25.6.12

Klab Filsafat Tobucil: Apa itu Sains?

Senin, 25 Juni 2012 


Klab Filsafat Tobucil, -setelah diputuskan bahwa setiap minggu pertama akan bekerjasama dengan Layarkita untuk nonton bersama di IFI – Bandung- sedang menjajaki kerjasama dengan Menrva Foundation untuk membahas apapun yang berbau sains di minggu keempat. Kemarin adalah pertemuan perdananya. Dimulai dengan membahas “Apa itu Sains?” terlebih dahulu, Ikhlas dan Difa Kusumadewi tampil sebagai pemasalah. 

Para pemasalah: Ikhlas (kacamata) dan Difa (sedang minum).
Terlambat hampir sekitar satu jam, pemasalah datang dengan berbagi makalah yang berjudul “Science vs Pseudoscience”. Ikhlas memaparkan mulai dari sains sebagai metodologi (bukan hasil), lalu definisi hipotesis, hukum, dan teori sains, hingga tahapan dari metode sains. Ia juga menambahkan tentang kerendah-hatian sains, yaitu kenyataan bahwa tidak ada sains yang mengklaim temuan dirinya sebagai mutlak. Justru ia terbuka untuk terus berubah bagi pencapaian ilmu/teori yang lebih baik. Di penutup paparannya, Ikhlas menjelaskan beberapa bahaya pengobatan alternatif yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah sains, serta keberadaan pseudosains. Pseudosains yaitu klaim, kepercayaan, praktek tertentu yang disajikan seolah-olah seperti sains, tapi tidak menjalankan metodologi sains yang semestinya. Pseudosains bukan sains, hanya tampak seperti sains. 

 Sebelum masuk ke diskusi forum, pembicaraan dimulai dengan definisi dulu. Sains, atau dalam bahasa Inggrisnya science, diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai ilmu. Sedangkan pengetahuan, dibahasainggriskan dengan knowledge. Lalu apa istilah paling tepat untuk ilmu pengetahuan? Anggap saja kita juga bisa sebut: science. Problemnya adalah, di Indonesia, istilah sains tidak serta merta mengacu pada ilmu pengetahuan, melainkan ilmu pengetahuan alam. Sedangkan di istilah asing sendiri, ilmu pengetahuan sendiri terbagi menjadi natural sciences dan social sciences. Kerancuan-kerancuan ini mau tidak mau mesti didamaikan dengan cara disepakati: bahwa sains yang hendak dibicarakan ini mengacu pada ilmu pengetahuan manapun baik itu alam maupun sosial. 

Albert tampil mula-mula dengan memberikan pandangan lain tentang pengobatan alternatif. Meski ia adalah seorang dokter, namun Albert mengakui juga bahwa pengobatan alternatif seperti akupuntur bisa menyembuhkan, atau setidaknya, meredakan gejala. Sebaliknya, dunia medis sendiri bukannya tanpa cacat, ada kasus-kasus kegagalan penyembuhan juga. Hal tersebut dipertanyakan oleh Difa, “Kita bisa bandingkan, berapa persen orang yang meninggal karena pengobatan alternatif dan orang yang meninggal oleh sebab medis.” Perbincangan menjadi bertambah seru setelah membahas psikologi misalnya, apakah bidang ilmu tersebut disebut pseudosains? Memang ada psikologi yang mempergunakan metode saintifik seperti misalnya behaviorisme. Namun ada juga yang “menggunakan dongeng-dongeng belaka” seperti misalnya psikoanalisis, yang kesahihan metodenya masih diperdebatkan hingga hari ini. 

Pembicaraan menjadi agak memanas setelah memperbincangkan soal metodologi. Positivisme, yang kerapkali menjadi pijakan sains paling kokoh, bisa menerangkan banyak hal tentang kejadian-kejadian alam, namun tidak dengan manusia. Penelitian kuantitatif dengan survey, kuesioner, dan statistik, -yang memenuhi metodologi ilmiah- seringkali bisa dipertanyakan kedalamannya ketimbang misalnya wawancara atau observasi partisipan yang digadang oleh paradigma kualitatif. Albert tetap pada pendiriannya bahwa survey ataupun kuesioner bisa “dikondisikan” agar seperti natural settings, agar tampak alamiah. Meskipun kemudian ada pertanyaan besar: Apakah realitas yang dikondisikan, adalah masih realitas? 

Perdebatan antara paradigma positivistik vs konstruktivistik, kuantitatif vs kualitatif, sains vs pseudosains ini tidak menemui konklusi –dan memang tidak perlu ada konklusi-, namun Satrio mencoba “melerainya” dengan mengatakan bahwa masing-masing ada teritorinya sendiri. Hal yang juga diamini oleh Nino, “Sulit sekali mendamaikan dua paradigma karena keduanya bisa jadi sama-sama benar. Namun hal tersebut tidak masalah, karena yang menjadi masalah sesungguhnya adalah ketika ada yang mengklaim kebenaran tunggal.” 



Google Twitter FaceBook

1 comment:

Malin Kundang said...

Ini diskusi Tobucil apa ABAM sih?

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin