengalaman-pengalaman
bermusiknya, ia juga tampil bersama orkestra setempat. Selain itu, Stern
juga disuguhi beberapa penampil berbakat dari negeri tuan rumah, baik
di bidang musik klasik Barat maupun musik Cina itu sendiri.
Obrolan-obrolan kritis tersebut mengantarkan pembicaraan pada ide
mengenai diadakannya seminar untuk mengritisi pendidikan musik di
Bandung sekarang ini. Ide tersebut disambut positif, plus ajakan bagi
KlabKlassik untuk lebih aktif di jalur kritik. Maksudnya, tampilnya
banyak musisi, acara, atau konsep-konsep yang dianggap tidak jelas,
adalah buah dari tidak adanya kritikus yang berani. Atau kalaupun
berani, tidak ada argumen yang dianggap memadai.
Syarif Maulana
Syarif Maulana
Bookmark this post: |

No comments:
Post a Comment