6.6.12

Kelas Filsafat untuk Pemula: Manusia Renaisans


Selasa, 5 Juni 2012



Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan keempat memulai kelasnya tidak tepat waktu. Terlambat sekitar tiga puluh menit, kegiatan kelas dimulai dengan ajakan Rosihan Fahmi untuk mengopi buku Ernst Cassirer tentang Manusia dan Kebudayaan. ”Buku ini bagus sekali untuk memahami manusia. Dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa jika kita mau memahami Tuhan, kita mesti memahami ciptaannya. Karena sepertinya, pengetahuan kita akan dzat Tuhan tidak akan pernah terjangkau. Maka itu penekanan belajar holistik kita pada manusia menjadi sangat diperlukan,” buka Ami.

Topik tidak langsung masuk ke Manusia Renaisans. Ami, seperti biasa, mengajak para peserta untuk pemanasan nalar. Tanyanya, “Mana jalan yang lebih berbahaya, orang yang berorientasi pada uang, atau orang yang berorientasi pada kebahagiaan?” Pertanyaan tersebut mengarah pada tujuan belajar filsafat yang salah satunya mesti bisa membuat orang mempunyai prinsip. “Orang yang berorientasi pada uang, tidak peduli ia bekerja dengan pahit ataupun diperbudak, selama ia punya uang. Sedangkan orang yang berorientasi pada kebahagiaan, mungkin bisa berujung pada ketiadaan uang, tapi ia sendiri bahagia karena hidupnya merdeka. Pertanyaannya: Mana jalan yang lebih berbahaya?” tanya Ami sekali lagi. “Tentu saja,” jawab Ami karena peserta terlihat kebingungan, “Jalan orang yang berorientasi  bahagia. Ia tidak akan pernah merasa stabil dan cukup. Selalu mencari dan mencari, karena bahagia itu tidak mudah didefinisikan.”

Pemanasan tersebut memberikan jalan masuk yang cukup mudah untuk memahami manusia Renaisans. Manusia Renaisans, bagaimanapun dipahami sebagai periode dimana masyarakat Eropa merasakan kebebasan setelah periode seribu tahun direpresi oleh kekuasaan gereja. Inilah saat ketika manusia mencari kebahagiaannnya sendiri, ketika kebahagiaan tidak didikte oleh dogma-dogma. Manusia Renaisans adalah mereka yang menganggap dirinya sebagai pusat (antroposentris), setelah sekian lama Eropa dilanda keterpusatan pada Tuhan (teosentris). Manusia Renaisans adalah mereka yang, “Melakukan apapun yang mereka suka, selama mereka bisa.” 

Sikap-sikap ala Renaisans ini diterjemahkan ke cara berpikir jaman sekarang. Manusia Renaisans berarti pula manusia polymath, manusia yang mempunyai banyak keahlian. Hari ini manusia semakin terspesialisasi dan kadang kehilangan kepercayaan diri untuk menggali dirinya lebih dalam. Ahli kimia hanya boleh membicarakan kimia saja, dianggap tidak kompeten membicarakan agama misalnya. Ahli agama hanya boleh membicarakan agama, dan atas dasar itu ia tidak boleh membicarakan sains. Ada rantai yang hilang, ketika tidak ada kesadaran bahwa agama dan sains beririsan. Saintis dari dunia Islam di Abad Pertengahan semisal Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina, tidak memisahkan nilai-nilai agama, sains, bahkan filsafat Aristoteles. Keilmuan yang integral semacam itulah yang sebenarnya bisa mendekatkan seseorang untuk menjadi manusia yang utuh.

Setelah membahas Renaisans yang berisikan tetnang apa yang disebut Dunia Sophie sebagai ”ledakan kegembiraan”, minggu depan Kelas Filsafat untuk Pemula akan menghadirkan topik yang gelap dan ”tidak gembira”, yaitu Manusia Eksistensialis.  
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin