18.6.12

Klab Filsafat Tobucil: Apa Siapa Slavoj Zizek

Senin, 18 Juni 2012


Klab Filsafat Tobucil khusus sore itu ingin membahas topik-topik yang agak teoritik. Setelah diskusi agak panjang di suatu waktu lalu, akhirnya diputuskan untuk membahas seorang filsuf kontemporer bernama Slavoj Zizek. Karena diantara para peserta rutin banyak yang belum mengenalnya, diundanglah seorang narasumber yang sebetulnya sesekali sering juga ikut diskusi di Tobucil, yaitu dosen psikologi bernama Dien Fakhri Iqbal Marpaung.

Bang Iqbal datang terlambat, namun tidak membuatnya mesti mengambil napas untuk memulai pembicaraan tentang Zizek dengan sangat lugas. Tanpa panjang lebar, Bang Iqbal memulainya dengan mengambil sedotan dari botol fruit tea, dan mengatakan, "Mula-mula, untuk memahami Zizek, mulailah dengan menganggap apa-apa seksual. Sedotan ini adalah phallus yang sedang masuk ke vagina, yakni lubang botol." Meski proyek filsafat Zizek sedemikian luas -ia masuk ke ranah psikoanalisis, film, politik, semiotika, hingga cultural studies-, namun Bang Iqbal lebih fokus pada sisi psikoanalisanya.

Lantas, jika Zizek pun menganggap segala sesuatu itu seksual, bagaimana membedakan ia dan Sigmund Freud? "Berbeda," kata Bang Iqbal, "Freud tidak menyentuh ranah pop culture atau politik sekalipun. Freud melihat kecenderungan apa-apa itu seksual hanya dalam tataran bawah sadar seseorang. Namun Zizek mengembangkannya dengan mengenakan Freudianisme ini pada hampir seluruh aspek kehidupan. Itu sebabnya Zizek menjadi amat populer tidak hanya di kalangan intelektual, tapi juga politisi hingga artis-artis." Hal tersebut tentu saja bukan sembarang kesimpulan dari Bang Iqbal. Zizek yang sekarang ini berusia 63 tahun, memang pernah dicalonkan jadi presiden Slovenia dan diisukan dekat dengan Lady Gaga. 

Namun obrolan panjang tentang Zizek beberapa kali tertunda oleh sebab beberapa peserta diskusi secara tertatih-tatih mesti memahami dulu istilah-istilah yang dipakai, mulai dari psikoanalisa itu sendiri. Atau Sulhan bertanya, "Apa itu id, ego, dan superego?" Bahkan Albert Liang, sebelum diskusi, bertanya, "Zizek itu apa sih?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut dianggap wajar karena Zizek memang filsuf kontemporer yang "masih fresh". Ia belum dikenang secara historis sebagaimana Nietzsche atau Kant yang filsafat-filsafatnya relatif sudah ditafsir ulang beberapa kali sehingga bisa kita pahami secara lebih sederhana. 

Salah satu pemikiran Zizek yang asyik adalah konsep jouissance-nya. Yaitu tentang betapa kita tidak pernah puas menikmati sesuatu tanpa diketahui yang lain, yang secara simbolik lebih besar. Seperti yang dicontohkan oleh Zizek sendiri: Ketika seorang pria dan Cindy Crawford terdampar di pulau yang asing, mereka berdua akhirnya bercinta (karena tidak ada siapa-siapa dan tidak ada yang dikerjakan). Setelah bercinta, pria itu meminta Cindy Crawford berdandan seperti sahabatnya yang mana pria juga. Setelah Cindy Crawford berubah dandanan menjadi sahabat si pria, pria tersebut berujar, "Eh, saya habis bercinta dengan Cindy Crawford loh." Hal tersebut agaknya bisa menjawab mengapa kita suka Facebook-an dan Twitter-an yang notabene, kata Zizek, punya kepuasaan tidak hanya secara eksistensial, tapi juga seksual. 

Karena Zizek yang apa-apa seksual, diskusi pun menjadi sangat bergairah, plus Bang Iqbal yang menyalurkan segala id-id nya ketika bicara baik lewat intonasi maupun gerak tubuh. Meski pada akhirnya pemikiran Zizek itu sendiri tidak mendapatkan detailnya, para peserta tetap memperoleh jalan masuk untuk mengenal Zizek lebih jauh.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin